Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 35


__ADS_3

Pria yang menyadap pembicaraan Sigit dan Luna mengajak tuan muda yang merupakan kakak tirinya itu untuk bertemu.


Mereka sepakat bertemu pada sore hari, di rumah tua yang jauh dari keramaian. Pria itu menunggu tuan muda itu keluar.


Sang tuan muda turun dari lantai 2 sambil memegang gelas berisikan anggur merah dan seorang wanita cantik menggelendot manja disampingnya. Membuat pria itu jijik melihatnya.


Aku yang kerja keras, dia yang enak-enakan main wanita.


"Katakan dengan singkat dan bahasa yang mudah aku pahami, apa informasimu?" ucap tuan muda.


Pria itu tersenyum kecut. "Oke, intinya, aku sudah ketahuan oleh mereka. Tapi mereka masih bersikap wajar terhadapku. Lalu, mereka juga menyuruh orang untuk menyelidiki keadaan Ali. Sebaiknya, kau tarik mundur orangmu agar mereka tak terlalu curiga. Mereka belum menyusun strategi apapun"


"Oke, aku akan ikuti saranmu. Jadilah pria cerdas. Bagaimana kau bisa ketahuan olehnya?"


"Ceritanya panjang. Intinya begitu. Aku akan ikuti permainan mereka hingga kau memberiku perintah untuk membawa mereka menuju sarang kita. Kapan hal itu akan kau lakukan?" tanya pria itu lagi. Tuan muda hanya tersenyum dan memainkan gelas itu.


"Bersabarlah sebentar lagi. Bagian sahammu sedang aku alih namakan. Bagaimanapun juga kau adalah orang yang membantu misi ini"


Pria iti tersenyum senang. "Lalu, apa kabar dengan Humam? Aku curiga dengan anak itu, bahwa dia masih memendam cinta untuk Muti"


Tuan muda itu menggeleng. "Hatinya sudah aku taburi benih kebencian. Dia sedang bersembunyi di luar kota. Dan akan kusuruh kembali saat sudah tepat waktunya"


"Cepatlah, jangan lama-lama. Aku sudah tak tahan" Tuan muda berdecak. "Mulutmu seperti perempuan. Aku bilang sabarlah!"


"Oke, aku pamit dulu. Tapi, sebelumnya, bolehkah aku mencicipinya?" tanya pria itu sambil melirik wanita disamping tuan muda.


"Kau mau dia melayanimu? Okeh, layani dia dengan baik" Wanita itu segera beranjak dari tempat duduknya dan menarik pria itu masuk ke sebuah kamar.


.


Sigit dan Muti mengirimkan paket untuk orang tua mereka masing-masing untuk mengurus nikah kantornya. Sigit juga mengajak Muti untuk foto bersama.


"Ini seperti nikah batalyon gak sih mas?" tanya Muti. Sigit mengangguk. "Iya, hampir sama. Nanti kita ada sidang pra nikahnya"


Muti mengangguk. "Besok kita disuruh fitting baju di butik langganan mamah, mas. Kamu ada waktu kan?"


"Iya, pas jam makan siang saja ya?" Muti mengangguk. Ponsel Muti berdering. Telepon masuk, matanya membelalak tak percaya dengan nama yang muncuk pada layar ponselnya.


Sigit heran dengan Muti, "Yank, kenapa gak diangkat?" tanya Sigit. Muti menjadi gelagapan.

__ADS_1


"Eng-enggak penting mas, biarkan saja lah" Sigit melirik melalui ekor matanya. Dia tahu Muti sedang berbohong padanya, tapi ia hanya mencoba mempercayai Muti.


Mereka telah sampai di jasa ekspedisi. Muti melepas sealbeltnya. "Mas tunggu di mobil saja ya?" Muti mengangguk.


"Alamat papah sama seperti yang kamu tulis ini kan?" tanya Muti membaca alamat yang tertera. Sigit mengangguk. Muti segera turun dari mobil. Dia melupakan ponselnya.


Ponsel Muti kembali berdering saat ia sedang mengirim paket dokumen itu. Sigit ingin tahu siapa yang dari tadi menelpon Muti, dia meraih ponsel itu dan melihat nama yang muncul di layar.


"Humam? Mungkinkah Humam yang sedang menjadi incaran operasi kami? Ah, tak mungkin. Nama Humam pasti banyak di negara ini. Angkat gak yah? Angkat tidak angkat tidak angkat" Sigit menggeser tombol hijau itu.


