
Ayah Tristan mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari keberadaan Muti dan juga Hana. Agak sulit, tak ada alat yang bisa mereka lacak. Mereka hanya berbekal plat nomor kendaraan yang bisa dengan jelas terlihat di cctv.
Ayah Indra, Papah Bagas, Papi Raka serta kakek Umang menyusun strategi untuk menyelamatkan Muti dan Hana. Papah Bagas memimpin operasi penyelamatan itu.
"Bang, berikan kami perlengkapan untuk operasi kali ini. Persenjatai kami" ucap Papi Raka. Ayah Indra mengangguk. "Aku sudah meminta perlengkapan untuk kita semua dari Batalyon terdekat. Kita harus segera kesana untuk mengambilnya"
"Oke, langkah pertama kita sudah dibantu oleh anak buah Bang Tristan. Langkah kedua kita adalah melumpuhkan anak Anggoro dan juga anak Akbar. Setelah itu kita bebaskan Muti dan Hana. Semoga mereka tak diapa-apakan oleh orang-orang gila itu. Yah, Ayah tidak perlu ikut. Ayah di rumah saja. Aku juga sudah meminta bantuan dari Kapolda Jawa Tengah dan Kapolres Sigit. Mereka akan ikut dalam operasi ini" tutur Papah Bagas menjelaskan strategi yang akan mereka lakukan.
Kakek Umang menggeleng. "Aku harus ikut. Kamu pikir Ayah tidak sanggup untuk melawan cecunguk itu? Akan aku tuntaskan dendam lama itu"
"Tapi Yah...." Papi Raka memegang bahu papah Bagas dan mengangguk. "Biarkan Ayah ikut"
"Kalau Ayah ikut, itu artinya kita harus melindungi Ayah juga Ka"
"Ayah tidak akan mengganggu kalian. Sebelum kalian menjadi jendral seperti ini Ayah sudah pernah merasakan jabatan itu. Kemampuan untuk menjadi jendral bukan gampang. Perlu peningkatan kemampuan. Jangan meremehkan Ayah" Kakek Umang sedikit kesal dengan papah Bagas.
Papah Bagas menghela nafasnya. "Bukan Bagas meremehkan Ayah, Anin yang akan marah-marah karena membiarkan Ayah ikut"
"Dia akan mengerti. Sudah, ayo cepat berangkat. Para anak gadismu sedang dalam bahaya. Orang yang hatinya sudah diselimuti dendam, dia akan dibutakan dengan amarah. Tubuh mereka sudah tidak bisa membedakan yang benar dan salah" jelas kakek Umang. Mereka semua mengangguk. Mereka kembali ke ruang tamu rumah Muti. Memberi pengertian kepada para wanita yang ada disana.
Mamah Anin memeluk suaminya. "Hati-hati pah, Mamah percayakan semuanya sama kalian. Tolong bawa putri kami pulang. Dan tolong jaga Ayah"
Papah Bagas mengecup kening mamah Anin. "Papah akan membawa mereka pulang. Sebut kami dalam untaian doa kalian. Papah masih keren kan jadi komandan misi?" candanya dengan tersenyum dan menaik turunkan alisnya.
Mamah Anin tertawa. "Sudah sana berangkat. Aku tidak akan memaafkanmu jika kamu pulang hanya tinggal nama"
"Sstt, jangan bicara begitu. Doakan yang terbaik bagi kami"
"Ehm, romantis-romantisannya bisa ditunda nanti kan ya? Genting nih" Ayah Indra menyadarkan mereka. Lalu mereka menuju batalyon untuk meminta perlengkapan dan persenjataan.
.
__ADS_1
Sigit dan para rekannya sudah menggeledah rumah Yudi. Luna memasuki kamar Yudi. Merasa seperti kamar biasa saja. Sigit mengikuti Luna. Ia memeriksa kamar Yudi.
"Bukankah ada yang aneh?" tanya Luna. Sigit mengangguk. "Tidak mungkin kamar lelaki serapi ini"
Ali dan Galih ikut masuk ke kamar itu, melihat setiap sudut ruangan. Sigit meraba tembok. Pikirannya tak fokus. Ia menyandarkan tubuhnya sebentar pada tembok dan sesuatu terjadi.
Tembok itu bergeser dan membuka sebuah ruangan. Semuanya saling berpandangan. "Ruang rahasia" ucap Ali. Galih masuk dan mencari saklar lampu.
