
Puasa berlalu tak terasa. Mereka beraktivitas seperti biasanya. Kehidupan mereka lalui dengan penuh kasih dan sayang. Kerikil kecil kadang menerpa mereka, bukan masalah wanita lain ataupun pria lain. Melainkan waktu.
Tapi, mereka mencoba menyelesaikannya dengan kepala dingin. Mencoba memperbaiki diri satu sama lain. Saling koreksi, dan saling intropeksi diri.
"Yank, mas mau cerita" kata Sigit saat akan terlelap sambil memeluk Muti.
Muti mengangguk. "Silahkan cerita"
"Mas lagi menangani kasus, tentang perdagangan senjata yang dilakukan oleh kelompok bersenjata"
"Apakah kasusnya terlalu berat Mas?" Sigit mengangguk. Ia menghela nafasnya. "Yang menjadi target kami adalah mantan rekan kami, bang Hamka adalah orang paling kecewa dalam hal ini"
Muti menautkan alisnya bingung. "Apa orangnya kalian kenal?" Sigit kembali mengangguk. "Dia adalah Tikus Kanguru, alias Nanda. Huft.... Mas bingung, Mas tidak ingin ada korban lagi setelah Galih dan Yudi. Kenapa dia juga terjerat dunia kelam?"
Muti melepaskan pelukan itu. Ia duduk dan memangku kepala Sigit. Membelai rambutnya dan menepuk bahunya. "Disini ada tugas yang kamu emban, selesaikan, lakukan yang terbaik, tegakkan kebenaran agar payung hukum selalu bisa mengayomi masyarakat. Jika memang harus berakhir seperti Yudi ataupun Galih, maka yang perlu kita lakukan adalah mengikhlaskannya"
Sigit memeluk Muti. Menciumi perutnya. "Anak papah apa kabar? Sehat kan di dalam nak? Do'akan papah berhasil dalam misi ini ya nak?" tutur Sigit. Muti tersenyum dan menjawab, "Iya pah"
"Nanda sangat lincah dalam hal kecepatan, gerakannya selalu lebih cepat dibandingkan mas ataupun rekanan kami yang lain. Itu yang membuat Mas menjadi ragu" imbuhnya.
"Di atas langit masih ada langit. Jika Nanda hanya seorang diri, kelompok kalian? Bekerjalah dengan tim, karena itu lebih efektif dibandingkan bekerja sendirian. Aku yakin kok mas, kalian akan berhasil dalam misi ini" jawab Muti memberikan semangat pada suaminya, padahal di dalam hatinya timbul rasa khawatir yabg luar biasa.
Sigit tersenyum mendengarkan penuturan istrinya. "Kamu memang jauh lebih dewasa dari saat kita pertama kali bertemu. I love you sayang, i love you anak papah" kata Sigit mencium perut Muti.
"We love you too pah, tidur yuk, ngantuk nih"
Sigit mengangguk. Ia kembali memeluk istrinya. "Sudah berapa minggu kehamilanmu sayang?"
"9 minggu mas, kenapa?"
"Masih lama dong puasanya" Muti tertawa. "Sabar, atau mau dibantuin solo karir?" Sigit menggeleng. "Tidurlah, mas masih kuat kok"
Muti tersenyum dan mengangguk. Mereka terpejam. Malam semakin larut. Muti sudah masuk ke alam mimpinya. Ponsel Sigit berbunyi.
__ADS_1
"Halo Assalamualaikum bang" ucapnya setelah melihat si penelpon adalah Hamka.
Merapat! Tikus Kanguru mulai bergerak!
"86!"
Sigit melepaskan pelukan dari istrinya, ia segera turun dari ranjang dan bersiap. Menuliskan memo kepada Muti bahwa dirinya sedang dalam misi.
"Yank, Mas berangkat misi dulu, do'akan mas dan tim kami segera kembali dan selalu dilindungi Allahmas bersama Bang Hamka, Damar, Bima, Ali, dan Luna. Jaga dirimu dan calon anak baik-baik. Maryam akan menjemputmu besok pagi. Di rumah kakek dulu ya? I love you sayang"
Selesai menulis memo itu, ia meletakkannya diatas bantal. Menarik selimut lebih tinggi dan mencium kening Muti. "Do'akan kami kembali untuk kalian. Assalamualaikum"
Sigit keluar dari rumah dan berpesan pada Om Tompel untuk menjaga keluarganya. Mobil Ali menjemputnya. Ia langsung naik dan mobil melaju menuju titik lokasi yang dikirimkan Damar.
Sigit mematikan ponselnya seperti biasa. Luna bersidekap di jok belakang. "Siap kembali dalam misi Lun?" tanyanya. Luna hanya mengangguk. "Diam dulu Si, alu sedang mencoba mengingat kelemahan Nanda"
Ali tersenyum kecut. "Bagaimana jika kelemahan itu sudah ia latih menjadi kemampuan Lun? Ikuti strategi bang Hamka saja lah"
"Aku juga setuju denganmu Lun, dia pasti punya kelemahan yang tak dia sadari. selalu gegabah. Pancing agar kelemahannya keluar" kata Sigit.
Setelah hampir setengah jam, mereka sampai di lokasi. Perbatasan antara Semarang dan Kendal. Mereka bekerjasama dengan Polsek dan Polres yang ada di wilayah terdekat.
Hamka, Bima, dan Damar sudah siap dengan pakaian serba hitam. Hamka sebagai Komandan misi memberikan instruksi bagi rekan-rekannya.
"Target berhasil terlacak. Dia masih 5 kilometer dari tempat ini. Kita akan menyebar agar tak membuatnya curiga. Jika ada pergerakan, langsung sergap! Mengerti??!"
"Siap! Dimengerti!!" jawab semuanya. Hamka membubarkan barisan. Luna mendekat padanya.
"Bang, ubah strategimu, Nanda akan mudah membacanya. Dan aku yakin, sudah ada orang yang memberitahunya jika kita datang"
Hamka terdiam dan berpikir. "Lupakan perasaan kalut dan kecewamu terhadapnya. Dia sekarang musuh kita, tunjukkan padanya kehebatan Blind Salamander. Jika harus mati, biarkan mati sebagai pengkhianat!" sambung Ali.
"Lalu apa rencana kalian?" tanya Hamka bingung.
__ADS_1
Sigit menghela nafasnya. "Langsung sergap tanpa aba-aba. Pancing kecerobohannya muncul, karena aku yakin dia tidak akan bergerak sebelum kita benar-benar pergi. Jadi, ada ataupun tidaknya pergerakan tetap lakukan penyergapan. Al, Dam, gunakan kemampuan kalian untuk meng-hack lalu lintas kota. Aku yakin dia akan lari ke kota. Saat yang bersamaan, nyalakanlah lampu semuanya menjadi hijau dan kita akan kepung dia"
Hamka menolak. "Terlalu bahaya bagi warga sipil. Aku akan meminta pengalihan arus terlebih dahuli, setelah itu kita lakukan planning ini. Jangan libatkan warga, karena ini adalah tugas kita" ucap Hamka. Mereka semua mengangguk mengerti.
"Bim, Lun, siaplah di posisi kemudi, gunakan kemampuan balap kalian. Karena Nanda hanya bisa ditandingi oleh kalian berdua. Pecah fokusnya" imbuh Hamka lagi.
Sigit dan yang lain memastikan senjata mereka berfungsi dengan jumlah peluru yang terbatas. "Aku minta dengan sangat sama kalian, kalau bisa, jangan membuatnya mati, karena dia harus diadili oleh hukum yang berlaku"
Semuanya mengangguk. Mereka mulai pada posisi masing-masing. Sigit dan Hamka meminta pengalihan arus. Mereka mulai mendekat ke posisi target.
Benar dugaan merka, Nanda tak menunjukkan pergerakan. Sigit dan Hamka maju terlebih dahulu untuk melakukan penggrebekan. Mereka mendobrak pintu sebuah rumah. Bersikap siaga, berjalan sedikit mengendap, dan memastikan keadaan.
"Sial! Dia sudah tak ada disini!" seru Hamka. Sigit langsung membari instruksi kepada semua rekan polisinya.
"Perhatian kepada semuanya. Tutup semua akses untuk keluar dari kota ini. Alihkan arus untuk warga sipil, lakukan razia untuk mengetahui keberadaan target operasi! Laksanakan!"
"Siap! 86?" Sigit dan Hamka bergegas pergi bersama Luna dan Bima.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
Maaf baru up, othor lagi sakit. Tenggorokan buat nelen rasanya Masyaallah luar biasa sakitnya.... diusahakan tetep up, tp gak janji ya
__ADS_1