
Muti dan Hana tak sabar menunggu mereka di rumah. Hana merengek-rengek pada Luna minta diantarkan ke Polda untuk menjemput suaminya. Muti melarangnya, karena takut terjadi apa-apa dengan Hana.
"Ayolah, kalian ini, calon baby ku kangen sama Ayahnya nih" tutur Hana. Luna dan Muti menggaruk kepala mereka.
"Memang dia sudah bisa ngomong?" tanya Luna terbodoh. Muti menahan tawanya. "Itu alasan emaknya kangen sama bapaknya mbak Lun" sahut Muti. Hana memasang wajah memelas dan mengangguk.
Membuat Luna memutar bola matanya malas. Ia tak tega jika Hana sudah menampakkan wajah melasnya itu. "Hadeeehhhh..... oke aku turutin buat calon ponakanku. Buruan siap-siap" perintah Luna.
Hana melompat kegirangan. Membuat Muti dan Luna berteriak. "Hish! Kamu itu lagi hamil Hana, bisa lebih kalem sedikit gak sih??" Muti selalu khawatir terjadi apa-apa dengan Hana.
Hana menyengir. Masuk ke dalam dan bersiap. Muti akhirnya pun ikut bersiap. "Lhaaahhh..... tadi nolak, sekarang ikutan" sindir Luna. Muti hanya meringis menampakkan deretan gigi putihnya.
Luna menunggu mereka hingga bersiap. Ada chat masuk di grup yang ia bentuk untuk panitia resepsi pernikahan Muti dan Sigit.
Ali : Lun, masukin nomornya bang Hamka, Bima, dan Damar ke grup ini
Luna : Aku gak punya nomornya bang Hamka dan Damar
Ali mengirim kontak Hamka dan Damar ke grup itu. Luna menambahkan mereka berdua ditambah dengan Bima
Maryam : Uuuuu... anggota baru nih, selamat datang bang Hamka ca'em dan bang Damar
Hamka : Eh, calon jodoh yang gak jadi muncul. Kamu apa kabar cinta?? 🤭
Maryam : 😫🤢🤮👊👊 Tuh kan aku jadi muntah, nyesel aku nyapa kamu bang 😅
Luna : Jangan godain jodoh orang bang, calonnya dokter lho. Di encus baru tahu rasa kamu 😜
Hamka : Ck, Lun, jangan ingatkan diriku dengan jarum suntik itu Lun..... sakit Lun 🏃♂🏃♂
Sigit : 🤣🤣🤣 ada orang macam lu bang. Sama buronan aja garang! Sama jarum suntik takut! Dasar!
Hana : Abang, adek, mbak Luna sama mbak Muti otw Polda. Sudah sampai mana?
Ali : Sampai hatimu sayang 🤗🤗
Sigit : 😒
Hamka : 😫 perut gua sakit!
Maryam : Bang Ali sekarang bakat ya jadi garangan? Siapa yang ngajarin nih? Cung! ☝
Luna : Ekspresimu kenapa Si? Bukannya kamu yang lebih bucin sama Muti?
Muti : Apa nih nama aku disebut-sebut. Mas Si.... sayangku cintaku belahan jiwaku, aku rindu berat sama kamu.....
Sigit : Mas pun kangen sayang, tunggu ya, nanti kita main bareng lagi
__ADS_1
Luna : 😩😱
Maryam : Main apa tuh? ikutan boleh?
Sigit : Gak boleh! Anak kecil dilarang ikut! Karena permainannya hanya bisa dimainkan sepasang pasangan yang sudah halal
Bima : Opo to? Aku pinisirin Ndan! Biar nanti kalau ketemu jodohnya langsung bisa mainkan permainan ini 🤣🤣
Maryam : Pada gila semua! Wes mbuh! 🙉🙉
Luna : Cowok di grup ini pada bucin akut! Hadeh....
Bima : Ya gak papa dong Lun, karena jatuh cinta itu gratis 😜
Luna : Iya gratis, tapi sakitnya juga luar biasa! Kok ya ada yang manfaatin seseorang buat balas dendam! 😤
Sigit : Curcolll.... Danang nyimak lho Lun.... kan masih di grup ini. Piye? Bima atau Danang? Berangkat sekarang Lun. Kami sudah sampai di Kalibanteng
Luna melotot membaca ucapan Sigit. Ia melihat anggota grup. Dan benar saja, bahkan kontak almarhum Galih juga masih ada dalam grup itu. Dengan cepat ia mengeluarkan Danang dan almarhum Galih dari grup itu.
Muti dan Hana muncul dari dalam. Mereka selesai bersiap. "Sudah?" Mereka mengangguk. "Ayo, mereka sudah di dekat Kalibanteng" Ketiganya masuk ke mobil dan menuju polda. "Mbak Lun, ke rumah bentar ya? Mau ninggalin kunci buat Ayah. Tak titipkan ke Pak RT"
Luna mengangguk.
.
Para rombongan intel itu telah sampai di Polda. Sedangkan Ayah Indra dan Bu Amira menuju rumah Muti. Amaris turun dari mobil pengangkut tahanan bersama Damar. Ia memberikan tas Damar.
"Nomor kamu sudah kamu simpan disini kan?" Tanya Damar. Amaris mengangguk. Bima dan yang lain menghampiri mereka. "Wareg cah... semalam berduaan terooossss" ledek Bima.
Tak lama rombongan Luna datang. Muti dan Hana segera turun dari mobil. "Mas!" panggil Muti.
"Abang!" teriak Hana. Semuanya menoleh ke arah mereka. Hana berlari menuju ke arah Ali. Membuat Muti dan yang lain khawatir dan miris.
"Jangan lari dek...." Ali menyambutnya dan memeluknya. "Kangen banget?" Hana mengangguk. Ali hendak melepaskan pelukannya namun Hana enggan melepasnya.
"Abang bau lho"
Hana menggeleng. "Abang wangi" katanya mengendus-endus dada Ali. Membuat yang lain iri dengan suasana romantis yang mereka ciptakan.
Muti berlari ke arah Sigit. Sigit merentangkan tangannya, Muti memeluk Sigit sambil mengalungkan kakinya di pinggang Sigit. Persis seperti orang yang digendong di depan. Sigit memeluknya sangat erat.
Hamka, Bima, dan Damar geleng kepala menyaksikannya. "Kangen...." rengek Muti. "Turun dulu, nanti ada yang iri"
Muti menoleh ke belakang dan semua tersenyum malu kepadanya. Ia segera turun. Sigit menangkup wajahnya dan menghujaninya dengan ciuman. Damar menutup mata Amaris.
"Tuh bang! Lihat kelakuan mereka berdua yang tersihir cinta" kata Bima. Hamka berkacak pinggang dan meneriaki mereka. "Apakah wujudku sudah tak terlihat lagi kawan? Hargailah kami oara jomblo! Jangan pamerkan kemesraan kalian di depan kami" kata Hamka. Muti dan Sigit tertawa.
__ADS_1
Luna mendekati mereka dan menyapa kepada Hamka, Damar, dan Bima. "Kamu jemput aku Lun?" Goda Bima. Membuat Luna memukul lengannya. "Kagak! Noh, nganterin bumil. Dam cewek baru?"
Damar tersenyum. "Lebih tepatnya calon bhayangkariku" Luna berkenalan dengan Amaris.
"Bim, operasi nanti malam di karaoke x. Seragam navy" kata Luna sambil membaca grup. Bima mengangguk.
"Balik yuk? Gak enak mertua ku nanti nunggu lama" ajak Sigit.
"Gayamu Si! Ngomong saja sudah ngebet main sama istri kamu!" ejek Hamka. Sigit tertawa.
"Bang Hamka, Dam, mbak Maris, kenalkan ini istriku, Muti" Mereka berkenalan satu per satu. Lalu berpisah kembali ke rumah masing-masing.
Amaris ikut Muti pulang ke rumahnya. "Mbak Maris, Ibu tuh punya berapa anak?" tanya Muti.
"Cuma satu, Shanum. Seniornya calonnya Habib, siapa lah lupa aku namanya"
"Maryam, dia adik iparku mbak" jelas Muti
"Oh, berarti itu adiknya mas Sigit? Tante Amira itu anaknya mantan Bupati Pati saat itu. Nikah sama kakaknya tante Ais, dapat anak Shanum. Tapi, om Ari sakit jantung. Dan itu ketahuannya sudah oas parah-parahnya. Dan akhirnya meninggal. Ketemu Ayah kamu itu waktu itu tante Amira menjenguk Shanun yang saat itu masih tugas di Jakarta. Mungkin sudah ada ketertarikan diantara keduanya kali ya jadinya sampai sini. Hehehe" Amaris menceritakan yang pernah ia tahu dan dengar dari Shanum.
Mereka telah sampai di rumah. Muti mengajak Amaris turun. Lalu dia berlari memeluk dan menyalami Ayahnya. "Ayah...."
"Kamu sehat?" tanya Ayah Indra. Muti mengangguk. Ia melepaskan pelukannya dan bergantian memeluk Bu Amira. "Ibu... Muti kangen.... heheheh"
"Ini ibu sudah disini. Masuk yuk, pasti belum pada sarapan kan?" Semuanya menggeleng. "Ibu sudah masak, yuk masuk"
Muti menggandeng Bu Amira persisi seperti ibunya sendiri. Amaris mengikutinya di belakang. Ayah Indra dan Sigit tersenyum melihatnya.
"Mau dilamarkan Ibu atau Ayah melamar sendiri?" goda Sigit. Wajah Ayah Indra seketika memerah seperti udang rebus.
"Kamu ini! Ayo sarapan!"
"Hahaha, ih Ayah malu"
Ayah Indra hanya geleng kepala mendengar perkataan menantunya.
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip