Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 161


__ADS_3

Waktu cepat sekali berlalu, tak terasa, usia Aariz menginjak 1,5 bulan. Aariz dijadikan bahan belajar bagi Muti dan Sigit, Luna dan Danang. Belajar mengasuh bayi sedari dini.


Hana dan Ali saling bahu membahu merawat dan mengurus Aariz. Setiap malam dia selalu mengajak orang tuanya begadang. Tapi, hal itu menjadikan orang tuanya solid dan kompak. Tak pernah sekalipun mengeluh.


Jika Hana kelelahan dan menyebabkan ASI nya berkurang, maka dengan sigap Ali melakukan pijat laktasi kepada istrinya. "Makasih sudah menjadi suami siaga bagi kami" ucap Hana. Ali tersenyum dan mengecup bahu Hana.


.


Sedang di lain tempat, Danang muntah-muntah di kamar mandi. Luna membantu memijat tengkuknya dengan wajah cemas. "Kamu masuk angin atau gimana sih sayang?" tanya Luna.


Danang menggeleng. "Gak tahu, rasanya mual dan pengen muntah saja"


"Ya sudah, yuk aku kerokin" Danang mengangguk. Luna mengoleskan minyak kayu putih di seluruh badan Danang. Lalu mulai mengerok bagian punggung Danang. "Kok gak merah ya?" tanya Luna.


Danang tersenyum. "Kalau kamu ci*pok nanti jadinya kan merah" candanya.


Luna memukul bahu suaminya. "Sakit masih aja pikirannya kesitu. Kurang-kurangin kumpul sama Sigit dan Mas Ali deh, heran aku sama kalian para lelaki. Itu saja yang dibahas"


Danang tertawa. Luna semakin keras mengerok punggung Danang, membuatnya kesakitan. "Sakit yank!"


"Biarin!"


"Justru kalau kami, para lelaki gak ngomong begituan kalian harus waspada" Luna menautkan alisnya bingung.


"Kenapa waspada?" tanyanya polos.


"Karena takutnya pasti ada sesuatu yang salah"


"Iyakah?" tanya Luna masih tak percaya. Danang mengangguk. "Mas, besok nginap ke rumah Mamah yuk? Kangen nih"


Danang menoleh. Heran dengan perkataan istrinya. "Ha?"


"Apa? Kenapa?"


"Yakin mau nginap di rumah Papah dan Mamah? Kamu.... gak gimana gitu sama Mamah?"


Luna berdecak. "Aku mencintai anaknya, berarti aku juga harus mencintai keluarganya. Meski Mamah dulu jahat sama aku, bukan berarti aku harus dendam sama beliau sayang. Setiap orang berhak berubah dan diberikan kesempatan"


Danang tersenyum mendengar penuturan istrinya. "Terima kasih"


"Sama-sama. Yang belakang udah selesai nih, gantian yang depan" Danang berputar. Luna mengerok bagian depan tubuh Danang. Setelah selesai mereka langsung tidur.


Tiba-tiba tengah malam, Danang kembali muntah. Membuat Luna ikut terbangun. Tubuh Danang lemas. Luna membuatkannya teh hangat. "Makasih Yank" kata Danang sambil menyeruput teh nya.


"Sama-sama. Kamu kenapa sih sayang? Kok muntah terus?" Danang menggeleng. Luna menghela nafasnya. Ia kembali memakaikan minyak kayu putih di tubuh Danang. Mereka kembali tidur. Subuh menjelang, Luna harus sholat sendirian karena saat Danang menjadi imam ia tiba-tiba muntah lagi.


Akhirnya ia menghubungi Maryam. "Dek, di Magelang apa Semarang?"

__ADS_1


Semarang lah, kenapa?


"Bisa tolong ke apartemen mbak sekarang? Mas Danang dari semalam muntah terus"


Maksudnya Mas Habib suruh meriksa mas Danang?


"Iya, itulah maksudnya"


Oke, dia libur ok, langsung meluncur kesana. Minta sarapannya ya nyonyaaaa


"Iya ah, buruan!"


Sabar ih. Assalamualaikum


"Waalaikum salam"


Habib dan Maryam langsung menuju apartemen. Tak lama mereka pun tiba. Habib langsung memeriksa keadaan Danang. Ia merasa heran. Tak ada yang salah dengan tubuh Danang.


"Mbak Lun, mas Danang nih baik-baik saja" Luna mengerutkan dahinya. "Tapi dia muntah terus Bib"


Maryam juga heran dengan hasil pemeriksaan suaminya. "Coba cek ulang mas, siapa tahu salah gitu kan?"


"Ck, gak mungkin dek, tubuh mas Danang normal semua. Nyeri ulu hati gak ada, bising usus normal, kembung juga gak" terang Habib. Maryam mencoba menelpon Mamahnya, menceritakan keadaan Danang. "Hmmm, ya sudah mah, makasih. Assalamualaikum"


Maryam tersenyum melihat Luna. "Mbak Lun, aku ke apotek sebentar ya" Luna mengangguj.


"Gak usah mas, cuma di depan kok".Maryam bergegas ke apotek. Membeli sesuatu yang dipesan Mamah Anin.


Tak lama ia kembali. Maryam memberikan alat tes kehamilan kepada Luna. Semuanya menatap heran kepada Maryam. "Mamah bilang, mungkin mas Danang lagi mengalami tanda tidak pasti kehamilan. Itu biasa terjadi pada suami saat istrinya tidam merasakannya. Coba aja mbak, terakhir mens kapan?" tanya Maryam.


Luna melihat kalendernya. "5 hari sebelum nikah, berarti aku udah telat sebulan? Gitu maksudnya dek?" Maryam mengangguk. Luna mencoba alat tes kehamilan itu. Harap-harap cemas ia rasakan.


Ia mencelupkan stik tes itu, lalu menunggunya. Maryam tak sabar dengan hasilnya. "Gimana mbak Lun?"


Luna keluar dan menunjukkan hasilnya pada Maryam. Luna dan Maryam membaca keterangannya. "Garis dua artinya positif!" seru mereka berdua. "Alhamdulillah Ya Allah...." Maryam dan Luna berpelukan. Danang terharu mendengarnya.


Suasana bahagia sungguh terasa dalam apartemen itu. Habib mengambil hasil tes itu dan mempostingnya di grup disandingkan dengan Danang yang lemas karena muntah.


Habib : (Mengirim foto Danang yang lemas dan hasil urine tes Luna) Barakallah.... pagi-pagi sudah ada yang positif aja nih, semoga aku dan Maryam segera menyusul. Aamiin 🤗🤗


Sigit : Luna bunting Bib??


Ali : Luna hamil??


Bima : Alhamdulillah.... selamat Lun, mas Danang, tapi itu kenapa mas Danangnya yang lemes??


Maryam : Iya mbak Luna hamidun.... Mas Danang yang mual muntah. Kasihan kan ya?

__ADS_1


Amaris : Syukur Alhamdulillah... Barakallah.... senengnya sampai Jakarta lho.... selamat mbak Luna dan mas Danang, ayo Bib, Mar kejar tayang


Shanum : Aaaa.... ikut bahagia..... selamat selamat selamat


Hamka : Alhamdulillah.... Nanti semua ponakan pakdhe main ke rumah pakdhe Ndut di Magelang yaaa.....


Sigit : Bukan cuma main pakdheee...... nginep sana, situ yang ngasuh kami indehoy!


Ali : Setuju sama ide berlian mu Si!


Damar : Bang Ali, lidah kesleo apa gimana? Briliant, berlian... jauh kali bang!


Ali : Ha kuwi lah maksudku Dam...


Luna : Makasih atas ucapannya gaes.... do'akan lancar segalanya ya.... ini gimana ya suami aku??


Jihan : Kata mamahku, biasanya bapaknya pernah nyakitin ibunya gak mbak? Misal mas Danang pernah bikin salah sama Mbak Luna. Nah, mungkin anaknya belum ikhlas


Sigit : Ada, oke, Lun, kejawab ya Lun. Ini kan masalah pribadi, jangan dijawab disini. Grup sementara aku kunci sampai besok pagi gaes.....


Sigit mengubah setelan grup. Danang memegang tangan Luna. Maryam dan Habib memilih sarapan dan tak mengganggu mereka berdua.


Mereka saling tersenyum. "Selamat atas kehamilan kamu sayang" Luna mengangguk. Danang turun dari ranjang dan bersimpuh di paha Luna. Mengecup perut Luna dan mengelus-elusnya.


"Maaf kalau Papah pernah menyakiti Mamah kamu, Papah tahu Papah salah nak, tolong maafkan Papah...."


Luna membelai rambut suaminya. "Dia belum ada saat kejadian lalu mas. Mungkin hanya mitos yang seperti itu


"Tapi Mas merasa bersalah yank, mas mohon maafkan mas" Luna mengangguk dan menangkup wajah suaminya.


"Dalam lubuk hatiku, aku sudah memaafkanmu, semoga kamu tidak muntah-muntah terus. Nak, kita maafkan papah ya? Jangan buat papah susah nak, kasihan papahnya lemas. Kita maafkan ya nak...." terang Luna sambil mengelus perutnya yang masih rata itu.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip


Maaf lama, kerja dulu di dunia nyata gaes...

__ADS_1


__ADS_2