
Selepas maghrib, mereka semua berkumpul di rumah Luna. Memberikan kejutan untuk pakdhenya. "Surprise" teriak mereka semua.
Ayah Tristan dan Bunda Tari yang sedang asyik menonton tv terkejut mendengarnya. "Ya Allah, bunda lupa kalau Ayah ulang tahun" kata Bunda Tari menepok jidatnya.
Semua tertawa. "Jadi gak ada acara makan-makan dong budhe?" tanya Sigit. Bunda Tari menyengir. "Waduh!" Sigit menepok jidatnya.
"Tenang, om Tompel sudah bawakan catering terenak di kota Semarang. Dan ada berita gembira untuk kalian" om Tompel datang dengan senyum sumringahnya. Semua wajah tegang menantikan berita itu. Beberapa orang catering membawa makanan di tangan mereka.
"Sekarang, kita makan dulu. Untuk berita bahagianya nanti saja. Hehehehe" Om Tompel menyuruh petugas catering untuk menyiapkan semua makanan. Tak lama makanan pun siap. Ali ditunjuk untuk memimpin doa. Luna membawakan puding yang tadi ia buat.
"Barakallahu fii umrik Yah, doa terbaik untuk Ayah terbaik yang Luna dan Bunda miliki. Tetap jadi pribadi yang hangat untuk kami, meski kadang.... kelewatan sih.... heheheh"
Ayah Tristan tersenyum. Ia mengecuk kening istri dan putrinya itu. Membuat suasana sedikit haru. "Barakallahu fii umrik suamiku yang over protective... Maaf bunda lupa" kata Bunda.
"Gak papa, alhamdulillah, terima kasih buat semuanya, kalian memang keluarga tersolid yang pakdhe dan budhe punya. Doa terbaik juga pakdhe panjatkan untuk kalian semua. Ini puding cantik sekali, siapa yang buat?" Luna menunjuk dirinya senang. Hana dan Maryam tak mempercayainya.
"Palingan mbak Muti, kamu tinggal tunggu jadi aja kan mbak Lun?" kata Hana.
"Nggapah! Gak lah! Tanya Muti tuh. Ya kan Muti?" Muti mengangguk.
"Ayo to.... buruan pakdhe potong pudingnya, habis itu makan kenyang kita....." Maryam menghentikan pertikaian kecil itu. Ayah Tristan memotong puding itu dan memberikannya pada istrinya "You are the only one, my love"
Semua tersenyum. "Cieeee....." kata semuanya. Bunda Tari tersenyum malu. "Yang muda kalah...." kata Ali. Semuanya tertawa.
"Ayo semuanya makan" Bunda Tari mempersilahkan semuanya makan. Bima datang terlambat. Semua heran dengan kedatangannya. Bima pun terkejut mengapa ramai? pikirnya.
Ia mengucapkan salam dan menyalami orang tua Luna. "Ayo makan dulu" kata Ayah Tristan.
"Kamu ngundang mas Bima?" tanya Hana. Luna menggeleng. Bima mendekatinya.
__ADS_1
"Kok gak bilang kalau Ayah kamu ulang tahun?" tanya Bima. Luna hanya tersenyum. "Berarti aku tamu gak diundang dong ya?" katanya lagi.
Luna berdahem. "Maksudmu apa sih mas? Aku memang gak ngundang orang lain kecuali keluarga" Bima tersenyum kecut.
"Aku lupa kalau aku bukan keluargamu" Luna jengkel dibuatnya. Ia sudah mengatakan kepada Bima jika dirinya belum bisa membuka hati untuk orang lain, oleh sebab itu Luna menolak lamarannya.
Sigit dan Muti melihat dari kejauhan. Memperhatikan sikap Bima yang masih menaruh harap pada Luna. Tapi, sikap Luna bertolak belakang. "Kasihan Bima, dia masih menaruh harap sama mbak Luna" kata Muti.
Sigit mengangguk. "Namanya juga hati yank, mana bisa dipaksa?" Muti menatap suaminya. "Memang dulu kita gak dipaksa?"
Sigit mengingat kembali kejadian dirinya dan Muti. "Iya juga ya? Tapi kenapa sekarang malah jadi bucin?" Ali ikut nimbung dalam percakapan mereka. "Beda kasusnya Git"
Mereka berdua menautkan alisnya. "Kalau kita, dipaksa tapi hati kita sedang tidak merasakan sakit. Beda dengan Luna, dia terlalu kecewa dengan Danang. Makanya dia sampai bersikap seperti itu dengan Bima. Si Bima juga, gak bisa baca hati perempuan"
"Maksudnya?" tanya Muti. Ali menghela nafasnya. "Perempuan seperti Luna itu kalau semakin dikejar akan semakin menjauh, Luna tipe wanita yang suka pria berkarismatik, jual mahal, dingin. Dan kebanyakan wanita memang suka dengan tipe lelaki seperti itu"
"Makanan bergizi tinggi lah" jawabnya. "Contohnya?" tanya Muti.
"Susu....." kata Hana melenggang pergi mengambil makanan lagi. Mereka tertawa. "Banyak makan sekarang dia"
"Iya, Hana agak gendutan" kata Muti setuju dengan ucapan Sigit. Ali tersenyum. "Dia telat sebulan. Aku suruh cek belum mau. Takut kayak Muti, takut kecewa"
"Suruh tes lah Al" Muti merasa ada sesuatu yang keluar dari bawah sana. "Mas,.aku ke kamar mandi bentar ya?" Sigit mengangguk.
"Nanti lah, aku gak enak kalau maksa Hana. Gak mau bikin dia sedih" Sigit menjitak kepala Ali. "Melow banget sih lu sekarang!"
Om Tompel datang mendekat. Luna meninggalkan Bima dan bergabung dengan Sigit dan Ali. "Jadi gini, Om punya rekaman yang sangat bagus. Sebuah bukti yang sangat kuat bahwa hotel itu adalah hotel untuk prosti*tusi" Om Tompel membeberkan semuanya yabg berhasil ia ketahui.
Buku rekening, kwitansi pembayaran, rekaman percakapan, dan bukti kejadian prosti*tusi berhasil dibawa oleh Om Tompel. Sigit dan kawanannya melihat bukti tersebut. Mereka sampai geleng-geleng kepala melihatnya.
__ADS_1
"Kapan peresmian hotel om?" tanya Luna. "Besok malam. Mereka mengundang banyak tamu penting dalam acara itu. Seakan tak takut akan terbongkar kedok mereka"
"Itu salah satu trik mereka agar tak dicurigai kali om. Ya sudah, kita susun rencana. Besok kita harus bisa masuk dalam acara itu. Kita hack semua yang ada disana. Al seperti biasa, lu tukang hacker andalan, lakukan semuanya. Aku dan Luna akan masuk sebagai tamu undangan dan membantumu untuk menyalin file itu.
Lun, tarik semua anak buah kamu agar mereka tak bisa leluasa menjaga tuan mudanya. Berdandan lah yang cantik. Karena Mia oasti ada disana dan mengenali kita. Aku akan mdnjadi mbak Sisi" terang Sigit.
Luna dan Ali mengangguk. "Amankan dulu istri-istri kalian di rumah kakek, aku akan menyuruh beberapa orang untuk berjaga disana"
"Kerahkan semua intel untuk membekuk mereka Git" imbuh Ali. Sigit mengangguk
Mereka mengangguk. Siap untuk melaksanakan misi mereka. Muti kembali dari toilet. "Mas pulang yuk. Aku mens nih" katanya berbisik di telinga Sigit.
"Yaaahh...... batal dong main bikin dedeknya.... Sudah lah tadi siang gagal gegara Luna, eh, sekarang pula ada halangan. Aaaahhhgggrrrrr...." Sigit kesal. Semuanya tertawa.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan
__ADS_1