
Luna berbaring di kamarnya. Ia menghela nafasnya berat. Bunda Tari dan Ayah Tristan mengintip di sebalik pintu. Mereka juga ikut sedih melihat Luna.
"Lihat! Akibat dari keinginanmu yang menyuruhku merestui mereka, benar kan feeling ku?" Ayah Tristan menyalahkan Bunda Tari.
Bunda Tati tak terima dengan pernyataan Ayah Tristan. "Kok Bunda sih? Ya pikir Bunda kan, Luna juga berhak untuk jatuh cinta Yah. Sudah deh, gak usah main salah-salahan. Sekarang, yang jadi fokus kita adalah buat Luna bahagia dan lupa dengan masalah ini"
Ayah Tristan menautkan alisnya bingung. "Maksud kamu, kita carikan jodoh untuk Luna;" Bunda Tari mengangguk. Luna mendengar percakapan mereka.
"Bunda? Ayah? Ngapain disana?" tanya Luna bangun dari posisi tidurnya. Bunda Tari dan Ayah Tristan tersenyum ke arahnya dan berjalan mendekat ke ranjang Luna.
Ayah Tristan memeluk putrinya. "Jangan sedih terus sayang, hati Ayah sakit" Luna tersenyum dan melepaskan pelukan itu.
"See? Ayah lihat Luna tersenyum kan? Luna gak papa Yah, Luna punya kalian dan para sepupu somplak Luna. Mereka selalu menjaga dan menguatkan Luna" terang Luna mencoba menghibur dirinya sendiri dan orang tuanya.
Bunda Tari dan Ayah Tristan tahu jika Luna sedang berbohong. "Lun, Bunda mau tanya sama kamu. Jawab jujur ya? Kamu cinta sama Danang?"
Ayah Tristan memelototi Bunda Tari. Luna menundukkan kepalanya dan tersenyum. "Mau sedalam apapun cinta Luna sama dia, Luna tidak akan bisa menerimanya lagi Bun"
Ayah Tristan mengusap-usap kepala anaknya. "Jangan bicara seperti itu nak, kita tidak tahu ke depannya. Urusan jodoh, sepenuhnya hak kamu. Hanya Allah dan kamu yang tahu akan hal itu. Ayah memang kecewa dengan Danang, tapi, Ayah juga sadar. Itu semua bukan murni kesalahannya"
Luna tersenyum kecut. "Dia itu laki-laki Yah, laki-laki itu harus punya prinsip. Kalau dia saja mudah goyah bagaimana nanti? Gak tahu lah, Luna capek, Luna mau istirahat" kata Luna ingin mengakhiri obrolan itu.
"Lun, jika kamu bersedia membuka hati, apakah kamu mau kami jodohkan dengan seseorang?" tanya Bunda Tari lagi. Luna tertawa mendengarnya.
"Apaan sih Bunda? Pakai acara dijodoh-jodohin segala. Gak ah, Luna mau fokus sama karir dulu" tolak Luna secara langsung.
"Coba dulu nak, gak ada salahnya. Kalau memang gak jodoh kan masih bisa jadi teman" elak bunda Tari. Luna menghela nafasnya. Ia melihat satu per satu orang tuanya yang menaruh harapan agar ia mau dengan jalur perjodohan ini. Membuatnya tak tega jika harus menolaknya.
__ADS_1
"Ya sudah lah, coba saja dulu. Memang mau dijodohkan dengan siapa sih?" Bunda Tari dan Ayah Tristan tersenyum mendengarnya.
"Alhamdulillah, Ayah punya seorang kenalan. Dia pebisnis. Masih muda, ya.... sekitar 7 tahunan lebih tua lah dari kamu" jelas Ayah Tristan. Bunda Tari tak mau kalah.
"Bunda juga punya calon, dia anaknya tante Renita, butik langganan Bunda. Yang bakalan mendesaign baju resepsi Sigit dan Muti, Hana dan Ali. Dia punya anak cowok seumuran dengan kamu"
Luna malah tertawa dengan kedua orang tuanya. "Dua orang?" Mereka mengangguk. "Seleksi dong, pilih suami itu harus selektif Lun" kata Bunda Tari semangat.
"Ya sudah lah, atur saja lah. Luna beneran ngantuk nih.... Luna capek mau istirahat. Ayah dan Bunda bisa kan tinggalkan Luna?" Mereka mengangguk senang. Ayah Tristan mengecup kening putrinya.
"Selamat istirahat putri Ayah. Tidur yang nyenyak ya nak" Luna tersenyum dan mengangguk. Ayah keluar terlebih dahulu. Bunda Tari memeluk putrinya. "Bunda tahu pikiran kamu sedang ada di Danang, tapi percaya lah nak, jika dia memang jodohmu, apapun caranya kalian akan bersatu. Meskipun orang tua melarangnya, tapi jika takdir Allah yang berkehendak, semua akan lewat begitu saja"
Luna tersenyum. "Bunda nih niat ngejodohin apa gak sih? Ha? Kok sepertinya menaruh harapan sama dia?" Luna tak mau menyebut nama Danang.
"Hahahah, niat lah. Ya sudah. Bobok gih. Selamat malam putri kecil Bunda" Bunda Tari menghujani wajah Luna.
.
"Nang, makan dulu dong. Kamu gak makan dari pagi" kata Mamah Ana. Danang hanya menggeleng.
"Jangan nyiksa diri kamu sendiri. Masih banyak perempuan di luar sana yang bisa menjadi pendampingmu. Tenang sayang, mamah bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari Luna"
Danang tersenyum kecut. "Dia yang terbaik mah. Dan betapa bodohnya aku menyia-nyiakannya?"
"Terus kamu maunya apa??" Mamah Ana mulai jengkel dengan Danang.
"Kembalikan Luna dalam hidupku mah, hatiku hampa tanpanya. Tolong bawa Luna kemari" Danang menitikkan air matanya lagi. Membuat Mamah Ana semakin jengkel. Karena seharian ini, kerjaan Danang hanya menangis dan menangis.
__ADS_1
Di lain sisi, hati kecilnya pun berkata, ia kasihan melihat keadaan anaknya. Terpuruk ditinggalkan orang tercintanya. Ia merasa bersalah. Karenanya anaknya menjadi seperti ini.
"Nang, jangan seperti ini sayang.... Mamah gak mau kamu menjadi sakit.... huhuhuhu" Mamah Ana menangis melihat Danang.
"Makan ya nak, mamah suapkan sayang" kata mamah Ana. Danang menggeleng. Ia kehabisan cara untuk membujuk Danang. "Capek mamah ngurusin kamu! Terserah kamu mau makan atau tidak!"
Mamah Ana pergi meninggalkan Danang sendirian. Entah dia pergi kemana. Danang memejamkan matanya. Memanggil nama Luna.
Satu jam berlalu, mamah Ana kembali ke apartemen Danang dengan membawa beberapa bahan makanan yang diambilnya dari cafe Danang. Karena uangnya telah habis. Kartu kredit dan juga ATM nya telah diblokir oleh papah Arka.
Ia melihat Danang kembali tertidur. Ia meletakkan bahan makanan itu di meja. Mendekat ke arah Danang. Menghela nafasnya kasar. "Mau sampai kapan kamu begini Nang? Sebegitu dalamnya rasa cintamu sama Luna? Hingga kamu sebegitu hancurnya? Gak, ini gak boleh terjadi. Yang seharusnya hancur adalah keluarga Tristan, bukan keluargaku!" kata Mamah Ana.
Ia membelai rambut Danang dan mengetahui jika kening Danang begitu panas. "Astaghfirullah! Danang! Kamu demam nak?" Mamah Ana mulai panik dengan keadaan Danang. Ia menghubungi papah Arka tapi tak diangkatnya. Ia mengirim pesan dan chat tapi tak dibalasnya.
Akhirnya, ia memanggil satpam untuk membantunya membawa Danang ke rumah sakit. Demam Danang mencaoai 39 derajat. Ia harus dirawat di rumah sakit. Dokter mengatakan bahwa Danang mengalami dehidrasi.
Papah Arka datang. Ia kasihan dengan keadaan anaknya. "An, lihat hasil perbuatanmu. Dia hancur, dia benar-benar hancur. Dia itu pernah bilang ke aku, satu-satunya wanita yang bisa membuat hatinya selalu bergetar dari SMA sampai saat ini hanyalah Luna. Pikirkanlah anakmu, jangan hanya menuruti nafsumu untuk membalas dendam. Apakah kamu sanggup jika kehilangan anak kita?"
.
.
.
Like
Vote
__ADS_1
Komen
Tip