Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 52


__ADS_3

Makan siang selesai, Muti dan Sigit langsung fitting baju untuk acara resepsi mereka. "Kek, Maryam jalan dulu sama mas Habib mau ngurusin WO nya mereka" pamit Maryam.


Hana datang. "Maaf ya agak telat. Pasiennya banyak. Eh, ada cowok seger nih. Siapa nih?" goda Hana. Maryam nyengir. "Jangan digodain. Ini milik aku" kata Maryam.


"Jiahahaha. Milik dia katanya mas. Memang sudah halal? Tenang tenang, aku sudah gak suka sama daun muda" jawab Hana.


"Terus sukanya sama yang gimana Han? Hmm? Yang kayak Yudi?" goda Muti. Sigit berdecak. "Gak! Mas gak setuju kalau Hana didekati Yudi ataupun Galih"


Hana menahan tawanya. "Maaaaakk. Tengok abang kita ini Mar.... Hahaha, tenang, aku nyarinya orang biasa saja lah, gak suka polisi" kata Hana.


"Eits, hati-hati ngomongnya.... kena batunya jatuh cinta sama polisi kapok kamu Han. Secara kami ini selalu mempesona mata kaum hawa" kata Sigit. Hana mencebiknya. "Halah preeet"


"Buruan sana berangkat, keburu sore nanti. kasihan orang WO nya. Janjian dimana sih?"


"Banaran" jawab Hana cepat. Sigit dan Hana melongo mendengarnya. "Kalian serius janjian di Banaran? Jauh banget" tanya Sigit.


"Orang kitanya juga mau jalan-jalan kok. Sudah sih mas Si, yang penting kan acara bisa terselenggara" jawab Hana lagi. "Ya sudah lah, terserah kalian. Hati-hati ya. Habib, ingat ya, besok kesini lagi. Ketemu papah dan mamah"


"Siap bang Sigit!" Habib memberi hormat kepada Sigit. "Bagoooosss" Sigit mengacungkan jempolnya kepada Habib.


Mereka masuk mobil masing-masing lalu berpisah ke tujuan yang berbeda. Muti bersama Sigit fitting baju. Hana dan Maryam bertemu WO.


.


Danang dan Luna sudah di percetakan. Mereka sibuk dengan daftar tamu undangan. Pusing karena jumlahnya yang terlampau banyak. "Semua penggede TNI diundang, alamaaak. Banyak sekali" kata Luna.


Mereka kembali ke mobil. Danang hanya tersenyum menanggapai ocehan Luna. "Kencan yuk, kamu sudah lepas dinas kan?" tanya Danang.


"Ha? Sekarang? Katanya malam minggu. Mau pergi kemana? Aku masih pakai seragam lho" jawab Luna.


"Kita masak bareng" ajak Danang. Luna menggaruk rambutnya. "Aku kan gak bisa masak"


Danang tertawa. "Beneran?" Luna mengangguk. "Iya. Aku gak bisa masak, beneran"


"Ya sudah, aku yang masakin kamu. Kita beli bahannya dulu" Danang mulai melajukan mobil ke supermarket terdekat. Lalu mereka memilih dan membeli beberapa bahan mentah.


"Kita bikin makaroni scotel" kata Danang. "Mbuh, terserah kamu. Aku tinggal makan"


Mereka kembali ke apartemen Danang. Danang mulai meracik bahan untuk membuat makaroni scotel. Luna memperhatikan kemahiran tangan Danang. Sesekali mereka tersenyum hingga makaroni scotel itu matang.

__ADS_1


Danang membawa makanan itu ke ruang tv. Dia memilih koleksi film yang ia punya. Ia memilih film La La Land. "Suka banget nonton? Kok banyak banget koleksinya"


Danang mengangguk. "Enak gak Lun?" tanya Luna yang mulai menyuapkan makanan ke mulutnya. "Enak, kamu pinter banget masak sih, kayak si Ayah. Ibun dan aku itu gak begitu pintar masak"


Danang tersenyum "Aku punya kafe, yang mana dulu untuk nyari koki dengan gaji minim itu susah, makanya aku bisa masak begini"


"Bisa dong ajari aku masak? Please" pinta Luna. Danang mengangguk. "Bisa, ada syaratnya...."


"Ih, kok gitu? Itu namanya pamrih tahu"


Danang tertawa. "Mau apa tidak? Kursus aja bayar lho Lun, mahal lagi. Nah ini, bayarnya gak pakai duit deh"


Luna menautkan alisnya bingung. "Terus?"


