Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 93


__ADS_3

Siang itu Sigit menepati janjinya untuk makan siang bersama Muti. Ia mengemudikan mobil dalam kecepatan sedang agar bisa sampai tepat waktu. Tak lama ia pun sampai. Istrinya menyambutnya dengan ceria.


"Assalamualaikum istriku yang cantik... Mau makan dimana nih?" tanya Sigit saat istrinya sudah masuk mobil.


Muti menyalami Sigit. "Waalaikum salam suami galak ku, dimana ya? Yang dekat-dekat saja deh. Mau makan apa sih?"


Sigit mulai melajukan mobilnya kembali. "Mas pengen makan pecel nih sayang"


"Boleh, dimana mas tempatnya?"


"Warung pecel mbok Sumo, dekatnya rumah sakit. Enak lho disitu. Kamu sudah pernha coba?" tanya Sigit. Muti menggeleng. Sigit menceritakan menu yang ditawarkan di tempat itu. "Mas jamin deh kamu bakalan ketagihan"


"Mari kita coba...." Mereka twlah sampai di warung yang dimaksud. Muti bisa melihat antrian yang begitu ramai disana. Mungkin karena jam makan siang? Atau memang enak dan diserbu pembeli? (Cobain sendiri bagi yang berkunjung ke Semarang. Othor bilang debest sih 😁)


Muti mencari tempat duduk. Sigit memesan makanan. "Bu, nasi pecel dua, yang satu pakai babat iso, satunya ati ampela nggih?"


"Nggih mas, unjukane nopo? (Ya mas, minumnya apa?)" tanya pelayan itu. "Jeruk hangat dua"


"Nggih, monggo pinarak rumiyin. Mangkeh diterke mriko (Ya, silahkan duduk dulu. Nanti diantar kesana)" Sigit mengangguk. "Meja pojok ya bu?"


Pelayan itu mengangguk. Muti menunggu dengan sabar hingga suaminya menghampirinya. "Ramai ya mas?" tanya Muti. Sigit mengangguk. "Banget yank"


Tak lama makanan mereka pun datang. Muti melihat porsinya sampai geleng-geleng kepala. "Banyak sekali, habis tidak ya?" katanya. "Mas, nanti kalau tidak habis, kamu yang habiskan ya?"


Sigit menggeleng. "Yaaahhh.... nanti ayamnya pada mati" Sigit tertawa mendengarnya. "Ya mati lah, memang ayamnya mau dimasak kok. Memang bisa ayam hidup dimasak? Aneh ih. Sudah, makan saja dulu yank. Kalau gak habis ya sudah nanti mas bantu. Tapi gak janji bakalan bisa habis apa gak"


Muti memanyunkan bibirnya, tak lupa ia mengabadikan momen itu. "Sudah lama.kan kita gak posting? Hehehe, berapa banyak lagi yang ilang jadi followers kamu?"


"Sak karepmu lah yank. Buruan makan. Mau mas suapin?" Muti mengangguk semangat. "Gak jadi deh, bisa telat balik kantor nanti"

__ADS_1


"Ih.... kok gitu?" kata Muti kesal. Sigit tertawa melihat ekspresi wajah Muti. "Iya, mas suapkan. Aaa...." Sigit mulai menyuapi istrinya.


Muti tersenyum senang atas sikap Sigit. "Senang?" Muti mengangguk. Ada seorang paruh baya yang sedang mencari tempat duduk, karena semua kursi penuh. Tersisa satu kursi di depan Muti dan Muti mengenali orang itu.


"Om Arka!" panggil Muti. Sigit melihat ke arah Muti memanggil orang itu. Papah Arka menoleh ke arah suara.


"Muti?" Ia berjalan ke arah Muti. "Ya Allah nak... apa kabar kamu cah ayu? Ini suami kamu?" Muti menyalami Papah Arka dan mengangguk.


Sigit yang masih bingung hanya ikut menyalami papah Arka. "Mas, ini om Arka, papahnya Danang, suaminya tante Ana"


"Oh, maaf om, Sigit belum banyak kenal kerabat Muti" Papah Arka tersenyum. "Gak papa, maaf kemarin gak bisa ikut acara akad kalian. Gimana keadaan kalian? Sudah isi belum?" tanya papah Arka.


Muti tersenyum mendengarnya. "Alhamdulillah kami baik om, doakan segera isi ya om, untuk selarang diisi nasi dulu biar kenyang. Hehehe. Om nyari makan juga sampai sini?" tanya Muti heran, karena setahu Muti kantor papah Arka jauh dari kawasan itu.


"Om menunggui Danang, dia masuk rumah sakit" Terang papah Arka, membuat Sigit dan Muti terbatuk karena kaget. "Makannya pelan-pelan dong" Tak lama makanan papah Arka datang. "Makasih mbak" katanya.


Sigit meneguk minumannya. Ia khawatir dengan keadaan Danang. "Danang sakit apa om?" tanya Sigit. Ia takut jika akibat pukulannya Danang sampai harus masuk rumah sakit.


Sigit dan Muti saling berpandangan. "Ehm, om, sebelumnya Sigit minta maaf, karena yang membuat Danang babak belur adalah Sigit. Sigit punya alasan melakukan hal itu"


Papah Arka tersenyum. Ia sudah mengetahui semuanya lewat rekaman cctv di apartemen Danang. "Gak papa, anak om yang salah. Dia selalu tidak bisa membuat mamahnya kecewa dan sedih, hingga istri om memanfaatkan hal itu untuk dendamnya. Malah, om yang justru minta maaf sama kalian. Bagaimanapun, Luna adalah sepupu kamu. Tolong maafkan Danang ya?"


Sigit mengangguk. "Terus sekarang keadaan Danang gimana om?" tanya Muti antusias. "Demamnya masih naik turun. Ia masih gak mau makan. Susah membujuk dia"


Wajah Muti berubah menjadi sedih. "Andai saja gak ada kejadian itu. Pasti sekarang akan baik-baik saja" Sigit mengusap-usap punggung Muti.


"Sekarang Danang sama siapa?" tanya Sigit. "Mamahnya" jawab papah Arka singkat. "Kita tengok Danang sebentar yuk yank" ajak Sigit kepada Muti.


Muti mengangguk. "Boleh, pas jam besuk kan om?" tanya Muti. Papah Arka mengangguk. Mereka dengan cepat menghabiskan makanan itu. Lalu menjenguk Danang sebentar.

__ADS_1


Sigit dan Muti menyalami Mamah Ana. Mereka juga prihatin dengan keadaan Danang. Panasnya masih naik turun. Pandangannya kosong. Hanya air mata yang tiba-tiba menetes dari pelupuk matanya.


Mamah Ana juga begitu sedih. "Sigit, Muti, bisa tante bicara sebentar dengan kalian?" kata Mamah Ana. Mereka mengangguk.


Mamah Ana berterus terang kepada mereka bagaimana hancurnya perasaannya. "Tante minta tolong, bisakah kalian bantu tante meminta maaf kepada keluarga Tristan dan membawa Luna kemari? Tante gak sanggup lihat Danang begitu sedih"


Sigit menghela nafasnya. "Tante, kami bisa saja membantu tante, tapi, jika itu urusan Luna, kami tidak bisa memaksanya bertemu Danang, sejauh Sigit kenal dengan Luna, dia tidak akan mau mengulangi rasa sakit sampai dua kali. Luna itu anaknya susah-susah gampang te"


"Ya coba saja dulu kali mas, siapa tahu mbak Luna luluh" Muti mencoba membesarkan hati tantenya. Sigit mengangguk.


"Sigit coba dulu te, Malam minggu insyaallah Sigit jadwalnya kosong, Luna juga. Jadi, kita ketemuannya pas hari itu saja ya te? Semoga sebelum hari itu, Danang sudah sembuh dan boleh pulang" terang Sigit.


Mamah Ana mengangguk setuju. "Terima kasih, dan maaf atas perilaku tante tempo hari"


Mereka mengangguk. "Lupakan semuanya te, kalau seperti ini, tante sendiri juga kan yang sakit melihat Danang? Mungkin pakdhe Tristan dan budhe Tari membiarkan tante, agar tante juga bisa belajar dari masalah ini. Ya sudah, jam makan siang kami hampir habis. Kami pamit dulu. Assalamualaikum" Muti menyalami tantenya, disusul dengan Sigit. Mereka juga berpamitan dengan Papah Arka.


Mereka kembali ke kantor masing-masing. Sigit ingin sekali memberitahu Luna, tapi, ia juga tahu bagaimana reaksi Luna jika dirinya bercerita tentang Danang. Ia memilih diam. Hingga waktu yang ditentukan tiba.


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


__ADS_2