Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 87


__ADS_3

"Ana! Ana! Ana!" teriak papah Arka dari lantai bawah. Membuat Mamah Ana yang sedang memakai masker terheran dengan suaminya. Papah Arka yang tak mendapat jawaban dari istrinya langsung naik ke kamar. Ia membuka pintu kamarnya dan melihat sang istri sedang memakai masker.


Ia menarik tangan mamah Ana dengan kuat. Hingga Mamah Ana jatuh dan diseret oleh Papah Arka. "Papah apa-apaan sih?" tanya Mamah Ana bingung.


"Kemasi barang-barangmu! Keluar kamu dari rumahku! Ibu macam apa kamu? Ha? Lihat keadaan Danang! Dia hancur karena ulahmu! Dia hancur akibat dendammu! Tak bisakah kamu lebih memikirkan kebahagiaan keluarga kita ketimbang sibuk memikirkan dendam mu?"


Papah Arka mengambil koper mamah Ana dan melemparkan barang-barangnya keluar dari kamar itu. "Pergi dari sini! Kamu masih menginginkan Tristan? Kejar! Jika kamu berhasil, selamat! Aku akan melepaskanmu jika itu yang kamu mau! Apa kamu pikir selama ini aku mencintaimu?? Tidak! Aku mempertahankan hubungan ini demi Danang! Bukan kamu! Kemasi barangmu dan pergi dari sini sekarang!"


Mamah Ana tak menyangka akan sikap Papah Arka. Ia menangis dan memohon. "Please jangan usir Mamah, Pah. Mamah minta maaf, hiks... huhuhu"


"Alah! Hapus air mata palsumu itu! Aku tak akan tertipu! Jangan minta maaf kepadaku! Minta maaf lah pada orang-orang yang kamu sakiti! Termasuk Danang!" Papah Arka meninggalkan Mamah Ana.


.


Sedang di Polres, Luna hanya melamun. Pekerjaannya menumpuk tak disentuhnya. Wajahnya pucat. Ali yang tahu cerita dari Hana kasihan melihat rekannya itu. Ia duduk di depan Luna. "Calon sepupu ipar, kerjaanmu biar aku saja yang handel"


Luna tersadar dari lamunannya. "Ha? Eh, gak usah Mas Al, biar aku saja yang kerjain" katanya menolak halus.


Ali tersenyum. "Ayo tak rewangi. Semangat Lun! Luna sing tak kenal ora bakalan ambyar trimo perkoro lanangan. Iseh akeh lanangan liyo sing seneng awakmu. Wong awakmu ki cah apikan kok. Anake sopo sek?? Heheheh (Ayo aku bantuin. Semangat Lun! Luna yang aku kenal tidak akan ambyar hanya karena masalah lelaki. Masih banyak lelaki lain yang suka sama kamu. Orang kamu itu bocah baik kok. Anaknya siapa dulu?? Heheheh)" canda Ali dengan menaikturunkan alisnya.


Luna bisa sedikit tersenyum karena candaan Ali. Sigit datang ke ruangan Luna membawakan makanan. "Makan! Jangan gak makan kamu! Bandel banget suruh makan doang susah! Kalau sampai kamu nangis lagi, Danang tak hajar lagi!" Kata Sigit emosi


"Lhah, belum makan kamu? Dengerin aku ya Lun, jangan karena masalah ini membuat kamu sakit. Buktikan bahwa kamu itu gak lemah! Biar mereka yang menyakiti kamu tahu bahwa gak mudah menjatuhkanmu. Boleh kamu nangis, tapi jangan di depan mereka yang menyakitimu. Tunjukkan kekuatanmu!" nasehat Ali pada Luna. Sigit mengacungkan jempolnya kepada Ali.


"Dengerin tuh sama yang udah pengalaman"


"Pengalaman apa?" tanya Luna. "Pengalaman disakiti. Wkwkwkwk" Sigit tertawa. Ali hanya geleng kepala mendengarnya.


Bima datang dan memberikan berkas pada Luna. "Ini lagi datang bukannya menghibur malah ngasih kerjaan! Sini duduk kamu! Bantuin Luna tuh! Aku sama komandan mau pergi sebentar"

__ADS_1


"Memang siapa yang perlu dihibur?"


