Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 137


__ADS_3

Hari perayaan 4 bulanan untuk kehamilan Hana tiba. Semua sanak saudara dari Ali maupun Hana sudah tiba di Semarang. Hana dan Ali mengambil cuti hari itu.


Ali bercengkrama dengan para tamu laki-laki. sedangkan Hana bercengkrama dengan para wanita yang ada disana. Suasana bahagia tampak disana.


Maghrib menjelang, selesai melakukan ibadah sholat maghrib tamu undangan hajatan mulai berdatangan. Tak lama hajatan itu pun selesai. Para tamu sudah berpamitan pulang. Hanya tinggal kerabat.


"Mamah seneng dengar kamu hamil, Papahmu sampai lompat-lompat kegirangan" kata Mamah Anin di depan semua kerabat.


"Muti hamil?" tanya Mami Salma dan Bunda Tari bersamaan. Muti mengangguk. "Alhmadulillah budhe, tante, ini sudah masuk 6 minggu"


"Alhamdulillah" ucap semuanya. "Mah, memang beneran gak boleh ditengokin?" tanya Sigit.


Ali menoyor kepalanya. "Bisa ya tanya begiti?" Semuanya tertawa mendengar pertanyaan dari Sigit.


"Kamu kok ya gak sabar banget sih Git? Sabar dong! Tahan!" ujar papah Bagas.


"Hilih! kayak kamu dulu gak begitu Pah!" jawab Mamah Anin. Semuanya kembali tertawa. "Sebaiknya ditunda dulu Git, karena kadang penempelannya itu belum terlalu kuat"


Maryam masih tak habis pikir dengan kakaknya. "Nafsumu gede amat bang!"


"Jelas! Istri cantik, pinter ngurus suami, dan pinter merawat diri begini yang bikin aku selalu ingin menengoknya" jujur Sigit membuat semuanya tertawa. Muti sampai merona mendengarnya.


"Malu mas"


"Ngapain malu? Kenyataannya begitu zeyeng. Mana besok lusa udah puasa lagi. Haduh.... makin mumet aku"


Ali tertawa senang. "Selamat berpuasa sebulan penuh Si! Malah lebih deh! Bisa sampai 2 bulan! Kalau aku bentar lagi kan buka.... Hahahaha"


Sigit memasang wajah sedihnya. "Senangnya hatimu Al"


"Kata siapa Ali bentar lagi buka? Tetep harus hati-hati lho! Ingat.... boleh berhubungan, tapi intensitasnya dikurangi. Istri kalian itu sedang mengandung anak kalian, jangan tambah beban mereka lagi" Mami Salma memberikan nasihat pada mereka berdua.


"Haduh.... berat berat"


Luna melempar kacang pada Sigit. "Solo karir dong! Susah amat!"


Ali dan Sigit berpandangan. "Dikira gampang kali Al kita solo"


"Tahu tuh Luna" jawab Ali. Semuanya kembali tertawa. Malam semakin larut Ayah Indra, Mimi Amira memutuskan untuk menginap di rumah Muti. Sedangkan Papah Bagas dan Mamah Anin tidak bisa tinggal karena besok ada penyambutan anggota yang pulang Satgas. Jadi mereka langsung bertolak ke Bandung.


Luna dan keluarganya juga pamit pulang ke rumah. Begitu pula orang tua Ali dan keluarga besarnya juga pamit langsung pulang, karena besok keponakan Ali harus sekolah. Tinggal Kakek Umang, Maryam, Azka, Mami Salma, dan Papi Raka.


Mereka mengistirahatkan diri setelah sholat isya' berjama'ah. Hana semakin manja dengan suaminya. Bahkan saat papi Raka mengajak Ali untuk mengobrol pun tak boleh.

__ADS_1


"Orang kalau jatuh cinta apa bakalan kayak gitu semua mbak?" tanya Azka kepada Maryam. "Hmm? Maksudnya?"


"Jadi budak cinta semua"


"Kenapa? Sudah siap jatuh cinta? Sudah siap jadi budak cinta?" balas Maryam. Azka memutar bola matanya malas.


"Cuma tanya jeng Mar!"


"Hahaha, kayaknya iya sih Az, kedekatan membuat kita takut kehilangan"


"Hmmm, beruntungnya kakakku dapat suami seperti bang Ali. Meskipun duda, tapi dia sangat perhatian, sayang, dan gak pernah buat istrinya bersedih. Semoga nanti aku juga dapat pria yang seperti itu lah" ujar Azka.


"Aamiin, Mamas Hilal gimana?" Azka mengerutkan keningnya. "Gimana? Gimana maksudnya?"


"Hilih, mau aku cari tahu sendiri apa kamu yang langsung curhat ke aku?" goda Maryam pada Azka, membuat wajah Azka berseri.


"Kamu itu anggota BIN atau apa sih? Heran aku, tiap ada cerita pasti langsung tersebar. Mas Habib pasti nih" Maryam tertawa. "Jadi?"


"Apanya?"


Maryam berdecak mulai kesal. Setiap mengobrol dengan Azka pasti ujung-ujungnya berputar dan mbulet. "Jadi kamu sama Mas Hilal gimana painem?"


"Hahaahhaha, gak gimana-gimana mbak, cuma ketemu pas kemarin lamaran kamu, tuker-tukeran foto acara kalian. Udah itu doang"


Sedang di kamar lain, Hana memeluk suaminya erat. Ali sangat senang dengan Hana yang manja kepadanya. "Dek, lengan abang kesemutan" kata Ali. Hana malah beralih ke sisi lainnya. Ali sampai tertawa dengan tingkah istrinya.


"Kok abang ketawa? Dek, lihat dek Ayah kamu, menertawakan ibu"


Ali tersenyum dan mengecup bibirnya sekilas. Hana tersenyum malu. "Lhah, dia masih malu-malu. Ehm... dek, sudah bisa belum sih?" Tanya Ali.


Hana menautkan alisnya bingung. "Apanya?"


"Minta jatah" Ali menatap istrinya sambil nyengir. Hana tertawa. "Sudah gak tahan? Abang sama Mas Si sama saja ternyata. Besok kita USG dulu ya bang"


Ali memasang wajah cemberutnya. Hana malah semakin tertawa melihat suaminya. "Pengen banget emang?" Ali mengangguk. "Tapi, kalau kamu takut kenapa-napa ya sudah kita tunda dulu gak papa"


"Yakin kuat?"


"Dikuat-kuatke dek, piye meneh?" jawab Ali pasrah. Hana tersenyum. Ia menyandarkan kepalanya di dada Ali. Tangannya bermain menjelajahi bagian perut hingga dada Ali. Membuat Ali bergejolak.


"Dek.... jangan mancing abang" kata Ali menghentikan pergerakan tangan Ali. Hana tersenyum dan beradu pandang dengan Ali. Lalu mengecup sekilas bibir Ali. "Dek....."


"Apa?"

__ADS_1


"Jangan mancing abang, abang ini sedang sangat berhasrat sayang, kalau kamu mancing-mancing....." ucapan Ali kembali terpotong karena Hana kembali mencium bibirnya, sedikit melu*matnya.


Ali mengubah posisinya, sekarang Hana dalam kuncian Ali. "Bandel ya dibilangin, Abang gak mau kamu sama calon anak kita kenapa-napa sayang"


Hana tersenyum. "Lakukanlah jika memang abang sudah sangat ingin. Adek gak mau karena adek belum bisa melayani Abang, Abang kecewa dan melampiaskannya dengan cara lain"


Ali tersenyum mendengarkan penuturan istrinya. Ia membelai rambut istrinya. "Abang tidak akan melakukan hal gila yang kamu pikirkan sayang. Abang hanya ingin yang terbaik untuk mu dan calon anak kita. Jadi, besok kita USG dulu, kita lihat dan bertemu sama adek dulu. Jika dokter bilang boleh, maka malamnya akan abang tuntaskan hasrat abang ini. Abang cinta dan sayang sama kalian"


Hana tersenyum. Ia membelai rambut Ali. "Insyaallah tidak apa-apa Bang, pelan-pelan dan jangan terlalu dalam" Ali mencerna ucapan Hana.


"Dek, kamu juga pengen?" tanya Ali. Hana mengangguk malu. Ali tersenyum melihatnya. "Yakin?"


"Iya"


Ali meyakinkan dirinya. "Bismillah, sayang kuat di dalam ya? Ayah tengok sebentar ya?" Ali meminta izin pada calon anaknya. Lalu melepaskan bajunya dan baju Hana. Mereka memulai aktivitas bergairah itu. Melepaskan hasrat yang terbendung dengan sangat hati-hati.


Mengecup bibir, saling menautkan dan saling lu*mat. Hingga menjejaki bagian lain. Ali sangat lembut memperlakukan istrinya. Hingga ia melakukan penyatuan pun sangat berhati-hati.


"Aaahhhhh....." lenguh keduanya mengakhiri permainan itu. Ali segera berguling ke samping istrinya. Menarik selimut untuknya dan sang istri. Tak lupa mengecup keningnya dan mengucapkan terima kasih.


"Makasih dek"


"Sama-sama. Adek cinta sama abang"


"Abang juga cinta dan sayang sama kalian dek, mandinya besok saja ya? Sudah malam, takutnya masuk angin"


Hana mengangguk. Mereka berpelukan dan memejamkan mata bersama.


.


.


.


Like


Vote


Kome


Tip


Sengaja up nya malam, biar bacanya gak sambil traveling kalau pas siang 😜😜😜

__ADS_1


Nanti lagi, othor mandi dulu, baru selesai kerja lanjut buka praktek di rumah. Hapoy reading gaes....


__ADS_2