Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 94


__ADS_3

Muti dan Jihan sedang memilih-milih baju di salah satu pusat perbelanjaan. Muti memilih yang menjadi fokusnya. Ia memilih gamis dan setelan panjang. Juga hijab instant untuk dikenakannya di rumah.


Setelah hampir 2 jam mereka berkeliling, akhirnya semuanya telah di dapat. Muti segera membayarnya ke kasir. Mereka mencari makan di sebuah foodcourt. Mencari tempat duduk dan ssgera memesan makanan.


"Han, nanti aku nebeng sampai rumah mas Sigit. Aku tidur disana. Masih agak takut kalau sendirian" Jihan mengangguk sambil menyedot minumannya.


"Kamu yakin mau pakai hijab?" Muti mengangguk mantap. Jihan bertepuk tangan untuknya. "Mas Sigit memang membawa perubahan besar dalam hidupmu Mut. Aku ikut senang kamu berubah menjadi lebih baik"


Muti tersenyum senang. "Makasih pujiannya, Mas Si memang satu-satunya lelaki yang bisa bikin aku berubah Han, bisa bikin aku senang, bisa bikin aku nyaman, dan gak akan membiarkan aku sedih"


"Kata orang, itulah yang dinamakan jodoh. Meskipun awalnya pada nolak, akhirnya kalian malah pada bucin" Muti tertawa mendengarnya.


"Dari cara suami kamu ngomong sama pak Galang saja sudah ketahuan posesifnya minta ampun, beruntung kamu mendapatkan pria yang mencintai kamu dengan tulus"


Muti mengangguk. "Terus kami sendiri gimana? Apa mau gini-gini saja?"


Jihan mengaduk minumannya sambil tersenyum kecut. "Orangnya gak peka, tahu ah!"


Muti tertawa mendengarnya. Ia sangat tahu jika sahabatnya memendam rasa dengan pak Galang. "Kenapa gak coba dekat sih? Pak Galang itu sebenarnya baik. Lembut dia itu. Semoga sudah gak lagi jadi playboy deh"


"Bantuin dekat dong?" kata Jihan. Muti menggeleng. "Mas Si bisa salah paham. Deketin sendiri ah"


"Caranya?"

__ADS_1


Muti memutar bola matanya malas. "Ya dideketin, kasih perhatian, kayak yang biasanya gitu...."


Makanan pesanan mereka pun datang. Mereka makan dengan lahap. Setelahnya mereka langsung pulang karena waktu sudah memasuki maghrib.


.


Sigit baru saja memyelesaikan pekerjaabnya, ia melihat jam. Segera ia mengambil wudhu dan menuju musholla Polres. Selesai sholat, ia menghubungi istrinya.


"Assalamualaikum cantik, sudah pulang? Oh, Mas bentar lagi pulang, masakin yang enak ya yank. Oke siap" Sigit segera mengambil kunci dan tas nya lalu menuju mobil.


Ia mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi. Tak lama ia telah sampai di rumah. Maryam sudah berdandan rapi. "Mau kemana dek?"


"Jalan sama mas Habib. Kata Mbak Luna Abang pengen ikut ke Magelang?" Sigit mengangguk.


"Assalamualaikum bang" Habib muncul dan turun dari mobilnya. Ia menyalami Sigit. "Waalaikum salam"


"Ya sudah, kami langsung pergi ya bang, kakek lagi hajatan" terang Maryam. Sigit mengangguk. Akhirnya mereka pergi. Sigit masuk rumah. Ia mencium bau wangi masakan.


Menuju dapur. Ia tersenyum. Sang istri masih mengenakan seragamnya dan sedang memasak untuknya. "Assamualaikum"


"Eh, waalaikum salam suamiku" Sigit berjalan mendekat ke arah istrinya. Muti menyalaminya. Sigit menghujani wajah Muti dengan banyak kecupan.


"Belum mandi kamu?" Muti menggeleng. Ia meniriskan tempe yang sudah matang dan mematikan kompor. "Makan sekarang? Di kulkas tinggal terong sama tempe, ya sudah, aku buat seadanya saja. Pecelan terong dan tempe goreng"

__ADS_1


Sigit tersenyum. Mencuci tangan dan duduk di kursi. Muti menyiapkan makanan untuk suaminya. Menunggui suaminya makan. "Kamu gak makan yank?" Muti menggeleng. "Tadi di mall sudah makan sama Jihan. Aku sudah dapat semuanya. Tinggal ke penjahit untuk buat baju kerja. Aku tadi juga beli satu stel dulu"


Sigit menelan makanannya dan mengangguk. "Kenapa cuma satu stel doang? Beli dua biar bisa buat ganti"


"Gak ah, boros. Tadi habisnya banyak ik mas, gak papa?" Sigit tersenyum. Ia mengangguk. "Ah, terima kasih suamiku" cup Muti mengecup pipi Sigit.


Sigit sudah selesai makan. Muti membereskan semuanya. Ia menghangatkan air untuk suaminya. "Mandinya nanti saja, sekarang mau main dulu sama kamu" Menggendong Muti dan membawanya ke kamar. Muti tersenyum dan pasrah dengan suaminya.


Sigit menurunkan Muti, mengunci pintu kamar. Menanggalkan semua pakaiannya. Begitu pula dengan Muti. Sigit mendekat. Muti mengalungkan tangannya ke pundak Sigit. Mereka mulai berciuman. Melakukan aktivitas panas kembali.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


Segini dulu yak, othor lagi gak enak badan. Happy reading semua...


__ADS_2