Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 97


__ADS_3

Sigit, Muti, Hana, Ali, Luna, Maryam, dan Habib sudah siap dengan perlengkapan mereka masing-masing. Mereka akan touring ke Magelang menggunakan sepeda motor.


"Lun, mas Bima mu mau mbok ajak gak?" goda Sigit saat mereka selesai fitting baju. Luna berdecak kesal.karena sedari tadi malam digoda terus menerus oleh Sigit.


Hana dan Ali yang baru tiba dari Rembang tak tahu apa-apa. "Mas Bima mu? Kamu jadian sama Bima? E.... busyet, cepet amat yak? Aku kira bakalan lama" kata Ali.


Maryam pun ikutan nimbrung. "Aku timnya mas Danang, setuju kalau mbak Luna sama mas Danang, bukan sama yang lain"


"Wes mbuh.... sak karep-karepmuuu.... Sido mangkat po gak ki? Opo aku muleh ae? Turu nang omah? (Tahu ah.... terserah kamu.... jadi berangkat apa tidak nih? Apa aku pulang saja? Tidur di rumah?)" Luna mulai ngambek dengan mereka.


"Iya iya ah, gitu aja ngambek lu! Gak asik! Sono ajakin mas Bima" kata Sigit.


"Dia habis piket Si! Biarin istirahat!"


"Cie mbak Lun.... perhatian bener. Aku sih tim ku saja, mau Bima atau Danang, ikuti kata hatimu" Muti menyemangati Luna.


"Wes lah balik wae" Luna semakin kesal dengan mereka. Membuat semuanya tertawa. "Yok lah berangkat" kata Hana.


Mereka berangkat menggunakan motor masing-masing. Muti dibonceng Sigit, Hana dengan Ali, Maryam berpasangan dengan Habib dan Luna sendirian. "Pes apes, ngintili kok yang sudah punya pasangan. Nasibmu Lun Lun" kata Luna pada dirinya sendiri.


Semuanya kembali tertawa. "Disuruh ngajak Bima gak mau, sekarang ngeluh. Piye sih? Gak jelas kamu" timpal Ali.


Motor mulai melaju pada rute. Mereka menggunakan kecepatan tinggi untuk mencapai Magelang. Sesekali berhenti untuk beribadah, makan, dan buang hajat.


Siang hari mereka sampai di Magelang. Bunda Ais dan Ayah Farid beserta saudara Habib menyambut kedatangan mereka. Habib memperkenalkan saudara-saudaranya yang kebetulan bisa pulang ke rumah.

__ADS_1


"Ini Masnya Habib, namanya Mas Hilal, dokter baru ambil spesialis bedah, dan ini adiknya Habib, namanya Humaira, dokter gigi, biasa dipanggil Humai"


Mereka berkenalan satu per satu. Mereka dijamu dengan baik oleh keluarga Habib. Mereka diantarkan Habib menuju rumah dokter Laras. Mereka melakukan sesi terapi. Luna berdiskusi bersama Sigit dan Ali. Sedangkan Maryam bersama Habib menjenguk Shanum yang masih berada di kesatuannya.


"Kemarin malam aku dikenalin cowok" Luna memulai ceritanya. Sigit berdecak. "Udah tahu kali Lun"


"Ish, jangan dipotong dulu dong Si.... Bukan Bima, namamya Arsyandi Rangga Anggoro. Dia pebisnis, dia bangun hotel di kawasan x, dan butuh pengawalan untuk mengawasi proses pembangunan hotel itu. Lahir di Jakarta, gede di Semarang, dan saat ini lagi menetap di Semarang. Kalau kemarin-kemarin di Malang. Bisnisnya ada 3 cabang katanya, Jakarta, Semarang, dan Malang. Dari ceritaku, apa yang bisa kalian tangkap?" Luna memberi teka-teki pada dua polisi itu.


"Kawasan x bukannya sepi penduduk? Ngapain dia bangun hotel di kawasan sepi begitu? Yang kedua, kok aku jadi keingat Yudi? Nama belakang sama, lahir di Jakarta besar di Semarang. Persis" terang Sigit.


Ali mengangguk setuju dengan yang diucapkan Sigit. "Jika dia pebisnis top, ngapain masih minta pengawalan? Pastinya dia sudah punya anak buah banyak dong. Apa jangan-jangan itu yanh dimaksud kakak oleh Yudi?" Sigit dan Ali menanti jawaban dari Luna.


Luna mengangkat bahunya tanda tak tahu. "Dia bilang anak tunggal"


"Jangan kakek, om Tompel saja. Kakek lagi kurang sehat. Kasihan nanti malah kepikiran. Ada baiknya juga kita minta bantuan Ayah, Papah, dan Om Raka. Kita berunding untuk mengatur strateginya" jelas Sigit. Ali dan Luna mengangguk setuju.


"Mereka kira-kira mengenali wajahnya gak ya?" tanya Luna sambil memperlihatkan foto profil Arsya.


Sigit dan Ali melihatnya. "Kita tunggu dan tanyakan pada mereka"


Luna mengangguk. Tak lama sesi terapi pun selesai. Mereka diajak berbincang-bincang dengan dokter Laras. "Tante dirumah sendirian?" tanya Muti.


"Anak-anak tante pada nyebar. Yang laki di Demak, yang cewek dokter di Jakarta, yang cewek satunya lagi guru di Jakarta juga. Yang bontot sibuk ngurusi bisnis bantu papahnya" terang dokter Laras.


Muti mengangguk. "Enak ya tante punya anak banyak? Jadi rame"

__ADS_1


Sigit terbatuk-batuk mendengarnya. "Pelan-pelan dong sayang minumnya. Tenang, gak akan ada yang minta minuman kamu" terang Muti.


Semuanya tertawa. "Git, rajin-rajin lu tengokin dia, Muti maunya anak banyak" sindir Ali.


"Saban ari, kalau bisa malah tiap jam!" jawab Sigit asal. Semuanya kembali tertawa. Hari semakin sore, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang.


"Terapi sekali lagi, habis itu selesai. Kuncinya adalah pengelolaan stress, jangan dibawa-bawa ke bawah alam sadar. Oke sayang?" Muti dan Hana mengangguk. Mereka segera berpamitan.


Habib dan Maryam menunggu mereka di rumah Habib.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip


Segini dulu ya gaes. Jadwal padat merayap. Badan alhamdulillah sudah agak fit. happy reading all

__ADS_1


__ADS_2