
Selesai subuh semua anak-anak itu pun bersiap. Mamah Anin membuatkan mereka bekal untuk sarapan di jalan. Orang tua akan menyusul 2 hari sebelum hari H pernikahan Muti dan Sigit.
"Sudah siap semua? Jangan sampai ada yang ketinggalan. Mar, barangmu?" tanya Sigit.
Maryam mengangguk. "Syudah siap semuaaa"
"Yank?" Muti memeriksa lagi barang bawaannya, berkas nikah kantor, berkas pindah nikah, baju akad, foto prewed, ponsel, charger, tas kecil. "Sudah semua mas"
Mereka menyalami papah Bagas dan mamah Anin. "Hati-hati di jalan. Kalau lelah istirahat dulu. Jangan ngebut Git" pesan sang mamah.
Sigit tersenyum dan mencubit pipi mamahnya. "Iya mamahku sayaaaang, Pah, itu pacar si adek aku gojlok dulu ya?"
"Setuju, kasih binsik dulu sebelum papah datang" Maryam memanyunkan bibirnya. "Gak Abang gak Papah, samaaaaaa saja. Mbuh wes mbuuuuh. Tak buktikan kalau mas Habib lelaki perkasa"
Sigit menahan tawanya. "Kalau Abang yang kasih binsik masih mending. Kalau langsung ketemu papah, waaahhh weeeeesss kabooooorr"
Mereka tertawa. "Sudah sana berangkat, Papah mau sunah rosul sama mamah kalian. Mumpung masih pagi. Alamiahnya adiknya papah bangun" kata Papah Bagas
Mamah Anin mendelikkan matanya dan mencubit keras perut suaminya. "Sudah tua bangkaaaa, sudah mau punya mantuuuuu, pikiran dari dulu kok gak jauh-jauh dari situ. Ngeresssss"
"Aaaaaawwwww, sakit maaaaahhh" teriak papah Bagas membuat semuanya tertawa. "Sudah ah, bercanda terus. Kami berangkat Mah, Pah. Assalamualaikum" kata Sigit.
"Waalaikum salam" Mereka menaiki mobil dan melambaikan tangan. Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju Semarang. Sigit menghidupkan lagu di flasdisknya.
Terputar lagu Judika, putus atau terus. Muti memutar bola matanya malas. "Lagumu mas mas, melow banget sih. Ganti ah"
"Hmm? Ganti apa?"
Muti menghidupkan bluetoothnya, ia memilih lagu kesukaannya yang di cover oleh Woro Widowati, Angin dalu. Musik mulai terdengar. Sigit dan Maryam bertepuk tangan atas lagu pilihan Muti.
"Senang sama lagu begini juga kamu? Mas kirain gak suka"
"Suka lah, meskipun aku gak begitu paham bahasa Jawa, tapi lagu ini tuh ngena banget. Yok nyanyi" Muti mulai mengambil nafas dan menyenandungkan lagu itu sambil menatap Sigit.
Duwe Ku Mung Roso Tresno
Duwe Ku Mung Roso Sayang
Nganti nyawaku ninggalke rogo
Rosoku ora ilang
Tresno neng jero dodo
Seng tak jaluk imbangono
__ADS_1
Masio aku ra sugeh bondo
Moh yen digawae loro
Sak pedote nafasku mung kowe seng tak tunggu
Ora ono liyane seng neng atiku
Sak oncat e nyawaku ora ngaleh tresnaku
Ademe angin dalu dadi saksi bisu
Sak pedote nafasku mung kowe seng tak tunggu
Ora ono liyane seng neng atiku
Sak oncat e nyawaku ora ngaleh tresnaku
Ademe angin dalu dadi saksi bisu
Ademe angin dalu dadi saksi bisu (menggenggam tangan Sigit dan mengecupnya)
Sigit tersenyum mendapatkan lagu itu dari Muti. "Saiki lan sak lawase tresnoku mung kanggo awakmu sayang, ojo curiga maneh karo aku yo sayaaaang (Sekarang dan selamanya cintaku hanya untuk dirimu sayang, jangan curiga lagi sama aku ya sayaaang)"
Maryam kembali bertepuk tangan. "Mbak ipar ku memang the best daaah, bang Sisi, jawab keeeek"
Muti dan Sigit tertawa. "Mas, pinjam ponselmu, aku mau update proses menuju halal kita"
Sigit mengeluarkan ponselnya dan menyerahkannya ke Muti. "Kira-kira followers kita hilang berapa lagi ya?"
Sigit mengangkat bahunya. "Biarin hilang biarin, asal bukan kamu yang hilang. Bisa kelimpungan lagi mas nyari kamu"
Marma menguap. "Hoam, ngantuk. Tidur saja lah, daripada iri melihat kalian romantis-romantisan di depanku. Gak kasihan apa sama pejuang LDR"
"Hahahah, pacarmu kerjanya di Magelang atau dimana Mar?" tanya Muti sambil sibuk mengunggah foto prewednya bersama Sigit.
"Di rumah sakit swasta di Ungaran mbak, makanya aku senang sekali bisa pindah kesatuan. Eh, udah ketahuan duluan sama dua pria over protective ini" jelas Maryam.
"Terus kalian ketemunya dimana?" tanya Sigit. "Ehehehe, dikenalin sama seniorku. Jadi, mas Habib itu sepupunya seniorku. Iniiii, dia pacarnya bawahanmu bang, siapa namanya lah, lupa pula aku. Aiiiiihhh" Maryam berpikir keras mengingat nama itu.
"Galih Pamungkas! Nah, itu dia namanya. Itu bawahanmu kan?" tanya Maryam. Sigit mengangguk. "Ooww jadi si Galih punya pacar kowad toh? Hana patah hati lagi dong. Siapa nama ceweknya?" tanya Sigit lagi.
"Mbak Hana suka sama si Galih itu? Shanum, dia 1 leting diatasku"
"Jadi si Galih itu adik kelas yang ditaksir sama Hana. Tapi Hana menepis rasa cinta itu karena trauma dibully waktu SMA. Mereka bukan teman SMA kan?"
__ADS_1
Maryam menggeleng "Bukan, dia kenal sama Galih waktu sama-sama pesiar pertama. Deket, eh jadi pacar sampai sekarang"
Sigit mengangguk. Muti masih sibuk dengan unggahannya. "Oke selesai" katanya tersenyum senang. Seperti biasa banyak komentar yang membanjiri postingan itu.
"Si belek komennya pedesnyaaaa! Hish! Awas saja kalau ketemu, aku jambak beneran itu orang!" kata Muti menggebu-gebu. Sigit hanya geleng kepala melihatnya.
"Sudah ah, yank, mas lapar suapin dong" perintah Sigit kepada Muti. Ia meraih kotak makan di dashbor mobil itu. Membukanya dan mulai menyuapkan kepada Sigit sambil melihat komentar Bella.
Maryam mulai memejamkan matanya. "Hish! Nyebelin banget sih ini cewek!" ucap Muti sambil menyumpal mulut Sigit dengan makanan tanpa sadar. Hingga Sigit tak bisa bicara normal "Hish! Yank!"
Muti menoleh, "Eh, maaf mas. Hahaha, jadi belepotan semua deh. Habisnya si belek bikin emosi siiih" Muti membersihkan bekas mayonaise dan saus di sudut bibir Sigit. Ia mulai jahil lagi. "Ini kalau posisimu gak lagi nyetir, sudah aku bersihkan pakai lidahku mas"
Sigit menelan salivanya. "Hish! Jangan menggoda lagi deh, pagi-pagi nih! Bahaya!"
"Hahahahah, kenapa? takut tergoda ya? Takut gak kuat ya?" Muti memainkan jemarinya di lengan Sigit.
"Iya, susah kalau disuruh solo karir yaaaankkk"
"Wkwkwkw, memang kamu pernah solo karir?" tanya Muti. Sigit menggeleng. "Makanya jangan mancing!"
Muti tertawa merespon ucapan Sigit. Ia melihat ke bangku belakang dan Maryam sudah tidur. "Mas, kalau kowad itu sama seperti TNI pria begitu? Mereka juga ikut satgas gitu?"
Sigit mengangguk. "Sama lah, kamu kan anaknya TNI juga masa gak tahu?" Muti menggeleng. "Aku tidak tertarik dunia ibu ataupun Ayah. Karena aku tertariknya cuma sama kamu"
Sigit tersenyum kecut mendengarnya. "Hahahaha, pinter banget kalau suruh gombal dan godain mas yaaaa. Coba nanti urusan ranjang, pintar atau tidak ya?"
"Waaah, ngremehin nih! Oke kita buktikan nanti. atauuuuu mau sekarang saja dibuktikannya??"
Sigit kicep saat Muti berkata begitu. "Salah ngomong, sarapan dulu gih. Biar otak kamu itu isinya hal yang positif"
"Lhoh, memang buktikan urusan ranjang bukan positif? Positif tauuu.... positif bikin aku hamil anak kamuuuu. Hahahahahah, udah ah, godain kamu mulu malah jadi lapar" Muti mengambil roti dan mengunyahnya.
Sigit tersenyum dan mengelus-elus rambut Muti.
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip