
Muti sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Semuanya menjenguk ke rumah Muti. Aariz disandingkan dengan Shazia. "Dua bayi imut mau lewat...." kata Maryam. Azka dan Maryam mendandani mereka berdua. Habib mengambil gambar dari kedua bayi itu.
"Lucunya...." kata Luna. "Mbak Lun, bentar lagi nih nambah ponakan lagi nih kita. Asek asek.... makin semangat nih akunya" kata Maryam.
"Semangat apaan? Kamu sanggup momong 3 bayik?"
"Ck, bukan! Semangat minta duit sama kalian biar bisa beli barang-barang unik nan lucu buat bayik-bayik ini. Eh, aku telat 1 bulan lho... Tapi belum aku cek sih....hahahaha"
"Buruan cek kek" timpal Muti. "Nanti lah, dilebihin aja, takutnya zonk"
Aarez yang usianya sudah hampir 3 bulan lebih aktif daripada Shazia yang baru berumur 3 hari. Ia berguling ke samping dan menjilat pipi Shazia. "Yah.... anaknya bang Ali nih memang.... lihat nih, ada cewek cantik langsung.... samber" kata Azka.
Semua tertawa melihatnya. "Itu tuh mereka lagi pada bisik-bisik, besok kalau gedhe kira-kira ngerjain yang tua apaan?" kata Habib.
"Semoga gak jahil dan somplak kayak mereka lah" kata Maryam.
.
Hari berlalu, bulan berganti, tahun pun berganti. Luna sudah melahirkan seorang putra bernama Ibrahim Bintang Arkananta. Biasa dipanggil dengan sebutan Baim. Para bayi itu tumbuh dengan cepatnya. Hingga tak terasa usia Aariz dan Shazia yang hanya terpaut beberapa bulan saja kini sudah menjadi 3 tahun.
Sigit yang saat itu sedang libur bertugas dititipi 3 anak sekaligus. Membuatnya kelabakan. Satu minta ini, satunya minta ini, hingga akhirnya ia kelelahan.
"Ayo, anak-anaknya papah.... semuanya masuk kamar" katanya. Mereka masuk kamar Sigit. Sigit memberinya dot masing-masing berharap mereka semua akan tertidur.
Nyatanya? Ia sendiri yang tertidur. "Ayes, dandanin Papah yuk?" kata Shazia. Aariz mengangguk. Baim yang masih kecil dari mereka hanya ikut-ikutan mengangguk.
Mereka turun dari ranjang dengan mengendap-endap. "Tiayap" kata Aariz melihat gerakan Sigit. Mereka semuanya tiarap, persis seperti para tentara ataupun polisi yang tak ingin ketahuan.
Aariz menjatuhkan bantal ke bawah ranjang untuk membantunya dan para saudaranya turun. Mereka berhasil turun dan mengambil make up milik Muti.
"Ayes tangan, Aim kaki, Aku muka" Mereka memgangguk. Semuanya mengerjakam tugasnya masing-masing. Zia memakaikan lipstik dan blush on di wajah Papahnya. Aariz menggambar menggunakan eyeliner, dan Baim menggunakan pensil alis.
Semuanya berantakan, bukan hanya wajah, hingga sprei pun terkena coretan para krucil itu. Lipstik Muti patah, eyeliner ditumpahkan ke sprei dan menjadi hitam semua, blush on digunakan untuk pewarna rambut, pensil alis menjadi tumpul.
Muti pulang dari acara kumpulan Bhayangkari bersama Hana dan Luna. Mereka berniat menjemput anak-anak mereka.
Muti mengucapkan salam tapi tak ada sahutan. "Mungkin pada tidur kali ya" katanya. Mereka mengangguk dan duduk di ruang tamu. Muti mencari ke kamar dan tercengang melihat keadaan kamar yang sudah porak poranda.
Melihat Sigit tertidur dengan dandanan seperti ondel-ondel. Bukannya marah atau kesal, Muti malah tertawa cekikikan melihatnya. Ia mengambil gambar suaminya dan mengirimnya di grup.
__ADS_1
"Dititipin bocil malah ditinggal tidur! Anak-anak mamah, yok keluar dulu" Para bocil itu mengangguk dan keluar dari kamar. Hana dan Luna juga terkejut dengan anak-anak mereka yang kotor.
"Ssst.... lihat grup. Nanti pada dapat penjelasan dari sana. Aku bangunin mas Si dulu" Muti kembali ke dalam kamar dan membangunkan suaminya. "Kenapa bisa begini yank?"
"Tanya aku, kan yang di rumah kamu yank" Sigit menggaruk kepalanya. "Beliin make up yang baru lho ya, mbak Sisi. Cantik banget sih mbak, lama gak jumpa ya jeng Sisi" goda Muti.
Sigit merasa heran. Ia melihat ke cermin dan menangis. Keluar kamar dan sudah ditertawakan oleh kedua sepupunya itu. "hua....huhuhu.... kalian kok tega sih nak sama papah??"
"Mbak Si apa kabar? Sekarang anaknya berapa?" goda Luna. Hana tertawa.
Muti melihat grup.
Muti : (Mengirim foto Sigit tertidur dengan dandanan seperti ondel-ondel)
Hamka : 🤣🤣🤣 Ya Allah gusti..... bentukanmu Siii....
Bima : Sehat ndan? 🤣🤣🤣
Ali : 😭😭😭😭 Aku kok jadi ngeri-ngeri sedap suruh ngejaga mereka sendirian
Danang : 🤪🤪🤪 aku juga ik, piye kii?
Damar : Para bocil nih tersangkanya lanjutkan nak, papah kalian sedang dalam penyamaran 🤣🤣🤣
Maryam : Krucil kesayangan tante hebat. Besok nitipin Zidan kesana ah, biar makin ancur muka mu bang! 😜😜😜
Azka : Siapa nih yang jahil? Kasihan mamasku sayang.... 🤣🤣🤣
Muti : Itulah akibatnya kalau disuruh momong malah ditinggal tidur!
Semuanya menjadi terhibur dengan kelakuan bocil itu.
.
.
.
Like
__ADS_1
Vote
Komen
Tip
Alhamdulillah.... kelar sudah novel ketiga othor. Yang awalnya othor udah pesimis banget gak akan bisa lanjut sampai episode 100an. Karena othor kehilangan konsep.
Tapi, berkat kalian para readers yang memberi semangat bagi othor.... semuanya terselesaikan. Terima kasih othor ucapkan pada para readers setia. Masukan, kritikan, vote, like, tip kalian sangat berarti bagi othor.
Othor hanya bisa mendo'akan semoga semuany diberikan kesehatan, keselamatan, keberkahan dalam hidup. Aamiin.
Peluk cium untuk kalian semua. Keluarga besar Cinta Karena Mandat (Revisi) pamit undur diri. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Silahkan dibaca karya othor lainnya.
Tunangan Bayaran
Larasati & Pak Bupati
Cinta Karena Mandat (Revisi)
Pelabuhan Hati Si Kembar 4
__ADS_1