Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 80


__ADS_3

Hari yang cerah, mereka kembali pada aktivitas pekerjaan mereka. Menggeluti dunia pekerjaan yang sehari-hari mereka lalui. Sigit tak punya cara lain untuk menutupi tanda kissmark yang dibuat oleh istrinya itu. Akhirnya ia menggunakan plester luka untuk menyembunyikannya.


Istrinya malah senang menggodanya. "Dibuka saja sayang, biar pada tahu kamu itu milik siapa"


Sigit berdecak kesal. Ia memasang muka cemberutnya. "Kamu senang ya kalau mas jadi bahan ledekan di kantor?"


"Hahahaha, kok bahan ledekan sih? Harusnya jadi trendsetter dong ya. Siapa tahu nanti teman-teman kamu semuanya pada melakukan hal sama sepertimu. Wkwkwkwk"


Sigit hanya geleng kepala mendengar penuturan istrinya. "Sudah sampai, kerja yang semangat. Jangan lupa sholat dan makan siang. Nanti mas jemput jam 4"


Muti mengangguk. "Iya, kamu juga jangan lupa sholat dan makan mas, I love you komandan tampan" Sambil menyalami Sigit.


Sigit memberikan kecupan hangat di kening dan bibir Muti. "I love you too marmut imutku. Sekarang jadi komandan tampan? Gak nyebelin dan galak lagi?"


Muti mengambil tasnya dan membuka pintu mobil. "Masih sih, tapi karena semalam aku dijamu makan malam enak makanya sebutannya berubah. Hahahah"


"Hahahah, dasar kamu ya. Mas berangkat ya yank, assalamualaikum" pamit Sigit setelah Muti turun dari mobil.


"Waalaikum salam. Hati-hati mas" Kata Muti menutup pintu mobil sambil melambaikan tangan. Mobil hilang dari pandangan Muti. Jihan datang sambil tersenyum ke arahnya. "Cie yang sudah sah jadi istri. Maaf ya, kemarin gak bisa nengokin ke rumah sakit. Kerjaanmu semuanya kan aku yang handel" tuturnya dengan wajah memelas.


Muti memeluk sahabatnya. "Kangen kangen kangeeennn..... gak papa, kamu berjasa membantu menyelesaikan pekerjaanku. Makasih Jihan sayang"


"Syama-syama" ucap Jihan menggunakan logat seperti orang China. "Eh, KaBag kita baru lho. Belum tahu kan?"


Muti menggeleng. Mereka masuk ke kantor karena sebentar lagi apel akan dimulai. "Belum, siapa namanya?"


Jihan semangat menceritakan KaBagnya itu. "Dia masih single, umurnya 38 tahun, ganteng, putih, penampilannya rapi. Aku kesengsem sama dia Tia, beneran deh! Namanya Galang Prayoga"


Muti berhenti mendadak saat nama itu disebut. Ia tak asing dengan nama itu. "Si-siapa tadi namanya?"


"Galang Prayoga. Nah itu orangnya tuh. Cakep kan?" Jihan menunjuk orang yang dimaksud. Muti langsung berbalik dan segera duduk di kursi kerjanya. Menutup wajahnya dengan buku yang ada di mejanya. Takut jika dikenali oleh KaBag baru itu.


Jihan bingung dengan sikap Muti. "Tia, kamu kenapa sih?"


"Gak papa" Galang semakin mendekat ke arah mereka. "Jihan, pegawai yang kemarin cuti sudah datang belum?"

__ADS_1


Jihan mengangguk. "Sudah pak, ini orangnya" kata Jihan sambil menunjuk Muti. Galang heran dengan bawahannya, mengapa bersembunyi di balik buku? Pikirnya.


"Tia, kasih salam sama pak Galang. Dia KaBag kita lho" Mau tak mau Muti berdiri dengan tertunduk. "Selamat pagi pak, saya Mutiara Insani, biasa dipanggil Muti"


Galang menelengkan kepalanya untuk melihat bawahannya itu. "Muti??" ucapnya kaget. "Lhoh? Bapak kenal dengan Tia?" kata Jihan.


Galang mengangguk. "Dia ini mantan pacar saya. Apa kabar kamu?" Muti mendongak tersenyum tipis. "Baik"


"Jadi kamu anak buah ku yang jadi korban penculikan? Kok bisa sih orang dewasa diculik? Ya gak kaget juga sih ya, kamu kan cantik jadi siapa saja juga bakalan nyulik kamu kalau dia udah jatuh hati sama kamu. Hehehe" jelas Galang panjang lebar. Muti hanya tersenyum cengar cengir tak jelas.


Jihan malah menjadi kesal. Hatinya panas saat Galang memuji Muti dihadapannya. "Jangan muji istri orang berlebihan pak, nanti ketahuan suaminya bisa berabe urusannya"


Galang menganga tak percaya mendengar ucapan Jihan. "Kamu sudah nikah?" Muti mengangguk. "Kok gak ngundang-ngundang sih?"


"Resepsinya nanti sekitar 2 bulanan lagi pak. Nanti saya kasih undangannya pak"


Galang mengangguk. Jihan sudah tak tahan lagi dengan keakraban mereka. Ia melenggang pergi tanpa permisi. Membuat Muti semakin canggung dengan Galang. "Apel yok, sudah waktunya nih" ajak Galang.


"Duluan saja pak, saya mau ke toilet sebentar"


"Maaf pak, kita sedang di kantor. Dan jika bertemu di luar pun saya harus tetap menghormati atasan saya. Permisi" kata Muti menuju toilet. Galang melipat tangannya di depan dada. Melihat mantan kekasihnya pergi dari hadapannya.


"Andai dulu aku serius sama kamu, pasti sekarang kita sudah menikah Muti" kata Galang. Menghela nafas dan pergi ke lapangan.


Muti keluar dari toilet dan celingukan melihat sekitar. Ia mengelus dadanya lega. "Kalau mas Si tahu ada mantan aku disini bisa roboh ini kantor. Beneran deh. Aduh, gimana ya jelasinnya?" Muti berpikir keras. "Au ah, nanti saja deh mikirnya" katanya keluar dari toulet dan pergi menuju lapangan.


.


Polres


Sigit mengikuti apel pagi seperti biasa. Kali ini ada yang berbeda. Ada penambahan 2 orang personil kepolisian. Sigit pun tidak tahu tentang hal itu.


Sigit berada di barisan paling depan. Kapolres memimpin sendiri apel pagi itu. Beliau memberi himbauan seperti biasanya. Dan mengumumkan bahwa ada personil tambahan sebanyak 2 orang untuk Polres. "Langsung saja saya perkenalkan, Ipda Ali Zayyed Abdullah dan Ipda Bima Sakti"


Sigit melotot tak percaya bahwa nama Ali yang didengarnya. Mereka yang dipanggil langsung mengambil tempat di dekat mimbar. Satu per satu dari mereka memperkenalkan diri. Luna pun tak menyangka Ali akan satu polres dengannya.

__ADS_1


Selesai apel, Luna dan Sigit menghampiri Ali di ruangannya. Ali dan Bima yang satu ruangan dengan Luna memberikan hormat kepada Sigit yang pangkatnya lebih tinggi. "Lapor, Ipda Ali dan Ipda Bima siap melaksanakan tugas!"


Sigit membalas hormat mereka. "Patroli di sekitaran kawasan kota lama sampai jalan pemuda" perintah Sigit.


"Siap! 86!" jawab mereka kompak. Luna tertawa mendengarnya. "Mas Al, kangen ih! Jahat! Pindah gak bilang-bilang. Iya kan Ndan?"


Sigit mengangguk. "Tau tuh, padalah kemarin bertemu"


"Hihihi, biar jadi kejutan to. Jangan ada yang bilang ke Hana ya? Aku mau kasih kejutan buat dia" pinta Ali. Sigit dan Luna mengangguk.


"Bim, diem bae lu. Lama gak ketemu. Terakhir ketemu dimana kita?" tanya Sigit.


"Siap! Purwodadi Ndan"


"Iya iya iya, Lun, kenalin, ini Bima. Bim, kenalkan ini Luna" Luna dan Bima berjabat tangan.


Bima terpukau oleh Luna. Entah mengapa hatinya bergetar. "Maaf, lama sekali ya megangnya. Hehehe"


"Eh, maaf bu" ucap Bima tersadar. Semua tertawa mendengar Bima memanggil Luna dengan sebutan Bu. "Panggil nama saja. Seumuran kan?" pinta Luna


Bima mengangguk. "Ya sudah, laksanakan tugas kalian. Lun, bawakan berkas penyidikan Humam dan emaknya" perintah Sigit.


"Siap!" jawab semuanya kompak.


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


__ADS_2