
Malam itu, suasana bulan suci ramadhan begitu terasa. Hawa dingin menyelimuti suasana kala itu. Muti dan keluarganya melakukan shalat tarawih di masjid dekat rumah mereka.
Ayah Indra dan Mimi Amira masih di Semarang. Muti bertadarus bersama dengan Sigit. "Lebih panjang bacanya yank" Sigit membenarkan bacaan Muti.
Ayah Indra tersenyum gembira melihat anak dan mantunya saling belajar. "Adem ya Yah lihat mereka rukun seperti itu" kata Mimi Amira. Ayah Indra mengangguk.
"Sekarang tinggal Shanum dan Hamka. Semoga mereka nanti juga seperti Sigit dan Muti yang selalu saling bimbing" imbuh Mimi Amira.
"Aamiin, Abang lihat Hamka itu anaknya meskipun konyol dan suka bercanda, tapu dalam hal pekerjaan bisa diandalkan. Lihatlah, dia menjadi orang kepercayaan dari Kapolda. Itu yang bisa kita jadikan patokan, ia akan selalu bertanggung jawab terhadap Shanum"
"Aamiin, semoga saja begitu" Muti selesai bertadarus. Ia menyalami Sigit. Sigit mengecup kening Muti. Lalu beralih ke perut Muti. Mengecupnya dan mengelus-elusnya.
"Sayangnya papah lagi apa?" tanya Sigit. "Lagi pengen makan buah seperti kemarin pah" jawab Muti. Sigit segera bangkit dan menuju dapur.
Muti tersenyum bahagia melihat suaminya sangat perhatian padanya. Ia duduk bersama Ayah dan Miminya. "Besok kamu ikut puasa?" tanya Mimi Amira. Muti mengangguk mantap.
"Ikut Mi, Muti pengen anak dalam kandungan Muti juga ikut tirakat. Biar nanti gedenya bisa hafal qur'an seperti papahnya, sholat fardhu maupun sunnahnya juga rajin. Makasih ya Yah, sudah memilihkan dan mengirimkan jodoh terbaik dari Allah untuk menjaga Muti"
Ayah Indra tersenyum. "Sama-sama sayang. Orang tua akan memilihkan yang terbaik dari yang paling baik untuk anaknya"
Sigit datang membawa buah potong pesanan Muti. "Nih"
"Suapin....." Ayah Indra dan Mimi Amira tersenyum geli melihat Muti yang manja begitu. Sigit telaten sekali mengurus istrinya. "Kamu gak pengen sesuatu gitu nduk?" tanya Mimi Amira. Muti menggeleng.
"Gak Mi, tapi, Muti belum bisa makan nasi, ikan, ataupun telur. Baunya aneh" Ayah Indra mengerutkan keningnya. "Persis seperti ibumu dulu. Nasi gak masuk sama sekali sewaktu trimester awal. Ikan pun, hanya bisa makan tahu, tempe, dan kentang" tutur Ayah Indra.
"Lha terus nanti kamu sahurnya pakai apa?" tanya Mimi Amira. "Sigit sudah siapkan roti gandum kesukaannya Mi, lauknya ya itu tadi yang disebutkan Ayab, tempe dan tahu" jawab Sigit.
"Kuat gak nanti kalau cuma makan roti?" Muti tersenyum. "Coba dulu ya Mi, Muti ingin berusaha dulu" Semuanya mengangguk setuju.
Ponsel Mimi Amira berdering. Panggilan video dari Shanum. Mimi Amira mengangkatnya. "Assalamualaikum sayang"
"Waalaikum salam Mimi, Mimi masih di Semarang?" Mimi Amira mengangguk. "Oh, ya sudah, Shan lagi sama Bang Hamka nih Mi, dia main ke Magelang"
"Oh ya? Alhamdulillah kalau ada waktu untuk kalian bertemu. Mimi lagi sama Ayah, Muti dan Sigit. Ini saudaramu lagi hamil tapi puasanya semangat banget. Mimi salut sama dia"
"Mana Mi? Shan mau ngomong sama mereka berdua" Mimi Amira menyerahkan ponselnya pada Muti. "Hai Shan"
__ADS_1
"Hai hai.... Bener mau puasa? Calon ponakan aku kuat gak?"
"Doain kuat dong! Emang Bang Hamka?? Rindu dikit jadi oleng???" Jawab Sigit. Shanum dan Hamka tertawa.
"Iya calon ponakan gua kuat. Yang gak kuat itu bapaknya!" Balas Hamka. Membuat Muti dan yang lain tertawa. Sigit malu bukan main. "Lu suka bener sih bang jatuhin gua!"
"Lagian lu aneh! Bini lagi bunting masih..... saja mikir jatah! Rapel nanti rapel!"
