Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 30


__ADS_3

Siang itu Sigit datang ke kantor Muti. Dia menenteng makanan di tangannya. Tubuh tegap nan gagah melangkah mantap membuka pintu kantor itu. Dia berpapasan dengan temannya yang juga seorang anggota polisi.


"Eh, Ndan Sigit! Apa kabar?" tanya Dimas, seorang anggota polisi yang ditempatkan di Samsat.


Sigit menyalami temannya. "Baik Dim, Lama gak ketemu ya kita? Kamu sendiri juga baik kan?"


"Alhamdulillah, ngapain kesini?"


"Mau makan siang bareng sama calon bojo" Kata Sigit sedikit malu. Dimas menahan tawanya. "Siapa?"


"Muti" Mata Dimas ingin lepas dari tempatnya. "Yakin Muti orangnya? Primadona kantor ini bakalan ada yang memiliki dooong, yaaah, sedih deh akunya"


Sigit tertawa melihat tingkah Dimas. "Memang dia paling cantik disini? Kok dijadikan primadona. Bukannya ada Jihan juga? Pasti juga ada yang lain dong!"


"Ehehehe, yang masih single cuma mereka berdua perempuannya. Muti dijadikan primadona itu karena Muti kalau diajakin ngobrol enak, diajak jalan juga ayo. Orangnya tuh easy going. Asal jangan baperab saja kalau sama dia. Soalnya dia tukang PHP. Jihan mah jual mahal bangeeeet. Beda sama Muti"


Entah mengapa, pernyataan Dimas membuat Sigit panas. Kesal. Dia mencoba meredam emosinya. Masa sih Jihan jual mahal? Padahal.waktu jogging yang godain aku si Jihan bukan Muti. Batin Sigit.


Dia pamit kepada Dimas untuk menemui Muti. Dimas malah mengantarkan Sigit ke ruangan Muti.


"Halo cantiiiik" sapa Dimas. Muti menoleh. Dirinya gelagapan melihat siapa yang datang bersama Dimas. "Siang pak Dimas" sapa Muti kaku.


"Ah, segala pakai pak lagi manggilnya, biasanya juga bang. Apa karena ada bapak komandan si calon suami sang primadona Mutiara Insani?" canda Dimas. Muti habya tersenyum kaku.


Benar-benar suasana yang tak tepat. Muti sedang bercengkrama dengan teman lelakinya di kantor itu. Ditambah Dimas yang berbicara seperti itu.


Dimas menarik teman Muti, Gibran, untuk segera pergi dari ruangan Muti. Sigit hanya diam dan meletakkan makanan itu di atas meja.


Muti takut melihat sorot mata Sigit yang sedang marah begitu. Sigit bersidekap dan hanya diam. "Mas, mau.... makan sekarang?" tanya Muti hati-hati.


"Kamu selalu tebar pesona begitu atau gimana sih? Ha? Heran aku lihatnya, setiap hari kamu selalu ditemuin cowok-cowok di kantor ini?" Muti melirik Sigit dan menahan senyumnya. Dia tahu Sigit sedang cemburu padanya.

__ADS_1


Aiiih, begini kalau dia cemburu? Hahaha, lucu banget sih kamu maaaas. Panas-panasin aaaah. Batin Muti sambil tertawa cekikikan. Sigit memicingkan matanya melihat Muti.


"Jawab! Jangan malah tertawa gak jelas begitu. Gedein tuh volume AC nya. Sumpah panas! Ini kantor gak ada atapnya atau gimana sih!" ucap Sigit masih kesal. Hatinya benar-benar panas menyaksikan Muti bercengkrama dengan akrabnya dengan teman kantor lelakinya, ditambah lagi ucapan Dimas saat bertemu dengannya tadi.


Muti meraih remote AC yang ada di meja sebelahnya dan menurunkan volumenya agar lebih dingin. "Sudah pol ini mas, kamu kenapa sih? Lagi PMS? Uring-uringan gak jelas" tanya Muti berpura-pura bodoh.


"Jawab dulu pertanyaan mas, marmut!" Muti menautkan alisnya. "Pertanyaan yang mana?"


"Hish! Kamu selalu tebar pesona sama laki-laki? Heran aku, setiap pria kok selalu akrab denganmu!" Sigit memanyunkan bibirnya. Muti sudah tak tahan lagi menahan tawa. Akhirnya dia tertawa lepas.


"Kamu lagi cemburu mas? Bapak Komandan galak ini bisa cemburu juga toh ternyata? Uluh uluuuuhh, itu bibir kenapa dimanyun-manyunkan? Minta dicium disini??"


Sigit berdecak dan membuang muka. Muti geleng kepala menyaksikan calon suaminya merajuk. Muti membuka makanan yang dibawa Sigit. "Oooww, enak nih. Mie ayam bakso. Ayo makan mas, aku sudah lapar" Muti bersemangat melihat makanan di depannya.


Sigit masih diam tak bersuara. Muti melihatnya lagi. "Hmm, kamu mau aku suapin, komandan?"


Masih tak ada jawaban. Muti melipat tangannya di atas meja. "Aku tidak tebar pesona mas, aku hanya bersikap ramah. Aku disini anak rantau lho, kalau bukan alu yang ramah sama mereka duluan, apa aku bakal punya teman? Jangan cemburu, aku sudah berjanji sama diriku sendiri akan pensiun dini jadi playgirl. Puas Komandan galak?"


Sigit mulai menampakkan senyumnya. Muti tertawa melihat perubahan mood Sigit. Mereka mulai makan mie ayam bakso itu dengan tenang. Saling melihat dan tersenyum setelahnya.


"Kamu cemburu kan?" kata Muti di tengah-twngah santapannya. Sigit menggeleng. "Aku sama mereka teman-temanmu itu lebih cakepan aku kemana-mana. Bodi gagah, tinggi, punya lesung pipit, tampan. Mereka? Perut buncit, wajah pas-pasan. Ngapain aku cemburu?"


Muti tertawa kecut. "Iya deh iya yang gak cemburu tapi uring-uringan. Terserah kamu lah mas. Gak ngaku keselek"


"Uhuk uhul uhuk, uhuk uhuk uhuk" Sigit langsung tersedak makanannya saat Muti mengucapkan itu. Muti tertawa dan memberikan minumnya kepada Sigit.


"Gak usah bilang cemburu atau tidak, jawabannya sudah bisa aku pastikan sendiri. Nanti malam operasinya jam berapa?" tanya Muti.


"Ehm, itu tersedak karena ada tulang muda dari ayamnya! Jam 9 malam. Beneran mau ikut?" Sigit beralasan masih tak mau mengaku.


Muti mengangguk. "Iya, tapi aku gak jadi menginap tempatnya Jihan. Neneknya masuk rumah sakit lagi. Hari ini saja dia izin pulang"

__ADS_1


Sigit menyelesaikan makannya. "Ya sudah, nanti mas antarkan pulang ke rumah kamu" Muti menggeleng.


"Aku menginap tempatmu saja. Mau godain kamu malam ini. Kira-kira tergoda gak ya??" Muti melihat langit-langit kantornya sambil tertawa membayangkan sesuatu. Sigit hanya geleng kepala melihat kelakuan Muti.


"Terserah kamu saja lah Mut, waktu makan siangnya sudah mau habis. Mas balik ke polres dulu ya. Gak usah ngobrol terlalu akrab sama cowok di kantor ini. Mas gak suka. Mas cemburu!"


Sigit berdiri dari duduknya dan mengecuk kening Muti. Membuat hati mereka kembali berdesir hebat. Sigit segera balik badan. Muti berteriak dari tempat duduknya.


"Hati-hati komandan galakku! Kabari aku kalau sudah sampai polres lagi!" Sigit hanya mengacungkan jempolnya ke arah belakang tanpa melihat wajah Muti dan hilang di sebalik pintu. Wajah Sigit merah padam. Hatinya berdebar kencang. Dia memukul bibirnya pelan.


"Berani banget sih kamuuuu! Tahan Git tahaaaan"


Sedang di dalam ruangan, Muti tertawa senang dan berputar-putar pada kursi kerjanya. Senang bukan main mendapatkan pernyataan Sigit mengakui dirinya cemburu dan mendapatkan kecupan manis di keningnya.


"Pengen rasanya aku gak cuci muka seminggu maaaas. Aku benar-benar jatuh cinta sama kamu, pak Komandan galak! I lop yu pul mas Sigiiiit!" Muti menutup mulutnya dan melihat sekitar.


"Huft, untung tak ada orang sama sekali. Coba kalau ada, hahahaha"


Muti membereskan meja kerjanya dan mulai menyenandungkan lagu tentang cinta sambil mulai lagi mengetik laporan pengeluaran dan pemasukan keuangan kantor.


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


__ADS_2