Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 63


__ADS_3

Dor


Suara tembakan begitu nyaring di hamparan tanah luas nan menanjak itu. Yudi menembak kepalanya sendiri. Ia baru menyadari bahwa dirinya memang dijadikan umpan dalam misi ini. Ia merasa dikhianati, tapi dirinya mati sebagai pengkhianat.


Semua terbelalak melihat Yudi sudah terkapar di tanah. Tak ada yang menyangka Yudi melakukan hal itu. Sungguh nekat. "Bangun kamu Yud! Pertanggungjawabkan semuanya! Bangun!" Ali bersimpuh di depan mayat Yudi. Sayang, hanya kebisuan yang Ali dapatkan. Mata Yudi mengeluarkan air mata. Entah itu air mata sesal atau air mata karena merasa dikhianati oleh kakaknya sendiri?


Polisi itu membawa mayat Yudi untuk dilakukan otopsi. Ali menyerahkan mayat itu kepada rekan-rekannya.


Sedang di dalam sana, Humam dan Mia berhasil dilumpuhkan oleh para tetua itu. Anggota TNI itu membawa mereka untuk dibawa dan diproses secara hukum.


Papi Raka bersama Ali langsung pulang menuju Ungaran. Sedangkan Danang mengantar kakek Umang pulang ke rumah. Tak ada yang berani memberitahukan keadaan Muti dan Hana kepada wanita-wanita yang menanti mereka di rumah.


"Kek, nanti kalau ditanya jawab apa?" tanya Danang mulai melajukan mobil. "Danang takut, jika kita jujur malah membuat mereka syok"


Kakek Umang mengangguk. "Itu juga yang kakek khawatirkan. Tapi, jika kita bohong mereka akan mencecar kita dengan berbagai macam pertanyaan. Jadi, mau tidak mau kita harus menceritakan semuanya"


.


Ali tiba di rumah dinasnya. Ia menyalami orang tuanya yang sudah menunggunya. Papi Raka berkenalan dengan orang tua Ali yang sekaligus menjadi calon besannya. "Mari masuk pak" kata Bapak Darsono, bapak dari Ali.


Papi Raka mengangguk. "Maaf ya pak, keadaanya malah begini" kata papi Raka.


Pak Darsono mengangguk. "Musibah pak, kita doakan saja semoga tidak terjadi lagi hal seperti ini"


"Bapak mau minum apa?" tanya Bu Murni. "Air putih saja bu. Hana dimana ya? Saya ingin melihat keadaannya dulu"


"Hana ada di kamar pi, lukanya sedang diobati oleh Luna" jelas Ali. Papi Raka mengangguk.


Tak lama Luna keluar. "Om, Hana ada di kamar" katanya pada papi Raka. Papi Raka ijin untuk masuk ke kamar Ali sebentar.


Hana memeluk papinya. Ia menangis dalam pelukan itu. Papi Raka menitikkan air mata melihat keadaan putrinya. "Maafkan papi karena telat menolong kalian. Mana yang sakit sayang?"


"Huhuhu.... huhuhu... huhuhu... Hana takut pi.... Siapa sebenarnya mereka pi?"

__ADS_1


"Tenang sayang, ada papi, ada Ali, dan yang lain menjagamu sayang" Papi Raka menenangkan Hana. Ali masuk ke kamar dan memberitahukan keadaan Galih.


"Dek.... Galih.... gugur dalam tugas" ucap Ali tak tega memberitahukan berita pilu itu. "Jenazahnya akan segera dipulangkan ke Kalimantan. Adek ingin ikut mengantarkannya sampai masuk pesawat?" tanya Ali. Hana semakin tersedu dalam tangisannya.


Papi Raka menguatkan anaknya. "Bang, adek boleh ikut ke bandara?" tanya Hana ketika dirinya sudah lebih tenang. Ali mengangguk. "Abang antarkan"


Hana mengangguk. "Papi pulang bersama Luna. Al, nanti tolong antarkan Hana pulanh setelah dari bandara" kata papi Raka. Ali mengangguk dan menyalami papi Raka. "Iya pi, hati-hati di jalan"


Bu Murni masuk dan meminjami Hana gamis panjang. "Mau pakai baju ibu? Baju kamu kotor" kata Bu Murni. Hana mengangguk. "Makasih bu, maaf kita bertemunya dalam suasana seperti ini


Bu Murni memeluk Hana. "Jangan sedih terus. Terima kasih mau menerima Ali sebagai calon suami mu nak" Hana mengulas sedikit senyumnya. Lalu mereka berangkat menuju bandara.


Dalam perjalanan Hana lebih banyak diam. Ali pun tidak tahu harus bicara.


.


