
Hana menyebarkan berita bahagia Muti di grup. Ia merasa senang akhirnya sepupunya hamil. "Mari kita tebar kebahagiaan....." katanya sambil memegang ponsel.
Hana : Gaes..... merapat! Penting!
Damar : Ada apa mbak Han?
Bima : Kenapa mbak?
Jihan : Kalian para laki kenapa semangat banget sih?? ð
Amaris : Tahu tuh, seneng banget kayaknya kalau ada bahan gibahan ð
Hamka : Mereka itu kerjaan sampingannya adalah tukang gibah, jadi jangan pada heran
Maryam : Termasuk kamu ya bang Hamka?? Ya kan? Hahaha, dia itu seniornya, yang ngajarin mereka dapat kerjaan sampingan tukang gibah ya dari bang Hamka ðĪĢðĪĢ
Hamka : Mulut mu ndukk...... kok tepat sih?? ðĪĢðĪĢðĪĢ
Hana : Hahaha, karena sudah ramai, mari kita mulai. Jadi, tadi pagi tuh ada yang cek ke poli obgyn dan kalian tahu siapa?
Maryam : Mungkinkah?? ðððð
Hana mengirim gambar hasil print out USG Muti di grup
Maryam : Aaaa..... selamat mbak ku..... Alhamdulillah ya Allah..... Semoga ponakanku nantinya gak sengklek kayak bapaknya. Aamiin ðĪðĪðĪ
Sigit : Semoga juga gak somplak kayak kamu! ððĪ
Jihan : Aaa.... hari ini kamu ijin karena cek up ke obgyn Muti? Syelamaaatttt.... Main ah ke rumah, mau nengokin calon ponakan. Mumpung gak ditengokin bapaknya. ððĪŠ
Ali : Alhamdulillah Si.... berhasil bobol gawang bini lu! Selamat berpuasa Si! ð
Luna : Alhamdulillaah..... selamat Muti dan Sisi.... Belum puasa tapi Sisi udah puasa duluan! Rasain! ðĪ
Danang : Mbak Muti beneran hamil itu? Alhamdulillah ya Allah... selamat ya buat mbak Muti dan Mas Si.... Puasa demi kebaikan mas!
Bima : Tahan Ndan! Kamu pasti bisa! Aku tahu pasti berat!ðŠðŠ
Damar : Memang kamu sudah pernah tahu rasanya Bim? Waaahhh.... Jihan! Patut dicurigai ini.... Bos Si mbak Mut selamat yak....
Hamka : Solo karir Si kalau gak tahan! ð
Sigit : ðððð No comment gaes. Wes ah aku meh manjain bojo. Yang lain jangan pada ngiri! Makanya pada buruan nikah! ð
__ADS_1
Maryam : ð Macam dia dulu disuruh nikah cepet mau! Hadeh....
Para anggota grup yang membacanya mengucapkan selamat kepada Muti dan Sigit.
Sigit tersenyum sambil mengelus-elus perut istrinya. "Apa sih?" tanya Muti terheran dengan sikap suaminya.
"Apa? Seneng lah! Gak sabar Mas pengen ketemu sama dedek. Sayang..... nanti kita main bola bareng ya?" kata Sigit. Muti menahan tawanya.
"Iya kalau cowok, kalau cewek?" jawab Muti. "Pasti cowok" kata Sigit dan tersenyum lagi.
"Cewek cowok sama saja, yang penting sehat selamat mas"
Sigit mengangguk. Ia menciumi perut Muti membuat istrinya kegelian. "Stop mas! Hish kamu ini.... geli ah"
Sigit menghentikannya. Ia duduk menghadap istrinya. Dan menggenggam tangannya. "Kamu sekarang lebih dewasa dari yang dulu"
Muti menautkan alisnya bingung. "Maksudnya?"
"Tadi itu lho, kamu gak kayak dulu main kabur-kaburan"
"Ya itu kan karena aku tahu kejadiannya, kalau pas saat itu aku telat datangnya dan gak tahu kejadiannya tahu deh! Mungkin kantor kamu sudah tak acak-acak!" Sigit tersenyum dan mengecup tangan istrinya.
"Hati ini hanya milik kalian berdua, kamu dan calon anak kita sayang. Gak akan ada yang mampu menggantikannya. Mandat yang mas terima bertambah, harus membimbing keluarga kita menjadi keluarga yang bahagia agar mendapatkan keberkahan dari Allah. Mas gak bisa main-main dengan mandat itu. I love you istriku...."
Sigit mengecup kening Muti. Muti tersenyum mendapati itu. "Terima kasih mas, kamu mau membimbing dan mengubahku menjadi lebih baik"
Muti merasa lapar. Ia ingin makan nasi panas dengan telur ceplok. "Mas, aku lapar"
"Lapar? Mau makan apa?"
"Nasi panas sama telur ceplok" Sigit mengangguk. "Tunggu disini biar mas yang buat"
Sigit bergegas ke dapur untuk melihat nasi, ternyata masih ada. Ia menggoreng telur sesuai permintaan istrinya. Tak lama ia membawa makanan itu kembali ke kamar.
Tiba-tiba saja Muti mual dan ingin muntah. Segera ia berlari ke kamar mandi. Sigit meletakkan makanan itu dan menyusul istrinya. Ia membantu istrinya memijat tengkuknya.
"Sudah?" Muti mengangguk. Ia kembali ke kamar. Lalu seketika mual kembali. Ia menutup mulut dan hidungnya. "Mas, bau!"
"Ha? Katanya pengen makan ini tadi" Muti menggeleng. "Tolong bawa keluar"
Sigit menghela nafasnya dan membawa makanan itu keluar. Muti menghidupkan AC agar aroma makanan itu hilang.
Setelah menunggu beberapa saat aroma itu pun hilang. Ia kembali ke kamar. Sigit membawakannya buah potong.
__ADS_1
"Kalau makan ini bisa gak yank?" Muti melihat makanan itu. "Coba mas"
Muti sangat lahap memakan berbagai buah potong yang diberi madu oleh Sigit. "Enak?" Muti mengangguk. Tak berselang lama makanan itu pun habis. "Lagi" rengeknya.
Sigit tersenyum. "Bentar ya?" Muti mengangguk. Tak berselang lama, Sigit datang membawa makanan itu lagi. Muti memakannya lagi hingga habis. "Lagi?" tanya Sigit. Muti menggeleng. "Kenyang mas"
"Ya sudah, mas mau mandi dulu. Kamu tiduran saja" Muti mengangguk. Sigit keluar dari kamar dan makan sebentar, setelahnya mandi. Muti ingin terpejam tapi tak bisa. Ia melihat ponsel Sigit yang sedang dicharger bergetar. Muti penasaran.
Ia meraih ponsel itu dan melihat ada beberapa chat yang masuk. Ia membukanya. Ia membaca pesan satu per satu. Ada nama Niken disana. Seketika mood Muti menjadi rusak. Ia membaca chat yang masuk.
Niken : Git, bisakah kita menjadi seperti dulu?
Muti menautkan alisnya. Sigit kembali dan melihat wajah Muti yang sudah cemberut lagi sambil memegang ponselnya. Ada apa lagi ini? . "Ehm... yank"
Muti melempar ponsel Sigit dan masuk dalam selimut. Sigit mengambil ponselnya dan membelalakkan matanya melihat chat yang masih belum tertutup.
Ia segera membuka selimut itu. "Yank, lihat! Lihat dulu, ini nomer Niken mas blokir!" Muti melirik melalui ekor matanya.
Sigit memblokir nomor Niken. "Jangan cuma nomornya! Semua medsosnya blokir semua" kata Muti. Sigit mengangguk. Ia mulai membuka medsosnya satu per satu dan memblokir akun milik Niken.
"Sudah puas sayang?" tanya Sigit dengan penuh senyuman. Muti mengangguk. "Jangan cemberut lagi ah, Mas sudah berjanji di depan calon anak kita, gak mungkin berani mas mu ini berpaling. Ada amanah besar yang mas emban nduk cah ayu...."
Muti memeluk suaminya. "Aku terlalu cinta sama kamu mas"
"Iya mas tahu, mas juga cinta dan sayang sama kalian. Bobok yuk... mas ngantuk" Muti mengangguk. Mereka tidur dengan posisi berpelukan.
"Bentar lagi puasa yank, kamu kalau gak kuat, jangan dipaksain ya?" Muti tersenyum. "Harus dikuatkan lah mas.... biar dedek juga ikut menghormati bulan suci nanti. Biar dedek gedenya nanti seperti papahnya yang agamanya lebih rajin dari mamahnya"
Sigit mengecup kening Muti. "Terserah kamu, tapi kalau gak kuat jangan dipaksain ya? Karena dedek juga perlu asupan nutrisi yang lengkap"
"Iya mas" Mereka sama-sama memejamkan mata. Dan tertidur.
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip
Ayo kencengin vote nya.... senin nihh....