"Luna. Bim, awasi Luna sampai mau makan. Kalau dia tetap gak mau makan kamu yang dihukum komandan!"


Ali menarik paksa tangan Sigit. Bima menjadi canggung karena ulah Ali. Sigit bingung dengan Ali. "Kenapa sih Al?"


"Hehehe gak papa"


Bima duduk dihadapan Luna. "Kamu pucat banget sih Lun? Lagi sakit?"


Luna menggeleng. "Makan gih. Aku temani. Butuh teman curhat? Kok sepertinya kamu sedang ada masalah"


Luna tersenyum tipis. "Aku gak papa kok Bim" Bima membukakan makanan itu. "Wih enak nih, buruan di makan. Apa mau disuapi?" goda Bima. Luna menggeleng. Ia mengambil makanan itu dan mulai makan dengan malas. Bima hanya menatapnya tanpa berkomentar.


Ia menunggui Luna hingga makanannya habis. Namun, baru beberapa suap saja Luna menyudahinya. "Makan yang banyak Lun, setelah ini kita operasi patung"


"Lagi gak selera aku Bim, buang saja lah"


Luna hanya diam tak membalas ucapan Bima. "Sudah Bim, kenyang aku" kata Luna. Karena dirasa sudah separuh dari makanan itu telah masuk ke perut Luna, Bima mengangguk setuju.


Ali datang memenuhi janjinya membantu pekerjaan Luna. Ia mengambil berkas yang ada di meja Luna. "Sudah makan Lun?" tanya Ali. Luna mengangguk. Ia menyandarkan kepalanya pada meja. "Mas, patah hati sakit ya?" tanya Luna


Ali ingin tertawa tapi ditahannya. "Nanti sembuh sendiri. Obat hati ya hati Lun, lupakan dia yang menyakiti, terima dia yang mampu memahami. Nanti akan ada masanya kamu berterima kasih pada hal ini. Karena kita hidup juga butuh seleksi. Mungkin ini cara Allah memberimu petunjuk bahwa dia bukan yang terbaik untukmu dan akan digantikan dengan yang lebih baik lagi"


Bima yang mendengarkan perkataan Ali bisa mengetahui masalah Luna. Ia bertepuk tangan dengan ucapan Ali. "Bapak duda keren kita memang selalu bijak!"


Ali tersenyum. "Bantuin sebelum operasi patung sudah harus selesai" Luna jadi terharu dengan perbuatan dua orang itu. "Makasih ya" ucapnya.


Mereka tersenyum kepada Luna. "Sama-sama"

__ADS_1


Muti datang bersama Hana membawakan makan siang untuk suaminya dan juga Luna. "Han, kita ke ruangan mbak Luna dulu deh, aku khawatir sama keadaannya" Hana mengangguk setuju.


Mereka ke ruangan Luna. "Assalamualaikum" Semua yang ada di ruangan itu menoleh. "Waalaikum salam" jawab mereka.


"Mbak Lun....." mereka berlari menghampiri Luna dan memeluk sepupu mereka itu. "Aku gak papa, kalian apaan sih? Malah bikin terharu deh"


"Beneran gak papa? Sudah makan?" tanya Hana. Luna mengangguk. Ali berdahem karena merasa tak dianggap. "Eh, Abang. Eh, kita kan gak boleh ketemu!"


"Kan kita gak sengaja ketemu, jadi boleh dong ketemu. Heheheh. Bim, kenalkan ini calon bhayangkari ku, dan itu istri komandan"


Bima hendak mengajak salaman, Ali menepis tangannya. "Gak usah salaman". Sigit muncul dari sebalik pintu. "Sayang....." teriaknya.


"Ah, suami gantengku nyusul kesini" mereka berpelukan. Membuat Luna iri. "Kalau mau romantisan jangan disini!"


"Hahaha, sudah dong Lun, lihat nih banyak yang sayang dan perhatian lho ke kamu. Jangan sedih terus ah, bukan Luna itu!" kata Sigit. Luna tersenyum.


"Makasih, aku beruntung punya keluarga seperti kalian"


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


__ADS_2