
Sigit, Muti dan Ali keluar dari ruang mayat. Seorang bawahan Ali melaporkan bahwa mayat ini warga Bandarharjo. "Semakin jelas. Berarti memang orang ini dibunuh. Sudah menghubungi keluarganya?" tanya Ali.
"Sudah Ndan, pihak keluarga akan menjemputnya kemari" kata bawahan Ali.
Sigit semakin paham dengan sotuasi saat ini. Dia berpikir jauh. Tentang perjodohan ini. Tentang keluarganya yang diberi mandat untuk melindungi putri sang panglima. Entah dari siapa, tapi sekarang Sigit makin paham dengan tanggung jawabnya.
"Ya sudah Al, terima kasih bantuannya, redam berita yang beredar. Kalau tidak, makin banyak korban yang akan berjatuhan. Bilang sama wartawan kalau kita belum mengungkap kasus ini" terang Sigit. Ali paham dengan maksud tujuan Sigit memintanya merahasiakan hal itu. Dia mengangguk.
"Oke, kalian hati-hatilah. Jaga calon adik ipar dengan baik" ucap Ali tersenyum jahil kepada Sigit.
Sigit tersenyum dan meninju lengan Ali. "Segeralah menikah lagi. Banyak perempuan di luar sana yang masih baik kok"
Ali tersenyum dan mengangguk. "Doakan saja lah Git"
"Pasti. Kami pamit, assalamualaikum" Sigit memberi hormat kepada Ali dan dibalas oleh sahabatnya itu.
Muti juga pamit kepada Ali dan berlalu bersama Sigit. Mereka menuju mobil. Saat mengeluarkan kunci mobil, sketsa gambar yang Sigit bawa terjatuh tapi ia tak menyadarinya.
Mobil berlalu meninggalkan rumah sakit. Seseorang memungut kertas itu dan membukanya. Dia meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Jadi, sudah ada yang mengaku? Suruh Humam bersembunyi terlebih dahulu. Dan tarik semua anak buah kita, aku tak ingin kita bertindak ceroboh. Aku ingin persiapan yang matang untuk menyambut mereka" kata pria berdasi hitam itu.
.
Mobil melaju beriringan dengan pengendara lainnya. Seperti biasa, macet dimana-mana. Sigit berkonsentrasi pada jalanan di depannya.
Muti sudah menahan laparnya daritadi. Suasana hening. Hanya deru mobil yang terdengar. Tiba-tiba ada suara yang membuat Sigit kaget.
Kruuuuuukkk. Muti mendelikkan matanya lalu membuang muka. Sigit menoleh, ingin tertawa tapi ditahannya, takut kalau Muti marah lagi terhadapnya.
"Mau makan sekarang?" tanya Sigit. Muti sok jual mahal. Padahal perutnya sudah keroncongan.
"Aku gak lapar" jawabnya masih dengan membuang muka.
Sigit menoleh ke arah Muti yang masih membuang wajahnya menghadap jendela. "Ha? Gak lapar? Terus tadi bunyi apa? Tunggu 5 menit lagi, kita makan di kafe depan sana. Hei, aku disini, bukan di luar jendela sana. Coba hadap sini"
"Mas, kok aku jadi kepikiran soal penyerangan kita ya?" Muti mengalihkan pembicaraan dan baru berani menghadap Sigit.
__ADS_1
Sigit tersenyum. "Jangan takut, bodyguard Luna sudah berjaga di rumahmu. Namanya om Tompel. Dia salah satu bodyguard andalan keluarga Luna. Serba bisa"
"Tetap saja mas"
Sigit mulai lagi dengan kejahilannya menggoda Muti. "Terus mauny kamu gimana? Kamu ingin aku nginap setiap hari di rumahmu? Bisaaaa, tapi nikah dulu. Bukan hanya serumah, kita sekamar dan satu selimut. Piye?" katanya sambil tersenyum dan menaik turunkan alisnya.
Wajah Muti mulai merona. Dia mencubit keras lengan Sigit. "Sekarang berani godain aku yaaaa"
"Hahahah, bukan cuma kamu yang bisa godain aku. Akupun bisa" kata Sigit "Dan berharap kamu tergoda" imbuhnya lirih. Tapi Muti sangat bisa mendengarnya dengan jelas.
Mereka sudah sampai di kafe yang dimaksud Sigit. Memarkirkan mobil dan melepas seatbelt. "Apa tadi? berharap siapa yang tergoda mas?"
Sigit gelagapan. "Si-siapa? Ah ngaco kamu, orang aku gak bilang apa-apa kok"
"Hilih, pakai acara nyangkal lagi. Mas jawab dulu dong, kamu pengen aku tergoda sama kamu? Iya kan? pasti iya" Muti turun mengikuti Sigit.
Sigit hanya menahan tawanya. "Diam bisa kan marmut? Ayo makan dulu"
Sigit meminta ruang VIP agar mereka tak terganggu dengan kebisingan di kafe itu. Muti memanyunkan bibirnya sampai mereka duduk. Membuat Sigit semakin gemas terhadapnya. Pelayan datang membawakan menu. Sigit membaca menu itu. "Kamu mau makan apa?"
"Makan kamu sampai kenyang!" jawab Muti asal, membuat Sigit malu dan pelayan tadi menahan tawa.
Pelayan itu mencatat pesanan Muti dan berlalu untuk menyiapkan pesanan itu. "Itu bibir kenapa dimanyun-manyunkan sih? Minta dicium ya?" Sigit mulai jahil.
Muti membalas godaan itu. "Coba saja kalau berani. Palingan gak berani, dasar cemen!"
Sigit tak terima dengan penghinaan itu. Dia menahan dirinya agar tak lepas kendali. Tapi Muti malah mengatainya cemen. "Nantang kamu?? Aku sudah bilang kan aku ini pria normal?? Aku sudah memperingatkan kamu untuk tidak menggodaku, tapi sekarang kamu malah merendahkanku" tatapan Sigit berubah menjadi tajam. Muti bergidik ngeri melihatnya.
"Jangankan cuma menciummu, kamu ingin yang lebih?? Kamu ingin menantangku?"
Muti membuang mukanya. Takut. Sigit marah karena penghinaannya. Sigit meredam emosinya sendiri. Dia menghela nafas kasar. "Kenapa malah berantem lagi sih?" tanya Sigit setelah berhasil meredam emosinya.
"Kamu nyeremin, aku takut. Aku minta maaf mengataimu begitu. Aku hanya ingin kamu jujur terhadap ucapanmu saja" Muti menatap lurus mata Sigit.
Sigit hanya diam tak membalas ucapan Muti. Hingga makanan tiba, mereka masih diam. "Makasih mas" ucap Sigit kepada pelayan itu.
Muti belum menyentuh makanannya sama sekali. Sigit menyodorkan tangannya yang penuh kepalan nasi dan kepiting di depan mulut Muti. "Makan, aku gak mau kamu pingsan gegara lapar. Lupakan dulu yang tadi"
__ADS_1
Muti terpaksa membuka mulutnya. Kedua kalinya dia disuapi oleh Sigit dan hatinya selalu berdesir tak karuan. Gimana aku gak tergoda kalau kamu selalu bersikap manis begini pak komandan galak?
Sigit menyuapi Muti dan juga dirinya. Hingga makanan habis. Sigit membayar makanan itu. Mereka langsung pulang. Tak ada obrolan dalam perjalanan. Muti memilih memejamkan matanya.
Hingga tiba di rumah Muti. Sigit tak membangunkan Muti. Dia mencuri foto Muti saat tertidur. Dia tersenyum dan membelai rambut Muti yang menutupi wajahnya. "Aku ingin kamu tergoda oleh cintaku. Bukan hanya sekedar gombalan"
"Aku sudah tergoda olehmu sejak kamu menggangguku di tempat karaoke waktu itu" jawab Muti sembari membuka matanya. "Masih mau ngelak lagi barusan ngomong apa?"
Sigit gelagapan. "Terserah kamu lah mas" Muti turun dari mobil. Sigit mengikutinya hingga di depan pintu rumah Muti.
Muti membuka pintu rumahnya. Sigit mengikutinya. "Siapa yang nyuruh kamu masuk?" tanya Muti ketus. "Sana pulang! Jangan sampai aku menggodamu lagi!" Muti berbalik meninggalkan Sigit. Tapi tangannya ditarik oleh Sigit dan membawanya dalam dekapan Sigit.
"Jangan marah, yakinkan dulu perasaan kita. Pernikahan bukan hal main-main. Aku hanya ingin menikah sekali seumur hidup dan itu dengan wanita yang tulus mencintaiku"
Muti luluh, entah mengapa, dirinya tak bisa marah dengan Sigit. "Iya, tadi aku ngomong aku berharap semoga kamu tergoda olehku. Puas kan putri panglima?" imbuh Sigit.
Sigit melepaskan pelukannya. Dia mengangkat dagu Muti. Mendekatkan wajahnya dengan wajah Muti. Pacu jantung diantara keduanya sudah tak beraturan. Dan...
Cup
Sigit mencium hidung Muti. "Selamat malam marmut nakalku. Nanti akan ada waktunya. Mimpi indah.... sayang"
Sigit berbalik dan meninggalkan rumah Muti. Sedangkan Muti hanya diam mematung mendapatkan perlakuan romantis itu.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1
Hmmm, dikasih yang romantis dulu biar bisa tidur nyenyakkk. Good night all