
Sigit menenangkan diri di ruangannya. Muti menggenggam tangannya. "Istighfar mas" Sigit beristighfar sesuai kata istrinya. Mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Telpon Ayah lagi yank, suruh mindahkan Niken. Gak bakalan kapok anak itu kalau belun diberi tindakan tegas" kata Sigit kepada Muti. Muti malah diam. "Kok diam? Gak dengar perintah mas?"
Muti tersenyum. "Dengar kok, sabar. Kamu yakin dengan keputusanmu?" Sigit mengangguk.
"Dia masih cinta banget sama kamu mas, makanya dia sampai seperti itu. Dan aku tidak akan rela milikku direbut oleh orang lain" kata Muti memandang lurus kedepan.
"Aku gak peduli, itu hanya masa lalu. Dan aku tidak mau membukanya lagi. Yang saat ini kumiliki yang harus kujaga. Telpon Ayah, bilang suruh mindahkan Niken Sasmita ke Sulawesi atau ke Kalimantan sana. Biar jauh sekalian dari sini" Muti mengangguk. Ia menghubungi Ayahnya sekali lagi, dan menjelaskan kronologi kejadiannya.
Sambungan telepon telah berakhir. Muti menghela nafasnya. "Kamu kesini sama siapa tadi?"
"Nebeng Jihan, dia juga mau ketemu Bima sebentar tadi. Pulang yuk? Aku ngantuk berat ini" Muti mulai menguap lagi. Sigit tersenyum.
"Tidurlah sebentar disini. Mas selesaikan sedikit lagi" Muti mengangguk. Sigit mengunci ruangannya. Dan mulai mengerjakan pekerjaan nya lagi. Muti menyelonjorkan kakinya dan terlelap di sofa itu.
Hampir 1 jam Sigit berkutat dengan dokumen-dokumen di depannya. Ia mengolet. Tersenyum melihat istrinya yang tertidur pulas. Ia mendekatinya dan membangunkannya. "Yank, ayo pulang, mas sudah selesai nih"
Muti memaksakan membuka matanya. "Iya, aku sekarang kenapa doyan banget tidurnya ya?"
Sigit tersenyum. "Tanya mamah kenapanya, kalau kamu tanya sama mas ya sama saja bohong dong. Yuk pulang, mas mau beresin rumah"
Muti mengangguk. Ia duduk dan membenarkan hijabnya. "Iler tuh masih di sudut situ" Muti membersihkan air liurnya. "Mana? Gak ada kok"
Sigit tertawa. "Iiihhhh..... kamu ngerjain aku ya mas?? Jahil banget sih...."
"Hahahahaha, yuk ah" Mereka beranjak keluar dari ruangan itu. Bertemu dengan Ali dan Luna. "Muti, percaya sama suami kamu, dia tidak macam-macam dengan perempuan selain kamu" kata Ali. Muti tersenyum dan mengangguk.
"Iya Mas Al, aku percaya kok sama dia. Memang yang gatel kayak ulet bulu perempuannya saja tuh"
Mereka pulang ke rumah masing-masing sebelum nanti bertemu lagi untuk buka bersama.
.
Niken ingin kembali ke Salatiga, tapi ia disuruh mampir terlebih dahulu ke Polda oleh Ayahnya. Ia disambut oleh Hamka. "Sudah ditunggu bapak di dalam ruangan mbak, ada Komandan Rully juga di dalam" tutur Hamka.
__ADS_1
Langkah Niken terhenti. "Ada bang Rully juga?" Hamka mengangguk. "Apa yang mau Papah sampaikan?"
Hamka menggeleng. "Saya tidak tahu mbak" Hamka mempersilahkan Niken masuk ke ruangan Papahnya.
Tergambar raut wajah kecewa, sedih, marah, di kedua wajah lelaki yang berada di ruangan itu. Membuat Niken sedikit takut. "Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" jawab kedua lelaki itu. Kapolda mengepalkan tangannya lalu melempar secarik kertas ke wajah Niken.
"Apa yang kamu lakukan sampai dipindahkan ke Lombok?" tanya Papah Niken masih dengan suara bisa mengontrol emosinya. Niken membaca surat itu lalu terduduk lemas. Rully sebagai suami Niken hanya diam menyaksikannya.
"Benarkah kamu menggoda mantu dari Panglima TNI? Yang itu adalah Sigit? Lelaki yang pernah Papah tolak?"
Niken tiba-tiba menangis. Ia menutup wajahnya malu. Ternyata Muti dan Sigit tak main-main dengan ucapannya. "Apa yang ada dalam otakmu? Apa kamu sudah tak punya harga diri? Apa yang kurang dari suamimu? Hingga kamu tak tahu malu datang pada lelaki lain? Ha? Apa papah pernah mengajarimu menjadi perebut suami orang??? Papah tak habis pikir denganmu Ken! Bersyukurlah kamu hanya dapat pemindahan, bukan pencopotan pangkatmu"
Rully menghela nafasnya. "Apa kurangnya aku hingga kamu menggoda pria lain Ken? Apa jatahku kurang per bulannya kepadamu? Atau kamu kurang puas kepadaku dalam hal urusan ranjang?"
Niken masih menangis. Rully memeluknya. "Lupakanlah dia, hargai aku. Maaf jika aku kurang perhatian terhadapmu. Maaf jika aku tidak bisa membagi waktu antara kamu dan pekerjaan. Maafkan aku sayang"
"Maafkan kekhilafanku bang, maaf membuat semuanya kecewa" balas Niken.
"Maafkan Niken karena membuat papah malu, maafkan Niken pah"
"Papah sudah memaafkanmu nak, tolong jaga harga dirimu. Rully yang terbaik untukmu. Lupakan Sigit. Dia sudah bersama kebahagiaannya" kata Papah Niken. Niken mengangguk dan memeluk papahnya.
"Pulanglah kalian, Rul, segera urus berkas kepindahanmu agar bisa papah ajukan ke Jendral" Rully mengangguk. Niken akhirnya pulang bersama Rully ke Salatiga.
.
Pukul 4 sore, Sigit dan Muti menunggu para teman dan saudaranya datang ke rumah mereka. Yang pertama kali datang adalah Luna dan Danang. Disusul Maryam, Habib, Ali, dan Hana.
"Mana nih yang lain? Udah mau jam 5 lho" kata Sigit.
"Biasa, molor! Ngaret! jawab Ali. Luna, Maryam, Danang dan Habib berunding tentang konsep pernikahan mereka. Ya, mereka sepakat merayakannya dalam hari yang sama, di tempat yang sama, tapi dalam waktu yang berbeda. Lebih menghemat biaya dan bisa patungan.
Shanum dan Hamka datang. "Assalamualaikum" ucap mereka berdua. "Waalaikum salam"
__ADS_1
"Nih pesenan bumil" Shanum memberikan gethuk khas Magelang untuk Hana. "Makin mesra aja nih" sindir Sigit.
"Iya dong! Lumayan lah ilmu dari Damar, bisa aku praktekkan. Hahahahahah" kata Hamka.
"Memang diajari apa sama Damar? Itu anak kemana kok gak muncul-muncul?" tanya Sigit menyelidik.
"Ke Jakarta, dapat libur 2 hari mau nengokin Maris katanya. Ada deeh...... Kalian gak butuh ilmu itu.... Kalian kan sudah handal teruji!"
Sigit dan Ali tertawa mendengarnya. Pasangan terakhir yang datang adalah Bima dan Jihan. Luna dan Maryam membantu membawa makanan yang dibawa Jihan.
Waktu masih menunjukkan jam 5 lebih. Sigit sebagai tuan rumah membuka acara buka bersama itu. Ia mengucapkan terima kasih karena telah bersedia memenuhi undangannya. Mereka bertadarus bersama terlebih dahulu sambil menunggu bedhug maghrib tiba.
"Sadakallahul 'adziiimmm....." Tadarus pun selesai dilakukan. Maryam, Jihan dan Luna menata perlengkapan mereka untuk makan. Tak lama adzan maghrib berkumandang. "Alhamdulillah....." ucap syukur semuanya.
Mereka mulai membatalkan puasa mereka. Para perempuan disana melayani pasangannya masing-masing. Makan penuh dengan kenikmatan.
"Mbak Muti masih belum bisa makan nasi?" tanya Maryam yang melihat isi piring Muti hanya kentang dan pecelan tempe beserta sayur bening. Muti mengangguk.
"Semoga nanti kalau calon bini gua hamil.gal aneh-aneh lah" kata Hamka tiba-tiba. Membuat semua mata menyelidik kepada Hamka dan Shanum.
"Heheh, jangan mikir aneh-aneh.... Sumpah gua belum ngapa-ngapain dia, bisa ditendang Kapolda gua! Tenangno pikirmu cah.... hehehe" Mereka menghela nafas lega.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1