Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 61


__ADS_3

Telomoyo


Lelaki itu duduk dengan menyilangkan kakinya di meja. Dilihatnya dua orang gadis yang sedang diikat disana. Di samping kanan dan kirinya dua orang berdiri melipat tangan mereka di depan perut dan tersenyum.


"Kita eksekusi sekarang saja, Yud!" kata wanita paruh baya yang ada di samping Yudi. Mia, ibu dari Humam, melihat penuh benci dan dendam ke arah Muti.


Yudi menggeleng. "No! Tunggu perintah dari tuan mudamu dulu"


Mia berdecak. "Ck, keburu ketahuan oleh keluarga mereka dan kita bisa gagal lagi"


Yudi tak menanggapi ucapan Mia, membuat Mia menggeram. Ia mengepalkan tangannya dan berjalan menuju arah Muti. Humam ingin mencegahnya, tapi dilarang oleh Yudi. "Biarkan saja. Apa kamu masih mencintai dia? Kalau iya, mati saja sekalian sama dia nanti"


Humam menatap tajam Yudi. Rahangnya mengeras. Tangannya mengepal. Ia mencoba mengontrol emosinya.


Muti ketakutan dengan kehadiran Mia di belakangnya. Dengan keras Mia menjambak rambut Muti ke belakang membuat Muti menangis karena pedas, sakit, dan perih di rambutnya.


"Gara-gara Ayahmu, anakmu menjadi yatim! Gara-gara Ayahmu aku berpisah dengan suamiku! Dan kalian hidup bahagia dengan segala kecukupan materi dan tahta? Hahahahahah, sungguh tidak adil!" bentak Mia di telinga Muti. Membuatnya takut. Muti menangis.


Mas Si, Ayah, tolong kami.... selamatkan kami sebelum semuanya terlambat. Batin Muti dalam hati. Mia mengeluarkan pisau lipat yang dibawanya sendiri. Membuat Yudi dan Humam terbelalak.


Dengan cepat Yudi dan Humam mencegah Mia yang hendak melukai Muti. "Tahan dulu! Biarkan kakak melihatnya kalian membunuh gadis ini!"


Humam menahan ibunya. Ia membawanya kembali ke tempatnya semula. "Tunggu bu, sabar dulu!"


"Arrghhh, aku sudah tidak bisa sabar menghadapinya. Kemana tuan muda??! Mengapa sampai sekarang belum juga datang??!" tanya Mia tak sabar. Humam hanya diam tak menjawab pertanyaan ibunya.


Hana tak habis pikir dengan Yudi. Dia menatap tajam ke Yudi. Membuat Yudi tertawa lepas. Ia mendekat ke arah Hana dan membuka plester di mulut Hana dengan kasar.


Membuat Hana meringis kesakitan. "Bajingan!" umpat Hana. Dia meludahi wajah Yudi. Membuat Yudi meradang. plak. Yudi menampar Hana dengan keras membuat Muti terbelalak menyaksikannya.

__ADS_1


"Kamu sebut aku bajingan?? Lalu harus kusebut apa bapakmu yang membuat Ayahku gila dan akhirnya bunuh diri ha? Kamu tahu nasibku? Aku anak selingkuhan yang harusnya diakui sebelum kalian mengacaukan bisnis Ayahku! Aku tidak bisa menyandang nama keluarga Anggoro sebelum berhasil membunuhmu! Kamu tahu betapa sangat menderitanya aku selama ini?? Ha??


Sedangkan kalian, hidup dengan berlimpah kebahagiaan! Berkumpul dengan keluarga kalian! Mendapatkan kasih sayang! Bandingkan denganku! Aku harus berjuang mendapatkan pengakuan! Dan kamu sebut aku bajingan???" Yudi mengungkapkan semua kata hatinya. Ya, Yudi memang anak seorang selingkuhan. Ia tak pernah dianggap oleh keluarga Anggoro. Ia bisa menggunakan gelas nama Anggoro jika ia berhasil.membalaskan dendam akan kematian sang Ayah yang gila karena dipenjara dan menjadi miskin. Akhirnya sang Ayah bunuh diri.


Seorang pengawal datang dan memberitahukan kepada Yudi bahwa sang tuan muda telah tiba. Yudi mengangguk dan menyuruh pengawal itu untuk menutup wajah kedua perempuan itu. "Tutup wajahnya"


Pengawal itupun segera melakukan tugasnya. Lalu setelah selesai, sang tuan muda datang dan tersenyum melihat dua orang targetnya berhasil ada disana. "Kerja bagus, beri cambukan bagi mereka. Berikan efek bagi mental mereka terlebih dahulu. Biar mereka merasakan trauma. Hahahahahahaha"


Muti dan Hana mendengar perkataan orang itu. Mereka menangis. Berharap ada yang menyelamatkan mereka. Mia dan Humam dipanggil oleh Yudi untuk melakukan cambukan itu. "Kenapa tidak langsung kita bunuh saja tuan??! Kenapa harus menyakitinya dulu??" protes Mia.


"Kau ini banyak membantah! Membunuh secara perlahan lebih mengasyikkan daripada membunuh secara langsung"


.


Adzan maghrib berkumandang. Para pasukan penyelamatan itu melakukan ibadah terlebih dahulu.


Sigit memakai rompi anti peluru dan segala perlengkapannya. Begitu pula dengan yang lain. Pasukan itu segera berangkat menggunakan mobil. Ali menguatkan Sigit. "Percayalah, mereka dalam lindungan-Nya"


.


Danang dan para anak buah Ayah Tristan sudah melumpuhkan penjagaan di kawasan itu. Cukup cerdik cara yang mereka gunakan, menggunakan sengatan listrik untuk melumpuhkan dan membuat mereka pingsan.


Tuan Muda diberitahu oleh pengawalnya bahwa ada seseorang yang hendak mengacaukan rencananya. "Oke, biar Yudi yang aku jadikan umpan. Kita pergi dulu untuk sementara waktu. Berikan sertifikat kepemilikan saham ini untuk Yudi. Hasil dati kerja kerasnya"


Tuan muda melempar amplop untuk diberikan kepada Yudi. Lalu ia keluar lewat pintu rahasia.


Yudi menerima amplop itu. "Kemana kakak?"


"Tuan muda sedang menyelesaikan sesuatu di luar, lakukan cambukan itu sekarang. Ini adalah sertifikat saham milikmu. Aku akan berjaga di luar" Yudi mengangguk. Ia tak tahu bahwa dirinya dibohongi oleh tuan muda. Ia tak tahu jika dirinya akan dikorbankan.

__ADS_1


"O Miaaaa..... lakukan tugasmu, aku ingin memeriksa sesuatu" Mia mengangguk. Dia memanggil Humam untuk melakukan cambukan itu.


Ceter ceter ceter. Cambukan mulai dilakukan. Muti dan Hana menangis dalam diam. Mereka menerima sakit di tubuh mereka. Humam tak tega menyakiti Muti. Bagaimanapun, rasa cinta itu hadir terlebih dahulu dari rasa dendam itu. Mia melihat anaknya lemah. "Apa yang kamu lakukan?? Ayahnya telah membunuh Ayahmu! Ingat itu! Ayo lakukan! Sakiti dia!" Mia meracuni otak Humam dengan hasutan licik.


Yudi melihat keadaan di luar. Ada yang tidak beres. Dan ia segera menyadari sesuatu. "Arghh, ternyata aku ditipu oleh kakak! Sial!" ucapnya. Ia bertemu dengan Danang. Mau tak mau ia harus menghadapinya dahulu.


Para tentara dan polisi itu sudah sampai di lokasi. Pengawal yang tadi pingsan sudah sadar dan sebagian membantu keadaan di dalam rumah. Sebagian lagi langsung dilumpuhkan oleh para tentara itu.


"Amankan mereka semua" perintah Ayah Indra kepada komandan Agung. Komandan Agung mengangguk dan segera mengamankan semua orang yang berhasil dilumpuhkan.


Luna dan Sigit menggunakan kemampuan lari cepat mereka untuk mencapai rumah itu. Sedangkan para tetua itu berjalan santai sambil melumpuhkan para pengawal yang mencoba menghabisi mereka.


Kakek Umang meskipun usianya sudah hampir 90 tahun, tapi ia masih kuat untuk bertatung. Dengan satu tendangan saja, lawannya lumpuh. "Sudah kubilang kan? Kita itu butuh Ayah. Lihatlah kemampuannya tak berkurang sedikitpun, sama seperti waktu aku melawannya dulu" kata papi Raka. Papah Bagas tersenyum kecut dan meninju lengan adik iparnya itu.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip


Nyambi2 ya gaes. diusahakan up kok. Hehehe

__ADS_1


__ADS_2