
"Gimana ini? Sudah jam 2 lagi. Bisa digrebek warga kalau berduaan di mobil" Sigit melajukan mobilnya entah mau kemana. Pikirannya sudah mentok. Akhirnya dia membawa Muti ke rumahnya.
Dia minta izin kepada kakek Umang. Dan kakek Umang yang memang mengenal Muti akhirnya mengizinkannya. "Indra, Indra, apa yang kamu lakukan sampai anak gadismu menjadi seperti ini" ucap kakek Umang.
Sigit menggendong Muti dan membawanya ke kamarnya, karena kamar tamu belum dibersihkan. "Hmm, dasar marmut! Nyusahin banget sih kamu. Lihat sekarang? Aku sendiri tak bisa bersama dengan kasurku. Nikmatilah tidur di ranjangku"
Sigit mengambil baju dari lemarinya dan bergegas ke kamar mandi. Setelah itu dia merebahkan dirinya di sofa. Memejamkan mata sebentar adalah hal terbaik saat ini.
.
Masa laluuu, terpesona aku terpesona, memandang memandang wajahmu yang manis. Terpesona aku terpesona memandang memandang wajahmu yang manis. Bagaikan mutiara....
Alarm berbunyi nyaring di telinga Sigit. Sudah fajar ternyata. Sigit meraih ponselnya dan mematikannya. Seperti biasa, dia akan membersihkan dirinya bersiap untuk sholat. Dia ke kamarnya untuk mengganti sarung dan mengambil baju kokonya.
Dilihatnya gadis itu masih tertidur dengan penampilan yang sudah tak karuan adanya. Rambutnya terjuntai, mulut menganga dan kaos yang terangkat naik memperlihatkan pusarnya. Sigit mengerjap-kerjapkan matanya.
"Ya Allah, dia ini perempuan apa sih? Hingga tidur berantakan begini. Aurat terbuka dimana-mana" Dia mengambil selimut dan menutupkannya di tubuh Muti. Belum sampai hal itu terjadi Muti sudah membuka matanya dan berteriak. Membuat kegaduhan pagi hari.
"Aaaaaaaaaa" jeritnya. Dia bangun dan memukul-mukul dada Sigit. "Dasar mesum! Dasar penjahat wanita! Apa yang kamu lakukan?? Kamu ingin menggodaku? Kamu ingin mengambil kesucianku?? Komandan kurang ajar!" umpatnya tak habis-habis kepada Sigit.
Sigit meraih tangan Muti. "Kamu kira gak sakit apa dadaku kamu pukul begitu keras? Siapa yang penjahat wanita? Aku? Bahkan aku meminjamkan ranjangku untukmu, tapi begini balasanmu? Mengumpatiku dengan tuduhan yang jelas tak aku lakukan?"
Kakek Umang menghampiri mereka. "Ada apa ini? Kenapa pagi-pagi sekali sudah ribut? Apa yang terjadi?"
Sigit dan Muti saling berpandangan. Melihat keadaan masing-masing. Sigit melepaskan genggaman tangannya. "Ini nih kek, komandan ini mau mesum terhadapku. Lihat saja tadi tanganku dipegang erat olehnya kek"
"Diiiihh, enak saja kalau ngomong! Aku memegang tanganmu karena kamu terus memukul dadaku. Dia bohong kek" ujar Sigit.
Kakek Umang geleng kepala menyaksikan perdebatan mereka. "Sigit, Muti, kalian sudah sholat? Waktunya semakin mepet. Subuh akan habis nanti. Sudah, jangan berdebat lagi. Ambil wudhu dan laksanakan sholat. Ingat, sholat tiang agama"
"Iya kek" jawab mereka kompak. Mereka saling mempelototi satu sama lain dan bergumam. Sigit mengambil wudhu lagi karena batal menyentuh tangan Muti tadi.
Muti mengenakan mukena Anin yang masih tertinggal di rumah itu. Sigit menjadi imam untuk Muti. "Allahu akbar" Sigit melakukan takbiratul ikhram dan menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim.
__ADS_1
Selesai sholat Sigit berbalik dan mengobrol dengan Muti. Cantik kalau tertutup seperti ini. Adem lihatnya.
"Aku kok bisa disini? Ini rumah kamu?"
Sigit mengangguk. "Kamu semalam ketiduran di mobil. Aku bangunkan gak bangun-bangun juga. Udah jam 2 malam juga, aku takut digrebek warga. Makanya aku bawa kamu kesini. Itu tadi kakek Umang, ayah angkat mamah. Dia kenal kamu karena kamu anak Om Indra"
Muti mengangguk paham. "Mobil aku masih di tempat karaoke, antarkan aku kesana ya? Aku gak bawa dompet, gak bisa pulang, gak ada ongkos, hehehe" pintanya sambil nyengir.
"Ngelunjak! Nyusahin!" Sigit beranjak dan meninggalkan Muti. Muti segera melepas mukenanya dan mengekor di belakang Sigit membujuknya agar mau mengantarkan mengambil mobilnya.
"Mas.. ayolah, antarkan aku kesana. Nanti aku bayar deh. Maas, ih, mas Sigiiiit" rengeknya. Sigit hanya mendengarkan tanpa menjawab dan sibuk mempersiapkan seragamnya. "Ih, mas... Mas Sigit, budhek apa gimana sih? Ayolah antarkan aku?? Mau ya?"
"Ogah!" Sigit hendak menuju kamar mandi. "Oke kalau kamu gak mau, aku telpon tante Anin dan aduin kamu karena udah nyulik aku"
Sigit berbalik. "Hei, tidak ada yang mau menculik gadis merepotkan sepertimu. Merengek seperti anak kecil"
Muti tetap menghubungi Anin. "Halo assalamualaikum tan...." Sigit segera meraih ponsel itu. Dan mebgakhiri panggilannya.
"Dasar tukang ngadu! Iya, aku antarkan. Aku mandi dulu"
"Eh, maaf. Hehehe. Mau ditemenin mandi gak. Aku bantu pakaikan sabun deeh. Biar bisa lihat roti sobek ituuuu" goda Muti membuat Sigit merona.
Sigit mendekatkan tubuhnya kepada Muti. Membuat degup jantung mereka kembali tak normal. Sigit makin mendekatkan tubuhnya membuat Muti mundur selangkah demi selangkah. Hingga mentok ke tembok. Sigit mengunci pergerakan Muti dengan menempelkan tangannya ke tembok. Mendekatkan wajahnya. Dan...
ceklek. Kakek Umang melihat mereka seperti orang hendak berciuman. "Sigit!" Membuat Sigit kaget. Kakek Umang menghampirinya dan menjewer telinganya.
"Nakal kamu ya, anak gadis orang mau kamu apakan tadi?" Kakek Umang menjewer telinga Sigit sambil menariknya keluar. Muti tertawa melihatnya.
"Aduh duh duh, sakit kek, ini tidak yang seperti kakek pikirkan. Kek, telinga Sigit bisa lepas nanti. Aduuuhh kakek"
Muti menghela nafas lega. Dia tersenyum mengingat kejadian barusan. "Jantungku kenapa selalu tak beraturan iramanya saat dekat dengan dia? Kamu itu bikin jantung aku seperti dipasangi petasan mas. Huft"
Sigit dilepaskan di depan kamar mandi. "Kamu itu! Kalian bukan muhrim! Awas kalau kamu nakal lagi, kakek bukan hanya menjewermu, kakek pukul kamu pakai sapu"
__ADS_1
"Ih, kakek. Tadi aku gak ngapa-ngapain sama dia. Hanya ngasih dia pelajaran karena godain Sigit"
"Apapun itu, kakek tetap suka kalian seperti itu. Nanti kalau kalian sudah menikah terserah mau kamu apakan dia. Mandi cepat. Kakek buat sarapan dulu!"
"Iya kek, maaf" Sigit masuk ke kamar mandi. Muti menuju dapur. Disana ada kakek Umang yang sedang mempersiapkan bahan untuk membuat sarapan.
"Kakek, biar Muti saja yang kerjakan. Mau buat nasi goreng kan?" tanya Muti yang melihat bahan-bahan seperti akan membuat nasi goreng.
Kakek Umang tersenyum "Iya. Kamu bisa masak?" Muti mengangguk. "Iya bisa kek, kakek duduk saja. Biar Muti yang buatkan. Kakek mau kopi?"
"Boleh kalau tidak merepotkan. Setengah saja ya Muti, kakek harus mengurangi kopi. Oh ya, buatkan Sigit susu hangat coklat. Dia suka dengan itu" Muti mengangguk paham dan segera melakukan perintah kakek Umang.
Sarapan siap. Sigit juga sudah siap dengan seragamnya. Membuat Muti makin terpana melihat ketampanannya yang dua kali lipat meningkat.
"Wah enak nih" kata Sigit mengambil nasi goreng itu dan duduk bersama yang lain.
Dia mulai menyuapkan makanan itu ke mulutnya. "Mmm, enak banget. Beda seperti biasanya"
Kakek Umang tersenyum mendengar ocehan Sigit. "Iyalah enak, siapa dulu yang masak. Muti gitu lhoh" sahut Muti.
Sigit mendelikkan matanya tak percaya akan ucapan Muti.
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip