
Ayah Indra menjadi salah tingkah. "Cuma sahabat" Sigit menahan tawanya. "Calon ibu mertua nih" godanya.
"Git, tolong buatkan minum ya?" perintah Ayah Indra. Sigit mengangguk. "Biar Maris saja Om, masa laki-lakk suruh buat minum. Heheh, dapurnya sebelah mana?" tanya Amaris.
"Mari saya antarkan" Sigit mengantarkan Amaris menuju dapur. Sontak membuat celotehan dan cibiran keluar dari kawanan intel itu. "Weh! Bawa siapa lu! Gua laporin sama bini lu!" ancam Hamka.
Sigit berkacak pinggang. "Jangan dengerin mbak Maris. Mereka memang begitu kalau ada cewek cantik! Al, ini anaknya pak Duta dan dokter Laras"
"Oh, si kembar 4, ini yang nomer berapa?" tanya Ali.
"Saya Amaris pak, yang jadi guru"
Ali dan semuanya ber-oh ria. "Panggilnya mas atau bang saja mbak, pak bagi kami itu terlalu tuwir!" kata Sigit. Amaris mengangguk.
"Saya buat minum dulu" kata Amaris. Damar sedari tadi memandangnya tanpa berkedip. Membuat jiwa jahil Bima meronta.
"Oi! Bengong! Kenapa?" tanya Bima sambil melempar anggur ke mulut Damar. Membuat semuanya tertawa.
"Bang Si, itu Amaris Ayu Wicaksana bukan?" tanya Damar. Sigit mengangkat bahunya. "Mbak Maris, kenal sama orang ini gak?" teriak Hamka.
Amaris menoleh. Ia menelengkan kepalanya. "Siapa ya?" kata Amaris masih sibuk membuat teh.
"Damar Assegaf" Amaris memicingkan matanya. Mengingat sesuatu. "Oohh, Damar Assegaf cowok yang waktu di SMA pernah nempelin permen karetnya di hijabku??" kata Amaris sambil mengepalkan tangannya.
Hamka dan yang lain geleng kepala mendengar ucapan Amaris tentang Damar. "Ya maaf Ris, dulu kamu nyebelin banget sih! Pinjam pulpen saja gak boleh"
"Wajar lah gak aku pinjami! Orang kamu pinjam tapi gak pernah mbok balikin kok!" Semuanya menahan tawanya.
"Kelakuanmu Dam! Cuma pulpen saja gak mampu beli kamu! Nih, abang kasih buat beli pulpen!" Hamka mengeluarkan uang seratus ribuan satu lembar.
Semua tertawa melihatnya. Amaris sudah selesai membuat teh dan kembali ke ruang tamu. Menyajikannya kepada dirinya, Ayah Indra dan Bu Amira.
"Om, itu yang pada di dalam siapa sih?" tanya Amaris.
"Yang tadi membukakan pintu menantu om. Yang di dalam rekan-rekannya semua" Amaris manggut-manggut. "Ayo diminum. Kalian jadi pulang ke Magelang?" Mereka mengangguk.
Amira meminum tehnya. "Shanum nanyain om kapan kesana" celetuk Amaris membuatnya dicubit oleh Bu Amira. "Aw, sakit tante"
Ayah Indra tersenyum. "Om kesana kalau diijinkan oleh mamahnya Shanum" membuart Bu Amira merona merah.
__ADS_1
"Tuh te, Om Indra sudah minta kode keras! Sudah lah, kalian ini macam ABG saja yang masih malu-malu, hahahah, Maria jadi geli ih" Suasana tetiba menjadi canggung. Sigit datang dengan membawa ponsel di tangannya. Menyerahkannya pada Bu Amira. Membuat Bu Amira bingung.
"Muti, anaknya Ayah Indra" kata Sigit seakan tahu isi hati Bu Amira.
"Assalamualaikum, Ibu. Apa kabar?" sapa Muti lewat panggilan video itu. Mengakrabkan diri seperti sudah kenal lama. Bu Amira tersenyum. "Waalaikum salam. Ibu baik nak, kamu sendiri bagaimana? Traumanya sudah gak ganggu lagi kan?" tanya Bu Amira.
Ayah Indra tersenyum mendengar keakraban putrinya dengan Bu Amira. "Yah, Muti pengen punya Ibu tuh. Halalkan lah Yah" kata Sigit. Ayah Indra berdecak.
"Dari tadi kamu godain Ayah melulu" Ayah mencubit paha Sigit. Sigit tertawa karena Ayahnya yang sedari tadi salah tingkah.
"Nih bang, Muti mau ngomong" Bu Amira menyerahkan ponsel Sigit pada Ayah Indra. "Apa?"
"Ayah ih, buruan nikahin Ibu Amira! Kalau perlu resepsi sekalian sama Muti dan Mas Si. Hihihi" Muti cekikikan di seberang sana. Ayah Indra menggaruk-garuk keningnya seperti orang bingung.
"Besok Ayah ke Semarang nak" jawaban Ayah Indra tak nyambung dengan permintaan Muti. Tergambar jelas di wajahnya malu. "Iiihhh... Ayah malu..... hahahah, Muti setuju siapapun pilihan Ayah. Karena Muti yakin, Ayah tidak akan memilih wanita sembarangan. Muti ikhlas Yah. Ibu, nanti resepsi Muti dampingi Ayah di pelaminan ya? Besok Muti ke Magelang mau ke rumah Ibu ya? Boleh kan?"
Bu Amira mengangguk. "Iya boleh"
"Mbak Muti, bawakan aku lontong spekkoek sama tahu bakso buat Shanum. Calon saudara kamu. Hehehe" pinta Amaris.
"Oke mbak Maris, nanti kami bawakan. Ibu mau dibawakan apa?" Bu Amira tertawa. "Gak perlu bawa apa-apa. Cukup kamu datang Ibu sudah senang"
Sigit masuk ke dalam dan meneruskan panggilan video itu. Sementara di ruang tamu, Amaris merasa suasana menjadi canggung. "Om, Maris boleh minta cemilan tidak? Heheh, lapar"
"Eh Ya Allah nak, makan sana di dalam. Mira mau makan sekalian?" Bu Amira menggeleng. Amaris langsung nyelonong masuk ke ruang makan. Disana masih ada para kawanan intel itu. Membhat Amaris sedikit malu.
Sigit menyuruh semuanya pindah ke taman belakang. Hanya Damar yang menemani Amaris. "Ris"
"Hmm?"
"Ih, galak banget sih kamu! Dari dulu sampai sekarang judes banget!" Damar heran dengan sikap Amaris yang selalu jutek padanya.
Amaria tertawa lepas. Membuat Damar ikut tersenyum. "Masih sebel sama kamu gara-gara kamu, hijab kesayangan aku gak bisa dipakai lagi Dam!"
"Ya nanti aku ganti deh, tapi beneran, mumpung ketemu, aku minta maaf. Hehehe, biasa lah dulu ababil"
Amaris mengangguk. "Sekarang kamu tugas dimana?" tanya Damar. "SMA x. Kenapa? Mau main? Mau ngajak kencan? Aku cuma guru lho"
Damar menautkan alisnya bingung. "Kamu jadi cewek ceplas ceplos banget sih?? Memang boleh ngajak kamu kencan? Terus kenapa kalau guru? Itu pekerjaan mulia. Mencerdaskan anak-anak bangsa. Tempat bertanya semua orang saat orang tua tak bisa memberi jawaban"
__ADS_1
Amaris tersenyum. "Hahaha, bener kata kak Aylin ya? Kamj naksir sama aku? Sampai-sampai pulpen aku semuanya gak mbok balikin tapi kamu simpan di tas kamu semua?"
Wajah Damar merona. "Kok Aylin tahu sih? Ih ketahuan dong aku. Jadi?"
"Jadi apa?"
"Boleh ngajak kencan?" tanya Damar. Amaris tersenyum. "Ijin sama orang tua aku Dam. Main ke Magelang, kenalan sama orang tua aku. Berani?"
Tiba-tiba saja keringat dingin keluar dari tubuh Damar. "Kalau gak berani ya sudah"
"Berani!" jawab Damar akhirnya. "Oke, ikut rombongan Muti istrinya Mas Sigit besok terapi sama mamah" Damar mengangguk. Sigit yang sedark tadi mengawasi mereka tertawa cekikikan dibalik gorden itu.
Sedang di ruang tamu, dua orang tua itu sama-sama canggung. "Jadi gimana Mira?"
"Apanya bang?"
"Tentang permintaan Muti" Bu Amira menahan senyumnya. "Kita pertemuan keluarga dulu bang, Mira siap kalau semua anak-anak kita setuju"
Ayah Indra mengangguk. "Nanti kita pulang bersama. Ke Semarang dulu jemput Muti untuk ketemuan dengan Shanum. Oh ya, Shanum sudah punya pacar lagi? Teman Sigit ada yang mencari calon istri tuh"
"Ha? Siapa? Ada anaknya?" Ayah Indra mengangguk. "Tunggu, Abang panggilkan dulu" Masuk mencari keberadaan Sigit.
"Git, teman kamu yang mau cari calon istri mana?" Sigit, Bima dan Ali menunjuk Hamka. Jantung Hamka serasa mau lepas dari tempatnya. "Bang Hamka Yah"
"Mantap cari istri kan?" Hamka mengangguk sambil menahan malu. "Ayo Ayah kenalkan dulu sama ibunya Shanum"
Hamka bangkit dan mengikuti Ayah Indra. Ia diperkenalkan dengan Bu Amira, orang tua Shanum. "Nanti ketemu dulu sama Shanum. Kalau memang jodoh, silahkan dipinang" Hamka mengangguk dan tersenyum.
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip