Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 77


__ADS_3

Siang menjelang, Muti dan Sigit menjemput Hana di rumah sakit. Mereka akan pergi ke Ambarawa untuk terapi dengan dokter Laras. Hana sudah berada di dalam mobil.


Sigit segera melajukan mobilnya menuju Ungaran untuk menjemput Ali. "Han, gimana kemarin nikah kantornya?" tanya Muti.


"Untung aku hapalin benar-benar mars bhayangkari mbak. Aku disuruh nyanyi itu" kata Hana menggebu-gebu. Muti menoleh. "Mosok?" tanyanya tak percaya.


"Iya, mbak Muti kemarin gak begitu?" Muti menggeleng. Sigit menahan tawanya. "Iya laah.... Mbak Muti kan anak panglima. Pasti beda to yo" imbuh Hana.


Muti tertawa. "Apa urusannya? Beda kali Han, tapi untung deh aku gak disuruh ngapa-ngapain. Bisa batal nikah aku Han kalau sampai kemarin pengajuan nikah kantor gagal. Secara ya, aku nikah kantor tuh gak tahu apa-apa"


"Bejomu mbak.... Mas, kata bang Ali, nanti gak usah masuk polres. Dia nunggu di pos" ucap Hana sambil melihat ponselnya. Sigit mengangguk.


Muti iseng ingin tahu kelancaran hubungan Hana dengan Ali. "Han, sudah pernah ngapain saja sama mas Ali?" goda Muti. Sigit reflek menjewer telinga istrinya.


"Nakal ya tanyanya begitu? Jangan ajari Hana hal aneh yang kamu lakuin ke mas!" kata Aigit tegas. Hana dan Muti tertawa bersama.


"Kita kan cuma godain, kalau kalian, para lelaki tergoda berarti iman kalian gak bakoh!" jawab Muti. Sigit geleng kepala mendengarkan ucapan istrinya.


"Han" kata Muti lagi. "Apa mbak iparku?"


"Sudah ngapain saja?"


"Gak ngapa-ngapain mbak. Bang Ali lempeng noh kayak suamimu" jelas Hana. Muti masih mencecar pertanyaan kepada Hana. Sigit hanya geleng-geleng mendengarnya.


Tak lama mereka sampai di Ungaran. Ali langsung menuju mobil ketika melihat mobil Sigit berhenti di depan gerbang polsek. Ia mengenakan kaos hitam. Senada dengan Sigit.


Membuat Hana terpana. Muti dan Sigit yang melihatnya tertawa cekikikan melihat ekspresi Hana. "Aduh mama e.... ada cowok baju hitam.... bikin aku tergoda.... Hahahahaha. Cie Hana terpesona cie....." goda Sigit. Ali tersenyum mendengarnya.


"Apaan sih lu Si! Buruan jalan! Bisa kena macet nanti kita di Banaran" Ali membela Hana. Ia mengeluarkan sandwich yang ia buat tadi di dapur Polsek. "Dek, mau?" tanya Ali.


Sigit dan Muti saling toleh. "Cie..... Ahahaha, adek abang cie...."


"Hish! Ini anak ya! Itu panggilan sayang ku ke dia!" Ali menahan malunya. Hana mengambil sandwich itu dengan wajah merona. "Makasih bang"


"Hana doang yang dikasih? Muti gak dikasih nih mas?" tanya Muti kepada Ali. "Minta sama Sigit dong Muti, waaahhhh.... suamimu gak romantis banget sih..." ejek Ali.


"Tau tuh, Mas Si kan memang gak pekaan" bela Hana kepada Ali. "Acieciecie.... saling membela dong ya? Hahaha, jadi kapan nikah agamanya?" tanya Muti.

__ADS_1


"Hari ini surat pindah nikahku baru jadi, nunggu sampai di rumahmu Si. Dek, nanti kalau ada paketan ya?" Hana mengangguk.


.


Mereka samoai di Ambarawa. Dokter Ais menemui mereka di rumahnya, lalu mereka melakukan sharing seperti sebelumnya. Pak Duta mengobrol dengan Sigit dan Ali. Hingga sharing itu selesai. Mereka langsung pamit pulang.


"Mas, nanti kencan yuk. Ya ya ya?" rengek Muti. Sigit mengangguk.


"Mau kemana?" tanya Sigit pada istrinya. Muti mencari referensi yang ada di internet lalu menunjukkannya pada Sigit. "Camping hill efrata"


"Sebelah mana tuh Al?" tanya Sigit yang tak begitu hafal dengan tempat wisata di Ungaran. "Siroto" kata Ali singkat. Sigit mengangguk.


