Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 116


__ADS_3

Mereka sarapan bersama. Masakan Bu Amira sangat terasa enak di lidah semuanya. Hingga Ayah Indra lahap sekali makannya. Muti tersenyum melihat nafsu makan Ayahnya yang meningkat, karena jarang sekali Ayahnya makan hingga menambah porsi.


"Ehm... enak banget Yah?" tanya Muti. Ayah Indra menganhguk semangat. "Top dah" katanya.


"Makanya, coba dari dulu Ayah resmikan Ibu Amira jadi gantinya Ibu Sani" Ayah Indra dan Bu Amira sama-sama terbatuk. Amaris tersenyum dan memberikan minum untuk tantenya.


"Jadi, nanti kita sekalian melamar ibu. Muti sudah siapkan gemblong dan wajiknya. Kakek Umang sebagai perwakilan keluarga" goda Muti kepada keduanya.


Sigit menahan tawanya. Ia tahu jika istrinya sedang berbohong, karena sedari tadi ia tak membicarakan apapun dengannya. "Ha?" sahut keduanya.


"Kalian kenapa sih? Ha ho ha ho. Jangan grogri dong, lagi puber kedua ya? Wkwkwk" Muti semakin menggoda keduanya. Amaris tak bisa lagi menahan tawanya melihat ekspresi Bu Amira dan Ayah Indra. Ia tertawa terbahak-bahak.


"Jangan bercanda kamu nak" kata Bu Amira. Muti menggeleng. "Muti serius Ibu, Muti serius banget Ibu jadi pendamping untuk Ayah, menemani masa tua Ayah. Ibu mau kan jadi pendamping hidup Ayah?"


Ayah Indra menghentikan makannya dan menatap putrinya. "Kita tunggu jawaban Shanum dulu"


Muti memasang wajah kecewanya. "Shanum pasti setuju kok. Iya kan tante?" gantian Amaris yang menggoda Bu Amira. Bu Amira hanya tersenyum sambil tertunduk malu.


"Kita berangkat jam berapa ke Magelang Yah?" Sigit mengalihkan pembicaraan.


"Muti janjian sama dokter Laras jam berapa?" tanya Ayah Indra.


"Jam 4 an Yah"


Ayah Indra mengangguk. "Jam 10 an saja dari sini Git. Beritahu teman kamu" Sigit mengangguk.


Selesai sarapan mereka segera bersiap untuk berangkat ke Magelang. Hamka dan Damar pun telah siap dan rapi. Amaris menggoda mereka.


"Wangi dan rapi amat, mau dinas luar?" godanya. Hamka dan Damar tersenyum. "Dinas luarnya nyenengin ya? Sampai ditanya cuma jawabnya senyam senyum?" imbuhnya.


"Grogi Ris" jawab Damar. Amaris menahan tawanya. "Santai, Papah bukan singa yang harus kamu takuti Dam" Damar mengangguk.


Ali dan Hana datang bersama kakek Umang. Membuat Sigit dan Ayah Indra menatap tajam ke arah Muti. "Hehehe, biar sekalian Yah"


Sigit berbisik kepada istrinya. "Kamu seriusan yank?" Muti mengangguk. "Aku kira bohongan"


Mereka segera masuk mobil, Ayah Indra dan Bu Amira satu mobil dengan ajudan Ayah Indra. Sigit, Muti, Amaris, Damar dan Hamka satu mobil dengan Sigit. Ali, Hana dan kakek satu mobil.


Luna dan Bima tak ikut karena malam nanti mereka harus menggelar razia di tempat karaoke.

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan hampir 3 jam karena macet dan mampir sana sini akhirnya mereka tiba di Magelang. Damar dan Amaris turun di kediaman Pak Duta.


"Ris"


"Iya Dam, kenapa? Sedari tadi kamu gusar terus" kata Amaris membaca gerak gerik Damar.


"Grogi nih. Apa aku pulang saja ya?" kata Damar asal, membuat Amaris sedikit kecewa. "Kalau mau pulang silahkan Dam" Amaris melangkah meninggalkan Damar.


Damar segera mengejar Amaris. "Tunggu dong, jangan ngambek. Beri aku waktu untuk menenangkan diri" Amaris bersidekap dan menghela nafasnya. Lalu mengangguk.


Damar mengatur nafasnya. Amaris meraih tangan Damar. "Papah baik kok Dam, temui saja dulu" Damar tersenyum. Akhirnya Damar mantap menemui orang tua Amaris.


Sedang di lain tempat, rombongan Ayah Indra dan Sigit sudah sampai di rumah Bu Amira. Keluarga dokter Ais dan Pak Farid menyambut mereka.


"Suasananya beneran kayak kamu lamaran lhoh Yah" Sigit sempat-sempatnya menggoda Ayah mertuanya.


"Hish kami ini, dari kemarin menggoda Ayah terus menerus" sambil menjewer telinga Sigit. Membuat semuanya tertawa.


"Ayo semuanya, silahkan masuk" Bu Amira mempersilahkan para tamunya masuk ke dalam rumahnya. Mereka satu per satu masuk ke dalam rumah Bu Amira.


Saat sedang melepas sepatu, tubuh Hamka terhuyung karena ada orang yang mendorong tubuhnya dari belakang.


"Waduh, maaf maaf maaf" suara seorang wanita terdengar di belakang Hamka. Hamka menoleh dengan wajah yang sudah marah. Seketika ia menjadi diam tak berkutik. Melihat kecantikan dari Shanum Ufairah Wibisana.


"Siku mu sobek bang! Harus dijahit itu" kata Sigit membuyarkan lamunan Hamka. Seketika wajah Hamka menjadi pucat. Ia menggeleng cepat.


"Maaf ya bang, saya gak sengaja" Shanum meminta maaf kembali. Hamka membaca nama pada seragam loreng Shanum U. F. Oh, ini yang namanya Shanum. Batinnya.


"Kamu gimana sih Shan, kasihan nak Hamka kan? Bib, Is, kalian bawa alat gak?" tanya Bu Amira. Habib menggeleng.


"Aku bawa kok mbak, tenang, aku ambil dulu" Hamka berdiri dibantu Ali dan Sigit. "Mak, berat kamu nambah bang" Ali protes karena berat badan Hamka semakin bertambah.


"Gak usah dijahit Bu, Hamka gak papa kok" Hamka menolak.


"Gak papa gimana? Orang lukanya lebar begitu kok. Kamu sih Shan" Bu Amira masih kesal dengan kecerobohan Shanum. Sigit dan Ali tertawa cekikikan karena tahu alasan sebenarnya Hamka menolak dijahit.


"Sstt, bantuin kek Si, Al, sumpah, gua takut sama itu benda...." rengek Hamka. Sigit dan Ali tak dapat lagi menahan tawanya.


"Kenapa sih?" tanya Muti. "Bib, kalau misal gak dijahit gimana?" Habib melihat luka itu. Cukup lebar dan dalam. "Wajib jahit bang, gak bisa kalau gak dijahit"

__ADS_1


"Alaaahhh.... sumpah, aku gak papa"


"Abang takut jarum suntik ya?" tanya Shanum. Sigit dan Ali mengangguk mewakili Hamka. "Jatuhin senior kalian ih" kata Hamka semakin kesal. Dokter Ais datang dengan alat di tangannya. Tubuh Hamka semakin berhetar dan mengeluarkan keringat dingin.


"Mampus lu Ham! Hadeh, kenapa mesti jatuh sih tadi?" sesal Hamka. Habib memakai sarung tangan medis dan mulai membersihkan luka Hamka. "Jahit dalam 1 Bib, luar dua cukup" kata dokter Ais.


"Tante, gak usah, beneran deh aku gak papa" Hamka masih menolak. Sigit dan Ali memengangi tangan Hamka. "Tenang bang tenang"


Yang lainnya tertawa melihat Hamka. Shanum menjadi tak tega hati. "Dijahit di kamar saja Bib, kasihan abangnya. Nanti aku temenin deh"


"Tuh bang, ditemenin calon istri" kata Ali dan Sigit bersamaan. Shanum mengernyitkan alisnya. "Calon istri?"


"Panjang ceritanya nak, biarkan Hamka dijahit dulu" Ayah Indra menjawab rasa penasaran Shanum. Hamka sudah sangat pasrah. Ia diseret oleh para juniornya ke dalam kamar tamu. Habib segera menyuntikkan biusnya.


Saat jarum tertusuk ke daging Hamka, ia menjerit, reflek memegang tangan Shanum yang ada di sampingnya. "Aaaaaaaaa........." teriak Hamka sangat keras memekakkan telinga orang. Sigit dan Ali tertawa puas melihat ketakutan Hamka.


Tangan Shanum diremas sangat keras oleh Hamka, hingga ekspresi wajah Shanum menahan sakit. Sigit menyuruh Shanum minggir. "Biar saya saja mbak, bisa remuk tanganmu diremas sama bang Hamka"


Shanum melepaskan tangan Hamka perlahan dan digantikan oleh Sigit. Habib mulai menjahit luka itu. "Sudah belum?" tanya Hamka tak sabar.


"Belum, kurang 10 jahitan lagi" ucap Ali senang mengerjai seniornya. "Katanya tadi cuma 1" protes Hamka.


"Satu kan yang dalam bang, yang luar kurang 2. Bentar ya. Sabar" jawab Habib. Hamka menangis membuat Sigit dan Ali semakin bahagia.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip


Maaf telat up, othor super sibuk. Nanti lagi. Othor tidurkan anak dulu

__ADS_1


__ADS_2