
Hari semakin gelap. Sigit mengajak Muti untuk pulang. Menyusuri jalanan yang mereka lewati saat pulang dan berangkat. Sigit berkonsentrasi dengan jalanan, Muti sudah mengantuk pada boncengan.
Sesekali mereka berhenti untuk mengisi bensin, sholat, bahkan makan. Saat di tengah perjalanan mereka dikepung oleh 3 pengendara motor yang membawa senjata tajam. Muti takut terjadi apa-apa dengan dirinya dan Sigit.
Sigit menambah laju kendaraannya, mencoba berlindung dari kejaran mereka dengan menempel pada sisi mobil ataupun truck. "Mut, telpon panggilan darurat. Katakan kita dalam bahaya"
Muti segera mencari ponselnya dan menelpon 911 untuk keadaan darurat. "Halo, siapapun, tolong hubungkan ke kantor polisi, Kami sedang dikejar kawanan bermotor, kami di jalaaaaannn dekat pasar ungaran!" Muti melihat sekelebat melintasi pasar Ungaran disebelah kanan jalan. Setelah itu Muti memasukkan ponselnya kembali. Sigit dikepung dan akhirnya ia menepi.
Dia melindungi Muti. "Kamu bawa parfum atau sesuatu untuk melukai mereka?" tanya Sigit. Muti menggeleng. "Aku bisa beladiri mas"
"Ha? Kamu yakin bisa?" tanya Sigit tak yakin. "Kamu lupa aku anak siapa?" jawab Muti meyakinkan Sigit.
Mereka mulai menyerang Sigit dan Muti. Mereka bisa menghindari serangan demi serangan yang diberikan lawan mereka. Hingga Muti lengah dan mendapatkan tendangan di perutnya. Sigit menjadi pecah fokus dan mereka berhasil menusuk perut bagian kanan Sigit. Muti menjerit.
"Mas Sigit!" Sigit mengerang. Polisi datang disaat yang tepat meskipun sedikit terlambat dan membekuk mereka. "Sigit!" ucap salah seorang polisi yang mengenal Sigit. Sigit dilarikan ke rumah sakit Ungaran. Sigit mendapatkan bebrapa jahitan di perutnya itu. Muti menunggu dengan cemas.
Hingga dokter selesai menangani Sigit, barulah Muti bisa menjenguknya. "Keluarga atas nama pasien Sigit Nagendra?" Muti dan seorang polisi tadi maju ke arah nurse station.
"Silahkan tanda tangan disini bahwa bersedia dilakukan tindakan. Pak Sigit mendapatkan 4 jahitan di bagian dalam dan 5 jahitan di bagian luar. Ini obatnya silahkan ditebus ke apotek, dan menyelesaikan administrasi ke kasir" Muti mengangguk.
"Biar saya saja mbak, anda temani Sigit saja" Polisi itu lalu mengambil tagihan pembayaran dan resep Sigit. Muti mengangguk. "Terima kasih, paakkk...."
"Ali, saya teman Sigit saat pendidikan dulu. Saya tinggal dulu" Muti menghampiri Sigit. Menanyakan keadaannya.
"Telpon Ayah dulu, mas takut beliau khawatir" Muti berdecak. "Pikirin kesehatan kamu, malah mikirin Ayah"
"Mas gak papa, kamu beladirinya hebat juga ya?" Sigit mencoba mengalihkan pembicaraan. "Jangan khawatir, mas beneran gak papa"
"Ih, siapa juga yang khawatir?" Kata Muti sambil bersidekap dan membuang muka.
"Kamu, tuh di jidat kamu ada tulisannya, mas aku khawatir sama kamu" Muti tak kuasa menahan tawanya melihat Sigit menirukan suara persis perempuan. "Malah tertawa. Buruan telpon Ayah"
"Iya iya bawel ih, udah galak, nyebelin, cerewet lagi" Muti menghubungi Ayahnya dan memberitahukan keadaan mereka. Membuat Indra sedikit khawatir. Muti memberikan ponselnya kepada Sigit karena Ayahnya ingin berbicara kepadanya.
"Sigit tidak papa Yah, sebentar lagi kami pulang kok. Hmm, iya Yah. Waalaikum salam"
Sigit memberikan ponsel Muti kembali. "Perut kamu gak sakit? Kan kamu tadi kena tendang"
__ADS_1
Muti menggeleng. "Aku gak papa" Ali kembali dan memberikan obat kepada Sigit. "Aih, pak Komandaaaan, kenapa bisa terluka sih?"
Sigit meninju lengan Ali. "Hilang fokus"
Ali tertawa. "Seorang Sigit bisa kehilangan fokus? Pasti karena mbak nya ini kan? Kenalkan lah bro aku padanya"
Sigit membalasnya dengan tawa. "Namanya Muti, anaknya panglima Indrajaya"
"Wowowowo, gak dapat anak Kapolda dapat anak Panglima ya? Ckckck, hebat! Ternyata benar kata orang-orang bahwa kamu akan menikah dengan anak Panglima. Aku turut bahagia lah. Mbak Muti, saya Ali, temannya Sigit calon suami kamu ini" Ali menyodorlan tangannya dan ditepis oleh Sigit.
"Gak usah pakai acara salaman"
Muti penasaran, anaknya Kapolda siapa? "Mas Ali, anaknya kapolda siapa namanya?"
"Niken mbak"
"Oooh, yang hari ini nikah ya?" Ali mengangguk.
"Biayanya habis berapa? Biar aku ganti" ucap Sigit lagi. Ali berdecak. "Gak usah! Ayolah aku antarkan pulang. Tim ku sedang menyelidiki kasus ini. Tadi mbak Muti juga sudah dimintai kesaksian. Kamu ada masalah dengan para preman atau punya dendam dengan seseorang?"
Sigit menggeleng "Aku tak pernah ada masalah sama preman. Jarang aku kontak langsung dengan mereka. Kebanyakan ditangani anggotaku. Aku bisa pulang sendiri" kata Sigit.
Mereka harus mengambil motor ke polsek Ungaran. Sigit dimintai keterangan atas kasus yang menimpanya dan Muti. Para teman-teman Sigit berjanji akan segera menangkap pelaku itu.
Sigit mengendarai motornya kembali. "Luka kamu benar tidak papa mas?"
"Hmm, iya gak papa. Besok juga sembuh"
"Itu ada jahitannya mas, sembuhnya paling tidak seminggu. Dirawat yang benar lho lukanya, biar tetap steril"
Sigit mengangguk dan menambah kecepatan motornya, mengingat itu sudah dangat larut. Hingga akhirnya mereka tiba di rumah Muti. Waktu menunjukkan pukul setengah 11 malam. Indra yang masih berada di Semarang menyambut kedatangan mereka.
"Maaf om, eh salah, maaf Yah, terlambat 30 menit" kata Sigit.
Indra mengangguk. "Gak papa, yang penting kalian selamat sampai rumah. Masuk dulu. Keluargamu ada di dalam semua"
Sigit masuk dan dilihatnya semua lengkap. "Sisi!" teriak Luna dan Hana.
__ADS_1
"Heeeeehhh, kalian berani ya sebut nama itu? Orangnya keluar baru tahu rasa kalian" Muti menahan tawanya.
"Kamu gak papa beneran?" Tanya Luna.
"Lebay kalian. Aku gak papa, Muti juga gak papa. Dia hebat lho beladirinya"
Obrolan mengalir begitu saja. Tak terasa sudah pukul 12 malam. Akhirnya semuanya pamit. Bagas mengendarai motor milik Sigit.
"Makasih sudah mengajakku kencan hari ini. Besok jangan lupa dan jangan telat antarkan para orang tua kita ke bandara dan antar jemput aku sesuai keinginan Ayah"
Sigit mengangguk. "Maaf kencannya dirusak para penjahat tadi"
"Yang penting kamu selamat" kata Muti. Luna dan Hana menggoda mereka. "Cie kencan cie"
"Eh, Si, kamu itu mbok ya yang romantis sedikit. Masa kencan kok touring. Besok lagi ajakin makan malam romantis kek, ajakin nonton film kek. Malah touring" ejek Luna.
"Tahu tuh mas Si, sama sekali gak romantis" timpal Hana
Muti membela Sigit. "Ih, romantis tahuuuu"
Wajah Sigit merah padam mendengarnya. "Cieee dibelain cieeee. Hahahaha" goda mereka lagi.
Sigit menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Sudah sana masuk. Sampai jumpa besok"
Muti mengangguk. Puas dia menggoda Sigit. Semua kembali ke rumah masing-masing. Meskipun menyisakan misteri pada hati Sigit. Siapa yang hendak mencelakainya dan Muti? Pikirnya.
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip