
Sigit satu mobil dengan Luna, Hamka satu mobil dengan Damar. Ali dan Damar bekerja sama untuk meng-hack lalu lintas kota. Damar mengamati pergerakan. "Bang, Nanda mencoba meng-hack juga" katanya.
Ali melihat monitornya. "Kalau begitu kita gagalkan, buat porak poranda dulu program dia Dam, setelah itu kita akan bermain dengannya" kata Ali semangat.
Mereka fokus pada layar monitor masing-masing. Dibantu para rekan mereka dari Polres dan Polsek mereka dengan mudah menggagalkan niatan Nanda. "Tulis berhasil Dam, biar dia mengira berhasil"
Damar mengangguk. Mereka mengubah program Nanda dan berhasil. "Good job! Lanjutkan! Beri dia sedikit kebebasan agar dia percaya bahwa memang programnya berhasil" imbuh Ali.
Hamka mendapat laporan dari rekannya bahwa melihat beberapa mobil dengan tipe yang sama menerobos palang razia. Bima dan Luna segera menambah laju kendaraan mereka. "Gila gila gila! Kemampuanmu makin jadi aja Lun!" kata Sigit memuji sepupunya.
"Hahaha, jujur ya Si, aku agak lupa ini nanti pas belok turun di kecepatan berapa!" seru Luna. Membuat Sigit susah menelan salivanya.
"Hehe, jangan bercanda Lun, ingat! Bentar lagi kawin lu!" Luna tertawa keras saat Sigit mulai takut. "Ck, jangan bercanda Lun! Ini lagi dalam misi nih!"
Hamka dan Bima yang mendengar percakapan mereka ikuy tertawa. "Depan ada belokan, mobil Nanda akan membelok di pertigaan itu. Kalian carilah jalan lain untuk mengepungnya. Aku akan mengelabuinya dengan menyalakan lampu lantas menjadi hijau semua. Bang Hamka, buka arusnya sekarang agar Nanda kebingungan mencari jalan saat ku hidupkan lampunya. PatWal akan ikut membantu kalian dalam pengepungan Nanda di perempatan depan!" kata Ali memberi instruksi kepada semuanya.
"86!" jawab semuanya. Sedang di mobil lain, Nanda mulai gusar lagi. Ia menjadi tak tenang akan progamnya. "Ada yang aneh ini" katanya.
"Bos, lurus atau belok?" tanya supir Nanda. "Belok" kata Nanda asal. Seperti rencana Ali, Nanda masuk perangkapnya. Mobil yang ditumpangi Nanda berbelok. "Yes!" ucap Ali dan Damar bersamaan dan tos.
"Target masuk perangkap!" seru Damar. Bima dan Luna seperti pemain roda gila, menambah kecepatan hingga di batas maksimal. "Wowowowow" Seru Sigit saat Luna berbelok tanpa menginjak rem. Luna merasa senang. Adrenalinnya terpacu.
"Tenang Si! Gak percaya banget sih sama aku! Heran deh! Oh ya, itu si Nanda kenapa bisa ucul dari tahanan?" tanya Luna.
"Biasalah, dia kabur. Dia menjadi Target Operasi (TO) hampir 2 minggu ini. Petugas yang jaga sampai mengalami patah tulang leher karena kelakuan Nanda" terang Sigit. Lina tak habis pikir dengan Nanda.
"Hmm, kenapa gak tobat sih Nan? Malah makin terjerumus!" jawab Luna. Membuat Sigit ingong menggodanya.
"Cie.... ada sedikit perhatian nih yang terbersit dalam makna ucapanmu" goda Sigit. Luna tertawa. "Gundulmu Si!"
Ali menyuruh Luna dan Bima berbelok ke sisi yang berlawanan. Rombongan patwal juga menyebar menjadi 2 kelompok. "Arus sudah kubuka" kata Ali. Mobil Nanda masuk dalam rombongan mobil lain.
__ADS_1
"Arghhhh.... sial! Kita dijebak! Keluar dari kerumunan ini sekarang!" Perintah Nanda pada supirnya. "Baik bos" jawab supir itu.
Supir Nanda membunyikan klakson dan menambah kecepatan pada mobilnya menyalip satu per satu mobil yang ada disana. Ia mulai mendekati perempatan yang dimaksud Ali. "Sekarang Dam!" seru Ali.
Lampu lalu lintas pada selain perempatan itu menjadi merah semua. Luna dan Bima mengepungnya. Mereka memutar-mutar mobilnya hingga mobil Nanda terkepung. Barisan para mobil patwal mengepung mereka. Luna dan Bima menghentikan aksinya.
Sigit dan Hamka berlindung pada mobil. Mereka menodongkan pistol pada Nanda. Semua patwal dalam posisi siaga 1. Nanda tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Ia kebingungan.
"Keluar lu!" perintah Nanda pada supirnya. Sang supir menggeleng. "Ayo kita hadapi bersama bos"
Nanda habis kesabaran. Ia menodongkan pistol di kepala sang supir. Membuat sang supir ketakutan. Akhirnya dia turun sambil mengangkat tangannya. Nanda mengambil alih kemudi. Ia melihat bagian belakang ada sedikit celah untuk meloloskan diri dengan cara manabrak mobil polisi itu.
"Keluar Nan!" teriak Hamka. Nanda yang berada di dalam mobil hanya tersenyum kecut mendengarnya. Ia mulai mundur dengan kecepatan tinggi, hingga menabrak salah satu mobil patwal.
Sigit dan Hamka langsung masuk ke mobil dan melakukan pengejaran. Para mobil patwal juga ikut mengejar Nanda. Ali dan Damar kembali memantau cctv jalan. "Menuju barat 70 kilometer lebih cepat!" Seru Damar kepad Teman-temannya.
"Dia menuju kota. Ia akan masuk dalam barisan arus lagi. Bang Hamka, suruh Bima cegat dari arah utara, Si, ikuti Nanda. Aku akan mengalihkan arus lagi" kata Ali. Mereka langsung mengikuti instruksi Ali.
"Arus telah dialihkan! Rekan kita sudah menutup semua akses keluar! Kejar terus! Jangan sampai lolos!" ucap Damar membuat semuanya semangat.
Mobil Bima sudah terlihat dari arah utara. "Bang, Bim, gunakan mobil kalian untuk menghentikan laju mobil Nanda, jadi, lompatlah dari mobil. Bersiaplah!" kata Ali lagi.
Bima dan Hamka sudah melepas sabuk pengaman mereka dan membuka pintu. "Hitungan 3 langsung lompat! 1, 2, 3, lompat!" Hamka dan Bima melompat keluar dari mobil. Mobil mereka ditabrak oleh mobil Nanda. Membuat Nanda hilang kendali dan mobilnya terguling.
Nanda hendak meloloskan diri, tapi sudah tertangkap lebih dulu oleh Sigit. "Masih punya tenaga kamu?? Ha? Huh huh huh" nafas Sigit terengah-engah.
Nanda menyikut perut Sigit membuat Sigit sedikit terhuyung. Nanda berlari tapi ditendang oleh Luna dari belakang. "Pengecut!" umpat Luna. Hamka menembakkan pelurunya ke udara. Dor
Hamka berjalan tertatih karena saat keluar dari mobil kakinya membentur pembatas jalan. "Apa kamu sudah sangat gila harta??! Apa kamu sudah tidak menganggapku keluarga!!?? Sadar Nan!!"
Nanda tertawa mendengar ucapan Hamka. "Keluarga? Siapa? Dirimu? Kau lupa karena siapa aku kehilangan jabatanku? Kau lupa karena siapa aku masuk bui??"
__ADS_1
"Kamu kehilangan iti semua karena kesalahanmu sendiri! Menyerahlah!" Nanda tertawa. "Tak akan semudah itu"
Grep. Nanda menyandera Luna dan meletakkan pistol di kepala Luna. "Luna!" teriak semuanya. Damar hendak keluar tapi dicegah Ali. "Tetap pada posisimu, percayakan pada mereka. Tugas kita adalah mencarikan mereka celah"
Luna hanya diam mengikuti pergerakan Nanda. "Bajingan! Lepaskan aku! Kalau mau adu senjata ayo!" tantang Luna. Nanda hanya tersenyum kecut.
"Diamlah! Atau kutembak kepalamu!"
"Coba saja! Maka kepalamu juga tidak akan utuh!! Lihat serigala-serigala itu siap memangsamu!!" Luna semakin menantang Nanda.
Sigit memberi kode pada Luna. Ia mengepalkan tangannya tanda untuk diam. Dan saat kepalan itu lepas, tanda untuk Luna bergerak ke bawah.
"Bim, bergeserlah ke arah barat dan buatlah dia dalam kepungan" kata Hamka berbisik. Bima bergerak sedikit demi sedikit membuat Nanda dalam lingkaran kepungan. "Lun, cobalah sedikit memberontak agar fokus Nanda terpecah" perintah Ali.
Luna sedikit meberontak. Ia menggigit dengan keras tangan Nanda dan menendang alat vital Nanda. Tapi Nanda tak mudah tumbang. Hamka mengambil kesempatan itu untuk menendang Nanda dari belakang. Dan.... Dor
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
Ini misi terakhir ya, jadi tinggal beberapa ep lagi tamat
__ADS_1