
"Niat banget mau jadi anak buah Mia?" ejek Luna. Sigit tersenyum kecut mendengarnya. Mereka segera kembali ke mobil. "Sampingan begini cuannya nyampe berapa mbak Si?" Ali menghina Sigit.
"Anak buah pada bang*ke emang lu semua!" Mereka tertawa dalam mobil itu. Sisi segera mengubah dandanannya. Luna ingin berganti baju, tapi susah. "Gak usah ganti baju Lun" kata Ali memberi saran.
"Ih, terlalu seksi mas Al. Ini kalau mau gerak susah. Kalian keluar dulu deh" kata Luna.
"Oke, kita keluar" kata Ali kemuadia. keluar dan disusul Sigit yang sudah menjadi dirinya lagi. Luna segera berganti pakaian dengan menggunakan kaos hitam dan celana jeans biru selutut. Ia juga mengenakan rompi anti pelurunya.
"Selesai" Luna keluar dari mobil. "Belum ada tanda-tanda si Arsya muncul?" tanya Luna kepada mereka berdua. Mereka menggeleng.
Tak lama ada rombongan yang berjalan dari arah samping kanan. Arsya dijaga ketat oleh anak buahnya. Sigit mulai memberikan instruksi pada Bima. "Bim, tukar posisimu dengan om Tompel, kawal dia terus sampai pertunjukan dimulai. Jangan sampai dia lolos"
Siap! 86! Bima mulai berjalan dan sedikit berlari. Ia menggantikan posisi om Tompel yang berada di barisan paling akhir. Para intel lainnya pun sudah berada di dalam gedung.
"Oke, saat mereka sudah masuk, kita lumpuhkan yang masih ada di luar dulu Lun, Al, kami bergantung padamu" kata Sigit. Ali mengangguk. Mereka mulai memposisikan diri masing-masing. Luna dan Sigit mulai berjalan mendekati penjaga yang merupakan anak buah Arsya.
Ali memberitahukan posisi Arsya. Arsya sudah duduk di tempatnya, MC mulai mengambil alih acara
"Oke, it's show time" Luna mendekati pria yang masih berjaga itu. Ia memberikan tendangan mematikan di area vitalnya. Sigit tersenyum kecut melihatnya. "Kenapa dulu Danang gak kamu tendang begitu Lun?"
Luna berdecak. "Apaan sih? Lagi misi juga, bahas yang gak penting! Jangan buyarin konsentrasi aku deh" Kawanan anak buah Arsya mendekat. Membuat Sigit dan Luna harus menghadapi mereka satu per satu.
Sigit dan Luna dikepung oleh mereka. Anak buah Arsya menyerang secara bersamaan. Sigit dan Luna saling mengangguk. Sigit mengangkat tubuh Luna dan berputar. Luna menendang keras pipi anak buah Arsya satu per satu. Dan mereka bisa dipecah belah.
"Anggota ku, kalian hanya ingin diam saja melihat komandan kalian diserang? Ha?" kata Sigit. Segera para anggota polisi yang menyamar menunjukkan jati diri mereka. Sehingga membuat Luna dan Sigit leluasa meninggalkan mereka.
Arsya mulai memberikan sambutan. Kata Ali lagi. Sigit dan Luna mengangguk. Mereka segera masuk ke dalam aula tempat acara diselenggarakan. Masih ada saja anak buah Arsya disana, sehingga Sigit dan Luna harus menyeret mereka keluar.
Om Tompel ikut membantu mereka dalam melumpuhkan anak buah Arsya. "Sialan! Ternyata kamu pengkhianat!" kata salah satu anak buah Arsya. Om Tompel hanya tersenyum kecut mendengarnya. Para intel yang menyamar menjadi tamu undangan sudah siap pada posisi masing-masing.
"Al, mainkan" kata Sigit. Ali mulai memutar video yang memperlihatkan rekaman percakapan Arsya dengan seseorang. "Mari berinvestasi pada hotel kami pak, hotel kami ini bukan hotel biasa. Service yang diberikan disini sangat memuaskan lho. Bukan sembarang orang. Masih gadis belia" kata Arsya dalam video itu. Arsya gelagapan. Ia menyuruh pengawalnya untuk mematikan video itu. Tapi tak bisa. Karena laptop itu sudah di hack oleh Ali.
Video selanjutnya memperlihatkan potongan foto-foto bukti bahwa hotel tersebut adalah hotel untuk tempat prosti*tusi. Disana terpampang nyata Mia sedang mengantarkan seorang gadis belia pada tamu hotel dan menerima cek. Arsya semakin meradang. Sigit dan Luna tersenyum puas. Mereka melakukan tos.
__ADS_1
Video ketiga adalah yang paling hot! Arsya sedang melakukan adegan ranjang dengan seorang gadis belia disana. Membuat Arsya sudah tak punya muka lagi.
Dan video terakhir yang diputar adalah bukti dari hotel milik Arsya yang ada di lain kota. Yang tertangkap basah sedang melalukan transaksi jual beli gadis-gadis itu.
Para petinggi yang hadir sampai geleng kepala menyaksikannya. "Apa-apaan ini? Ternyata bisnis haram!" kata seorang petinggi. Sigit menyuruh pak Kamto salah satu intel yang menyamar maju dan memberikan surat penangkapan.
"Pak Kamto, berikan surat cinta kita padanya"
Oke Ndan! 86!
Pak Kamto maju dan memberikan surat penangkapan itu. Arsya hendak melarikan diri, tapi para intel yang lainnya sudah menodongkan senjata mereka. "Kerja bagus semuanya" puji Sigit.
"Angkat tangan kalian! Berlutut! Cepat!" perintah pak Kamto. Mereka diborgol. Mia hendak melarikan diri. Tapi dicegat oleh Sigit dan Luna. "Mami mau kemana?" kata Sigit menggunakan logat mbak Sisi.
Mia mendelikkan matanya. "Kenapa? kaget? Ini balasanmu!" Mia melawan. Terjadi adu fisik disana. Luna jengah melihatnya, akhirnya ikut turun tangan dan memukul tengkuk Mia menggunakan heels yang masih setia menempel padanya. Membuat Mia pingsan karena pukulan yang begitu keras itu.
Luna memakai kembali heelsnya. "Ada gunanya juga sepatu Bunda. Hahaha"
.
Kapolres Agung menyuruh para anak buahnya membawa tahanan ke Polda. Membuat Sigit, Luna, serta Ali sedikit khawatir. Karena pasalnya, mereka belum mengetahui siapa orang yang membantu Mia lolos dari jerat hukum itu.
Ali memutar otaknya cepat. "Nanda!" ucap Ali cepat. "Maksudnya?"
"Nanda adalah tukang kontrol cctv disana, aku akan menghack keamaan Polda. Lun, lakukan tugasmu" Luna menggeleng.
Sigit memelototinya. "Haish! Kenapa harus Nanda sih! Ya sudah iya!" Luna meraih ponselnya dan segera menghubungi Nanda. Seorang polisi ahli IT, yang tergila-gila pada Luna.
Hai Lun, ada apa nih?
"Nan, mas Al mau menghack keamanan Polda karena kami butuh info siapa tikus di dalam sana" jelas Luna
Oh, gak usah di hack, aku akan memberkkannya secara cuma-cuma. Siapa yang berhasil lolos? Tapi imbalannya, muncak bareng ya?
__ADS_1
Luna memutar bola matanya malas. "Iya, seorang perempuan bernama Mia. Sekitar 2 bulan lalu ia bebas"
Oke, tunggu dan beri aku waktu sekitar 45 menit.
"Hmm, ya sudah terima kasih"
Sama-sama sayang. Luna serasa ingin muntah mendengar panggilan sayang dari Nanda. "Amit-amit sama orang kayak Nanda. Bentar, lagi dia carikan datanya. Imbalannya aku harus muncak bareng dia"
Sigit mengangguk. "Ya sudah, nanti aku kasih ekstra libur"
"Gundulmu! Bukan itu maksudku! Kalian harus nemenin aku muncak! Dia itu mesum yo Si! Emang kamu gak takut aku diapa-apakan sama dia??" Sigit menggeleng. "Hish!" kata Luna jengkel.
Ali dan Sigit tertawa melihatnya. "Aku gak bisa ikut ya? Bini aku kan bunting" alasan Ali.
"Ya sudah, iya nanti aku sama Muti temenin kamu. Aku telpon Danang buat pulang po piye? Biar nemani kamu?" Goda Sigit. Luna masuk mobil dengan wajah cemberut.
"Mau dihukum kapolres?" kata Luna. Mereka segera masuk mobil dna menuju Polda.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
Bisa tidur nyenyak ya gengs? Kan gak digantung othor. Hehehe. Happy reading all.
__ADS_1