
Luna menangis hingga tertidur di kelas itu. Sigit dan Muti datang. Mereka bertanya kepada penjaga sekolah. "Iya memang benar, tadi nak Luna datang kesini mas, mbak, sekarang dia ada di kelasnya. Dia sedang ada masalah ya? Karena seingat saya, nak Luna jika memang ada masalah suka menyendiri di bekas kelasnya itu" tutur penjaga sekolah itu.
"Alhamdulillah kalau Luna ada disini pak, kami sudah hampir putus asa mencarinya pak. Iya, dia sedang ada masalah pak. Bisa tolong antarkan kami?" pinta Sigit. Penjaga itu mengangguk.
Muti berada di belakang Sigit, mencengkeram kuat lengan suaminya. "Mbak Luna berani banget ya malam-malam di tempat kayak begini? Gak takut apa?"
Sigit hanya menahan tawanya, ia tahu jika istrinya ketakutan. "Itu nak Lunanya mas" penjaga itu menunjuk Luna.
Sigit hendak mendekatinya tapi lengan bajunya ditarik oleh Muti. "Mas. itu mbak Luna beneran kan? Bukan jadi-jadian? Lihat dulu kakinya mas, melayang atau nginjek dataran" ucap Muti konyol.
Penjaga sekolah itu dan Sigit hanya menahan tawanya. "Itu Luna yank, mana ada hantu tidur begitu?"
Mereka mendekati Luna. Muti takut-takut berani mengikuti Sigit. "Dia tertidur. Biar saya gendong saja pak"
"Ya Allah mbak Lun..... kasihan kamu sampai begitu. Angkat saja mas, gak tega aku banguninnya" Sigit mengangguk. Ia menggendong Luna. Muti tertinggal di belakang. Tiba-tiba saja ada suara brukk.
Muti menghentikan langkahnya, mencoba mencari tahu dengan menoleh kebelakang. Ia melihat sepasang mata mengawasinya. Tubuhnya menjadi merinding. Tiba-tiba saja sepasang mata itu mendekat ke arahnya, sontak ia ketakutan dan berlari. Membuat Sigit dan penjaga sekolah heran melihatnya.
"Ada apa ya pak sama istri saya?" Penjaga sekolah itu menoleh dan mengarahkan senternya di kelas itu. "Oh, kucing oyen mas, hehehe"
__ADS_1
"Ku-kucing pak?" tanya Sigit. Penjaga itu mengangguk. Sigit segera berlari menyusul istrinya. Membuat penjaga sekolah itu semakin kebingungan dengan tingkah pasangan suami istri itu.
Muti ngos-ngosan setelah berlari. Ia sudah di dekat mobilnya. Sigit menyusul di belakangnya. "Yank, bukain" kata Sigit.
Muti mengambil kunci dari tangan Sigit dan membukanya. Sigit membaringkan Luna di kursi belakang. Mereka segera pamit kepada penjaga sekolah itu. Kembali ke rumah.
"Yank, kamu tadi ngapain lari?" tanya Sigit. "Ih, serem tahu mas, tadi ada sesuatu di pojokan. Aku takut, makanya langsung lari. Terus kamu sendiri ngapain lari?" ganti Muti bertanya.
"Itu tadi cuma kucing yank, aku lari? Kapan? Gak, tadi aku gak lari, cuma mempercepat langkah saja"
"Hilih, mempercepat langkah apanya begitu tadi modelnya?"
"Pikirin cara yank, supaya para orang tua kita tidak kaget dan emosi saat lihat keadaan Luna" Sigit mulai khawatir tentang keluarga Luna. Apalagi Ayah Tristan. Ia oasti akan marah besar melihat putrinya hancur.
"Hahaha, mikir lah yank. Ya Allah mbak Lun, kasihan mereka. Hish! Tante Ana! Pengen tak uleg pakai cobek! Beneran deh!" Muti malah emosi dengan ulah tantenya. Karena semua ini memang ulah tantenya.
"Tapi Danang juga keterlaluan banget sih? Masa cowok kayak begitu? Harusnya, kalau dia beneran cinta sama Luna wajib diperjuangkan dong! Bukan malah mau-mau saja menuruti omongan mamahnya yang otaknya miring itu" ucap Sigit kesal.
Muti menoleh dan menatapnya tajam. "Ingat, dia juga sekarang sudah menjadi tantemu!" Muti mengingatkan Sigit bahwa Mamah Ana adalah adik tiri dari ibunya.
__ADS_1
"Iya ya? Lupa aku, karena isi otak dan hati mas, hanya ada kamu. Hahahaha"
Muti tersipu malu mendengar suaminya menggombal seperti itu. "Gombal ih"
"Serius yank, ini pasti mereka khawatir banget sama Luna. Haduh Lun, Lun, malang banget sih nasib percintaan kamu. Mendam perasaan sangat lama, sekalinya dapat restu malah kandas. Huft" kata Sigit mengingat perjuangan Danang dan Luna.
Muti menoleh. "Semoga kamu jadi wanita yang kuat mbak! Tunjukkan bahwa kamu tidak akan mudah hancur karena hal ini. Mas, antar pulang saja mbak Luna ke rumahnya. Katakan yang sebenarnya pada pakdhe dan budhe. Tapi, minta orang tua yang lain bisa menstabilkan emosi pakdhe nantinya" Sigit mengangguk setuju dengan ucapan Muti. Akhirnya mereka mengantarkan Luna pulang. Dengan sebelumnya, Muti memberitahukan kepada mamah mertuanya tentang kejadian hari ini.
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip
Gara-gara kucing oyen mereka pada lari malam-malam 😅😅