"Aku gak ikut lah, aku pengen tidur beneran" kata Hana.


"Ya sudah Han, nanti kamu tunggu kami di rumah dinasnya Ali saja dulu. Kami gak lama kok. Cuma pengen melepas penat. Capek juga habis masuk alam bawah sadar tadi" jelas Muti. Hana mengangguk.


Hana dan Ali turun di rumah dinas, sedangkan Muti dan Sigit langsung menuju tempat wisata itu. Camping hill efrata.


Muti membaca informasi tentang tempat wisata itu. Ia terkejut dan membelalakkan matanya ketika membaca jam buka dan tutupnya tempat itu. "Ehm.... mas..... kita gak usah ke camping hill efrata deh, lain kali saja"


"Gak papa, kasihan Hana sendirian di rumah dinas nungguin kita"


"Ha? Alasan kamu kok aneh sih sayang, Hana gak sendirian. Hana lagi sama Ali. Lupa kamu? Kenapa sih?" Sigit merebut ponsel Muti. Ia memindahkan kemudinya menjadi otomatis. Sigit membaca artikel itu.


"Astaghfirullahal adzim, kamu ngerjain mas ya?" Muti menyengir. Ia menggeleng. "Gak sayang, aku gak ada niatan ngerjain kamu"


"Ya terus sudah tahu tutup kenapa masih mau kesana?" tanya Sigit kesal.


"Maaf, aku gak baca jam buka dan tutupnya. Hehe. Ayok balik saja ke rumah dinas mas Ali" Sigit berdecak dan memutar balik mobilnya kembali ke rumah dinas Ali.


Sedang di rumah dinas itu, Hana tidur di sofa. Ali sedang mandi. Tak lama Ali keluar, melihat Hana tertidur pulas. "Dek, pindah di kamar abang sana" ucap Ali menyuruh Hana pindah. Hana menggeleng malas.


"Sudah PeWe bang" Ali tersenyum dan mengacak-acak rambut Hana. "Ih abang....." Ali duduk di depan Hana.


"Capek banget kayaknya? Pasien banyak?" Hana mengangguk. Ali memperhatikan wajah Hana dan tersenyum. "Ih abang.... jangan melihat adek begitu" Ali tertawa.


"Tidur kok masih tahu diperhatikan. Tidur apa melek sih?" tanya Ali. Hana tersenyum sambil merem.

__ADS_1


"Adek gak bisa tidur kalau dilihatin abang begitu"


Ali tersenyum. "Melek dong dek, ngobrol yuk. Baju akad mau beli atau sewa?" Hana membuka matanya dan merapikan rambutnya dengan karet kuncir. Ia duduk di bawah bersama Ali.


"Sewa saja gak papa bang" kata Hana. Ali mengambil karet kuncir itu. Membuat Hana heran dengan sikap Ali. "Makin cantik kalau rambutnya digerai. Apalagi nanti cuma diperlihatkan sama abang doang"


Hana tersenyum. "Gombal!"


"Ih kok gombal. Beneran sayang" Hana tersipu malu. Ali tertawa melihat Hana yang malu-malu kucing seperti itu. "Beli saja dek bajunya. Abang masih mampu kok kalau cuma beli baju untuk akad. Untuk resepsi nanti kita nabung lagi"


"Terserah abang saja lah kalau begitu" Ali mengangguk. "Jadi kapan kita nyarinya?"


"Lusa gimana? Sekalian kamu terapi kan?" Hana mengangguk. Ali merangkul pundak Hana. Membuat Hana semakin grogi dan salah tingkah. Tangan Ali yang satunya lagi menepuk bahunya. "Sandaran disini, bobok"


Hana ragu, Ali melihat keraguan di mata Hana. Segera ia melepaskan rangkulannya. Tangan Hana mencegahnya. Lalu menyandarkan kepalanya pada bahu Ali. Ali mengecup kening Hana. "Abang sayang dan cinta sama kamu dek" ucap Ali berbisik.


Hana senang bukan main. Ia menahan senyumnya. "Apaan bang gak dengar?"


Ali tersenyum. "Abang sayang dan cinta sama kamu dek. Getaran yang selalu timbul saat dekat dengan kamu itu adalah buktinya" Hana menatap lekat mata Ali.


Begitu pula sebaliknya. Ali menatapnya dalam. Ali semakin mendekatkan wajahnya untuk menepis jarak antara mereka. Semakin dekat. Degup jantung sudah tak beraturan.


Dan.....


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


__ADS_2