
Muti dan Sigit sudah jauh dari rumah, mereka sudah sampai di Ungaran. Sigit menepikan motornya. Perutnya lapar. Anak orang yang dibelakangnya juga belum ia kasih makan.
"Makan dulu ya? Perut mas lapar. Kamu juga belum makan kan?" Muti diam tak menjawab. Sigit menoleh.
"Mut, marmut... sstt. Hey, marmuuuuttt. Yaaaah, dia tidur" Sigit melepas helm dan sarung tangannya. Lalu ia mengangkat tangan Muti. Mengambil jari telunjuknya dan menggigitnya.
"Aw" Muti membuka matanya. "Bangun, makan dulu. Kamu nih kebiasaan atau gimana sih? Kalau tidur susah dibangunin"
"Mmm, kena angin jadi ngantuk. Ternyata enak ya pakai motor. Anginnya sepoi-sepoi" Muti turun dari motor. Sigit membukakan helmnya dan tersenyum.
"Mas bilang juga apa? Ini belum seberapa lho. Biasanya mas sama Luna dan Yudi, kalau kami pulang ke Kalimantan ya sama Hana touringnya"
Muti menautkan alisnya. Sigit berjalan menuju rumah makan itu. "Bukannya kalau touring itu bareng-bareng gitu ya mas?" Muti mengekor dibelakang Sigit.
"Itu namanya konvoi. Ya memang ada yang seperti itu. Tapi mas lebih seneng sendiri. Kalaupun berkelompok ya cuma 2 sampai 3 orang" Muti mengangguk paham. Mereka sudah duduk lesehan.
Seorang pelayan datang membawakan menu. "Waaaahh, pak polisi, cie sama siapa cieee? Biasanya sama mbak polwan itu. Ini kok lain ya? Imut yang ini"
Pipi Sigit merona saat digoda pelayan perempuan itu. "Hish kamu ini, Luna lagi galau, aku seperti biasa ya, ayam goreng sambal matah, minumnya es teh, jangan lupa krupuknya. Kamu apa Mut?"
Entah mengapa Muti menjadi kesal mendengarnya. Seperti tak rela jika Sigit pergi dengan perempuan lain. Muti melihat menunya. "Akuuu... bebek goreng sambal bawang, minumnya es susu coklat. Jangan ditambahi gula ya mbak susunya"
Pelayan itu mencatat pesanan mereka. "Mohon ditunggu. Pak pol, ini pacar ya? Mandangnya aja beda kalau lagi mandang mbak polwan"
"Hish, kamu ini kepo sekali. Kamu mau saya aduin sama pemilik tempat ini?" ancam Sigit. Pelayan itu hanya nyengir dan berlalu.
Muti menyangga dagunya dengan satu tangan. "Kamu sering banget kesini mas?" Sigit mengangguk.
"Sama siapa?" tanyanya lagi. "Sama Luna sama Yudi"
"Selain itu?"
Sigit tersenyum "Cuma sama dua itu. Kan tadi aku sudah bilang kalau aku suka touring ya sama dua orang itu. Kenapa cemburu?"
Muti berdecak. "Buat apa cemburu? Cemburu hanya untuk orang dengan tingkat percaya diri yang sedang drop"
__ADS_1
"Hahahah, kelihatan kali Mut. Kita ke Jogja ya, cukuplah buat jalan-jalan ke pantai Barong sebentar. Kamu suka pantai gak?" tanya Sigit mengalihkan perhatian.
"Katanya ke Salatiga, kok berubah haluan ke Jogja? Suka" Makanan mereka datang.
"Ke Salatiga nanti mampir di rumah teman mas sebentar, terus lanjut ke Jogja. Agak kemalaman dikit gak papa lah ya? Nanti aku telpon Ayah kamu"
Muti mengangguk. Dia hendak menyuir daging bebek itu. Tapi masih panas. "Ishhh, huft huft huft" Dia meringis terkena panas dan meniupnya. Sigit tersenyum tipis melihatnya.
"Lapar banget apa gimana sih? Benda masih panas main pegang saja. Sini mas bantu" Sigit membantu Muti menyuir daging bebek itu. Lalu menyatukannya dengan nasi dan sambal. "Buka mulutnya, aaa" Sigit memperagakan membuka mulut.
Pipi Muti merona seperti kepiting rebus yang baru matang. Sigit menyuapinya. Aaah, so sweet banget sih kamu komandaaan, bisa klepek-klepek nanti aku sama kamu kalau perlakuanmu ke aku manis banget bikin diabetes.
"Hei, malah bengong, ayo buka mulutmu" Muti membuka mulutnya dengan ragu. Sigit memasukkan makanan itu. "Marmut pintar" katanya sambil tersenyum dan memperlihatkan lesung pipitnya.
Tuh kan makin manis aja ada lesung pipit di pipi ituuuu, aih, bisa terkena diabetes beneran aku nih. Batin Muti dalam hati hanya mampu menikmati senyuman manis itu.
Sigit menyuapinya lagi dan lagi. Hingga mereka menjadi pusat perhatian. "Ehm, mas, aku makan sendiri saja ya? Gak enak dilihatin sama yang lain tuh"
Sigit mengedarkan pandangannya, ternyata memang benar. Mereka sedang menjadi pusat perhatian pengunjung yang juga ingin makan disana. "Ya sudah nih dagingnya sudah aku suir kan. Sudah agak adem kok"
Muti mengambil makanannya dan mulai makan sendiri. Sigit juga mulai menikmati makanannya. Hingga piring itu bersih tak bersisa secuil nasi pun, mereka tak bersuara. "Enak tidak makanannya?" tanya Sigit selesai mencuci tangan.
Muti mengangguk kegirangan. "Aku kira tuh kamu mainnya ke resto mewah, yang kalau makan pakainya pisau sama garpu. Mau juga ternyata diajak makan lesehan"
"Ih, apaan sih kamu? Aku memang lebih seneng makan begini mas"
Sigit mengangguk. "Padahal aku nanti pulangnya mau ngajak ke resto mahal, tapi gak jadi deh, kan kamu maunya disini"
Muti berdecak. "Tapi aku juga suka kok ke resto mewah. Nanti pulangnya mau kok diajak kesana"
"Diih, dasar! Gak jadi! Batal! Kan kamu maunya disini"
"Iiihh, mas Sigit niiih, mau kamu ajak aku kemanapun aku mau kok" katanya dan meminum es susu coklatnya. Sigit memancing Muti.
"Termasuk naik pelaminan?" Muti kaget mendengarnya. "Uhuk uhuk uhuk, uhuk uhuk uhuk. Ehm. Apaan sih?"
__ADS_1
Sigit tertawa melihat ekspresi kaget Muti. "Jahil banget sih kamu mas... heran aku, seneng banget jahilin aku"
Sigit menghentikan tawanya. "Aku serius nanya, termasuk aku ajak naik pelaminan mau?" Muti diam tak menjawab.
"Maksudnya aku, nanti kamu mau kan dampingi aku naik pelaminan ngasih selamat sama teman aku yang di Salatiga itu?" Muti menghela nafasnya lega.
"I-iya mau, kalau ngomong yang jelas dong komandan galak!" Sigit menautkan alisnya.
"Ooohh, mas tahu nih, kamu pikir naik pelaminan itu aku ngajak kamu nikah? Begitu? Iya apa iya? Pasti jawabannya iya. Nanti, nanti kalau kamu sudah beneran cinta dan jadi bucin sama aku, aku ajakin kamu naik pelaminan" kata Sigit.
Muti kembali berdecak. "Paling nanti kamu tang bucin sama aku. Tahu ah, sudah apa belum? Mau lanjut gak nih? Eh, mas, kalau kita menghadiri acara nikahan masa pakai baju begini?"
"Memang apa yang salah sama baju kita? Yang penting kan pakai baju, daripada gak pakai baju terus jadi bahan tontonan. Nah, itu yang nyeleneh"
"Terserah kamu lah maaaass, bantah kamu juga percuma" Sigit tertawa. "Mas bayar dulu"
Sigit menuju kasir dan bertemu dengan pelayan itu lagi. "Pak pol romantis amat pakai acara nyuapin pacarnya segala"
Sigit mengeluarkan uang dan tersenyum "Salah kalau saya nyuapin calon istri sendiri?" Dia tak tahu jika Muti dibelakangnya.
"Oalah, calon istri ternyata. Saya kira cuma pacar sementara pak. Beruntung pak pol dapat mbak nya ya? Kelihatannya baik sekali pak" balas pelayan itu.
Sungguh senang hati Muti saat itu. Senang diakui jika dirinya adalah calon istri komandan galak itu? Atau apa? Hanya Muti yang tahu.
"Halah sok tahu kamu, kembaliannya ambil saja, buat jajan anakmu" ucap Sigit sambil berbalik dan berhadapan dengan Muti. "Hish, bikin kaget saja. Ayo lanjut lagi" Dia dengar tidak ya omonganku tadi?. Batin Sigit dalam hati.
.
.
.
Like
Vote
__ADS_1
Komen
Tip