"Ehm, jadi istri aku" Danang menatap Luna. Luna diam bingung harus menjawab apa. "Hei, jawab dong"


Luna mengambil nafas dan membuangnya. "Kamu tahu sendiri kan Ayah seperti apa? Kamu gak takut sama Ayah?"


Danang menggeleng. "Aku akan berusaha untuk mendapatkan restu dari Ayahmu, sudah cukup lama aku menunggumu. Perasaan ini gak bisa hilang begitu saja Lun, dia malah tumbuh semakin besar. Aku tidak mau hanya sekedar pacaran. Aku ingin memilikimu seutuhnya. Sakit rasanya saat jauh dari kamu"


Danang menggenggam tangan Luna dan mengecupnya. "Aku jatuh hati sama kamu sejak pertama kita kenal dan menjadi teman"


Danang mengangguk. Seketika suasana menjadi canggung. Luna meletakkan makanannya dan mengambil barang-barangnya. "Mau kemana?"


"Sebaiknya aku pulang" Luna beranjak dari kursi tapi tangannya dicekal oleh Danang. Reflek ia memiting tangan Danang. "A...a...a.... sakit.... saki.... sakit.... Lun"


Luna terkejut dan melepaskan pitingan itu. "Maaf maaf maaf, reflek" Luna duduk kembali dan memeriksa keadaan tangan Danang. Ia mengelus-elus tangan Danang.


Danang menahan tawanya. "Masih sakit" tanya Luna melihat ekspresi Danang. Danang berpura-pura meringis kesakitan dan mengangguk. "Aduuuhh, maaf ya? Aku reflek" katanya masih mengelus-elus tangan Danang.


Danang tak tahan lagi dan tertawa. Luna baru sadar jika dirinya hanya dikerjai oleh Danang. "Ish, bisa ya ngerjain aku!" Luna memasang muka cemberut dan bersidekap.


Danang mengubah posisi duduknya miring menghadap ke Luna. Tangannya ragu untuk membelai rambut Luna, tapi akhirnya dibelai juga rambut polwan cantik itu.


Jantung Luna berdegup tak beraturan. Hatinya berdesir-desir. "Kamu kalau marah makin cantik"


"Gombal!"


"Serius, besok malam minggu kita kencan lagi. Ke taman KB, jajan disana, ajak Hana biar Ayah gak terlalu curiga" katanya masih terus membelai rambut Luna.

__ADS_1


"Lebih baik kamu minta izin ke Ayah, aku gak mau nanti Ayah salah paham" Danang mengangguk. "Ya sudah, nanti aku minta izin ke Ayah"


"Nang, bisa gak tangannya menyingkir dari kepala aku?" pinta Luna sambil menatap lurus layar tv itu.


Danang hanya tersenyum. Ia merangkul bahu Luna. Membuat Luna semakin kaku. Dia mencoba menyingkirkan tangan Danang, tapi Danang malah menggenggam erat tangannya. "Tangan kamu hangat" kata Danang.


"Sebentar saja. Aku butuh digenggam agar bisa kuat" Luna menautkan alisnya. "Maksudnya?"


Danang menggeleng. "Gak, gak papa. Bukan apa-apa"


.


Hana, Maryam, dan Habib sudah sampai Banaran. Mereka masuk ke sebuah kafe dengan konsep alam terbuka, menyajikan pemandangan kebun kopi.


"Kak, bantuin Maryam kek biar besok binsiknya gak berat" kata Maryam masih bingung mencari cara agar Habib terbebas dari pembinaan fisik oleh Papah dan Abangnya.


Hana menggeleng. "Ora wani aku Mar, tahu sendiri Papah dan Abangmu gimana. Habib, semangat! Kamu pasti bisa!"


Habib memicingkan matanya. "Iya mbak! Habib pasti bisa!"


"Tuh, Habib saja optimis kok" Tak lama orang WO pun datang. Mereka mendiskusikan tentang konsep pernikahan itu. Mulai dari dekorasi, jumlah kursi dan meja, jumlah tamu undangan, jenis makanan yang akan disajikan, hingga rangkaian acara.


Setelah diskusi itu selesai, pihak WO pamit dari tempat itu. Sedangkan mereka masih menikmati pemandangan disana. Tak lama ada seseorang yang datang menggunakan seragam polisi. "Assalamualaikum" sapanya.


"Waalaikum salam" jawab mereka. Entah mengapa hati Hana berdesir melihatnya. Begitu pula dengan polisi itu. Maryam berdahem. "Ehem ehem ehem. Ada yang saling pandang nih"


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


Maaf lama, dr sistemnya soalnya. Othor udah setor sejak semalam tp sampai sekarang blm direview


__ADS_2