Galih menemukan saklar lampu itu. Ia menekannya dan lampu menyala. Ruangan kosong. Terdapat sebuah papan yang disana seperti menggambarkan suatu pola.
Ali dan Sigit mendekat. Mereka terbelalak menyaksikan foto yang diberi pin itu. "Kakek, Papah, Om Raka, dan Ayah Indra. Dendam masa lalu. Mereka harus merasakan.... kehilangan" Sigit membaca tulisan itu.
Ali melihat papan di sebelahnya. "Muti, Hana, dan kamu memang menjadi target incaran mereka, Git"
Luna dan Galih ikut mengamati gambar itu. Ali mengamati benda lain di ruangan itu. Tapi tak ada yang istimewa.
Mereka berpencar menggeledah seisi rumah Yudi. Hampir satu jam tapi mereka tak mendapatkan apapun. Mereka mulai putus asa. Sigit memejamkan matanya sebentar. Berpikir dimana kira-kira ia mendapatkan petunjuk.
Ia melihat kembali rak buku itu. Berjalan cepat menuju arahnya dan berhenti tepat di depan rak itu. Melihat beberapa barisan buku. Tangannya mulai menunjuk buku-buku itu. Ia tertarik dengan salah satu buku. Lebih tepatnya diary.
"Al, coba baca. Kamu kan paling pandai jika memecahkan suatu kode. Ada sedikit kata-kata yang aneh"
Ali membaca ulang buku itu. "Hapalkan ini, rumah putih tua masuk ke dalam. Hanya kaki yang melangkah. Kakak tua penuh dendam. Darah dibayar darah. Hawa sejuk menyapa"
Galih merangkai kata-kata itu. "Mereka ada di rumah berwarna putih, rumah tua yang kemungkinan ada di dalam hutan, hawa dingin bisa didapatkan dari pegunungan dan hanya bisa dicapai dengan jalan kaki. Yudi tidak bekerja sendirian tapi ada seseorang yang dipanggilnya kakak, mereka penuh dendam dan berniat menghabisi mbak Muti ataupun kak Hana"
Luna mendapatkan telpon dari Ayahnya. "Hmm, baik Yah"
Luna menutup telpon itu. "Keberadaan mobil yang menculik Muti terakhir terlihat di sekitaran Brongkol. Berarti dari sanalah mereka mungkin menuju rumah rumah tua itu"
Sigit meraih ponselnya dan membuka GPS. Ia melihat peta lokasi daerah Brongkol. Luna mengaitkan sesuatu yang telah terjadi. "Penyerangan Sigit, mayat di hutan area Ungaran, itu tandanya mereka tidak jauh dari lingkup Kabupaten Semarang. Daerah setelah Ungaran yang terdapat hutannya lagi memang di Brongkol. Tapi, lokasi itu sekarang digunakan untuk wisata. Mungkinkah?"
__ADS_1
"Mungkin".jawab Sigit. "Brongkol dengan gunung Telomoyo sangat dekat. Jika yang kamu maksud tempat wisata itu adalah gardu pandang lereng Kelir, itu tandanya mereka dibawa ke hutan dekat dengan gunung Telomoyo" jelasnya lagi.
"Tapi.... Telomoyo sekarang bisa menggunakan motor kan?" bantah Ali mematahkan argumen Sigit. "Iya, itu tidak masuk hutannya kan? Jika kita masuk hutannya pastilah hanya kaki yang bisa melangkah" jawab Sigit lagi.
Mereka tampak berpikir. Telpon masuk ke ponsel Sigit. "Assalamualaikum pah. Hmm, iya, baiklah. Sigit dan kawan-kawan akan kesana segera"
Luna bertanya. "Kenapa?"
"Meluncur ke Batalyon. Semua pasukan siap tempur menunggu kita. Lih, mintakan Hadi untuk mengantarkan kita perlengkapan dan persenjataan. Suruh antarkan ke Batalyon dalam waktu 30 menit" perintah Sigit. Galih mengangguk dan segera menghubungi Hadi.
.
Batalyon
Pasukan diambil alih oleh Ayah Indra. Operasi gabungan dilakukan untuk menyelamatkan sandera. Ayah Indra memberikan strategi untuk melumpuhkan lawan.
"Kerja tim. Jangan kerja sendiri-sendiri. Saling melindungi, berpencar tapi harus saling mengawasi. Mengerti semua??!"
"Siap! mengerti!" Jawab semuanya kompak.
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip
hari ini othor ada acara ya gaes. Hehehe. upnya palingan 2 ep tok. Makin tegang???