Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 92


__ADS_3

Adzan subuh berkumandang, Sigit dan Muti sudah selesai bersuci. Mereka bersiap untuk sholat berjama'ah. Sigit menjadi imam. Mereka menunaikan kewajiban mereka sebagai umat Islam. Selapas sholat seperti biasa, Muti dan Sigit tadarusan bersama.


Muti sudah selesai memasak, lanjut mandi dan berdandan. Ia melihat suaminya masih sit up di dekat dapur. "Mas, nanti sore aku mau shopping sama Jihan, beli hijab dan pakaian panjang. Boleh kan?" Muti meminta izin kepada suaminya yang sedang olahraga sit up itu.


"Boleh, hanya sama Jihan kan? Pulangnya langsung ke rumah kakek saja. Hana sama Ali ke Rembang. Cuma ada Maryam"


"Siap Ndan! 86!" Sigit mengakhiri sit up nya. Ia bangun dan menghampiri istrinya yang duduk di kursi meja makan. Ia mencium bibir Muti. "Service dulu dong suaminya"


"Ih, nanti malam saja to mas, waktunya sudah mepet lho. Sudah hampir setengah 7, air hangatmu sudah aku siapkan. Buruan mandi"


Sigit malah menggelendot manja di pundak Muti. "Mas..... sana mandi ah, buruan. Habis itu sarapan. Perut aku sudah lapar ini"


"Iya-iya. Pelit! suami minta jatah gak dikasih" katanya protes. Muti menahan tawanya. Heran dengan suaminya yang tak pernah puas bercinta dengan dirinya.


"Kamu yang aneh, orang waktunya siap-siap kerja eh dia minta jatah. Nanti malam kan masih ada waktu to sayang"


Sigit berbalik dan mendekatkan wajahnya ke Muti. "Nanti malam 5 kali" lalu berlalu ke kamar mandi. Muti hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.


"Dasar bucin!"


Mereka sarapan bersama. Menikmati menu makanan yang tersedia. Waktu terus berputar, Sigit dan Muti berangkat ke kantor bersama.


"Kamu sama Jihan sudah baikan?" tanya Sigit mengingat cerita terakhir istrinya yang mengatakan bertengkar dengan Jihan. Muti mengangguk.


"Dia itu naksir sama pak Galang, nah sedangkan pak Galang kemarin itu malah sibuk merespon aku. Jadinya cemburu deh" jelas Muti


"Gantengan mana aku sama si Galang Galang itu?" tanya Sigit mulai tak bersahabat. Muti menoleh dan memperhatikan ekspresi wajah Sigit yang sudah berubah. Ia tahu jika suaminya cemburu.


"Gantengan kamu lah, hebat kamu, pokoknya kamu yang lebih-lebih deh!" puji Muti mencoba menenangkan suaminya. Sigit mengangguk-anggukan kepalanya


"Oke, berarti nanti mas mau turun, antarkan kamu sampai ruanganmu. Mas pengen lihat dia kayak apa. Dulu kenapa kamu bisa putus sama dia?" tanya Sigit penasaran.


"Ngapain turun sih? Gak usah turun sayang, nanti kamu bisa telat ikut apelnya. Dia itu playboy makanya aku putus sama dia!" terang Muti. Membuat Sigit tertawa.


"Pas lah, playgirl.dapat playboy. Hahaha, gak! Pokoknya aku mau turun"

__ADS_1


Muti memanyunkan bibirnya kesal. "Kalau dulu aku sama dia, kamu sekarang gak mungkin jadi suamin aku dengan tingkat kebucinan di level dewa!"


"Iya juga ya? Berarti aku harus terima kasih sama dia yank, karena playboynya kamu gak jadi istri dia" Muti semakin kesal dibuat oleh Sigit. Ia memukul lengan suaminya itu berulang-ulang.


"Hahahaha, gemes banget sih....." Sigit mencubit pipi Muti. Ia membelai rambut Muti. "Mas sayang sama kamu, mas gak pengen kamu ada yang gangguin, makanya mas mau ngasih tahu itu si Galang, biar dia juga tahu posisinya. Dari cerita kamu saja sudah bisa kebaca gimana dia merespon kamu"


Muti menggeleng-gelengkan kepalanya. "Terserah kamu saja lah mas, memang susah ngumpetin sesuatu dari intel. Semuanya bakalan ketahuan" kata Muti membuat Sigit semakin tertawa.


Muti telah sampai di kantor. Sesuai.perkataan Sigit, ia mengantarkan istrinya masuk ke dalam kantor. Disana Jihan sedang berbincang dengan seseorang, yang diyakini Sigit, itu pasti orang yang bernama Galang.


"Itu suaminya Muti?" tanya pak Galang kepada Jihan. Jihan hanya mengangguk. Ia malas berbicara dengan Galang karena sedati tadi yang diceritakan adalah tentang Muti.


Sigit dan Muti sudah sampai di meja kerja Muti. Muti menyapa Jihan dan pak Galang. "Pagi Jihan, pagi pak Galang" Sigit melemparkan senyum pada mereka.


"Kenalkan pak, ini suami saya" Muti memperkenalkan Sigit kepada Galang. Sigit mengulurkan tangannya dan disambut oleh Galang.


Sigit mengeratkan genggamannya. Membuat Galang meringis kesakitan. "Senang bisa berkenalan dengan anda, sadari posisi anda di kantor ini. Jangan mempermalukan diri anda sendiri. Muti sudah sah menjadi istri saya, jiwa dan raganya sudah terikat menjadi satu bersama saya. Jadi, jaga batasan anda dalam memperlakukan istri saya"


Muti dan Jihan tak menyangka jika Sigit akan melakukan hal itu. Tapi, mereka juga setuju dengan tindakan Sigit. Sigit melepaskan genggaman tangannya. "Jihan, gak usah cemburu-cemburu lagi sama Muti, dia itu gak akan tergoda sama cowok selain suaminya sendiri. Jaga persahabatan kalian" tegas Sigit.


Jihan mengangguk. Galang hanya bisa diam tak bisa membalas kata-kata Sigit. "Ya sudah yank, mas ke Polres dulu. Kalau ada yang gangguin kamu lagi di kantor ini, telpon mas"


Wajah Muti merona dibuatnya. "Semangat kerja istriku, I love you sayang. Nanti siang, mas jemput buat makan siang bareng. Daahhh.... Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab Muti malu-malu. Sigit meninggalkan kantor Muti. Jihan dan pak Galang masih bengong.


"Jihan, ayo apel, sudah waktunya nih" kata Muti. Jihan tersadar dari lamunannya dan mengangguk. "Suami kamu romantis banget! Sumpah! Aku iri lihat kalian bermesraan!" kata Jihan. Muti hanya tersenyum. Mereka menuju lapangan meninggalkan Galang yang masih diam membeku di ruangan itu.


.


Sigit sudah sampai di polres dan bampir saja telat mengikuti apel pagi. Selesai apel dirinya menghampiri Luna. "Bengong bae lu! Sudah sarapan belom?"


Luna berdecak kesal. "Sudah, ngapain sih?"


"Gak papa, ngecek keadaan kamu saja. Danang gak usah terlalu dipikirkan lah. Life must go on Lun"

__ADS_1


Luna memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya di kursi. "Ngomong sih gampang Si, nyatanya? Bisa gak sih alu ngajuin pindah?" tanya Luna.


"Ngapain sih pakai acara pindah? Lebay lu! Gak ada!" Sigit mengeluarkan coklat dari saku celananya. Luna tersenyum mendapatkannya.


"Baiknya sepupu aku! Makasih yak? Maryam ngajak aku riding ke Magelang, sekalian mau ke rumah Habib katanya"


"Kapan?"


"Besok" jawab Luna singkat. "Jangan besok dong! Sekalian saja waktu Muti dan Hana terapi"


"Ngomong sendiri sama Maryam. Ngebet naget tu anak mau ke Magelang"


Sigit mengangguk. "Bima apa kabar Lun?" tanya Sigit tetiba. Luna mengerutkan alisnya. "Maksudnya?"


Sigit berdecak. "Gak peka banget sih lu! Bima itu naksir sama kamu!"


"Sok tahu!"


"Yeeee.... dibilangin gak percaya! Tanya sana sama Ali kalau gak percaya aku"


Luna beranjak dari kursinya dan meraih coklat itu. Meninggalkan Sigit. "Mau kemana lu? Gak sopan komandannya masih disini juga!"


"Mau ambil berkas kasus tilang Ndan.... Piye! Opo aku gak usah kerjo? Leyeh-leyeh wae ngono? (Mau ambil berkas kasus tilang Ndan... Gimana! Apa aku gak usah kerja? Santai-santai saja begitu?)"


Sigit tertawa mendengarnya. Ia membiarkan Luna melenggang pergi. "Semoga hatimu segera sembuh Lun" katanya.


.


.


.


Like


Vote

__ADS_1


Komen


Tip


__ADS_2