
Lebaran pun tiba. Muti memutuskan menemani Sigit tetap di Semarang, hingga jadwal piketnya agak longgar dan bisa ditukar. Mamah Anin dan Papah Bagas memutuskan untuk mudik ke Semarang, karena masih ada kakek Umang orang tua angkat mereka.
Begitu pula dengan Papi Raka dan Mami Salma. Mereka pun ikut pulang ke Semarang, karena tak memungkinkan bagi Hana dan Ali mudik ke Kalimantan, sebab tugas negara dan kondisi Hana yang sedang hamil.
Ayah Indra dan Mimi Amira pulang ke Magelang, dan rencananya akan singgah sebentar di Semarang. Semuanya berkumpul di kediaman kakek Umang.
Muti dan Sigit masih dirumah mereka. Sigit membersihkan rumah dan Muti memasak. Sekarang, ia sudah bisa mencium bau nasi ataupun ikan yang amis.
Bedhug maghrib terdengar, mereka segera berbuka puasa. Menunaikan sholat maghrib berjama'ah. Belum terdengar gema takbir, itu karena mereka masih menunggu keputusan dari pemerintah.
Sigit menghidupkan televisi dan duduk bersama sang istri. "Yank, Om Tompel kasih libur saja, kasihan. Nanti kalau kamu pas piket malam biar aku ke rumah kakek" kata Muti. Sigit mengangguk. Ia memanggil om Tompel.
"Ini uang sakunya om, biar om juga bisa kumpul sama anak istri, saya beri libur 1 minggu" tutur Sigit.
"Alhamdulillah, makasih bos. Ini uangnya tidak usah, Om masih punya uang"
Muti dan Sigit tersenyum. "Jangan ditolak. Itu rezeki untuk anak-anak om. Oh ya, ini bingkisan buat tante, cuma roti dan sirup. Dibawa ya Om" kata Muti.
Om Tompel mengangguk. "Alhamdulillah, terima kasih bos. Nanti yang jaga nyonya bos siapa kalau saya libur?"
"Hahaha, om lupa saya anak siapa? Gini-gini saya sabuk hitam lho om" Muti membanggakan dirinya. Om Tompel tersenyum. "Om tenang saja, nanti saya ke rumah kakek kan bisa, Ayah juga mau kesini kok nanti lebaran hari ke 3"
Om Tompel mengangguk. Ia berpamitan. "Maaf lahir batin pak bos nyonya bos. Kalau saya ada salah baik disengaja maupun yang tidak saya sengaja, baik yang terucap maupun tak tidak, mohon dimaafkan"
"Sama-sama om, kami juga mengucapkan taqabbalallahu minna wamin kum, taqabbal yaa kariim. Minal Aidzin wal faidzin maaf lahir bathin om" Sigit mencium tangan Om Tompel dan memeluknya. Orang asing yang sudah seperti keluarga dekat.
"Muti juga mohon maaf lahir bathin ya om, kalau selama ini Muti selalu menyusahkan om Tompel. Hati-hati di jalan om, salam untuk semua keluarga. Kabari kami jika sudah sampai rumah" tutur Muti mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
Om Tompel bergegas pulang ke rumah. Adzan isya' berkumandang dan pemerintah resmi menetapkan bahwa besok adalah hari raya idul fitri. "Alhamdulillah, sholat dulu yuk yank" Sigit mengajak istrinya sholat berjama'ah.
Selesai sholat Muti sungkem terhadap suaminya. "Mas, maaf lahir bathin ya sayang. Maafin aku kalau selama ini pernah ada salah sama kamu, maaf jika belum bisa menjadi istri yang sempurna untukmu, maaf kalau huhuhu.... hiks" Muti menangis. Sigit mengecup keningnya.
Menghapus air mata Muti dan tersenyum. "Mas sudah memaafkan kamu sebelum kamu minta maaf, kamu istri paling sempurna bagi mas, mohon maaf lahir bathin juga sayang. Kalau mas ada salah sama kamu tolong dimaafkan"
Muti mengangguk dan mencium tangan Sigit. Mengecup kening suaminya dan menghujaninya dengan ciuman. Begitu pula yang dilakukan Sigit.
__ADS_1
"Sudah jangan cengeng. Ke rumah kakek yuk? Kita tidur sana. Nanti pasti ada takbir keliling"
Allahu akbar... Allahu akbar.... Allahu akbar.... Gema takbir berkumandang riuh di lingkungan rumah Muti. "Video call Ayah dulu yank, aku kangen sama beliau"
Sigit mengangguk. Ia melakukan panggilan video call dengan Ayahnya. "Assalamualaikum"
"Waalaikum salam, taqabbalallahu minna wamin kum, taqabbal yaa kariim. Minal aidzin wal faidzin maaf lahir dan bathin Yah, Mi, mbak Shanum"
"Maaf lahir bathin juga untuk mantu kesayangan dan putri kesayangan Ayah, kenapa nangis itu?" tanya Ayah Indra.
"Biasa, kangen katanya sama Ayah"
Ayah Indra tersenyum. "Tunggu ya, Ayah nanti lebaran 3 di Semarang"
Muti mengangguk. "Maaf lahir bathin ya Yah, Mi, Shan, hiks.... huhuhu. Muti dulu bandel sama Ayah, sekarang jauh dari Ayah beda banget rasanya. huhuhuhu"
"Ayah juga minta maaf lahir bathin ya nak... Ayah juga dulu keras sama kamu. Sudah, tenang, sudah mau jadi ibu masa masih cengeng?"
"Ya tetep aja Yah, terharu" timpal Shanum. "Buruan pada kesini. Muti kangen kalian semua"
Mereka mengangguk. Muti mematikan video call itu. Segera bersiap dan bergegas ke rumah kakek. "Nanti disana jangan nangis lagi" kata Sigit sambil mengemudikan mobil.
"Ya gimana dong? Kan terharu sayang"
Mereka telah sampai di rumah kakek. Ali dan Hana baru saja turun dari mobil. Entah dari mana mereka. "Dari mana?" tanya Sigit.
"Ini, beli mercon buat orang ngidam. Dibelikam kembang api gak mau, maunya yang besar lagi"
Muti dan Sigit tertawa mendengarnya. "Ada-ada saja" jawab Sigit.
Mereka masuk. Menyalami satu per satu orang yang ada di rumah. "Ayo pada sungkem" kata Mamah Anin. Kakek Umang duduk di kursi, Mulai dari Ayah Tristan, Bunda Tari, Papah Bagas, Mamah Anin, Papi Raka, dan Mami Salma melakukan sungkem. Dilanjut dengan Luna, Sigit, Muti, Hana, Ali, dan Maryam.
"Sedaya lepate nyuwun agunging pangapunten, Yah. Maafin Anin kalau belum bisa jadi anak yang berbakti sama Ayah. Belum bisa merawat Ayah, huhuhu" Mamah Anin menangis sambil memeluk kakek Umang.
"Sudah, Ayah sudah memaafkan kamu. Jangan cengeng. Mau punya cucu juga, sudah, Ayah sayang sama kalian semua. Kalian keluarga terakhir Ayah" balas kakek Umang. Tiba giliran Maryam sungkem dengan kakaknya.
__ADS_1
"Bang, maafin Maryam kalau punya salah. Salahnya abang sudah tak maafin kok" kata Maryam sungkem dengan Sigit.
"Iya, abang maafin, jadi anak baik ya dek, bentar lagi jadi istri orang, jadi jaga sikap. Hormat sama suami, layani suami dengan ikhlas"
"Nggih kanjeng raden ningrat Sigit" katanya sambil mengedip-edipkan mata.
"Sudah sana" Sigit mengusirnya untuk sungkem kepada Muti.
"Angpau...." rengeknya. Semuanya tertawa. "Lhaaaahhhh.... Luna gak mbok mintain kok Abang mbok palak?" protes Sigit.
"Lhah, adik situ pak! Bukan adik saya! Bener Maryam lah minta angpaunya ke lu Si!" jawab Luna
"Haish..." Sigit mengeluarkan dompetnya dan memberi Maryam uang 500 ribu. Maryam tersenyum sumringah dan memeluk kakaknya. "Memang Abang ku nih paling royal daaah.... hihihi" Semuanya tertawa dengan tingkah Maryam.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
Disini udah lebaran ya gaes.... hihihi. Nanti lagi yak? Othor nyambi laporan bulanan.
Oh ya, karena vote judul lebih banyak ke yang nomor dua, jadi karya othor selanjutnya adalah
"Pelabuhan Hati Si Kembar 4"
Nantikan ya...... Release kalau ini sudah end. Happy reading semua..... 😘😘😘😘
__ADS_1