Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 120


__ADS_3

Mobil Jihan akhirnya diantarkan Eka ke rumah Sigit. Shanum belum kembali dari joggingnya.


Ia jogging bersama dengan Maryam. Janjian dengan Habib untuk makan bubur ayam di dekat Polda.


"Mbak Shan, kita lanjut jogging ke lapangan Polda yuk? Sekalian kasih kejutan buat bang Hamka" usul Maryam. Shanum mengangguk setuju.


Jangan diragukan lagi ketahanan fisik mereka. Karena sudah terlatih, jadi biasa saja untuk mereka jogging jarak jauh sekalipun.


Mereka masuk ke area lapangan Polda. Mereka jogging sambil tertawa. Saat yang sama, ada rombongan polisi yang juga jogging di area itu. Jiwa jahil Maryam bergejolak.


Ia bersiul pada rombongan polisi itu. Dengan percaya dirinya yang selangit dan tanpa rasa malu, dia bilang pada anggota polisi itu. "Abang kaos coklat! Godain kita dong....." kata Maryam sambil berlari dan tertawa. Shanum juga ikut-ikutan tertawa.


Para anggota polisi itu merasa tertantang oleh ucapan Maryam. Mereka langsung putar arah dan mengepung Maryam juga Shanum. "Mampus kita mbak!" kata Maryam mulai panik.


"Terpesona!" ucap salah satu anggota polisi itu. Mereka mulai menyanyikan lagu terpesona dengan lantang dan bersamaan.


"Terpesona.... aku terpesona.... memandang memandang wajahmu yang manis..... Hok a hok e..... terpesona.... aku terpesona.... memandang memandang wajahmu yang manis.... Bagaikan mutiara indah bola bola matamu! Bagaikan kain sutra lembutnya lesung lesung pipimu, cantiknya kamu... cantik cantiknya kamu... Eloknya kamu, elok eloknya kamu membuat aku jadi gelisah... "


Maryam dan Shanum malu bukan main. Niatnya hanya iseng, malah berujung memalukan bagi mereka. Saat yang bersamaan Hamka sedang jogging sendirian. Ia melihat dua orang gadis sedang dikerumuni para anggotanya. Akhirnya ia mendekat.


"Mak! Shanum? Maryam?" tanyanya pada diri sendiri. "Woy! Berhenti!" teriak Hamka kemudian. Semuanya menoleh pada sumber suara.


"Siapa yang nyuruh godain calon istri komandan kalian!?? Jawab!" Hamka naik pitam. Membuat Maryam dan Shanum lega dan merasa di atas angin.


"Lari keliling lapangan 15 kali sambil menyanyikan lagu terpesona! Cepat!" perintah Hamka pada para juniornya. Para anggota polisi itu membentuk lagi barisan seperti waktu awal dan mulai menyanyikan lagu itu sambil berlari.


Maryam tertawa puas. "Ahahaha, sukurin! Rasain! Makanya jangan jahil!" katanya. Shanum menjitak kepalanya.


"Yang jahil itu kamu Ayam!" kata Shanum. Hamka mendekat ke arah mereka. "Kalian gak diapa-apakan kan?"


Mereka menggeleng. "Tapi cukup memberikan aku shock terapy sih. Hahaha" jawab Maryam.


"Bang, yang salah bukan mereka lho. Ini nih cewek tengil ini memang minta digodain sama mereka"


"Ha?" Maryam menunjukkan ekspresi nyengirnya. "Dasar Maryam! Jahil banget sih kamu!"


"Hahahah, sekali-kali boleh lah canda polisi" jawab Maryam. Hamka hanya geleng kepala.dan berkacak pinggang, tak habis pikir dengan kelakuan Maryam.


"Ngapain sampai kesini?" tanya Hamka. Shanum menyengir. "Jogging, sekalian ngasih kejutan untuk Abang" Hamka tersenyum mendengarnya.


"Kalian sudah sarapan?" Shanum dan Maryam menggeleng. "Sarapan di bubur Ayam deoan Polda yuk?" ajak Hamka


Mereka mengangguk. Lalu berjalan ke arah depan. Maryam menanyakan Habib, dan tertanya Habib pun telah sampai.


Maryam memesan 4 porsi untuk mereka. "Nanti kita berangkat jam berapa bang?" tanya Shanum.

__ADS_1


"Lepas maghrib beb" kata Hamka. Semua yang mendengarnya terbatuk. "Apa tadi? Beb? Bebek maksudmu Bang?" goda Maryam.


"Ish, kata Damar harus ada panggilan khas, panggilan sayang gitu. Aku cari di internet yang muncul sayang, ayang, baby, honey, gitu-gitu. Enak saja lu sama-samain calon istriku dengan bebek!" tutur Hamka. Maryam dan Habib tertawa mendengar penuturan polosnya.


Shanum tersenyum "Aa.... sweet banget sih kamu Bang"


Maryam dan Habib serasa ingin muntah melihat kemesraan yang ada di depan mata mereka. "Mual gua"


"Hahaha, akan aku buat kalian muntah!" kata Hamka.


Mereka selesai sarapan. Maryam dan Habib menuju simpang lima. Hamka dan Shanum memilih menunggu mereka di rumah dinas Hamka.


"Abang mandi dulu ya?" kata Hamka. Shanum mengangguk. Ia bermain ponsel hingga Hamka selesai mandi. "Beb" panggilnya.


Shanum geli mendengarnya. "Abang, panggilnya bisa lebih luwes gak?"


"Memang kenapa?"


"Abang manggil Shan kayak manggil tahanan. Ada penekanannya" Hamka menahan tawanya. "Panggil nama saja lah. Lebih enak gitu didengarnya" kata Hamka


"Terserah abang" jawab Shanum. "Abang sudah beberes?"


Hamka mengangguk. Ia duduk mendekati Shanum. "Ini beneran kan ya? Abang masih gak percaya mau pulang ke Aceh bawa perempuan"


Shanum tertawa. "Beneran lah Abang.... masa iya bohong sih?"


"Sama-sama. Karena abang lucu. Dan aku bahagia kalau dekat dengan abang"


Hamka membelai rambut Shanum. "Wangi" katanya sambil mengendus-endus rambut Shanum.


Shanum tertawa mendengarnya. "Kaku banget sih kamu bang. "Maklumin to sayang, sumpah dah abang ini gak pernah mau dekat dengan perempuan"


"Alasannya?"


Hamka tampak berpikir. "Dulu sih mikirnya kalau punya pacar itu pasti bakalan ribet, karena terkadang suka dilarang ini itu"


Shanum tersenyum. "Syukur deh kalau abang gak punya mantan. Hehehe"


Hamka memberikan formulir pengajuan nikah kantor. "Diisi ya? Segera kumpulkan ke abang lagi. Biar cepat pengajuan"


Shanum menerima dan membacanya. Lalu ia mengangguk. Hamka memangku wajahnya dengan satu tangan, memandangi Shanum. Membuat Shanum salah tingkah. "Ngapain?"


Hamka menggeleng. "Gak papa, masih gak percaya saja" Shanum menggenggam tangan Hamka dan mengecupnya. Hamka tersenyum dan mencium kening Shanum.


"Alah..... maaak..... dada ku rasanya kayak ada petasannya" Shanum tertawa mendengarnya. "Seneng banget sih ngetawain abang!" kata Hamka sambil mencubit hidung Shanum.

__ADS_1


"Abang lucu, Bang, kalau gak disetujui sama orang tua Abang gimana?" tanya Shanum memikirkan hal ke depannya.


"Berdoanya yang baik-baik saja, semoga Amak dan Apak setuju dan merestui kita"


"Aamiin" jawab Shanum.


Sore menjelang, Sigit dan Muti mengantarkan Hamka dan Shanum ke bandara. "Hati-hati ya disana?" Muti memeluk Shanum.


"Iya, kalian juga jaga diri disini" balas Shanum. Hamka menggandeng tangan Shanum dan masuk ke dalam bandara.


Sigit dan Muti kembali ke rumah. "Yank"


"Apa cinta?" jawab Muti. "Sudah aman belum?"


Muti menyengir. "Belum tahu, hari ini penetuannya sayang, semalam sih sudah gak keluar, tapi tadi pagi flek dikit. Kita tunggu malam ini ya?"


Sigit memanyunkan bibirnya. "Sudah gak kuat" rengeknya. Muti tertawa mendengarnya. "Mau dibantuin solo karir?"


Sigit menggeleng. "Dia butuh bersarang di tempatnya yank!" Muti kembali tertawa. "Ya gimana doong.... sabar yah?"


Mereka telah sampai di rumah kembali. Sigit menggendong istrinya dan membaringkannya di kursi. Menghujani wajah Muti dengan ciuman. "Mas kangen berat sama kamu" ucapnya dengan suara parau.


"Bukan cuma kamu, aku juga mas" Sigit tersenyum. Mulai menghujani wajah Muti dengan ciuman. Membuka hijab Muti dan melemparnya ke sembarang arah. Tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu. Sigit merasa kesal.


Muti tertawa dan meraih hijabnya lagi. Mengenakannya dan berjalan menuju pintu untuk membukanya. "Assalamualaikum" kata Jihan.


"Waalaikum salam. Ngapain?" tanya Muti. Jihan menunjukkan tentengannya. "Ini buat kalian, yang ini buat polisi yang aku teriaki maling"


Sigit ikut menghampirinya. "Antarkan sendiri ke rumah dinasnya. Jalan x blok I nomer 87. Namanya Bima, jangan teriaki maling lagi ya? Dan ini kunci mobil kamu" Sigit memberikan kunci mobil Jihan. Mengambil kunci mobil Muti dan jinjingan yang dibawa Jihan.


"Makasih ya Jihan, sekarang Muti lagi gak bisa diganggu. Dia mau menservice suaminya dulu. Wassalamualaikum" Sigit menarik.tangan Muti dan menutup pintu rumahnya lagi.


Jihan hanya melongo mendengarnya. "Duh, gimana ya? Masa harus ke rumah dinasnya? Malu dong! Udah lah ditolongin malah aku gebukin"


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


__ADS_2