Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 48


__ADS_3

Mereka sampai di Semarang hampir sore hari. Sigit memarkirkan mobilnya di parkiran sebuah toko emas. Ia membangunkan Muti.


"Yank, ayo bangun. Mau nikah gak? Gak bangun batal nih!" ancam Sigit sambil menggoyangkan bahu Muti.


"Mulutnya..... Ya Allah, bisa ya berdoa begitu? Seneng kamu kalau kita batal nikah?? Hmmm??" Muti menggeram ke arah Sigit.


Sigit tertawa. "Ya kamu, kalau dibangunin susahnya..... Heran aku cara bangunin kamunya"


Mereka turun dan menuju toko perhiasan. "Kita ngapain disini?" tanya Muti terbodoh. Sigit memandangnya heran.


"Mau beli nasi pecel yank"


"Hish, kamu ini...."


Sigit cekikikan. "Beli cincin kawin sayang, kita belum punya kan?"


"Owh iya ya. Hehehe"


"Seserahan sudah diatur oleh mamah, tinggal ini yang belum" Mereka sudah masuk di dalam toko perhiasan itu. Pelayan toko menyapa mereka ramah.


"Selamat sore bapak dan ibu, ada yang bisa dibantu?" kata pelayan toko itu. Sigit dan Muti melihat barisan cincin yang terpajang di etalase kaca di depan mata mereka.


"Kami mencari cincin kawin" kata Sigit. Pelayan itu segera memanggil temannya untuk membawakan koleksi cincin kawin bagi mereka. Tak lama, dua orang pelayan toko itu menjejerkan barisan cincin kawin yang indah dan menggiurkan mata.


"Monggo, bisa dipilih bu, pak" Sigit dan Muti melihat satu per satu model yang ada. Mereka memilih cincin berwarna emas, dengan permata kecil di tengahnya. Mereka mencobanya dan pas "Yang ini saja?" tanya Sigit.


Muti mengangguk. "Iya"


"Mbak, tolong diukirkan nama kami ya? Bisa diambil kapan?" tanya Sigit. Pelayan itu mengambil cincin yang disodorkan Sigit. "Besok bisa daimbil kok pak. Silahkan tulis namanya disini"


Muti menuliskan nama mereka berdua. Sigit membayar biayanya dan mereka kembali ke mobil. "Maas.... lapar, boleh mlipir makan dulu gak sebelum pulang?"


Sigit mengangguk. "Iya, kita makan di rumah makan dekat lampu merah itu saja ya? rasanya enak kok"


Muti mengangguk. "Manut" Maryam bangun. "Lhoh, sudah sampai Semarang lagi toh?"


Sigit berdecak. "Ngorok terus sih. Bukannya gantiin kita nyetir"


"Ya maaf, bang lapar. Makan keek" pinta Maryam. "Iya ini mau makan" jawab Muti. Sigit kembali mengemudikan mobilnya menuju rumah makan yang dimaksud.

__ADS_1


Mereka masuk dan mulai memesan makanan. Muti hendak mencuci tangan, tapi saat berjalan ia menabrak seorang laki-laki. "Eh, maaf" kata Muti.


Ia mengenali pria itu. "Humam?" Sigit menoleh. Humam langsung berlari saat Muti mengenalinya. Sigit hendak mengejarnya tapi dicegah oleh Muti.


"Eehhh, mas mas mas, mau kemana? Sudah jangan dikejar. Biarkan saja" kata Muti. Sigit mengepalkan tangannya.


"Kenapa gak boleh dikejar sih? Ha? Kenapa? Dia itu buronan atas kasus muci*kari para gadis belia! Kamu sengaja ya melindungi dia?"


Muti menautkan alisnya "Ha? Muci*kari? Apa sih? Aku pikir kamu mau berantem karena masalah kemarin. Gak ada niatan aku mau melindungi dia" Muti menjadi kesal karena ucapan Sigit.


Sigit keluar rumah makan dan mencari keberadaan Humam. Sedangkan Muti mengambil tasnya dan pamit kepada Maryam. "Dek, mbak duluan. Assalamualaikum"


"Waalaikum.... salam. Mbak.... mbak Muti mau kemana?" Maryam berdiri dan berteriak. Muti tak menghiraukannya. Ia menghentikan taksi yang lewat dan menaikinya.


Sigit kehilangan jejak Humam. Dia kebingungan mencari keberadaannya. "Arrgghhh, sial! Lolos lagi!" katanya.


Ia mencoba menyusuri jalan, tapi tak ada jejak keberadaan Humam. Ia bertanya pada tukang becak dan supir angkutan pun tak ada yang melihatnya. "Memang dia jin sampai hilang begitu saja jejaknya?? Hish!"


Akhirnya Sigit memutuskan untuk kembali ke rumah makan. Dilihatnya Maryam diam tanpa menyentuh makanannya. Dia duduk di samping adiknya. "Mbak mu kemana?"


"Pulang!" jawab Maryam kesal. "Ha? Naik apa? Sama siapa?" tanya Sigit terbodoh.


Sigit merenungi kesalahannya. "Ya sudah, cepat makan, habis itu kita susul mbakmu"


"Kita? Ogah! Yang buat kesalahan kan abang, antarkan aku pulang dulu. Setelah itu silahkan selesaikan masalah kalian sendiri" Maryam hanya mengaduk-aduk makanannya. "Sudah gak selera aku gara-gara pertengkaran kalian. Ayolah balik" katanya lagi.


Sigit membayar makanan itu dan kembali ke mobil. Ia mengantarkan adiknya pulang terlebih dahulu. Setelah melewati lalu lintas yang padat, akhirnya Sigit dan Maryam tiba di rumah.


Maryam membawa barang bawaannya masuk. Sedangkan Sigit langsung tancap gas menuju rumah Muti. "Baru juga baikan, sudah ngambek-ngambekan lagi. Hadeh, bikin puyeng saja sih yang namanya cinta!" kata Sigit kepada dirinya sendiri.


Sigit mampir ke minimarket membeli beberapa makanan. "Semoga lulub deh pakai makanan"


Rumah Muti terlihat sepi. Ia melihat mobil om Tompel pun tak ada. "Semoga dia ada di rumah, semoga ngambeknya gak lama, semoga habis ini baikan. Mbuh Git, mulutmu memang pedaaas"


Sigit turun membawa kantong kresek itu. Mengetuk rumah Muti. tok tok tok.


Muti yang baru saja selesai berganti baju dengan malas berjalan ke arah pintu. ceklek.


Ia bersidekap malas melihat siapa yang datang. Sigit menerobos masuk ke dalam rumah. Membuat Muti semakin kesal dengan sikapnya.

__ADS_1


"Siapa yang nyuruh masuk? Aku capek, mau istirahat" kata Muti hendak meninggalkan Sigit.


Sigit menarik kaos Muti hingga terduduk dipangkuan Sigit. Membuat jantung mereka berpacu tak terkendali. Sigit memeluk Muti dari belakang. "Mas minta maaf, mulut mas.ini memang ok, pedas, perlu dikasih pelajaran"


Sigit memukul-mukul mulutnya. Muti menghentikannya. Ia turun dari pangkuan Sigit dan duduk di sebelah Sigit. "Makanya kalau ngomong di filter dulu. Aku gak tahu dia buronanmu mas, kalau aku tahu, aku akan membantumu menangkapnya. Coba ceritakan padaku kejadiannya. Tapi, masa iya sih Humam muci*kari? Berarti dulu aku pacaran sama penjahat dong"


Sigit mulai menceritakan semuanya, ia juga menunjukkan sketsa wajah Humam. "Berjanjilah tidak cerita ke siapapun. Hanya kamu dan Ayah yang tahu" Sigit menyodorkan jari kelingkingnya. "Janji kelingking"


Muti menautkan kelingkingnya dengan milik Sigit. "Aku masih tidak percaya, dia itu anak IT lho mas. Dulu waktu di Jakarta dia kerja di perusahaan dan menjadi kepala bidang IT. Dia anaknya cerdas, semua hal bisa dia lakukan. Bahkan dia pernah ditawari menjadi hacker dari sebuah perusahaan, tapi aku lupa namanya. Gak mungkin ah kalau dia begitu mas. Tapi, Ayah memang pernah bilang ke aku kalau Humam itu adalah target polisi. Aku tipe orang, yang kalau tidak melihat sendiri tak akan percaya, makanya aku sampai saat ini tidak percaya dia berbuat begitu mas"


"Kamu boleh percaya boleh tidak. Tapi yang pasti memang seperti itu adanya" jawab Sigit. Ia memberikan kantong kresek itu kepada Muti. "Apa nih?" tanya Muti.


"Jajan, masakin mas sesuatu dong, lapar nih gara-gara kamu ngambek. Bisa gak kalau ngambek jangan main kabur-kaburan?"


Muti menggeleng. "Habisnya, mulut kamu pedes!"


"Masa? Bukannya mulut mas ini manis? Hmm?" Sigit menggoda Muti. Bukan Muti namanya kalau tidak akan membalasnya. "Coba sini tak rasain dulu, pedes atau manis"


Sigit mendorong wajah Muti yang mendekat ke arahnya. "Jangan mesum! Ngambil kesempatan dalam kesempitan! Buruan masakin mas sesuatu yaaank, mas beneran lapar ini... bisa pingsan karena lapar lho"


"Hahahaha, makanya jangan suka godain aku, kalah kan kalau aku balas? Mau dimasakin apa?" tanya Muti.


"Yang ada saja, mie sama telur juga gak papa. Buruan ih"


Muti beranjak. "Sabar Ndan, masak juga butuh proses!" Sigit tertawa mendengarnya.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


__ADS_2