
Qiro'ah subuh mulai terdengar, Ali segera bangun. "Dek, sayang, bangun. Sudah subuh. Jama'ah yuk" katanya membangunkan Hana.
Hana mengangguk. "Gendong...." katanya manja sambil masih memejamkan matanya. Ali tersenyum dan menuruti permintaan istrinya. "Makin berat saja kamu" Hana langsung membuka matanya.
"Apa tadi abang bilang? Adek gendutan? Gitu maksud kamu?" Ali salah bicara. Belakangan ini Hana menjadi sensitif sekali. "Eng-enggak, Abang bilang, kamu makin berisi makin montok makin cinta deh abang sama kamu. Itu tandanya kamu bahagia hidup sama abang"
"Hilih, alesan. Orang tadi ngomongnya singkat kok, malah jadi panjang lebar" balas Hana sewot. Ali hanya tersenyum membalasnya. Maryam yang baru selesai dari kamar mandi melihat Hana digendong Ali malah iri melihatnya.
"Sopankah begitu di depan orang LDR? Ya Allah, yang salah bukan mereka.... Mataku yang selalu melihat keuwuan di rumah ini. Sib nasib orang LDR" kata Maryam sambil melenggang oergi mengambil mukenanya.
Hana dan Ali tertawa mendengarnya. Ali menurunkan Hana di depan kamar mandi. Ia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan memberikannya kepada Hana.
"Cobalah dek, Abang ingin tahu hasilnya" Hana memasang ekspresi ragu. "Coba saja" Ali meyakinkannya kembali.
Hana mengangguk lalu masuk ke kamar mandi. Ia melakukan tes urin. Menunggu hasilnya. Dan tak lama, garis itu mulai menampakkan dirinya di alat itu. Hana keluar sambil menangis.
Ali segera memeluknya. "Gak usah sedih sayang, belum rejekinya" kata Ali menenangkannya.
"Adek positif hamil sayang" Ali segera melepas pelukannya. Ia mengambil alat tes kehamilan itu dan melihatnya. Dua garis merah muncul di stik uji kehamilan itu.
Ali segera sujud syukur atas nikmat yang Allah berikan padanya. "Alhamdulillah ya Allah, terima kasih Engkau telah menitipkan amanah di dalam rahim istri hamba"
Kakek Umang yang baru akan mengambil wudhu bingung dengan kejadian itu. "Ada apa ini? Hana kenapa menangis?"
"Hana hamil kek" kata Ali segera bangkit dari sujudnya dan memeluk istrinya lagi. Kakek Umang ikut senang mendengarnya. "Barakallah nak.... alhamdulillah sebentar lagi kakek punya cicit dari kalian"
Maryam bingung. "Kenapa sih?"
"Mbakmu hamil" kata Ali lagi. Maryam tersenyum bahagia. "Alhamdulillah, bentar lagi aku jadi onty... siap-siap dipalak sama krucil nanti"
"Hahaha, masih lama kali dek...." ucap Hana. "Ya sudah, ayo subuh dulu. Kita beritahu orang tua kalian" kata kakek Umang. Mereka mengangguk dan melaksanakan sholat berjama'ah.
.
Malam menjelang, seperti rencana sebelumnya Muti dan Hana akan berada di rumah kakek. Ayah Tristan dan Bunda Tari juga menjaga mereka di rumah kakek Umang. Sigit, Ali dan Hana bersiap dengan keperluan mereka.
__ADS_1
Muti mendandani suaminya bak perempuan. Ia tersenyum geli melihatnya. "Cantiknya komandan bucin ini, aih... makin cinta aku sama kamu"
Sigit tertawa mendengarnya. "Memang kamu gak jijik?" Muti menggeleng. "Ini namanya totalitas. Sayang, nanti kamu harus hati-hati ya? Jangan gegabah, aku menunggumu"
Sigit tersenyum dan membelai pipi istrinya. "Insyaallah, doakan mas pulang dengan selamat dan berhasil mengungkap kejahatan Arsya, supaya tak ada lagi gadis belia yang menjadi korban kerakusannya akan harta"
Muti mengangguk. Ia memeluk suaminya. Sigit memeluknya erat dan mengecup puncak kepalanya. "Waktunya mepet yank, ayo pakaikan mas wig nya"
Muti melepas pelukannya dan tersenyum. Ia segera memakaikan wig rambut pada suaminya. "Foto dulu ah" kata Muti mengambil ponselnya dan mengarahkan kamera ke arahnya dan Sigit.
"Okey, mbak Sisi kerja dulu ya, tunggu eyke pulang ye sis...." Muti tertawa terbahak-bahak mendengar suaminya.
Ali berpamitan dengan istrinya. "Hati-hati ya bang, Adek dan calon buah hati kita menunggu Abang pulang" Ali mengangguk. Ia mengecup perut Hana yang masih rata itu. "Doakan Ayah ya sayang"
Luna tersenyum melihat mereka. "Jadi baper aku, bentar lagi aku jadi budhe dong! Mak... tua amat yak...." Hana dan Ali tertawa. "Makanya stop galau, terima noh si Bima" sahut Ali.
Luna memutar bola matanya malas. "Itu lagi yang dibahas. Ayolah berangkat, keburu gagal nih" kata Muti. Sigit muncul dengan memakai heels.
"Maaaakkkkk.... mbak Sisi cantik sekali.... sekarang berotot ya mbak? Hahahaha" Luna mengejek Sigit.
Sigit melenggang manja meninggalkan mereka dan mengibaskan rambutnya. Semuanya tertawa dibuatnya. Mereka berpamitan kepada keluarganya untuk menjalankan misi mereka.
.
"Pastikan semuanya lancar" kata Arsya sang tuan muda. Pengawalnya mengangguk. "Baik tuan"
"Mia, cari target baru dari petinggi-petinggi itu. Pasang umpan kita dengan sebaik mungkin agar mangsa mendekat" perintahnya pada Mia. Mia mengangguk.
Sigit dan rombongan sudah berada di lokasi. Luna melihat orang-orang Ayahnya. Ia mendekati salah satunya. "Tarik mundur semua kawanan kita, kalian akan digantikan dengan intel dan para anggota kami" Pria itu mengangguk.
"Si, segera operan anak buah, agar mereka tak curiga" Sigit mengangguk dan segera menghubungi Bima. "Rolling"
Siap! 86!
Semua sesuai waktu dan rencana. Anak buah Luna mundur dan digantikan dengan anggota kepolisian yang menyamar itu. Sigit dan Luna mengamati keadaan sekitar. Sedangkan Ali sedang mencoba mengutak-utik jaringan cctv yang ada.
__ADS_1
"Dapat!" katanya senang. Sigit dan Luna segera masuk. Mereka dicegat oleh seorang pria. "Undangan?"
"Aduh, maaf boy, I lupa.... gimana dongs?" kata Sigit manja menjadi Sisi.
"Maaf gak bisa masuk"
"Okey deh, aku pulang ambil dulu" Mereka berbalik arah mencoba mencari jalan lain. Sigit berpikir keras bagaimana caranya agar bisa masuk.
"Kita gak bisa kalau gak bawa undangan. Gimana dong Si?" tanya Luna. Sigit melihat orang-orang yang memakai kalung id card. Ia menjentikkan jarinya. "Aku punya ide. Kamu bawa pisau kecil?" tanyanya pada Luna.
Luna mengagguk. "Aku tabrak dua orang itu, kamu harus memutus tali id card mereka. Paham?" Luna mengangguk.
Sigit mulai berjalan berdampingan bersama Luna. Mereka berdua sengaja menabrak dua orang perempuan itu, dan dengan cekatan tangan mereka memotong tali id card itu tanpa membuat curiga. "Maaf ya mbak, teman saya nih kadang buta kalau lihat jalan" kata Mbak Sisi manja. Luna hanya tersenyum tak ikhlas.
"Gak papa mbak" Mereka segera bangkit dan meninggalkan dua perempuan tadi. Mereka berhasil menggunakan id card itu. Ali menghubungi Luna lewat microphone.
Sudah masuk belum? tanya Ali. Luna berdahem. "Sudah, aku akan mengarah ke laptop itu. Mbak Sisi, tolong alihkan perhatian Mia" Mbak Sisi mengangguk.
Mereka berpisah, Mbak Sisi mengalihkan perhatian Mia. "Maaf mam, Mami yang mengatur disini ya? Saya mau dong Mam jadi member disini, saya butuh uang nih Mam" kata Mbak Sisi. Mia melihat penampilan Mbak Sisi.
"Oh, tenang saja Mam, aku transgender lhoh, udah operasi itu juga biar pelangganku bisa masuk" Mia mengangguk. Ia menilai penampilan Mbak Sisi yang memang terbilang mendekati sempurna.
Sementara itu, Luna mendapatkan pengarahan dari Ali hal apa yang harus dilakukannya. Cukup singkat yang Luna lakukan. Oke, semuanya berhasil aku hack. Cepat menyingkir dari sana dan ganti penampilan kalian.
Luna mengangguk dan memberi kode kepada Mbak Sisi untuk menjauh dari Mia. Tapi Mbak Sisi tak mengindahkannya. Akhirnya ia menabrak Mbak Sisi agar bisa terjadi perkitaian kecil dan membuat mereka keluar dari sana.
.
.
.
Like
Vote
__ADS_1
Komen
Tip