
Papah Bagas dan Mamah Anin merasa bahwa Ayah Indra sudah bisa mereka tinggalkan. Mereka harus segera kembali ke Bandung. Ada acara pelepasan prajurit yang akan SatGas di Papua.
Mereka menitipkan Ayah Indra kepada Muti dan Sigit. Mereka juga berpesan bahwa untuk selalu memberi kabar ke mereka tentang kesehatan Ayah Indra. Handoko sementara menunggui Ayah Indra, sedangkan Muti dan Sigit mengantarkan Papah Bagas dan Mamah Anin sampai ke parkiran.
"Ingat ya, kalian itu sudah dewasa, jadi kalau ada masalah tolong dibicarakan dan diselesaikan dengan cara yang dewasa juga. Dari hati ke hati gitu ngomongnya. Jangan malah emosi yang didahulukan" nasehat mamah Anin kepada Sigit dan Muti. Mereka mengangguk.
Papah Bagas menepuk bahu anaknya. "Jaga Muti, wanita ada itu untuk dicintai, bukan untuk dimaki, apalagi disakiti. Papah tidak pernah mengajarkanmu hal itu nak. Jadi, jangan buat Muti bersedih atau sampai menitikkan air mata. Papah tahu dia agak sedikit nakal, tapi papah juga yakin, dia akan berubah jika bersama dengan orang yang tepat, jangan bikin orang tua syok lagi. Muti, hormat sama calon suamimu. Jangan berbuat masalah lagi. Kamu itu anak seorang panglima. Jaga sikap kamu. Oke?"
Mereka berdua mengangguk. "Iya pah, terima kasih nasehatnya"
"Tuh dengerin, jangan cuma masuk telinga kanan keluar telinga kiri" jawab Sigit. Muti mencubit perutnya. "Iya ih, bawel!"
Papah Bagas dan Mamah Anin tersenyum dengan tingkah mereka. "Ingat juga kalian belum halal jadi jangan coba macam-macam!" ucap mamah Anin penuh penekanan. Papah Bagas menahan tawanya saat istrinya berpesan seperti itu. Mengingatkan kembali akan kelakuan nakalnya yang suka menggoda istrinya.
"Ya sudah, kami pamit. Assalamualaikum" kata papah Bagas. Sigit dan Muti menyalami mereka. "Waalaikum salam. Hati-hati Mah, Pah. Beri kami kabar kalau sudah sampai"
Mereka mengangguk dan masuk mobil. Muti dan Sigit melambaikan tangan kepada mereka hingga mobil itu menghilang.
Mereka kembali ke kamar Ayah Indra sambil bergandengan tangan. "Nanti kamu pulang saja mas, biar aku yang jaga Ayah" kata Muti. Sigit menggeleng. "Kita jaga berdua. Ini akibat ulah kita"
"Ya sudah kalau kamu memaksa. Nanti aku suruh om Handoko buat ngambil baju ganti buat kita lah" Sigit mengangguk setuju dengan ucapan Muti.
Mereka telah sampai di kamar Ayah Indra. "Papah dan mamah kalian sudah pulang?" tanyanya
"Sudah Yah" jawab Sigit. "Muti, Sigit kemari. Ayah mau bicara serius"
Sigit dan Muti saling toleh. Ada apa? itulah pertanyaan yang terlintas di kepala mereka berdua. Mereka mendekat ke arah Ayah Indra. "Muti, kamu ketemuan lagi dengan Humam?" tanya Ayah Indra.
Muti menggeleng. "Bukan ketemuan Yah, tapi tidak sengaja bertemu. Muti tahu Ayah akan bilang apa. Tapi Muti sudah berjanji pada diri Muti sendiri tidak akan menjadi playgirl lagi. Muti tidak selingkuh Yah. Sumpah deh" katanya sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf v.
"Bukan itu, Ayah hanya minta sama kamu, tolong jaga sikap kamu terhadap laki-laki. Jangan asal main templok sana sini nak. Tahu? Ada hati yang tersakiti melihatmu begitu. Bukan hanya Sigit. Tapi Ayah, hati Ayah juga sakit. Bagaimana jika Ayah dimintai pertanggungjawaban nanti di akhirat? Ayah telah gagal mendidikmu" kata Ayah Indra sambil berkaca-kaca.
__ADS_1
Muti memeluk Ayahnya. "Jangan bilang seperti itu. Yang salah Muti Yah, maafkan Muti. Iya Muti berjanji akan berubah"
Ayah Indra menghapus air mata yang sudah berada di sudut matanya itu. "Terima kasih"
Muti melepaskan pelukannya. Ayah Indra tersenyum kepadanya dan mencium keningnya. Lalu Ayah Indra bicara dengan Sigit.