Saat yang bersamaan Muti sudah kembali ke mobil, dia langsung menyahut ponselnya. Dan mematikan panggilan itu. Wajah Muti menjadi kesal. Tak seharusnya Sigit mengganggu privasinya.


"Kamu gak sopan banget sih mas?! Ngangkat telpon tanpa izin dari aku!" Muti sebal dengan Sigit.


Sigit tersenyum heran. "Lhoh, salah kalau aku mengangkat telpon di ponselmu? Aku ini calon suamimu lho. Harus izin dulu?"


"Ya tetap saja! Itu privasi mas! Aku gak suka kamu main angkat telpon masuk di hpku"


Sigit tersenyum kecut. "Waaah, begitu ya. Oke, aku tidak akan menyentuh ponselmu lagi!" Muti diam tak menjawab. Suasana menjadi hening, sunyi, karena pertengkaran yang mereka ciptakan sendiri.


Hingga tiba di rumah Muti, suasana masih hening. Muti dengan kesal turun dari mobil tanpa menyalami Sigit. Sigit pun merasa kesal dengan sikap Muti. Ia langsung tancap gas meninggalkan kediaman Muti.


.


Sigit tak fokus dengan penggrebekan itu, dirinya memikirkan Muti, yang sedari sore tak memberinya kabar. Hingga ia terkena pukulan di wajahnya saat napi itu mencoba kabur darinya.


Ia dibantu Galih untuk berdiri, dan yang lain menangkap napi itu. "Kamu beda banget sih Git. Kenapa? Ada masalah?" tanya pak Saswi. Sigit menggeleng.


"Sudah selesai kan pak? Saya langsung pulang ya pak?" Sigit ingin segera kembali ke rumah. Pak Saswi mengangguk. "Pulanglah"


Sigit kembali terlebih dahulu. Pikirannya terus menerus ke Muti. Dia mencoba menelponnya tapi tak diangkat. Dia memutar haluan mobilnya menuju arah rumah Muti.


Dia melihat om Tompel sedang berjaga. Dia mengirim chat kepada Muti.


Me : Mas di depan. Tolong bukain pintunya dong. Bibir mas perih kena pukul


Marmut playgirl : Sukurin!


Sigit tersenyum melihat balasan Muti. Setidaknya dia mau membalas chat dari Sigit. Tak lama pintu rumah terbuka.

__ADS_1


Muti tak mempersilahkan Sigit masuk. "Mas gak diajakin masuk nih?"


Muti duduk di sofa tanpa menjawab pertanyaan Sigit. Sigit akhirnya masuk dan duduk di samping Muti. "Lihat, wajah mas biru kena tonjok"


Muti masih tak menggubris Sigit. Sigit berpura-pura kesakita. "Aaaw, sakitnyaaa" Muti maasih tak merespon. Dia menggenggam tangan Muti dan mengecupnya. "Maaf"


"Kamu nyebelin banget tahu gak sih maaaas?!" mata muti sudah berkaca-kaca.


Sigit tersenyum "Iya, mas salah, mas minta maaf. Jangan menghilang. Mas khawatir"


Muti memeluk Sigit. "Maaf membuatmu khawatir" Air matanya mengalir dipipi mulus itu. "Aku yang salah, harusnya kalau kamu mau angkat telpon itu ya angkat saja"


"Dia mantan kamu?" tanya Sigit. Muti mengangguk dalam pelukan itu. "Ngapain dia telpon?"


"Gak tahu mas, aku sudah memblokir nomornya. Aku ambilkan kompres untuk mengobati lukamu dulu" Muti berdiri hendak melangkah ke dapur tapi dengan cepat tangannya ditarik oleh Sigit. Membuat dia duduk di pangkuan Sigit.


Pacu jantung mereka kembali tak beraturan. Entah hal apa yang membuat Sigit begitu berani melakukan itu. Dia membelai dan merapikan rambut Muti. Membuat Muti semakin grogi.


Sigit mendekatkan wajahnya ke arah wajah Muti. Semakin dekat, Muti semakin grogi. Dia benar-benar mati gaya. Jarak semakin dekat hingga tak menyisakan ruang diantara mereka.


Muti memejamkan matanya, Sigit tersenyum melihat hal itu. Saat semakin dekat, "I love you. Jangan marah, mas pusing kalau kamu menghilang. Mas pulang dulu. Ciumannya ditunda sampai kita halal"


Sigit menyingkirkan tubuh Muti yang masih diam mematung. Lalu ia mengambil kunci mobilnya. "Mas pulang ya sayang, assalamualaikum"


"Wa-waalaikum salam"


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


__ADS_2