
Luna dan Danang kembali ke Semarang terlebih dahulu karena mereka harus bekerja. Selesai subuh, Danang dan Luna pamit kepada Ayah Indra, Sigit dan Muti.
"Kami balik duluan ya? Berarti nanti tante Anin sama om Bagas gak usah disuruh kesini?" tanya Luna. Sigit mengangguk.
"Suruh langsung ke rumah Muti saja, tolong sekalian koperku ya Lun, diisi beberapa lembar baju dan seragam. Nanti selebihnya biar aku sendiri yang mindahin" pesan Sigit kepada Luna.
Luna mengangguk. "Kunci rumah Muti mana om Indra?" Ayah Indra merogoh koceknya. Mencari kunci.
Ayah Indra memberikannya pada Luna. "Ini. Kalian pulangnya hati-hati, jangan ngebut" Luna mengangguk. Danang datang dengan membawa sarapan. "Jam segini sudah dapat makanan saja Nang? Lapar?" tanya Sigit. Danang mengangguk.
"Ya sudah om, Git, Muti, kami pamit ya. Assalamualaikum" Luna dan Danang mencium tangan Ayah Indra dan melambaikan tangan pada Sigit dan Muti.
Mobil Dananh sudah melaju mulai meninggalkan rumah sakit. Luna ingin bertanya tentang pernyataan Danang semalam. Yang membuat hatinya gundah gulana. Galau. Tapi, Luna sungkan untuk menanyakannya kepada Danang.
"Lun, kenapa diam?" tanya Danang yang aneh melihat Luna diam. "Hmm? Gak papa. Hari ini kemu ke kafe?"
Danang mengangguk. "Kenapa sih? Aku ngerasa ada sesuatu yang aneh deh sama kamu. Kenapa sih?" tanya Danang lagi. Luna tersenyum.
"Kepo ih! Gak papa. Cuma aku kepikiran saja dengan pernyataan kamu tadi malam" kata Luna membuat Danang menoleh ke Luna.
"Lihat ke depan Nang" kata Luna lagi. Danang melihat ke depan lagi. "Pernyataan yang mana?" tanya Danang.
"Pernyataan pas lagi main game, dan kamu ngaku lagi bohong. Bohong soal..... apa?" tanya Luna hati-hati.
Danang diam. Dia tahu jika Luna akan membahas hal itu. "Nang?" Luna membangunkannya dari lamunan. "Eh, iya? Apa tadi?"
"Kamu lagi bohong tentang apa?" tanya Luna lagi.
"Bukan apa-apa. Setiap orang itu pasti pernah melakukan suatu kebohongan kan? Nah, sama, aku pun pernah melakukan kebohongan. Sudah, tidak usah dipikirkan. Kamu kalau masih ngantuk tidur aja lagi Lun, nanti kalau sudah sampai rumah aku bangunin" Luna mengangguk. Hatinya berkata bahwa Danang sedang tidak jujur terhadapnya. Ada sesuatu yang Danang simpan. Tapi, ia juga tak bisa memaksa Danang jika tidak ingin cerita kepadanya.
"Ya sudah lah, aku tidur dulu ya?" Danang tersenyum dan mengangguk. Luna mulai memejamkan matanya. Setengah jam berlalu, Danang melihat Luna yang sedang terpejam. Tangannya membelai rambut Luna.
"Maafin aku ya Lun" kata Danang dan kembali fokus menyetir.
Luna yang sedari tadi belum tidur dengan sangat jelas mendengar pernyataan Danang. Apa yang sedang kamu sembunyikan? Kenapa kamu minta maaf? Apakah.... rasa cintamu terhadapku itu palsu?. Luna mulai khawatir tentang perasaan Danang.
Atau mungkinkah ada hubungannya dengan tante Ana? Kepalaku bisa pecah kalau mikirin ini terus. Eh, tapi, kenapa aku juga belum dikenalkan dengan orang tuanya? Apa dia cuma main-main denganku? Kamu itu serius cinta sama aku gak sih Nang? Tenang Lun tenang, cari tahu kebenarannya secara perlahan. Tapi, kalau benar dia main-main sama aku, apa aku sanggup menerima sakitnya?. Luna masih membatin dalam hati.
__ADS_1
Danang mulai memasuki Ungaran. Luna pura-pura menguap. Danang menoleh. "Eh, sudah bangun?" tanya Danang. Luna berpura-pura seperti orang yang baru bangun tidur. Dia mengangguk malas. "Jam berapa Nang?"
"Jam setengah 7. Kamu bisa telat nih. Lalu lintasnya padat banget. Piye?" tanya Danang.
"Gak papa, aku sudah ijin tidak ikut apel" Danang mengangguk. Luna merasa bosan di dalam mobil. Ia memutar musik untuk menghilangkan kebosanannya. Ia memutar lagu Cinta Mati yang dipopulerkan oleh Agnes Mo dan Ahmad Dhani.
Luna mengikuti alunan lagu itu. "Cintaku sedalam samudra..... setinggi langit di angkasa kepadamu... cintaku sebesar dunia.... seluas jagad raya ini... kepadamu oh oooo.. kepadamu...."
Danang tersenyum saat Luna bernyanyi seperti itu. "Cie yang lagi nyatain perasaannya lewat lagu. Hahahhah"
"Ih, apaan sih? Aku cuma nyanyi doang kok"
"Hilih, pakai acara ngelak lagi. Aku tahu kok itu suara hati kamu. Iya kan?" tanya Danang menggoda Luna. Luna mengangguk. "Kalau kamu sudah tahu itu isi hati aku, jadi janhan pernah coba untuk melukainya. Aku pastikan sama kamu, kalau aku juga bisa hancur"
Danang tersenyum. Ia meraih tangan Luna dan mengecupnya. Jangan membuat dirimu hancur Lun, aku yang akan lebih hancur melihatmu bersedih.
Mereka telah memasuki kota Semarang. Danang langsung mengantarkan Luna pulang ke rumahnya. "Kerjanya mau diantar atau berangkat sendiri sayang?"
Luna tercengang dengan panggilan Danang barusan. "Kenapa sih? Salah kalau aku manggil kamu dengan sebutan itu?"
Luna menggeleng. "Eng-enggak papa sih. Aku... berangkat sendiri saja. Kamu pasti juga harus segera ke kafe kan?" tanya Luna.
.
Dokter Ais visite di pagi hari. Sigit sedang membereskan barang bawaannya. "Assalamualaikum"
"Waalaikum salam, dokter Ais"
"Eh, ada Ayahnya Muti juga? Pagi pak. Sudah siap untuk pulang?" Muti mengangguk.
"Gimana keadaan anak saya dok?" tanya Ayah Indra. Dokter Ais segera melalukan pemeriksaan. "Semuanya normal pak, jahitannya juga bagus tapi belum kering. Dijaga supaya tetap kering ya? Tiga hari kontrol. Obatnya juga diminum teratur"
Ayah Indra tersenyum. "Alhamdulillah. Lalu untuk terapinya?"
"3 kali pertemuan ini di Ambarawa ya pak, selanjutnya di Magelang. Main lah kesana. Hehehe"
Ayah Indra mengangguk. "Terima kasih bantuannya dokter, semoga Allah membalas semua kebaikan dokter" kata Sigit.
__ADS_1
"Aamiin aamiin aamiin ya rabbal 'alamin. Doa yang sama untuk kalian. Habis ini saya jarang ketemu Maryam deh, titip jagain calon mantu dokter ya mas Sigit mbak Muti" ucap dokter Ais.
Mereka mengangguk. "Pasti dokter"
"Ya sudah, nanti pulangnya hati-hati. Cepat sembuh mbak Muti. Saya tinggal dulu ya? Harus visite ke pasien lain"
Mereka mengangguk. "Sekali lagi terima kasih dokter. Salam untuk Amira" ucap Ayah Indra.
Semua tercengang mendengarnya. "Bapak kenal dengan kakak ipar saya?" Ayah Indra mengangguk. "Baik, nanti saya sampaikan. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" jawab semuanya. Sigit mengurus kekurangan administrasi. Perawat melepas infus. Muti berjalan mendekati Ayahnya.
"Siapa Amira Yah?" tanya Muti. Ayah Indra tersenyum. "Dia itu sahabat Ayah, perempuan dalam foto itu. Dia itu janda, anaknya kowad. Itu lho, pacarnya si Galih yang meninggal kemarin. Suaminya sakit jantung dan meninggal. Suaminya itu kakaknya dokter Ais"
Muti mengangguk paham. "Yakin cuma mau dijadikan sahabat?" Ayah Indra tersenyum. "Iya, sangat yakin. Kami bukan anak muda lahi sayang. Ayah melihat kamu bersama Sigit saja sudah bahagia"
"Ih Ayah. Kalau dijadikan pengganti ibu juga gak papa"
Ayah Indra menggeleng. "Ibu tidak akan pernah terganti. Sudah ah, kami cuma sahabat. Titik"
"Hilih, kalau lebih juga gak papa Yah, Muti senang jika Ayah ada temannya. Ibu di hati Ayah punya tempat sendiri. Ibu tidak akan pernah terganti Yah. Tapi kita juga tidak bisa memungkiri keadaan. Ayah itu butuh sosok pendamping, kalau Ayah rasa tante Amira bisa mendampingi Ayah kenapa tidak? Kan Muti ikut suami Yah, jadi gak bisa menemani Ayah setiap saat. Kecuali Ayah yang ikut Muti. Hehehe"
"Ayah masih bisa mengurus semuanya sendiri. Kalau kamu tidak ingin Ayah kesepian, makanya segera buatkan Ayah cucu yang banyak" Muti memberi hormat pada Ayahnya. "Siap Ndan! 86!"
Mereka tertawa bersama.
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip