Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 76


__ADS_3

Sigit menarik miliknya keluar. Mengecup kening Muti. Lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka berdua. "Makasih sayang" kata Sigit.


"Sama-sama"


"Gimana? Puas?" tanya Sigit. Muti mengangguk. "Ukuran dan durasinya pas! Mantap!" Sigit tertawa mendengar penuturan istrinya. "Dasar!"


"Mas, kamu masih cuti berapa hari lagi?" tanya Muti.


Sigit mengingat dan menghitung masa cutinya. "Lusa mas sudah bekerja. Kenapa?"


"Kalau kamu kerja, aku juga masuk kerja saja deh. Takut di rumah sendirian" jelas Muti.


"Ada om Tompel yank. Gak usah takut" Muti menggeleng. "Tetap saja mas. Beda kalau ada kamu itu rasanya tenang. Kalau cuma om Tompel masih khawatir"


"Kan penjahatnya sudah tertangkap"


Muti memeluk suaminya. "Ada satu orang yang belum tertangkap mas"


Sigit terperangah. Kaget. "Ma-masih ada satu yang belum tertangkap?" Muti mengangguk.


"Yudi itu cuma dijadikan boneka oleh orang itu. Yudi menyebutnya sebagai kakak. Ibunya Humam juga menuruti perintah orang itu. Mereka biasa menyebut dengan panggilan tuan muda" Jelas Muti panjang lebar. Ia teringat akan perkataan Ali saat mayat Yudi tak ada yang mengambil di rumah sakit.


Jika benar masih ada satu yang belum tertangkap, itu artinya kami masih dalam bahaya. Batin Sigit dalam hati. Muti mencubit perutnya karena sedari tadi dipanggil, Sigit tak menjawab.


"Awawaw. Gemar sekali kamu nyubit perut mas sih?"


"Kamu mikir apa? Dari tadi dipanggil eh dia melamun" kata Muti. Sigit tersenyum dan mendekap Muti semakin erat membuat istrinya engap.


"Mas, engaaapppp...... hah hah hah" Sigit tersenyum. Ia melepaskan pelukannya. "Ayo olahraga malam lagi" Muti mengangguk semangat.


"Wuihhh semangat nih! Mas pengen lihat kuat berapa ronde kamu!" Muti mengalungkan tangannya di leher Sigit. "Gak usah banyak ngomong. Ayo buktikan kuat siapa!"


Sigit tersenyum. "Memang gak perih?"


"Perih sih, tapi enak! Hahahaha" Sigit membungkam mulut Muti dengan ciuman lembut dan bergairah. Hasrat Sigit sangat membara. Sama halnya dengan Sigit. Muti juga sangat mendamba sentuhan dan kecupan Sigit.


Waktu terus berlalu. Sudah 4 ronde Sigit melakukan pelepasan. Membuat Muti terlena akan kenikmatan itu. "Aaahhhh...." lenguhnya selesai berhasil mencapai puncak.

__ADS_1


"Sudah ya mas.... tenagaku habis terkuras" kata Muti. Sigit tertawa mendengarnya. "Mas akui.... kamu menang! Malam ini cukup 4 kali yank. Gak tahu deh nanti subuh. Selamat malam istriku" cup. Sigit mengecup puncak kepala Muti. Menarik selimut dan mendekap istrinya.


Muti tersenyum. "Subuh sekali saja ya mas, beneran gak bisa jalan nanti akunya" Sigit hanya tersenyum dengan terpejam. Tak membalas rengekan istrinya.


"Mas"


"Lihat besok dong. Sudah ah, ayo tidur"


Muti berdecak. Tapi matanya juga sudah sangat berat. Tak mungkin ia merengek tanpa ada balasan. Akhirnya dia tertidur.


Subuh berkumandang. Sigit menggeliat membuka matanya. "Yank, bangun. Mandi besar dulu yuk. Setelah itu kita jama'ah" ajak Sigit menggoyangkan bahu Muti.


"Masih ngantuk sayang" jawabnya.


"Bangun dulu, ayo mandi bareng. Mas bantu kamu" paksa Sigit kepada istrinya. "Gendong" rengek Muti.


Sigit tersenyum. Ia segera turun dan memakai pakaiannya. Ia juga memakaikan baju Muti lalu menggendongnya.


"Pakai air dingin saja ya? Biar lebih segar" kata Sigit. Muti mengangguk. Dirinya masih mengantuk. Jadi mengikuti saja apa kata Sigit.


Sigit tertawa melihat tingkah istrinya. "Ayo cepat! Bisa telat nanti jama'ahnya" kata Sigit. Muti berdecak. "Pakai air hangat saja lah mas, sumpah dingin banget. Kayak es"


"Halah, sudah terlanjur di kamar mandi yank. Pakai air dingin saja lah" bantah Sigit. Muti menggeleng. Sigit menghela nafasnya kasar. Akhirnya dia keluar dan memanaskan air.


Setelah 15 menit air itupun mendidih. Sigit menuangkannya di ember dan membawanya ke kamar mandi. Mereka mandi bersama. Selesai mandi mereka langsung melaksanakan sholat subuh berjama'ah.


Sigit menjadi imam untuk Muti. 2 rakaat telah usai. Sigit memimpin do'a. Lalu mengambil dua buah Al-Qur'an. Satu untuknya dan satu lagi untuk Muti. "Ayo ngaji yank. Kamu menyimak mas, dan nanti gantian. Kita jadikan ini sebagai rutinitas wajib kita ya yank. Mas pengen kamu juga mendalami agama. Karena nantinya kita akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah"


Muti mengangguk dan tersenyum. "Iya mas, tapi nanti kalau bacaan Muti gak lancar jangan ditertawakan ya?" Sigit tersenyum dan menggeleng. "Justru itu bakal menjadi tantangan buat mas, sayang"


Muti mengangguk. "Mas dulu ya?" pinta Muti. Sigit menuruti kata istrinya. Ia mulai membaca surat Al-Baqarah. Muti menyimaknya. Muti sampai terkagum dengan bacaan Sigit. Sesuai dengan makhraj dari bacaan itu. Tajwidnya pun sangat jelas terdengar di telinga Muti.


Sekarang giliran Muti untuk membaca Al-Qur'an itu. Sedikit tidak lancar, beberapa makhraj huruf dari bacaannya belum terdengar jelas. Sigit membenarkan bacaan Muti hingga benar-benar sesuai dengan pelafalannya.


Muti senang, ia mendaoatkan suami penyanyang, penuh perhatian, telaten, dan sabar menghadapinya. Selain itu, nilai plus nya adalah Sigit lebih mendalami agama. Membuat hatinya selalu tenang saat bersamanya.


Selesai mengaji, Muti menyalami Sigit. Karena sedari tadi belum ia lakukan. Sigit mengecup kening dan seluruh wajahnya. "Morning kiss" kata Sigit. Lalu melepas sarungnya. Muti melepas mukenanya.

__ADS_1


Sigit mengambil sapu untuk membersihkan rumah. "Aku saja mas" kata Muti hendak mengambil sapu itu. Sigit menggeleng. "Mas nyapu, bersihkan kaca, beresin taman, kamu masak untuk sarapan, nyuci pakaian, bikinkan mas susu hangat"


Muti tersanjung oleh sikap Sigit. "Ih, suami aku romantis banget siiih.... jadi gemes pengen gigit deh"


Sigit tersenyum kecut. "Pengen gigit apanya?"


"Adeknya.... Hahahah" Sigit melotot sambil menahan tawanya. "Mulai lagi godain mas, buruan sana"


"Iya-iya. Mas, gak pengen ibadah yang lain dulu to?" Muti memancing Sigit. "Boleh, tapi nanti, setelah selesai beresin rumah sayang" Sigit mencubit pipi Muti dan berlalu meninggalkannya.


Pasutri baru itu melaksanakan pembagian tugas yang telah mereka sepakati. Hingga selesai semua. Sigit sudah lapar. Ia menuju meja makan. Disana tersaji cumi goreng tepung, tumis buncis, dan susu coklat kesukaannya.


Muti melayani suaminya. Mengisi piring sesuai porsi suaminya. Lalu bergantian mengisi piringnya sendiri. Mereka makan bersama. Sigit menanggalkan sendoknya. Ia menggunakan tangan mengepalkan nasi dan lauk itu. Lalu mengarahkannya ke mulut Muti.


Muti semakin tersanjung. Ia tersenyum dan membuka mulutnya.


Sarapan pagi yang romantis. Saling suap-suapan, saling lempar senyuman, membuat aura di rumah itu menjadi ceria. Jika ada para jomblo ataupun pejuang LDR disitu, maka mereka akan iri melihatnya.


Sarapan usai. Sigit membantu istrinya mencuci piring. Lalu menggendong istrinya masuk kembali ke kamar. "Aku bau lho mas" kata Muti. Sigit tidak peduli akan hal itu. Ia sudah muali mendusel-duselkan kepalanya di belahan dada Muti. "Adek mas belum dikasih sarapan. Kasihan nanti kalau kurus"


Muti tertawa mendengarnya. "Puaskan dirimu sayang" ucap Muti. Tak menunggu waktu lama, Sigit mulai melancarkan aksinya.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip


maaf lagi up. Anak othor lagi rewel minta mercon mulu. Pusing pala othor. Siapa.diaini yang suaminya seperti komandan galak? Suami othor iya

__ADS_1


__ADS_2