Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 79


__ADS_3

Mereka sudah sampai di rumah Sigit. Hana dibangunkan oleh Sigit. "Han, bangun. Bantuin buka pintu rumah. Mbak mu kalau sudah tidur susah ngebanguninnya"


Hana mengucek matanya. Dan mengangguk. Ia turun dan membuka pintu rumah. "Mas Si mau nginap sini?" Sigit mengangguk.


"Capek kalau masih harus ke rumah Muti. Subuh nanti baru pulang" Hana mengangguk dan membuka pintu kamar Sigit. "Awas kepalanya" kata Hana.


Sigit meletakkan Muti perlahan di kasur. Ia berganti baju dan ikut menyusul Muti untuk tidur. Ia tersenyum memandangi istrinya. Memeluk Muti erat. "Hmm, nyamannya seperti ini. Pengen malam terus saja, biar bisa sama dia terus. Aih, bucinku makin menjadi-jadi nih"


Muti mengucek matanya. Ia mendongak melihat Sigit sedang tersenyum dengan mata terpejam. "Mas, kita sudah sampai?"


Sigit melepas pelukannya. "Lhoh, kok malah bangun? Bobok lagi, kita di rumah kakek sayang. Mas capek kalau masih nyetir sampai rumah kamu. Besok subuh kita pulang ya? Gak papa kan malam ini nginap sini?"


Muti mengangguk. "Gak papa. Pinjem baju ke Hana saja kali ya, gerah e mas..." Sigit mengangguk. Muti beranjak dari ranjang. Memakai sandalnya dan merapikan rambutnya. "Jangan lama-lama. Mas pengen makan malam. Hehehe"


Muti menautkan alisnya dan menahan tawanya. "Siapa yang lapar? Kamu atau adikmu mas?" Sigit menunjuk miliknya. Membuat Muti tertawa. "Tunggu sebentar ya? Gak lama kok" Sigit mengangguk dan tersenyum malu.


Muti keluar dari kamar berjalan menuju kamar Hana guna meminjam baju. "Yang seksi Han" pinta Muti. Hana yang sedang memilihkan baju menoleh bingung. "Pilih sendiri deh mbak Mut, aku gak tahu ada atau tidak"

__ADS_1


Muti berjalan menuju arah lemari itu. Ia memilih piyama tidur berbentuk mini dress tanpa lengan. "Gak dingin mbak pakai beginian?" tanya Hana polos. Muti menggeleng. "Kayaknya kamu perlu shopping untuk beli yang seksi-seksi deh Han"


Hana bergidik ngeri mendengar ucapan Muti. Semakin membuat Muti senang. Muti kembali ke kamar dan berganti baju. Menyemprotkan parfum Sigit yang masih ketinggalan disana. Sigit pura-pura tidur dengan posisi tengkurap. Membuat Muti semakin senang menggodanya. "Balik badan dong sayang. Jadi gak nih?"


"Kamu lama" rengek Sigit. Muti tertawa cekikikan melihat Sigit seperti itu. Sigit berbalik menjadi posisi telentang. Muti naik di tubuhnya. "Wowowo, kamu mau yang di atas? Kamu mau coba gaya lain?"


Muti mengangguk. Ia mulai menciumi Sigit. Ciuman yang awalnya lembut sekarang menjadi panas. Muti meninggalkan banyak jejak kepemilikannya di tubuh Sigit. Hingga penyatuan itu kembali terjadi. Muti memimpin permainan itu. Sigit menikmatinya. Ia mendesah pelan. Muti mengatur tempo permainan, hingga Sigit akan mencapai puncak ia membalik posisinya. "Biar mas yang selesaikan" Tempo berubah menjadi cepat. Dan..... "Aaahhhhhhh......" lenguhan itu lolos lagi dari bibir kedua insan yanh sedang dimabuk asmara itu.


Sigit mengeluarkan miliknya, mengecup kening Muti lalu menyelimuti tubuh polos mereka berdua. "Selamat malam sayang" ucap Muti sambil tersenyum dalam pelukan Sigit.


Subuh menjelang. Sigit bangun terlebih dahulu untuk mandi. Ia bertemu dengan kakek Umang yang hendak jama'ah di masjid. "Lhoh, semalam kamj disini?" Sigit mengangguk. "Iya kek, capek. Makanya langsung tidur sini"


Kakek Umang melihat beberapa tanda kemerahan di leher Sigit. Membuatnya menahan tawa. "Sstt, berapa ronde tadi malam?" goda kakek Umang.


Sigit mendelikkan matanya karena terkejut dengan pertanyaan kakeknya. "Ka-kakek ap-apaan sih? Orang kami cuma tidur kok" kata Sigit dengan sangat gugup.


"Terus ini apa? Digigit nyamuk?" tanya Kakek Umang sambil menunjuk tanda itu. Sigit segera mendekat ke cermin. Ia lupa jika Muti melahapnya habis semalam. Ia ingin mengelak, tapi Muti sudah menjawabnya.

__ADS_1


"Iya kek, digigit nyamuk. Ailopyu namanya" jawab Muti dengan senyuman jahil dan langsung masuk kamar mandi. Kakek Umang tertawa melihat tingkah cucu dan cucu menantunya itu. "Dasar kalian. Sudah ah, kakek mau ke masjid dulu. Buruan susul sana, mandi panas" goda kakeknya lagi.


"Ih! Kakek apaan sih??" jawab Sigit dengan pipi yang sudah seperti tomat rebus.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


__ADS_2