
"Ha?" jawab Ali. Hana membukakan kemasan roti itu. Dan menyodorkannya kepada Ali. "Bisa makan sendiri?" tanya Hana.
"B-bisa" jawab Ali gugup. Ia meraih roti itu dan memakannya. Karena hanya menggunakan satu tangan, sudut bibir Ali terkena selai coklat dari roti itu. Hana tertawa melihatnya. "Kamu seperti anak kecil deh Bang, makan sampai belepotan kemana-mana"
"Ha? Mosok? Sebelah mana?" tanya Ali. Ia mengambil tisu dan mengusapkan semua bagian mulutnya. Membuat belepotannya makin kemana-mana"
Hana mengambil tisu dan membantu Ali membersihkan mulutnya. Wajah mereka beradu dekat. Hana tak berani melihat Ali. Ia hanya fokus untuk membersihkan selai coklat itu. Begitupun dengan Ali. Jantung mereka kembali berpacu tak beraturan.
Hana selesai membantu Ali. Ia duduk semula di kursinya. "Ehm, habis ini kemana lagi bang?"
"Ke polsek, ngumpulkan berkas. Kamu kalau ngantuk tidur saja dek"
Hana menggeleng. "Gak kok, adek gak ngantuk. Adek mau nemenin Abang nyetir. Bang, nanti kalau adek ditanya sama ibu bisa masak atau tidak gimana? Kan malu-maluin kalau sampai gak bisa masak"
"Hahaha, tidam usah malu dong, nanti sambil belajar dek. Isinya kita hidup di dunia ini ya belajar dan belajar. Jangan bilang tidak bisa, bilangnya belajarnya telat, jadinya paham tentang masak memasaknya juga telat"
Hana tersenyum "Iya ya? Bener juga kata Abang. Nanti setelah menikah kita tinggal dimana Bang?"
Ali menoleh sebentar "Hmm? Adek pengennya dimana? Ungaran atau Semarang?"
"Abang sendiri?"
"Abang terserah adek, mau di Ungaran berarti nanti kita tinggal di rumah dinas abang. Kalau di Semarang sama kakek Umang. Abang fleksibel dek. Terserah adek maunya dimana. Abang ikuti" Hana tersenyum. Dirinya merasa tersanjung. Ali benar-benar tidak egois dalam menentukan pilihan. Dia melibatkan Hana dan menyerahkan keputusan pada Hana.
Mereka sampai di polsek Ungaran. "Mau ikut masuk atau disini saja dek?"
"Adek disini saja ya bang. Oh ya, bisa tolong isikan botol ini dengan air putih?" pinta Hana. Ali mengangguk. Ia mengambil tumbler Hana dan masuk ke dalam polsek.
Ali menyerahkan berkas itu kepada Kapolsek. "Wuih, duda keren bakalan rabi lagi nih. Orang mana Al?" tanya pak Kapolsek. "Siap! Kelahiran Kalimantan Ndan"
Pak Kapolsek mengangguk. "Oke, 2 hari lagi sidang pra nikah, sama anggota lainnya 4 orang"
"Siap! Terima kasib Ndan" Ali memberikan hormat dan pergi ke ruangannya sebentar untuk mengisi air.
Lalu ia segera kembali ke mobil, gak enak jika Hana terlalu lama menunggunya. Saat ia kembali ke mobil, dirinya kebingungan. Hana tak ada di mobil.
__ADS_1
Ia celingukan mencari keberadaan Hana. Ia menuju pos penjagaan. Disana ada dua polisi yang pingsan di lantai. Ia kembali berlari menuju mobilnya. Memeriksa barang milik Hana. Tas, dompet dan ponsel Hana masih ada di dalam mobil.
"Berarti bukan pencopetan. Masa iya penculikan? Siapa yang mau nyulik Hana??"
Ia kembali ke poa penjagaan dan membangunkan rekannya. "Ham, bangun, Yan, bangun" Ali menggoyang-goyangkan tubuh mereka. Lalu mereka tersadar.
"Bang Ali, perempuan dalam mobilmu dibawa seseorang bang!" kata Ilham rekan Ali. "Kalian lihat bagaimana ciri-cirinya?"
Mereka menggeleng. "Dia memakai masker, tak terlihat. Cek cctv saja bang"
Ali lupa akan hal itu. Ia mengecek cctv yang ada di mobilnya. Ia mengulang-ulang cctv itu. Melihat sorot mata yang sepertinya ia kenali.
Ia kembali ke pos penjagaan. "Lihat ini bang, bagaimana kami bisa tahu wajah pelaku itu" Ali melihat cctv yang terhubung di ponsel temannya itu. Ia merogoh ponselnya dan menghubungi Sigit.
"Halo assalamualaikum, Hana diculik Git. Aku butuh melihat foto anggotamu. Aku ingin memastikan sesuatu" kata Ali
Waalaikum salam. Bukan Hana saja yang diculik Al, Muti juga tidak ada di rumahnya. Terakhir terlihat selesai dzuhur. Luna sedang di kantor untuk memeriksa sesuatu. Aku tunggu di Polres
"Hmm, aku akan menjemput Bapak dan Ibu dulu, lalu ke Polres. Ada apa ini Git? Siapa fia sebenarnya? Apa motifnya?"
Aku tidak tahu apa motifnya, kakek Umang sedang membantuku mencari tahu latar belakangnya
Waalaikum salam warahmatullah.
.
Luna mencari-cari rekannya yang dimaksud oleh Sigit. Ternyata dia izin pulang, alasannya adalah sakit. "Berarti harusnya dia ada di rumah jika sakit"
Luna menghubungi Ayahnya. "Yah, tolong suruh orang-orang Ayah untuk mencari keberadaan Yudistira. Luna dan Sigit akan memeriksa rumahnya"
Selesai menghubungi Ayahnya, Sigit datang. "Mbak Lun, ada apa kok panik?" tanya Galih yang tak sengaja lewat.
"Eh, Lih, kamu tahu Yudi seharian ini kemana saja? Soalnya aku tadi kan sibuk sama penyidikan" kata Luna.
Galih mengangguk. "Yudi tadi setelah apel operasi patung sama aku, terus dia ijin, katanya perutnya sakit. Ada apa sih?"
__ADS_1
Sigit gusar dan menahan amarahnya. "Arrghhh sial! Ketemu aku habisi dia! Hana dan Muti hilang! Cctv di dekat jalan rumah Hana merekam dua orang yang aku curigai itu adalah Humam dan Yudi. Ali juga bilang sorot mata yang terlihat di cctv itu mirip anggota kita"
Galih kaget. "Kak Hana hilang? Yudi? Apa ini semua??"
Tak ada yang bisa menjawab pertanyaan Galih. Galih mencoba menghubungi Yudi tapi tak bisa. "Nomornya sudah tidak aktif"
Ponsel Sigit berdering. "Halo assalamualaikum kek. Hmm. Yudistira Pradipta A. Jadi benar dia masih ada hubungannya dengan keluarga Anggoro? Hmm, terima kasih informasinya"
"Gimana?" tanya Luna penasaran. "Yudistira Pradipta Anggoro. Dia anak selingkuhan dari Bakrie Anggoro yang dulu pernah menjabat sebagai menteri pertahanan. Dia memang punya motif untuk selalu mencari tahu tentang pembicaraan kita Lun"
"Yudistira Pradipta Anggoro. Yudi memang tidak pernah mau nama belakangnya disebut. Dia pernah berkata padaku bahwa dia bisa menyandang nama itu jika berhasil melakukan suatu misi" jelas Galih.
Ali datang dan berlari ke arah mereka. "Git, Lun"
Sigit mengajak semuanya masuk ke ruangannya. Sigit menunjukkan foto Yudi. Ali melihatnya dan mencoba menutup separuh wajah Yudi menggunakan tangannya. "Sial! Kenapa dia menculik Hana?" tanya Ali.
"Jika dugaanku ini benar, artinya ada dendam lama yang masih membara" Sigit mulai menceritakan semuanya kejadian di masa lalu. Persis seperti yang Papahnya dan juga Ayah Muti ceritakan.
"Kita cari tahu dulu dari rumah Yudi. Lun, kerahkan orangmu untuk mencari tahu keberadaan Muti dan Hana" perintah Sigit. Luna mengangguk. "Sudah"
"Oke, kita langsung bergerak" Sigit dan Luna berjalan terlebih dahulu. Ali hendak menyusul mereka tapi dicegah oleh Galih.
"Ada apa?" tanya Ali bingung. "Jika sampai kak Hana kenapa-napa, aku akan menghajarmu!" ucap Galih dengan tatapan tajam.
Ali tersenyum kecut. "Kenapa? Kamu suka sama Hana? Kalau kamu bisa melindunginya, kenapa tidak kamu lakukan sejak dulu? Jangan kamu kira aku tak tahu ceritamu dengan Hana. Sadar! Kamu sudah membuat hatinya kecewa!" Ali melangkah pergi dengan perasaan kesal.
.
.
.
Like
Vote
__ADS_1
Komen
Tip