
Sigit, Hamka dan Damar bergegas melajukan mobil mengejar ketertinggalan. Hamka sebagai pengemudi. Mangemudikan mobil seperti setan. Memainkan klakson dan kecepatan begitu apik. Sigit hanya geleng kepala dan tersenyum kecut padanya.
"Bang, hati-hati" ucap Damar khawatir. Hamka berdecak. "Macam anak kecil kamu Dam, diam atau turun?" balas Hamka.
Sigit tertawa mendengarnya. "Mbuh bang, pasrah lah" jawab Sigit. Hamka hanya cekikikan.
"Si, gimana rasanya nikah? Enak gak? Itu si Ali mimpi dapat durian runtuh apa bagaimana? Dapat anaknya DanYon Raka" Hamka penadaran dengan cerita asmara mereka.
Ganti Damar yang berdecak. "Jangan cerita sekarang bang Si! Bisa mampus kita! Fokus bang!"
"Hahaha, kamu ini Dam, benar aku turunkan kamu di jalan depan biar digodain sama cewek-cewek genit itu"
"Ampun bang jago! Jangan!" kata Damar. Hamka semakin liar mengemudikan mobilnya, hingga terlihat rombongan yang membawa tahanan itu.
"Makanya bang! Nikah! Mau sampai kapan begini terus? Ingat umur sudah kepala 3! Ali memang dapat jackpot bang, ini si Hana lagi bunting anak dia" kata Sigit setelah Hamka berhasil masuk barisan.
Hamka tersenyum kecut. "Calonnya belum ada! Maryam mau gak sama aku?" Damar tertawa.
"Jelas gak mau lah! Orang dia sudah akan bertunangan sama anaknya kepala Bawaslu Ambarawa" jelas Sigit.
"Laaahhhh.... Hahahaha, suruh Maryam carikan kowad lah! Malas kalau seprofesi! Gak ada gregetnya gitu"
__ADS_1
Sigit dan Damar tertawa. "Greget gimana bang? Pengen gigit yang mana?" goda Damar. Hamka tertawa puas dan keras. "Yang bisa digigit lah Dam! Wkwkwkwk"
"Dasar!" kata Sigit meninju lengan seniornya. "Untung saja Ali otaknya bisa diandalkan. Luna diajak muncak sama Nanda biar bisa tahu dalang dibalik pembebasan Mia siapa"
Hamka geleng kepala mendengar penuturan Sigit. "Kita dibelakang mobil Ali saja bang, yang ada di dalam sana itu para penjahat kelas kakap!" Hamka mengangguk dan membuntuti mereka.
Sedang di dalam mobil tahanan itu, 3 tahanan itu bingung. "Bagaimana ini tuan? Apakah kita hanya akan sampai disini?" tanya Mia.
Arsya memejamkan matanya. "Diamlah! Aku juga tak tahu harus berbuat apa! Tikus tak bisa ku andalkan! Arrgghhhh....!!!"
Bima dan Ali yang mendengarnya lewat celah penghubung dalam mobil itu tersenyum kecut. "Mau aku pinjami ponsel agar kalian bisa menghubungi orang untuk membebaskan kalian? Dasar! Harusnya kalian itu mikir! Caranya untuk insyaf bagaimana! Ini malah mikir caranya kabur!" jawab Ali.
Perjalanan mereka lalui tanpa rintangan seperti tadi. Mereka diantarkan oleh para sesama anggota kepolisian setiap daerah yang mereka lalui.
Mereka memberikan penghormatan, lalu sebagai wakil dari Polda Jawa Tengah, Hamka menyerahkan berkas serah terima tahanan kepada pihak Mabes. Mereka juga melakukan konferensi pers pada media.
Selesai itu, Ayah Indra menghampiri Sigit dan rekan-rekannya. "Mantu Ayah" katanya sambil merentangkan tangannya.
Sigit tersenyum dan memeluk Ayah mertuanya itu. "Ayah sehat?" Ayah Indra mengangguk. "Muti nelpon Ayah terus menerus, menanyakan kabar kamu. Ponselmu tidak aktif katanya"
Sigit mengangguk. "Sengaja Yah, karena dalam perjalana. tadi kami diserang 2 kali"
__ADS_1
Ayah Indra mengangguk. Ali dan yang lainnya juga menyalami Ayah Indra. "Kerja hebat!"
Mereka tersenyum. "Yah, punya anak didik kowad yang masih single tidak? Nih, bang Hamka nyari istri"
Hamka melotot dan menginjak kaki Sigit. "Junior kurang ajar!" Mereka semua tertawa. "Ada, Shanum. Mantan pacar almarhum Galih, dia di kesatuan batalyon Magelang. Kalau mau, ajak lah Git kesana. Sekalian anatar Muti terapi juga kan?"
Sigit mengangguk. "Tuh bang! Semoga saja kamu berjodoh dengan Shanum" goda Bima. Hamka menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena malu.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1
Disini sudah gak ada actionnya ya gaes, udah habis di episode sebelumnya. Segini dulu. Othor tidurkan anak dulu