"Git, apakah kamu terpaksa menikahi Muti?" Sigit menggeleng. "Mungkin waktu awal-awal iya Yah, tapi untuk saat ini dan semoga hingga selamanya Sigit ikhlas mencintai dan menyayangi Muti sepenuh hati dan raga Sigit. Malah Sigit ingin berterima kasih sama Ayah, karena mandat yang Ayah berikan kepada Papah, membuat Sigit bertemu dengan jodoh Sigit"
Ayah Indra tersenyum dan memeluk calon mantunya itu. "Terima kasih nak, tolong jaga putri Ayah ya?"
"Insyaallah Yah"
.
Bulan menunjukkan sinarnya malu-malu. Ia tertutup awan mendung. Muti menyuruh Handoko untuk pulang dan mengambilkan baju ganti untuknya dan Sigit.
Tak lama baju itupun datang. Sigit memesan makanan lewat aplikasi. Ia menunggu di parkiran dan mengambil pesanannya saat sudah tiba. Mereka makan di ruangan Ayah Indra.
"Katakan kepada mereka semua bahwa aku baik-baik saja dan hanya perlu istirahat" jawabnya. Handoko mengangguk. Ia segera memberitahukan apa yang disampaikan oleh Ayah Indra.
Makan malam berakhir. Muti menghubungi temannya yang seorang desainer. Ia ingin bertanya tentang kebaya untuk akadnya nanti.
Ayah Indra sudah terlelap. Sigit bermain game. "Mas, ini bagus tidak?" tanya Muti menunjukkan gambar kebaya yang dikirimkan oleh temannya.
Sigit melihat sebentar "Apik" jawabnya. "Kalu ini?" Sigit melihat lagi. "Apik yank" sahutnya lagi.
"Kalau yang ini?" tanya Muti lagi. "Apik" jawab Sigit tanpa melihat gambar itu. Membuat Muti kesal dan merebut ponsel Sigit. "Lebih penting gamenya?" tanya Muti
Sigit nyengir. "Penting acara kita lah sayang, sini balikin ah, mas bisa game over nanti. Itu tinggal 1 nyawa"
"Tuh kan penting gamenya! Gak mau! Diskusikan dulu tentang pernikahan kita. Niat gak sih?" tanya Muti makin kesal. "Niat, mas niat kok. Apapun yang kamu pilih pasti bagus. Mas ikut dengan pilihanmu sayang"
__ADS_1
"Namanya diskusi itu ya sama-sama mas, gak bisa cuma satu arah tok. Nih, kalau kamu masih pengen main hp!" Muti melemparkan ponsel milik Sigit.
Ia bersidekap marah. Sigit tahu jika dirinya salah. Ia merangkul Muti dan membujuknya. "Mas minta maaf. Besok kita langsung ke tempatnya saja. Lihat, fitting, bawa pulang. Gimana?"
"Mbuh!" jawab Muti marah. Sigit tersenyum.jah dan mencoba merayunya. Ia membisikkan sesuatu di telinga Muti. "Kalau ngambek bilin gemes ih, pengen tak cium kamu"
Muti merasa geli dengan suara bisikan Sigit yang ada di telinganya. "Hish! Yah, Mas Sigit godain aku terus nih"
Sigit cekikikan mendengarnya. "Yang godain siapa? Gak ada. Jangan berisik. Ayah lagi istirahat" bisiknya lagi. Ia mendekatkan bibirnya ke arah wajah Muti. Membuat degup jantung Muti berpacu cepat.
Muti menutup matanya. Sigit tertawa melihatnya. "Iiihh, pengen dicium ya? Hahaha, hayo ngaku hayooooo" goda Sigit membuat wajah Muti merah merona.
"Apaan sih? Gak jelas deh!" Muti memanyunkan bibirnya. "Sudah ah jangan ngambek" Sigit membaringkan kepalanya di paha Muti sebagai bantalan. Ia melihat Muti sambil tersenyum. Membuat Muti salah tingkah.
Muti membuang wajahnya ka arah kanan. Memperlihatkan lehernya yang jenjang. Sigit tergiur akan keindahan itu. Dia segera menyadarkan dirinya. Tahaaaan tahaaaannn astaghfirullaaaahhh.
Ia memilih memejamkan matanya. "Mas pinjam pahamu sebentar untuk bantal"
"Hmm" jawab Muti. Ia melihat Sigit yabg terpejam di pangkuannya. Tangannya membelai rambut Sigit. Bodoh jika aku berkhianat terhadapmu mas. Kamu begitu baik dan penuh perhatian. I love you mas Sigit.
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip