
Luna hendak pulang. Tapi bunda tari mencegahnya. Alasannya adalah foto bersama mempelai. "Kan tadi Luna udah bun"
"Lha kui kan karo bolo kurowomu.... karo Ayah dan Bunda kan durung nduk (Lha itu kan sama teman-temanmu.... sama Ayah dan Bunda kan belum nak)" sergah Bunda Tari tetap melarang Luna pulang.
Akhirnya Luna duduk kembali. Sedang di pelaminan, sedikit terjadi ketegangan. Siapa lagi jika bukan Galang penyebabnya.
"Selamat ya Muti" Galang hendak bersalaman dengan Muti, tapi tangan Muti bersidekap di depan dada. "Lhoh, kenapa? Najis kah tanganku?"
"Bukan najis pak, tapi karena bukan muhrim" jawab Muti. Sigit masih membiarkannya. Tapi Galang tetap memaksa salaman. Akhirnya Sigit menyalami dan meremas tangan Galang.
"Jaga harga diri anda. Ini peringatan saya yang terakhir kalinya. Saya tidak segan-segan menghabisi anda jika masih berani mengganggu istri saya!" kata Sigit dengan tatapan membunuh. Ayah Indra yang tahu hal itu langsung memanggil ajudannya untuk membawa Galang turun dari panggung.
Muti juga heran kenapa sikap Galang seperti itu. Hingga akhirnya Galang dibawa turun secara paksa oleh ajudan Ayah Indra. Jihan yang melihatnya tersenyut kecut dan geleng kepala.
"Kenapa yank?" panggil Bima dengan sebutan baru. Membuat Jihan tersedak dan batuk-batuk. Hamka dan Shanum tertawa melihatnya. Jihan merebut minuman Bima. "Bikin kaget saja sih??"
"Ya memang salah mas panggil gitu? Maunya dipanggil apa? Cikgu? Kak Ros? Atau apa?"
Shanum semakin tertawa karena jawaban Bima. "Ya kali pacarnya disamakan dengan pemeran upin ipin"
"Terserah kamu mas, itu si pak Galang, sama Muti kok jatuhnya obsesi. Bukan cinta lagi" terang Jihan. Bima terngiang akan nama Galang.
"Galang itu bukannya mantan kamu ya? Yang bikim kamu mabuk" Jihan mengangguk. Membuat Bima langsung bereaksi.
"Woooo..... ngerti iku mau wonge lha langsung tak jak gelud! Wani-wanine gawe Jihanku sakit hati!! Huh!! (Wooo..... tahu itu tadi orangnya lha langsung tak ajak berantem! Berani-beraninya buat Jihanku sakit hati!! Huh!!)"
"Cie..... Jihanku....." seru Hamka. Membuat wajah Bima merona merah.
Kembali ke panggung, Sigit dan Ali sama-sama kaget melihat siapa yang datang. Zifana, mantan istri Ali datang. Ia datang bersama Bella.
"Nikah gak ngundang, sombong kamu mas!" kata Zifana. Ali hanya tersenyum tipis. Tiba-tiba saja membuat Hana mual. "Hoek..... hoekk.... hoekk....." Hana dibawa oleh mertuanya dan Maminya turun panggung terlebih dahulu.
"Wah, sudah hamil juga ternyata, sekarang kamu banyak duit ya mas, lihat pesta mewah ini. Hahah, coba kamu kayanya pas dulu masih sama aku" imbuh Zifana lagi.
Ajudan Ayah Indra menyuruh Zifana untuk segera turun dari panggung. Karena saat Hana dibawa menjauh dari Zifana mualnya seketika hilang. Mau tak.mau Zifana turun.
Bella menyalami Sigit tapi ditepis oleh Muti. "Gak usah salamin laki gue! Amplopan lu tebel kagak!? Itu yang penting! Sok-sok an mau nyalamin padahal ngisinya cuma goban!"
__ADS_1
Sigit menahan tawanya saat istrinya berkata seperti itu. Bella menjadi emosi. Dia segera turun dari panggung. "Istri aku posesif bangeett......"
"Hhhaaahhh..... gerah! Siapa sih yang ngundang dia? Kamu mas?" Sigit menggeleng. "Bukan"
Dokter Ais dan pak Farid, beserta Pak Duta dan dokter Laras juga turut hadir dalam acara resepsi itu. Hingga semua tamu pun sudah hadir. Tiba saatnya mereka berfoto keluarga. Maryam dan Habib, Shanum dan Hamka naik untuk berfoto bersama keluarga besarnya.
Azka, juga para saudara Ali berfoto dengan keluarga besarnya. Hingga tiba giliran keluarga Luna. Disusul keluarga Danang di belakangnya. "Ayah......" rengek Luna.
"Sudah lah Luna, redam emosi kamu. Ayo foto dulu". Akhirnya Luna pasrah. Sigit menarik tangan Danang, sedangkan Muti menarik tangan Luna. Mereka disejajarkan, memisahkan mempelai pengantin.
"Ini kalau bukan kalian kami gak mau nih dipisahin begini. Tampakkan senyum terbaikmu...." kata Sigit. Fotografer mengarahkan gaya untuk keluarga itu. "Mbak nya yang ditengah, senyum lebar ya"
Luna mengangguk. "Agak nyerong masnya yang ditengah" Danang menyerong mengikuti kata fotografer itu. "Oke, lihat kamera.... 1, 2" cekrek cekrek.
"Mas, minta foto kami berdua ya?" kata Danang. Luna mengernyitkan dahinya. "Ogah!"
"Sekali doang Lun" Danang memberikan ponselnya pada fotografer itu. Menggeser pengantin sementara. "Berasa mereka yang nikahan ya?" Seru Hana.
Muti mengangguk sambil cekikikan. Fotografer kembali mengarahkan gaya. "Mas nya duduk, mbak nya berdiri nyerong, tangannya diletakkan di bahu mas nya"
"Kalau bukan demi kalian para sepupu somplak aku ogah!"
"Iya iya.... percaya kok. Buruan!" balas Hana. Akhirnya ia mengikuti arahan dari fotografer itu. Dan segera beralih berfoto dengan Ali dan Hana.
Sesi foto pun berakhir. Akhirnya mereka pulang ke rumah masing-masing. Luna membawa mobil sendiri, Danang benar-benar gigih mengejar Luna. Saat Luna membuka pintu mobil, Danang juga langsung ikut masuk ke dalam mobil.
"Ngapain? Turun!" kata Luna. Danang menggeleng. Danang memakai seatbeltnya. "Aku pengen sendiri Nang" kata Luna.
"Aku gak mau membiarkan kamu sendiri lagi. Bisa kita ngobrol tanpa emosi?" tanya Danang menatap Luna.
Luna menghela nafasnya. "Apa lagi sih?"
"Aku minta maaf Lun"
"Sudah aku maafkan, selesai kan? Turunlah" usir Luna. Danang menggenggam tangan Luna.
Luna menolaknya. Danang memaksa. Ia menempelkan tangan Luna di dadanya. "Sama halnya seperti mu, hati aku juga sakit. Sakit karena membuatmu sedih. Sakit karena membuatmu kecewa dan menangis. Sakit karena kemarin melihatmu bersanding dengan yang lain selain diriku, sakit karena setiap malam hanya bisa menyebutmu dalam do'a tanpa bisa melihat wajahmu. Aku dihukum sama Allah, hape aku memorinya rusak dan hilang semua foto kamu. Semua akun sosmed kamu memblokirku.
__ADS_1
Ingin aku menelpon mu, mendengarkan suaramu, tapi apa akan kamu angkat? Yang ada kamu makin menjauh dari aku. Setiap malam hanya bisa membayangkan kamu ada di sampingku. Tapi tak pernah bisa aku gapai. Hingga malam waktu kamu dan Bima sedang razia, rasa rinduku sedikit terobati. Aku tersenyum sambil mengintip mu. Melihatmu bersenda gurau dengan temanmu. Aku benar-benar tulus sama kamu Luna. Aku sudah mati rasa sama perempuan selain kamu" Danang mengecup tangan Luna. Air matanya menetes membasahi tangan Luna.
Luna diam tak tahu harus membalas apa. Ia menghela nafasnya. "Bisakah kita memulainya dari awal lagi Lun?" tanya Danang. "Cobalah jujur Lun, aku ingin jawaban darimu sekarang"
"Kenapa baru sekarang kamu memperjuangkan aku? Kenapa gak dari dulu?"
Danang menghela nafasnya dan tersenyum. Akhirnya Luna bisa bicara tanpa emosi. "Karena dulu, aku pikir aku telah kalah, dan hatimu sudah tak bisa memaafkanku lagi"
"Bodoh!"
"Aku memang bodoh, tapi aku bersyukur menjadi pria bodoh yang kamu cintai" jawab Danang.
"Brengsek!"
"Aku brengsek karena mempermainkan hati wanita sebaik kamu, dan aku sedang menjalani hukumanku"
Cairan bening luruh di pipi Luna. Danang menghapusnya. "Beri aku kesempatan, dan aku akan membuktikan bahwa aku benar-benar tulus terhadapmu"
"Aku kangen sama kamu..... hiks.... huhuhuhu, aku juga sakit gak bisa tahu tentang kamu.... hiks.... huhuhu...." Danang memeluknya. Menenangkannya. Ada sedikit perasaan lega diantara keduanya. "Berikan aku kesempatan Lun, bisa?"
Luna mengangguk. "Terima kasih" kata Danang.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
Othor sibuk sekaliiii epribadeh..... mohon bersabar yaaaakkkkk
__ADS_1