Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 85


__ADS_3

Para orang tua sudah menunggu kedatangan Muti dan Sigit. "Gas, ada apa sebenarnya? Luna kenapa?" tanya Ayah Tristan kepada papah Bagas mulai gusar. Papah Bagas menoleh kepada Mamah Anin


"Sabar dulu dong Bang Tris, kita juga gak tahu ada apa sebenarnya, tapi mantuku bilang, Luna sedang tidak baik-baik saja" jelas Mamah Anin.


Bunda Tari mencoba menenangkan suaminya. "Yah, tenang dulu dong. Sebentar lagi mereka sampai"


"Sudah hampir setengah jam mereka belum sampai juga Bun, Ayah khawatir. Telpon lagi mereka" suruh Ayah Tristan.


Hana yang seharusnya menenangkan dan mempersiapkan dirinya untuk acaranya, malah harus ikutan repot karena masalah ini. "Biar Hana yang coba telpon"


Hana mencoba menghubungi Sigit tapi tak diangkat. Ternyata mereka telah sampai di depan rumah. Muti membantu Sigit membukakan pintu, sedangkan Sigit menggendong Luna. Para orang tua terkejut melihat Luna yang digendong oleh Sigit.


"Ya Allah, anak Ayah kenapa ini? Ha?" kata Ayah Tristan sambil berkaca-kaca.


"Bukain pintu kamar Luna dulu, Yank" perintah Sigit kepada Muti. Hana yang lebih dekat pada pintu langsung membuka kamar sepupunya itu.

__ADS_1


Sigit membaringkan Luna di ranjangnya. Hana dan Muti menemaninya di kamar. Sedangkan Sigit membawa para orang tua duduk dengan tenang di ruang tamu.


"Katakan, siapa yang membuat anak Pakdhe seperti itu Git?" tanya Ayah Tristan tak sabar.


"Pakdhe, pakdhe tenang dulu dong. Iya Sigit akan cerita ke pakdhe semuanya. Tapi, janji dulu sama Sigit, bahwa pakdhe gak akan terbawa emosi. Setuju?" Ayah Tristan langsung mengangguk.


"Semuanya jadi saksi ya? Sigit akan mulai cerita, tapi tolong jangan dipotong-potong. Ehm, jadi tadi itu kami mencari Danang karena dia sudah hampir 2 hari tak membalas pesan Luna. Ia takut terjadi apa-apa dengan Danang. Makanya Sigit dan Muti diajak untuk ikut mencarinya. Kami datang ke apartemennya tapi gak ada orang. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke rumah orang tuanya Danang.


Nah, pas sampai parkiran, ternyata Danang disana sama tante Ana lagi ribut kecil. Kami diam mendengarkan, ternyata tante Ana punya jelek terhadap Luna. Dia menyuruh Danang untuk membuat kita semua malu dengan cara, jika nanti sampai terjadi akad antara Danang dan Luna, makan Danang tak akan datang pas akad itu. Begitu ceritanya"


Ayah Tristan mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras, lalu berdiri dengan langkah tergesa-gesa. Bunda Tari mencegahnya dengan sekuat tenaga. "Yah, tenang Yah, tenang dulu"


"Ya Allah nak, ini yang Ayah takutkan. Tenang ya sayang" ucap Ayah Tristan.


"Ayah jangan emosi, Ayah tenang, Luna gak mau kalau Ayah dikuasai oleh emosi" kata Luna terbata-bata karena sesenggukan.

__ADS_1


Bunda Tari juga ikut hancur melihat Luna. Papah Bagas dan Papi Raka membawa mereka masuk ke dalam. "Masuk yuk, gak enak sama tetangga. Sudah malam. Nanti dikira ada apa-apa"


Akhirnya mereka masuk ke dalam rumah. Semuanya saling menenangkan keluarga itu. Menguatkan untuk bersabar. "Nin, Sal, besok antarkan aku ketemu Ana. Aku mau buat perhitungan sama dia" kata Bunda Tari.


"Gak usah! Biar Ayah yang menemui wanita ular itu! Dia perlu diberi pelajaran agar sadar siapa yang dia lukai" kata Ayah Tristan masih menggeram.


.


.


.


Like


Vote

__ADS_1


Komen


Tip


__ADS_2