Sigit menunggu dengan cemas di rumah sakit. Dirinya tak bisa duduk tenang. Lampu ruang operasi sudah hampir 1 jam tapi tak kunjung padam juga. Ayah Tristan menenangkan Sigit. Ia menepuk bahu keponakannya itu.


"Git, kamu tahu? Dulu, mamahmu juga berjuang antara hidup dan mati sebelum melahirkan kamu dan Maryam. Ia melindungi papahmu dari tembakan Akbar Jayadi, Ayah dari mantan pacar Muti. Tapi, papahmu malah menjadi pengecut. Ia tak sanggup melihat mamahmu terkapar"


Ayah Tristan menguatkan Sigit dengan mengelu-elus bahu keponakannya itu. "Insyaallah, pasrah kepada keputusan terbaik dari Allah. Kamu sudah sangat cinta sekali ya sama Muti?" Sigit tersenyum dan mengangguk.


Tak lama Ayah Indra dan Papah Bagas datang. Mereka langsung menuju ruang tunggu kamar operasi. Sigit menyalami keduanya. "Bagaimana?" tanya Ayah Indra panik. "Sudah hampir satu jam Yah, tapi operasinya belum juga selesai. Yah, Sigit takut"


Ayah Indra memeluk calon menantunya itu. "Tenang Git, Insyaallah Muti baik-baik saja"


Tak lama setelah itu, lampu kamar operasi padam. Dokter Ais keluar dan membuka maskernya. Ia tersenyum kepada keluarga yang menunggu. "Alhamdulillah, pasien berhasil selamat. Luka tusuknya tidak mengenai organ vital. Pasien juga langsung bisa kami pindahkan ke ruang perawatan biasa"


Sigit dan semuanya merasa terharu senang. "Alhamdulillah ya Allah" Sigit sujud syukur atas keberhasilan operasi yang Muti jalani. "Terima kasih dokter Aisyah. Berkat dokter, calon istri saya selamat" ucapnya.


Dokter Aisyah menggeleng. "Bukan saya, kuasa Allah. Saya hanya perantaranya mas, jika ada yang ingin ditanyakan nanti silahkan ke ruangan saya tidak apa-apa. Saya permisi dulu, gerah pakai baju bedah. Hehehe"


Sigit mengangguk. "Sekali lagi tetima kasih dokter"

__ADS_1


"Sama-sama" Dokter Ais meninggalkan mereka. Berita terlukanya Muti langsung menyebar. Wanita-wanita yang sedang menunggu di rumah juga mendengar berita itu dan langsung berangkat menuju Ambarawa.


Muti dipindahkan ke ruangan perawatan. Perawat menjelaskan keadaan Muti. "Saat ini pasien masih dalam pengaruh obat bius ya pak, mungkin sekitar setengah jam lagi pasien akan sadar. Nanti setelah pasien sadar diharuskan puasa dulu selama 2 jam ya pak"


Sigit dan yang lain mengangguk. "Makasih mbak" ucap Sigit kepada perawat itu. Tak lama Mamah Anin, Mami Salma dan Bunda Tari datang. Mereka bersyukur karena suami mereka selamat. "Lhoh, bang Raka kemana Mas?" tanya Mami Salma mencari keberadaan papi Raka kepada papah Bagas.


"Mungkin di Ungaran. Telpon coba dek" Mami Salma menelpon papi Raka dan ternyata papi Raka sedang dalam perjalanan pulang ke Semarang bersama Luna.


"Bang Raka sama Luna balik ke Semarang. Hana sama Ali lagi ke Bandara, Galih.... meninggal" ucap mami Salma. Membuat semuanya terkejut.


"Innalillahi wainnailaihi roji'un" ucap Sigit dan semuanya. "Semoga amal ibadah Galih diterima Allah, Aamiin"


Sigit menunggui Muti, Mami Salma akhirnya pulang bersama Bunda Tari dan Ayah Tristan. Mamah Anin dan Papah Bagas serta Ayah Indra menunggui Muti.


Setengah jam telah berlalu, tapi Muti tak kunjung membuka matanya. Sigit meraih tangannya dan mengecupnya lama. Lalu menempelkannya di pipinya. "Yank, kamu gak pengen ketemu sama mas? Apa kamu gak kangen sama mas? Mas kangen sama kamu sayang, bangun dong. Mas turuti semua maunya kamu, yank...."


Sigit berbicara dengan menitikkan air matanya lagi. Tiba-tiba saja tangan Muti sedikit bergerak. "Mas Si...." ucapnya lirih. "Yank!" balas Sigit senang dan mendekatkan wajahnya ke arah Muti.


Perlahan Muti membuka matanya.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


Maaf ya baru up, pasiennya ramai. Othor baru bisa pegang hp. Hehehe


__ADS_2