
Pernikahan Hamka dan Shanum akan digelar siang ini. Dekorasi khas Aceh nampak terasa disana. Makanan khas daerah Pati, Aceh, dan Magelang berpadu sempurna pada tempatnya masing-masing. Hasil tak akan mengkhianati usaha. Hamka berhasil turun 8,7kg dalam waktu 10 hari. Membuatnya terlihat semakin bugar dan perutnya kembali rata.
Ia nampak gagah mengenakan baju adat Aceh untuk akad nikahnya. Shanum telah mantap menggunakan hijab. Ia terlihat sangat berbeda, cantik, anggun, dan natural. Muti, Hana, Luna, Maryam, Azka, dan Jihan sampai geleng-geleng kepala melihatnya.
"Masyaallah Shan.... cantik kali...... Foto dulu yuk...." Mereka merapatkan barisan. Berfoto dengan Shanum. 3 wanita kembar datang menghampiri mereka di kamar pengantin itu. "Assalamualaikum...." ucap mereka.
"Waalaikum salam" Amaris, Adel, dan Aylin disusul dengan Humaira. Memberi pelukan dan ucapan selamat pada Shanum.
Amaris memperkenalkan saudara kembarnya itu. "Ini kak Aylin yang dokter, yang ini Adelia bos lele. Ini pasti sudah tahu dong? Humaira, iparnya Maryam" Mereka semua berkenalan satu per satu dan saling cipika cipiki.
"Mbak Maris, tinggal kamu sama Damar nih yang belum" kata Muti. Amaris hanya tersemyum. "Do'akan kami juga diberi kelancaran seperti yang lain mbak Muti"
"Aamiin" sahut semuanya. Mereka berfoto bersama. Sedangkan para pria tak henti-hentinya menggoda Hamka.
"Ini rata nih" Ali meraba-raba perut Hamka. "Hish!" Hamka kegelian.
Semuanya tertawa. "Mastiin dulu dong, ada korsetnya apa gak? Kalau ada kan ini nanti aku siapkan baju dari sponsor kecap dan minyak goreng. Kemarin aku minta yang ukura XXL biar bisa muat dibadanmu bang" imbuh Ali.
"Kayaknya gak akan berguna deh bang, nanti kalian pakai saja buat jalan-jalan ke mall sama istri tercinta" sahut Damar. Hamka tersenyum dan menepuk bahunya.
"Ini nih yang namanya junior loyal sama senior, membela seniornya, bukan malah ngejatuhin!" kata Hamka.
"Eh, tapi jangan ding bang, kasihkan saja kaos itu, siapa tahu habis resepsi dia makan langsung segunung kan jebrot lagi bajunya"
"Hahahahahaha" semuanya tertawa. Hamka berdecak. "Sakit memang ya bang, habis diumbul-umbulin kayak layangan, habis itu dijatuhin kayak batu" sahut Habib.
"Kalian nih memang sukaaaaa banget ngebully aku"
Sigit berdecak. "Pikirin nanti malam bang" katanya. Hamka memasang wajah serius. "Nah, itu yang harus aku tanyain sama kalian. Mulainya dari mana?" tanya Hamka polos.
Semuanya kembali tertawa. "Mulai dari nol ya bang" kata Bima. Hamka kembali berdecak. "Serius ini.... mulainya ngapain dulu"
"Matiin lampu" kata Sigit. "Ganti baju" imbuh Ali.
"Ambil wudhu" sahut Habib
"Lakuin sholat sunnah" timpal Bima.
__ADS_1
"Ganti seprei biar gak gatel" imbuh Danang
"Bersihin ranjang" kata Damar. Semuanya terdiam. "Terus?" tanya Hamka.
"Tidur lah!" kata semuanya. Hamka menghela nafasnya kesal. "Kalian ih...."
Semuanya kembali tertawa. "Aneh kamu bang! Masa iya hal begituan harus kami ajarin sih??" ucap Sigit.
"Mbuh lah, nanti aku kalau gak tahu caranya yowes tak tinggal merem bae" kata Hamka pasrah. Hilal datang dan memberitahukan bahwa penghulu memanggil Hamka untuk segera Akad. Hilal juga menyapa semua geng somplak itu.
"Mas Hilal, sama Azka gimana?" tanya Sigit, Ali, dan Danang. Hilal tersenyum dan menggaruk tengkuknya malu.
"Yeeee ditanyain malah malu" jawab Danang.
"Bisa bantuin deketin gak sih? Azka susah-susah gampang ditaklukin soalnya mas" jelas Hilal.
Ali merangkul Hilal. "Susah gimana maksudnya?"
"Jarang chat dia" kata Hilal. Semuanya berdecak. "Cewek memang begitu! Mereka gak akan chat kalau bukan kita duluan yang chat. Serius gak sih sama Azka?" tanya Sigit.
"Serius lah Mas Si, cuma ya itu.... komunikasinya belum seintens seperti pada umumnya. Saya juga masih sibuk belajar, dia sibuk dengan tugasnya"
"Bantuin dong...." Sigit, Ali, dan Danang mengangguk. "Bantuin do'a ya?" kata mereka menepuk bahu Hilal.
Azka datang sambil mengomel. "Hish kalian malah ngerumpi disini! Mas Si! Jadi saksinya bang Hamka kan?"
"O iya lupa!" Sigit menepok jidatnya. "Itu gegara lu minum susu kucing kali Si!" ejek Ali. Sigit berdecak dan meninggalkan mereka menuju tempat ijab qobul.
"Azka nih.... jangan dianggurin, diapelin aja biar enak" Danang menarik Ali untuk menjauh dari mereka berdua. Tinggal Azka dan Hilal. "Assalamualaikum mas" Azka menyapa Hilal.
"Waalaikum salam, apa kabar Az?"
"Baik Mas, mari ikut menyaksikan akad nikah mbak Shanum" Hilal menarik pergelangan tangan Azka.
"Abang pengen banyak waktu sama kamu Az, Abang pengen kita bicara tentang hubungan kita" kata Hilal. Jantung Azka berdetak tak beraturan. Ia mengatur nafasnya. "Kita ikuti dulu prosesi akad nikah mereka mas, setelah itu silahkan meminta izin kepada orang tuaku"
Hilal melepaskan pegangannya dan tersenyum. Mereka berjalan beriringan menuju tempat akad nikah berlangsung.
__ADS_1
"Saya terima nikah dan kawinnya Shanum Ufairah Wibisana binti Almarhum Ari Wibisana dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas batangan 5 gram dibayar tunaiiii" Hamka lancar melafalkan ijab qobul itu. "Saaah" ucap para saksi.
Resepsi digelar sekaligus. Menjadi ajang reunian bagi para purnawirawan TNI maupun yang masih bertugas. "Raka? Bagas?" sapa seseorang kepada Papah Bagas dan Papi Raka.
Mereka menoleh. "Barakallah bang Bekti.... apa kabar bang?" kata Papi Raka, mereka memberikan hormat bagi mantan Danki mereka dulu.
"Alhamdulillah baik, kalian diundang juga?" tanya Pak Bekti. "Panglima kan besanku bang"
"Oalaaah..... nikahin anak gak undang-undang!" Papah Bagas hanya menyengir.
Mamah Anin dan Mami Salma juga menyalami bu Siwi. "Reza gugur dalam satgas ya dulu bang?" tanya Papi Raka. Pak Bekti mengangguk. "Iya, tapi ya mau bagaimana lagi. Kita ini kan milik negara. Ilyas juga akhirnya jadi tentara. Mana dia tadi"
"Yas!" Ilyas menoleh mendengar ada yang memanggilnya. Ilyas menghampiri Ayahnya. "Dek, Ayah sama Ibu disana, ayo kesana" Ilyas mengajak Adel bertemu dengan orang tuanya. Mereka berjalan dan menghampiri sekumpulan orang itu.
Pak Bekti memperkenalkan satu per satu orang yang ada. Ilyas dan Adel menyalami mereka. "Kok mirip pak Duta ya? Mirip siapa pacar Damar? Maris?" tanya Papah Bagas
Adel tersenyum. "Saya yang paling bontot Om, Adel"
"Oooo.... pantesan! Bu bos lele jebule. Halalin Yas!" sahut papi Raka. Ilyas tersenyum. "Do'akan om"
Saatnya foto bersama. Geng somplak maju ke atas panggung. Para wanita berada di samping kiri Shanum. Dan para lelaki berada di sebelah kanan Hamka. Fotografer mengarahkan gaya bagi mereka.
"Yok sekarang gaya bebas" kata sang juru kamera. Semuanya bersiap. Sigit yang paling diujung sudah siap dengan gaya yang mereka sepakati.
"1 2 3"
Semuanya berbaris menutupi pengantin itu. Semuanya tertawa dengan tingkah konyol mereka.
.
.
.
Like
Vote
__ADS_1
Komen
Tip