
Yudi datang dengan membawa berkas di tangannya. Menyerahkan kepada Luna. Luna membuka berkasnya. "Penyidikan lagi? Pak Kamto masih belum bisa?"
Yudi mengangguk. "Jadwalnya hari selasa mbak, kita sudah dapat cctv nya, sedang diperiksa oleh bagian IT dan Komandan. Itu apa mbak Lun?"
Yudi menunjuk sesuatu yang dipegang Luna. "Oh, coklat, mau aku buang" kata Luna. Yudi menautkan alisnya.
"Kok dibuang sih? Sayang kan, sini buat aku saja kalau gak mau" Yudi hendak merebut coklat itu.
"Eits, no! Sana keluar!"
Yudi tertawa. "Mbak Lun lucu, diminta gak boleh padahal tadi mau dibuang. Dari mas Danang ya? Udah sih mbak Lun, terima aja cintanya"
"Diiih, ngungkapin rasa aja enggak, terima perasaannya"
Yudi semakin tertawa. Jebakannya berhasil untuk membuat Luna mengaku bahwa dia juga tertarik dengan Danang.
"Pengen ditembak ala-ala ababil begitu ya? Cieee mbak Luna lagi jatuh cinta" Yudi sudah berlari menuju arah pintu. Wajah Luna memerah seperti tomat rebus. "Dasar Yudi!" Luna melihat lagi coklat itu.
Seseorang mengetuk pintu lagi, Danang mencari kunci mobilnya. Pria itu melihat Luna menggenggam coklat pemberiannya. "Maaf kunci mobil saya tertinggal"
Luna tak mampu menjawab ucapan Danang. Danang pun tak melirik ke arahnya. Membuat Luna makin bersalah bersikap seperti itu terhadapnya. Danang menemukan kuncinya.
"Permisi" ucap Danang. Luna berpura-pura sibuk dengan berkas dan menjawab dengan singkat. "Hmm"
Luna menutup kembali berkasnya dan menghela nafas kasar. "Maaf ya Nang, tapu sepertinya ini yang terbaik untuk kita"
Luna menuju ruangan Sigit untuk memberikan hasil penyidikannya. Sigit sedang melihat cctv dari bar Z dan bar X. Membandingkan sesuatu disana.
Luna masuk dan memberi hormat. "Ijin memberikan berkas hasil penyidikan saudara Danang Ndan"
"Hmm, Lun, lihat deh. Rekaman ini dan ini. Sepertinya membentuk pola yang sama. Mungkin gak sih dia adalah pelaku yang sama?" Luna melihat dengan serius. Dia berpikiran sama dengan Sigit.
__ADS_1
"Sepertinya begitu. Datang menyelundupkan gadis belia, lalu meninggalkan setelah bersama klien. Dari postur tubuhnya benar-benar sama persis. Sepertinya kita butuh bantuan Hana lagi" tutur Luna. Sigit memgangguk.
"Aku setuju. Dia dokter detektif yang hebat yang pernah kita miliki. Meskipun amatiran jadi seorang detektif"
Luna mengangguk. Hana Salma Atmajaya, dokter spesialis bagian paru yang memiliki hobi menjadi seorang detektif. Hana bisa menggambar sketsa orang. Dia juga dengan mudah membantu para sepupunya memecahkan masalah dan menebak pelaku kejahatan itu.
Meskipun Hana berbeda jalur dengan sepupunya yang lain, tapi dia memiliki kemampuan khusus mencurigai orang-orang yang diyakininya terlibat dengan kasus itu.
Sigit melihat tangan Luna yang masih menggenggam coklat. "Dari siapa?" pertanyaan yang muncul dari Sigit kepada Luna.
Luna melihat dan memainkan coklat itu. "Danang. Aaaagggghhh, cowok itu kenapa bersikap manis seperti ini. Makin sulit untukku"
Sigit tertawa. "Udah sih Lun, suka ya nyatain aja"
"Si, dia itu anaknya tante Ana dan om Arka. Tahu kamu tante Ana itu siapa? Tante Ana musuh bebuyutan emak kita. Kamu tahu kan cerita tentang Ayah digila-gilai seorang perempuan? Itu adalah ibunya Danang, dan sebelumnya papahmu yang menjadi targetnya"
Sigit menyangga dagunya mendengarkan cerita Luna. Memang dia pernah mendengar cerita itu. Tapi ia tak tahu jika itu Danang. Ternyata alasan Luna bersikap dingin adalah karena ibunya Danang yang selalu licik dan manipulatif dalam mendapatkan keinginannya.
"Coba aja sih Lun, backstreet dari pakdhe" Luna menggeleng pasrah. "Kamu tahu kan apa julukan Ayah? Rajanya bodyguard. Kamu mau info apapun pasti beliau tahu. Dan kamu tahu kan aku selalu diawasi?"
Luna menggeleng. "Gak tahu lah Si, oh ya kenapa tadi pagi kamu masih sama Muti? Hayooo, kalian ngapain? Atau jangan-jangan bener lagi dugaanku, Muti gak kamu antarkan pulang"
Sigit tersenyum, entah apa arti senyum itu. "Sudah aku antar itu, cuma dia ketiduran di mobil, aku bangunkan tetap gak bangun, aku takut digrebek warga karena udah jam 2 pagi. Akhirnya aku bawa pulang ke rumah. Untung kakek bisa ngerti kerena memang kenal sama si marmut. Jadi semalam dia menginap di rumah"
Luna ber oh ria. "Ya sudah, aku mau ngasihkan ini saja, besok selasa harus penyidikan lagi manager bar Z. Rencana kita yang tadi, kita hubungi Hana atau gimana nih? Sepertinya dia sedang sibuk mengurus pendaftarannya di RS tentara"
"Nanti aku coba hubungi dia. Katakan sama pakdhe dan budhe, nanti siang papah dan mamah datang. Lun. bantuin cari alasan kek buat nolak perjodohan ini"
Luna tertawa. "Alasan? Sama om Bagas kamu mau beralasan? percuma. Kayak gak kenal watak papahnya sendiri. Daripada kamh bingung nyari alasan, mending mulai sekarang kamu istikharoh deh, dia beneran jodoh kamu atau gak" Luna berdiri dari kursinya dan memberi hormat komandannya. Segera pergi meninggalkan ruangan itu.
"Kamu saja gak mbok istikharohin kok. itu coklat bawa sini biar aku makan. Aku perlu pengembali mood deh" Sigit mencoba meraih coklat itu.
__ADS_1
Luna menggeleng. "Jangan!" Luna segera berlalu sebelum digoda lagi oleh sepupu sekaligus komandannya itu.
Dia kembali ke ruangannya dan melihat lagi coklat di tangannya itu. Dia tersenyum dan mulai membuka coklat itu. Mulai menikmati gigitan pertama dari coklat kesukaannya. Dia terus tersenyum hingga coklat itu habis. Mungkinkah itu pertanda Luna akan membuka hatinya untuk Danang? Entahlah, hanya Luna dan Allah yang tahu.
.
Muti sebal dengan Jihan karena meninggalkannya seorang diri di tempat karaoke. Dia memasang muka cemberutnya dan memicingkan mata saat melihat Jihan.
Jihan hanya nyengir kuda saat Muti seperti itu. "Tia, maaf yaa, aku benar-benar minta maaf. Nenek aku sakit, tensinya kata fokter tinggi, mungkin karena itu beliau jatuh di kamar mandi. Aku panik dan langsung cabut waktu dengar nenek jatuh. Maaf ya Tia sayang, anggap tadi malam aku yanh traktir deh, gak usah ganti uangnya"
Muti menggeleng dan mengeluarkan uangbdari dompetnya, membayar kepada Jihan. "Aku akan memaafkanmu, tapi berilah kesaksian kepada Ayahku, bahwa tadi malam aku menginap di tempatmu. Ayah sudah datang tadi subuh. Ingin melanjutkan perjodohan itu"
Jiha semangat menjawab pernyataan Muti. "Siap bos! Aku akan memberikan kesaksian kepada om Indra. Tapi, memang tadi malam kamu dimana?"
"Aku dibawa ke polres, aku bertemu dengan orang yang mau dijodohkan denganku. Ingat lelaki yang waktu itu menolong kakiku saat sedang kram?" Jihan mengangguk.
"Itulah orang yang akan dijodohkan denganku. Dia juga orang yang melihatku diperebutkan oleh dua cowok ababil kemarin. Dan dialah yang membawaku ke polres, serta dia juga yang membawaku ke rumahnya" Jihan melongo mendengar cerita Muti.
"Yaaah, aku yang naksir kamu yang dapat jackpot. Tapi gak papa deh. Mungkin kalian jodoh, nyatanya kalian bertemu terus tanpa disengaja"
Muti melotot kepada Jihan pertanda tak setuju dengan ucapannya. Jihan mengangkat dua jemarinya membentuk huruf V dan nyengir kembali.
.
.
.
Like
Vote
__ADS_1
Komen
Tip