Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 147


__ADS_3

Dor. Sigit melepaskan timah panas itu mengenai tangan Nanda yang memegang pistol. Sungguh miris, jika tak tepat maka, mata Luna yang akan jadi taruhannya. Membuat Luna sedikit lemas. Ia ditarik oleh Bima.


Ali dan Damar langsung keluar bergabung dengan kawanannya. Hamka menghajar Nanda. "Kamu pikir kami ini siapamu??? Kami ini masih keluargamu!! Kami masih menyayangimu!! Sadar kamu Nan!!"


Damar melerai Hamka. Ali memborgol Nanda. Para polisi patwal ikut membantu mereka mengamankan Nanda. Sigit mendekati Nanda. "Antarkan dulu ke rumah sakit. Biar pelurunya bisa diambil dulu. Nan, bertobatlah. Kami ini masih menganggapmu keluarga kami. Dia yang paling kecewa saat tahu dirimu yang menjadi TO kami" Sambil menunjuk Sigit. Nanda hanya mampu terdiam. Dia akan masuk bui lagi. dan tak tahu berapa lama lagi hukuman itu akan ia jalani.


"Pikirkanlah ucapanku. Meski kamu bukan keluarga kami, tapi kami begitu menyayangimu. Kami tak ingin kamu terjerat dunia kelam. Bertobatlah" Sigit menepuk bahu Nanda dan memberinya pelukan. Hamka mendekatinya.


Ia menangis. Menampar Nanda sekali lagi. "Lihat mataku! Jika kamu butuh kami, kami ada untukmu! Bawa dia pak! Tak sanggup aku melihatnya di penjara lagi!"


"Bang...." kata Nanda. "Apa?? Sudah tak usah bicara lagi, dulu aku memang marah padamu karena pengkhianatanmu, tapi kenapa kamu tidak jera?? Bodoh!! Bawa dia pak!" perintah Hamka lagi.


Nanda dibawa ke rumah sakit terdekat. Ali menggoda Hamka. "Badan gede, tapi gembeng! Peluk dulu sana!"


Bukannya memeluk Nanda, malah memeluk Ali. "Gengsi dong!" Semuanya tertawa dengan ucapan Hamka. Bima, Luna, dan Damar membawa barang bukti untuk diamankan.


"Bang, kakimu perlu diperiksa gak?" tanya Ali lagi. Hamka menggeleng. "Nanti saja di rumah sakit kita. Aku harus memberikan laporan dulu pada atasan. Kalian berdua, kawal Nanda dari rumah sakit sampai kembali ke rutan. Aku dan yang lain akan menyusul kalian" Sigit dan Ali mengangguk.


Mereka bergegas pada tugas masing-masing. Sigit mengaktifkan ponselnya. Melihat jam sudah menunjukkan pukul 5 subuh. "Al, sholat dulu" kata Sigit. Ali mengangguk dan mencari masjid terdekat.


.


Sedang di rumah, Maryam sudah stand by di rumah Muti dari jam 3 subuh. Karena ditelpon Om Tompel bahwa Muti muntah lagi. Selesai muntah, Muti mendapati surat yang ditulis suaminya.


"Mar, kenapa Mas Si nulis suratnya begini? Bikin takut ih" Maryam membaca surat itu. Lalu tersenyum.


"Jangan khawatir mbak, mereka handal teruji kok. Percayakan semuanya pada mereka. Mereka akan pulang dengan selamat. Ke rumah kakek sekarang yuk, siap-siap dan berangkat kerjanya dari sana aja" bujuk Maryam. Muti mengangguk.


Ia bersiap, tapi pikirannya kemana-mana. "Ya Allah,.... lindungilah suamiku dan tim nya dalam misi ini. Tenangkan hati hamba ya Allah.... Aamiin"


Muti selesai bersiap. Maryam langsung berangkat ke rumah kakek. Muti mencoba menghubungi suaminya lagi, tapi ponselnya belum aktif. Tak lama mereka sampai di rumah kakek. Mereka sahur bersama kecuali kakek yang sudah sahur sedari tadi.


"Maaf ya buat kamu repot" kata Hana tetiba pada Maryam. Maryam malah tertawa. "Ngapain ngomong gitu sih? Kayak sama siapa aja! Makanya, bujukin Azka biar mau pindah sini" kata Maryam.

__ADS_1


"Udah pengajuan kata Ayah, lagi proses" sahut Muti. Hana memberikan satu gelas susu ibu hamil untuknya. "Makasih"


"Sama-sama. Mas Si sudah kasih kabar mbak?"


Muti menggeleng, "Coba kamu telpon Mas Ali" pinta Muti. Hana hanya mengangguk. "Nanti"


Maryam memberi kode pada Muti untuk diam dengan menendang kakinya, tapi keliru kaki Hana yang ditendangnya. "Gak usah pakai kode segala Mar, bilang saja langsung" Hana menghabiskan susu serta makanannya, dan kembali ke kamar.


"Mereka lagi berantem, Bang Ali ketahuan merokok kemarin. Mbak Hana ngamuk!" tutur Maryam sambil berbisik. Muti mengangguk.


Mereka bergegas menuju kantor karena sudah pukul 6. Maryam mengantarkan Muti terlebih dahulu lalu Hana.


"Han, kamu lagi marahan sama mas Ali?" tanya Muti. Hana mengangguk. "Kamu gak khawatir?"


Hana membisu. "Jelas khawatir lah mbak!" sahut Maryam. "Sok tahu!" timpal Hana.


"Salah gak sih mbak kalau aku marah? Aku kira dia sudah benar-benar berhenti lho. Tapi nyatanya dia masih merokok. Tadi malam saja dia tidak pamit sama aku kalau mau berangkat misi, makin ngeselin kan?" tutur Hana sambil berkaca-kaca. Maryam memberikan tisu untuknya.


"Gak salah sih kalau kita marah, tapi, kita juga harus mikir Han, berubah itu butuh proses. Hargailah yang Mas Ali lakukan. Mungkin dia belum berhenti sepenuhnya, tapi masih mencoba mengurangi" Muti memberi nasehat untuk Hana.


Maryam dan Muti tersenyum mendapati kejujuran perasaan Hana.


.


Sigit dan Ali masih menunggu Nanda di rumah sakit. Ali menatap layar ponselnya. "Mikir apa Al?" tanya Sigit.


Ali menghela nafas lesu. "Si, aku sama Hana lagi marahan, karena aku ketahuan merokok setelah buka puasa kemarin. Semalam aku gak pamit sama dia. Kira-kira dia khawatir sama aku gak Si?"


Sigit mencubit lengan Ali dengan keras. "Ngapain malah dicubit sih???" Ali kesal dengan Sigit.


"Itu gambaran perasaan Hana. Kesel! Bisa ya kamu gak pamit ke Hana? Heh, dia lagi bunting anak kamu! Kalau sampai kenapa-napa nyesel baru tahu rasa lu Al!"


Ali membisu. "Terus aku kon piye?"

__ADS_1


"Ya Allah Al.... ngalah! Perempuan gak bisa kalau disuruh ngalah! Yang harus ngalah kita. Pulang dari sini, susulin ke RST, minta maaf!"


Dokter bedah selesai melakukan operasi pada tangan Nanda untuk mengambil peluru itu. Ali masih berpikir sambil menatap layar ponselnya. "Maafin abang dek" katanya.


Urusan rumah sakit belum selesai karena Nanda harus dipastikan optimal dulu keadaannya. Hamka, Bima, Damar, dan Luna datang. Sigit menjelaskan kondisi Nanda. Hamka meminta rekannya untuk berjaga di kamar Nanda.


Sigit menghubungi istrinya setelah lewat jam apel. "Mas baik-baik saja sayang, nanti pulangnya mas jemput. Mas selesaikan urusan disini dulu"


Hamka merasakan nyeri sekali pada kakinya akhirnya ia ikut periksa di rumah sakit itu. Setelah di rontgen, tulang kaki Hamka tak apa-apa, hanya saja lebamnya cukup besar hingga membuat sangat nyeri.


"Perlu dipanggilin Shanum biar ke Semarang gak nih bang?" goda Damar. Hamka tersenyum dan mengangguk bersemangat. Damar menelpon Shanum lewat ponsel Hamka.


"Abang kenapa?" tanya Shanum saat melihat dari video call Hamka terbaring. "Abang sakit beb, jengukin ke Semarang ya??"


"Ya Allah..... iya-iya, nanti Shan ke Semarang"


"Ya sudah, makasih ya? Abang mau diperiksa dokter dulu. Daaahhh...." Damar langsung mematikan panggilan video itu.


"Gokil!" sahut yang lainnya.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


Makasih doanya kemarin ya man teman.... sekarang batuk. Uhuk uhuk. Syukuri saja. Alhamdulillah.....


__ADS_2