
"Mas Si...." ucap Muti lirih. Sigit mengira dirinya berhalusinasi. Ia mencoba mendekafkan wajahnya ke arah Muti dan perlahan mata Muti mulai terbuka. "Yank!" ucap Sigit senang.
"Mas Sigit...." ucap Muti lagi. "Iya, ini mas sayang, kamu sudah sadar? Syukur alhamdulillah ya Allah" Sigit memencet tombol darurat yang ada di bed Muti. Dan seorang perawat datang.
"Oh, sudah sadar ternyata. Alhamdulillah, nanti dokter Ais akan visite sebentar lagi mas. Mbak, sekarang yang dirasakan apa?" tanya perawat itu.
"Lapar mbak" jawab Muti polos. Membuat Sigit menahan tawanya. "Nanti makannya setelah 2 jam setelah operasi ya mbak. Sabar dulu ya"
Muti mengangguk. Perawat itu memeriksa nadi, pernafasan, tensi, kantong urin, saturasi oksigen yang ada pada Muti lalu mencatatnya. "Semuanya dalam kondisi normal mbak, mas, kalau begitu saya permisi dulu. Jika butuh sesuatu pencet lagi tombol itu. Saya permisi dulu"
Keluarga Muti masuk dan bersyukur karena Muti telah sadar. Ayah Indra memeluk putri semata wayangnya itu dan menangis. "Maafkan Ayah nak"
Muti menggeleng. "Ayah gak salah kok. Maafin Muti yang selama ini tidak percaya sama Ayah kalau Humam bukanlah orang baik"
Mamah Anin menengahi pembicaraan itu. "Sudah, jangan diungkit lagi. Yang perlu kita pikirkan adalah besok. Bisa gak ya kalau penghulunya dipanggil kemari? Gak mungkin kan mundur lagi?"
"Bisa, nanti biar papah yang ngomong" kata papah Bagas.
Maryam datang. "Assalamualaikum kakak ipar, gimana keadaanya?"
"Waalaikum salam" jawab semuanya. "Alhamdulillah mbak mu baru saja sadar" kata mamah Anin
"Alhamdulillah" jawab Maryam. "Kamu sama siapa?" tanya papah Bagas.
"Sama mas Habib, dia sedang menemui seseorang kenalannya. Maryam juga gak tahu siapa. Maryam tadi langsung kesini pah" jelas Maryam.
Sigit mengompori papahnya. "Wah, jangan-jangan ketemu wanita lain tuh pah. Wes batal iki"
"Hish! Bang Si! Kalau ngomong suka asal ih! Yang terancam batal itu nikahanmu! Hu! Dasar!" Maryam memukul lengan Sigit. Membuat semuanya tertawa.
Tak lama Habib datang bersama seorang wanita paruh baya tapi tetap anggun dalam jas putih itu. Ya, Habib datang bersama Ibundanya, Dokter Aisyah Wibisana spesialis bedah. "Assalamualaikum semuanya" sapa dokter Ais ramah.
__ADS_1
"Waalaikum salam dokter" jawab semuanya. Habib membisikkan sesuatu ke telinga ibundanya membuat semuanya bingung. Dokter Ais tersenyum dan mulai memeriksa keadaan Muti. "Bib, kamu kenal sama dokter Ais?" tanya Sigit bingung.
Habib mengangguk. "Sangat kenal Bang, dokter Ais ini punya suami namanya Farid Baihaqi, kerjanya sekarang jadi kepala Bawaslu Ambarawa. Anaknya ada 3, 2 dokter umum, 1 dokter gigi. Yang anak pertama sedang lanjut studi spesialis bedah juga. Dulu, dokter Ais ini bekerja di rumah sakit di Magelang, tapi beliau ingin ikut suaminya, akhirnya melamar kerja disini. Pas itu Habib baru lulus SMA ya Bun?" kata Habib mendapat anggukan dari dokter Ais.
Membuat semuanya semakin tercengang. "Bun? Ma-maksud kamu, dokter Ais Bunda kamj mas?" tanya Maryam yang ikut terkejut. Karena selama ini dia belum pernah bertemu dengan keluarga Habib. Dan foto yang Habib pernah tunjukkan kepada dirinya adalah foto waktu muda dari dokter Ais dan pak Farid.
Habib tersenyum dan mengangguk. "Iya dek, ini bundanya Mas Habib. Calon mertua kamu"
Semuanya semakin tercengang. Dokter Ais mencuci tangannya. Maryam menyalami dokter Ais. "Maaf Bun, Maryam tidak tahu jika itu Bunda Ais"
"Hahaha, gak papa, memang Bunda artis yang harus dikenal sana sini? Perkenalkan, saya ibundanya Habib. Yang ini pasti kakaknya Maryam kan? Yang ini mamahnya Maryam? Dan papahnya Maryam yang ini" Dokter Ais menunjuk Ayah Indra, membuat semuanya tertawa.
"Ini papahnya Maryam Bun" jelas Habib. "Oh salah jebule. Hahaha. Maaf ya pak, bu"
"Jebul yang menyelamatkan Muti calon besan kita sendiri Mah" kata papah Bagas. Mamah Anin bersalaman dengan Bunda Ais dan cipika cipiki. Maryam juga dipeluk oleh Bunda Ais. "Pintar kamu milih calon bojo Bib, cantik, lembut, wes lah, Bunda setuju! Ajak ke rumah Bib, kenalkan sama keluarga besar kita" kata Bunda Ais.
"Lembut dari mana dok? Dia itu manja dok" Sigit menjatuhkan harga diri Muti. "Hish! Abang ih!"
Membuat semuanya tertawa. "Eh, sampai lupa saya menjelaskan kondisi Mbak Muti. Jadi, luka tusukan mbak Muti tidak sampai mengenai organ vitalnya. Tapi cukup dalam. Hingga tadi ada pembuluh darah yang robek dan butuh beberapa jahitan. Itu juga kena cambukan ya?" tanya dokter Ais.
"Itulah yang kami khawatirkan dok, lalu saran terbaik bagaimana dok?" tanya Ayah Indra. "Bawa ke spesialis jiwa pak, atau ke psikiater. Jika bersedia, saya ada kenalan seorang dokter jiwa, untuk kesembuhan hanya Allah yang berhak menentukan, tapi kebanyakan pasiennya senang dengan terapi yang diberikan oleh teman saya itu"
Semuanya saling memandang. "Boleh juga saran dokter Ais, Hana juga pasti trauma pah, rumahnya dimana dok? Biar kami nanti kesana" kata Mamah Anin setuju dengan saran dokter Ais.
"Biar dia saja yang datang ke Semarang untuk beberapa pertemuan nanti. Selanjutnya bisa ke Magelang. Saya hubungi beliaunya dulu" Dokter Ais menghubungi seseorang. Bukan panggilan suara melainkan panggilan video.
"Assalamualaikum Ras" kata dokter Ais. "Waalaikum salam, kak. Tumben video call, kenapa?"
"Nih, aku.mau pamer calon mantuku. Hahaha, calonnya Habib" dokter Ais mengarahkan kamera ke Maryam, ia tersenyum dan menyapa dokter Laras. "Assalamualaikum tante"
"Eh, waalaikum salam. Siapa ini? cantik sekali. Bib, bungkus Bib, bawa pulang ke Magelang. Kalau masih ada stok, boleh lah bawa satu buat bang Archee mu. Hehehe" jawab dokter Laras.
__ADS_1
"Saya Maryam tante. Calonnya mas Habib. Tante sendiri namanya siapa?"
"Panggil tante Laras" Maryam mengangguk. "Ras, disini juga ada keluarga dari orang tuanya Maryam. Aku ingin minta bantuan dari kamu, jadi hari ino ada pasienku yang menjadi sasaran tindak kriminal. Ia bersama saudaranya mendapatkan cambukan di tubuhnya. Aku takut, mentalnya akan bermasalah jika dibiarkan terlalu lama, bisakah kamu ke Ambarawa untuk memberikan terapi pada mereka?"
Laras mengangguk. "Boleh, aku sama bang Duta menginap tempatmu ya kak? Hehehehe"
"Iya, gampang itu. Besok langsung bisa kemari?" dokter Laras mengangguk. "Insyaallah, ih, jadi gak sabar ketemu calonnya Habib. Si Archee susah kalau disuruh nikah. Katanya nunggu yang tepat. Mbuh sopo kui wonge"
"Hahaha, sabar to yo. Kakak tunggu besok ya. Ya sudah, kakak tutup dulu. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" panggilan video pun berakhir. "Besok bisa langsung terapi pak, tolong tadi siapa yang kena cambukan itu disuruh kemari ya? Biar bisa sekalian gitu"
Papah Bagas mengangguk. "Terima kasih atas bantuan dari calon besan. Biar nanti keponakan kami yang kemari"
"Sama-sama pak, sesama manusia harus saling tolong. Kebetulan saya punya teman yang bisa membantu kan ya alhamdulillah"
Obrolan berlanjut dengan suasana hangat. Sigit menatap Muti dan mengecup tangannya lagi. "Mas, tadi aku mimpi" kata Muti.
"Mimpi apa yank?"
"Mimpi kamu nyium bibir aku berulang-ulang" kata Muti. Deg deg deg deg deg.
.
.
.
Like
Vote
__ADS_1
Komen
Tip