"Kalian ini memang ya? Gak ada habisnya kalau ngomongin yang begituan" timpal Muti. "Shan, kapan IB? Bukber yuk...."
"Lhah..... ini lagi, puasa juga belum udah ngajakin bukber!" balas Hamka.
"2 minggu lagi IB. Aku juga udah janjian sama Maryam dan Habib kok. Nanti kita kumpul semua yuk....." kata Shanum. Muti mengangguk setuju. "Siap! Tak buat jadwalnya mulai sekarang" jawan Muti semangat.
"Jagain calon ponakanku bener-bener lho ya?? Mas Si..... Puasa harus lebih sabar, lebih tahan godaan.... Hahahah"
Sigit tertawa mendengarnya. "Gak janji lah aku Shan. Ada kesempatan langsung tak mainin dah"
Semuanya kembali tertawa. "Dasar Sisi somplak!" ucap Hamka. "Balik lu bang! Bahaya lu disana... Dikira kingkong beneran dimasukin kebun binatang Gembiro Loka lho!"
"Ooooo..... calon ipar sialan!" Semuanya tertawa mendengar umpatan Hamka kepada. "Ya sudah, kami tutup dulu ya telponnya. Kami mau kencan dulu sebelum besok puasa. Dah semua.... Salam buat Ayah. Assalamualaikum" Shanum mengakhiri panggilan itu.
.
Hamka sedang mengajak Shanum makan malam lesehan di warung makan Lamongan. "2 minggu lagi Abang jemput kamu kesini ya? Kan katanya mau bukber" Kata Hamka sambil menyuapi Shanum. Shanum mengangguk. "Boleh bang, tapi memang abang kosong jadwalnya?"
"Gampang lah nanti, abang bisa tukar dengan rekan. Beb, orang tua Abang nanti datangnya setelah lebaran. Gak papa kan? Kamu gak marah kan?" Shanum tersenyum.
"Kenapa harus marah? Gak papa lah bang. Tanggal berapa? Nanti biar Shan bilang sama Mimi dan Ayah. Ke Magelang kan?"
"Iya lah bebeb ku sayang.... sekitar minggu kedua setelah lebaran"
"Abang gak pulang ke Aceh?" Hamka menggeleng. "Kena tugas ngepam beb. Kamu juga gak?" Shanum menggeleng. "Gak bang"
"Ohh.... kalau pas libur, mau nemenin Abang ngepam?" Shanum mengangguk. "Mau lah abangku sayang....."
Hamka tersenyum mendengarnya. "Udah kenyang bang" kata Shanum menolak suapan dari Hamka.
__ADS_1
"Abang mau tanya serius sama kamu" Shanum meminum es tehnya. "Apa?"
"Kamu gak malu dengan fisik abang yang gede begini?"
Shanum malah tertawa mendengarkannya. "Itu bukan gede sayang, isinya otot semua lho ini"
Hamka tertawa. "Beneran?"
"Iyalah abang, Shan gak pernah mandang orang dari fisik ataupun materi. Karena bagi Shan, yang paling penting adalah hati. Hati abang begitu tulus. Itu yang membuat Shan mau tanpa ragu saat Abang bilang mau memperistri Shan, ngajak ke Aceh, meskipun gak seromantis yang lain, tapi Shan bersyukur punya Abang. Yang selalu perhatian sama Shan, selalu ada waktu buat Shan. Itu semua berharga untuk Shan sayang. Karena kita juga tahu, resiko pekerjaan kita seperti apa. Yang utama adalah NKRI"
Hamka tersenyum gembira mendengar penuturan dan cara Shanum memandang dirinya. "Bersyukurnya abang punya kamu, kalau begitu, nambah lagi boleh?" katanya sambil menyengir.
Shanum tertawa. "Boleh, boleh kok, asal nanti harus habis lho ya?" Hamka mengangguk bersemangat.
Makan malam pun berakhir. Hamka mengantarkan Shanum ke Batalyonnya lagi. "Pulang ke hotelnya hati-hati. Kabari Shan kalau sudah sampai"
Hamka mengangguk. Ia mengecup punggung tangan Shanum. "Selalu rindukan abang, karena Abang selalu begitu merindukanmu"
"Aaaa.... so sweet.... Teddy bear ku bisa romantis juga? Hahaha. Pasti bang, Shan selalu merindukan abang setiap saat. I love you Abang Hamka ku sayang"
"I love you too kowad manis... Buruan masuk gih, nanti abang telpon lagi"
Shanum mengangguk. Ia menyalami Hamka. Hamka mengecup keningnya. "Buat sangu bobok. Daaah"
Shanum terrsenyum. Lalu masuk kembali ke batalyon. Hamka melajukan mobilnya kembali ke hotel.
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip