
Luna memaksakan melepas pelukan itu. Ia beradu pandang dengan Danang. "Maafin aku Lun" kata Danang.
Luna mengusap air matanya. Ia mencoba mengatur nafasnya. Lalu tersenyum kecut. Ia menampar Danang dengan keras. Danang hanya diam mendapatkan perlakuan kasar dari Luna.
"Maaf kamu bilang? Apa dengan kata maaf masalah ini akan selesai? Kamu kenapa jadi orang yang sangat bodoh sih? Ha? Kenapa kamu jadi bodoh?? Atau apa disini aku yang bodoh? Masih mengharapkanmu?"
Danang diam tak tahu harus menjawab apa. Ia mencoba menggapai tangan Luna tapi Luna menepisnya. "Jangan sentuh!"
"Lun, jangan seperti ini"
"Lalu seperti apa? Siapa yang membuat aku menjadi seperti ini? Siapa??! Aku salah mengatakan jika kamu bodoh. Ternyata memang disinilah aku yang bodoh! Bodoh bisa jatuh hati sama kamu! Aku terlalu pekok untuk hal cinta mencinta! Aku pikir kamu tulus! Aku pikir kamu... Arrghhhhh" Luna berbalik dan meninggalkan Danang. Danang mengejarnya.
"Aku masih cinta sama kamu, aku gak bisa lihat kamu sama orang lain. Please, Lun, maafin aku" Kata Danang memohon sambil berjalan mundur. Luna berhenti dan bersidekap. Tanpa aba-aba, ia menendang titik vital Danang. Membuatnya meringis kesakitan.
Luna meninggalkan Danang. "Lun, Luna! Aku beneran tulus atas perasaan ini! Aku janji aku akan berjuang mendapatkan kamu lagi! Luna!"
Luna kembali turun dari rooftop itu. Ia menuju toilet dan membersihkan wajahnya. "Mbak Luna!" seru seseorang. Luna menoleh dan berteriak. "Aaaaa...... adeknya mbak beneran pulang?? Azkaaa..... mbak kangen! Katanya gak bisa pulang?"
Azka menyengir. "Ada pemotongan masa satgas, untunglah.... hehehe. Ya masa kakak kandung aku resepsi aku gak datang. Udah lah akad gak bisa datang, kan ya gak afdol juga belum kenalan sama Abang ipar dan istrinya Mas Si"
Azkania Ramadhani Atmajaya. Adik dari Hana Salma Atmajaya. Seorang kowad 1 tingkat di bawah Maryam. Azka biasa ia dipanggil, sedang satuan tugas di luar negeri.
"Mbak Luna habis nangis?" tanya Azka. Luna menggeleng berbohong. "Mata mbak kelilipan, foto sama mempelai yuk.... Maryam jahat! Masa mbak gak boleh ikut foto sama mereka coba Az"
Azka tersenyum. "Mbak Mar kan suka jahil kayak Mas Si, maklumin saja. Nih pakai make up dulu. Nanti kita foto sama-sama" Luna tersenyum dan mengangguk.
Luna dan Azka keluar dari toilet. Maryam dan yang lain sudah menunggu Azka. "Ih, mbak Lu kok ada disini lagi? Mas Danang mana?"
"Kalau aku gak boleh foto bareng kalian ya sudah, aku naik ke pelaminan sendiri" Luna sudah mulai jengkel dengan sikap teman-temannya.
Maryam takut jika Luna sudah marah. "Eee... jangan ngambek dong mbak ku sayang... Semuanya, kenalkan, ini Azka, adiknya mbak Hana" Mereka berkenalan dengan Azka.
"Yuk foto" Maryam menggandeng Habib. Begitu pula dengan yang lain. Luna menggandeng Azka. Mereka menyalami mempelai itu. Hana senang bukan main karena adiknya pulang.. Danang yang baru kembali, melihat mereka berfoto bersama. Dan ia langsung ikut menuju panggung pelaminan.
__ADS_1
Membuat semua yang ada disana menggoda Luna. "Sekali lagi godain aku turun nih!" kata Luna tegas. Membuat semuanya langsung kicep.
Mereka berfoto bersama. Tak kunjung selesai, hingga fotografer mengusir mereka karena tamu yang hadir semakin banyak.
Danang mengikuti kemanapun Luna pergi. Azka sempat heran sebelum Maryam menceritakan kejadian yang lalu padanya. "Mbak, gak kasihan itu mas nya digituin melulu?"
Luna memakan makanannya dengan sangat semangat. "Biarin! Itu hukuman buat orang kayak dia. Uhuk uhuk uhuk" saking semangatnya Luna sampai terbatuk. Danang dengan cekatan mengambilkan minum untuk Luna.
Tapi Luna tak menerimanya. Ia mengambil minuman Azka. Danang hanya bisa menghela nafasnya. Luna mencoba menu yang lainnya. "Mas.... "
"Danang, kamu adiknya Hana kan?" Azka mengangguk.
"Mas Danang, mbak Luna kalau lagi marah memang gitu. Usaha terus ya mas. Hehehe, dia luluhnya kalau sering diberi perhatian"
Danang mengangguk. "Makasih sarannya Az"
"Sama-sama. Aku tinggal dulu mas"
Hati Luna berdesir. Tapi, ia tak menanggapi ucapan Danang. Ayah Tristan mendekati mereka. "Nang" sapa Ayah Tristan.
"Eh, assalamualaikum Yah"
"Waalaikum salam" Danang menyalami Ayah Tristan. "Apa kabar?"
"Alhamdulillah baik, Ayah dan keluarga juga baik kan?" tanya Tristan. Ayah Tristan tersenyum.
"Kalau Ayah sama Bunda sih baik, tapi hati anak Ayah yang masih sakit. Hari ini obat penawar untuk rasa sakitnya datang, tapi, kenapa dia uring-uringan?" kata Ayah Tristan melihat ekspresi Luna.
Luna pergi meninggalkan mereka. Danang hendak mengejarnya tapi dicegah oleh Ayah Tristan. "Biarkan dulu. Kali ini kamu benar serius sama Luna kan? Bukan ada embel-embel lagi?"
Danang mengangguk. "Iya Yah, maafkan Danang atas kesalahan Danang dan kesalahan Mamah, Danang tahu, dan Danang sadar diri, bahwa Danang sebenarnya terlalu dalam menggoreskan luka di hati Ayah dan keluarga"
Ayah Tristan tersenyum. "Ayah sudah memaafkan kalian. Obat untuk hatinya Luna ya kamu. Pernah waktu itu Luna kami jodohkan dengan Bima, tapi, lamarannya ditolak. Alasannya saat itu adalah ia belum siap untuk membuka hatinlagi. Tapi, Ayah dan Bunda tahu bahwa bukan itu sebenarnya alasan Luna. Dia menunggu, menunggu kamu datang untuk memperjuangkan dia kembali. Jadi, lakukanlah sesuai keinginan dia. Berusahalah! Sulit, sangat sulit meluluhkan hati Luna jika sudah kecewa seprti itu, karena wataknya hampir sama seperti Ayah"
__ADS_1
Danang mendengarkan dan tersenyum. Luna memutuskan untuk menyendiri. Bima meminta ijin kepada Jihan untuk bicara dengan Luna. "Ikut mas yuk" kata Bima.
"Kemana?" tanya Jihan. Bima menunjuk Luna yang duduk sendirian dan melamun. "Jangan cemburu. Mas cuma mau menasehatinya sebagai sahabat. Boleh kan?" Jihan tersenyum dan mengangguk.
Mereka menghampiri Luna dengan membawa eskrim di tangannya. Jihan memberikannya pada Luna. "Eh"
"Kenapa melamun? Danang mana?" tanya Bima. Membuat Luna berdecak sebal. Ia memakan eskrim itu dengan cepat.
"Ilang!!" jawab Luna judas.
Bima menggeplak kepalanya. Membuat Luna makin kesal. "Mulut mu itu lho! Kalau dia beneran ilang lagi mau kamu? Dasar! Kepala batu! Buang jauh-jauh gengsi kamu. Jangan terus menerus menyakiti hati kamu sendiri Luna"
Luna hanya diam tak membalas ucapan Bima. Jihan ikut nimbrung dalam percakapan itu. "Mbak Luna, sebenarnya gimana sih perasaan mbak Luna sama Danang?"
"Gak gimana-gimana. Biasa aja"
"Bisa dong yang biasa itu dijadikan yang teristimewa?? Jujur dari hatimu sendiri mbak. Karena saat ini mbak Luna sedang membohongi diri sendiri"
Luna hanya tersenyum. "Aku balik duluan deh, capek" Bima dan Jihan geleng kepala dengan sikap Luna.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1